BAB III UPAYA PENYELESAIAN SENGKETA APABILA TERJADI
3.1. Dasar Hukum Dan Syarat Terjadinya Wanprestasi
Tujuan seseorang mengadakan suatu perjanjian kerjasama adalah untuk memperoleh suatu prestasi, prestasi memiliki arti kewajiban yang harus dipenuhi oleh debitur dalam setiap perikatan, dimana prestasi itu sendiri dapat berupa memberikan sesuatu dan tidak berbuat sesuatu.27
Kewajiban memenuhi prestasi dari debitur selalu disertai dengan tanggung jawab yang artinya debitur (Pihak Sekolah Dasar Nomor 3 Penatih) mempertaruhkan harta kekayaannya sebagai jaminan pemenuhan hutangnya kepada kreditur (Pihak PT. Primagama Denpasar) seperti yang tertuang dalam pasal 1131 KUH Perdata dan pasal 1132 KUH Perdata yang bunyinya:
“Semua harta kekayaan debitur yang bergerak maupun tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang akan ada menjadi jaminan pemenuhan hutangnya terhadap kreditur”.
Suatu perjanjian kerjasama dapat berjalan dan terlaksana dengan baik apabila para pihak telah memenuhi isi perjanjian kerjasama mengenai janji-janji dan kewajiban-kewajiban para pihak, seperti yang telah diperjanjikan tanpa ada salah satu pihak yang dirugikan dalam
27 Abdulkadir Muhammad, 1990, Hukum Perikatan, Cet. Ke-2, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, hal. 17.
perjanjian kerjasama ini. Tetapi adakalanya perjanjian kerjasama tidak dapat terlaksana dengan baik apabila salah satu pihak tidak memenuhi apa yang telah dijanjikan dalam perjanjian kerjasama yang dibuat berdasarkan kesepakatan bersama, pihak yang tidak melakukan kewajiban-kewajibannya sesuai dengan apa yang diperjanjikannya, maka dapat dikatakan melakukan perbuatan wanprestasi. Untuk dapat mengatakan seseorang melakukan perbuatan wanprestasi dalam suatu perjanjian kerjasama terkadang tidaklah mudah, karena sering sekali dalam suatu kontrak tidak diisikan secara jelas dan tepat kapan suatu pihak diwajibkan untuk melakukan kewajiban-kewajibannya atau janji-janjinya seperti apa yang diperjanjikan dalam perjanjian kerjasama yang para pihak lakukan.
Wanprestasi berasal dari bahasa Belanda yaitu “wanprestatie” yang artinya tidak memenuhi kewajiban yang telah ditetapkan dalam perikatan, baik perikatan yang timbul karena perjanjian kerjasama maupun perikatan yang timbul dari undang-undang.28 Sedangkan menurut Subekti dari pengertian dan penjelasannya di internet dengan website www.wanprestasi Indonesia-online.co.id wanprestasi memiliki arti “prestasi buruk”. Yang artinya suatu keadaan yang dikarenakan kelalaian atau kesalahan salah satu pihak, karena salah satu pihak melanggar/tidak dapat memenuhi kewajiban-kewajibannya seperti apa yang telah disepakati dan apa saja yang telah diperjanjikan dalam kontrak yang dibuat oleh para pihak dan tentunya kesepakatan yang mereka lakukan
bukan dalam keadaan memaksa namun memang berdasarkan atas persetujuan kedua belah pihak.29
Wanprestasi berbeda dengan perbuatan melawan hukum, walaupun bila dilihat secara umumnya banyak orang beranggapan, bahwa wanprestasi merupakan bagian dari perbuatan melawan hukum, karena seorang debitur yang tidak memenuhi pembayaran hutangnya tepat pada waktunya, jelas merupakan pelanggaran hak kreditur. Anggapan seperti ini sekilas benar adanya namun ketika akan dituangkan dalam bentuk gugatan tertulis, tentunya hal ini tidak boleh disangkut pautkan antara wanprestasi dengan perbuatan melawan hukum, karena akan menimbulkan kekeliruan yang pada akhirnya akan mengakibatkan kaburnya tujuan dari gugatan itu sendiri.
Wanprestasi timbul atau lahir dari persetujuan (agreement) sedangkan perbuatan melawan hukum lahir dan berasal dari undang-undang, bukan karena kontrak yang berdasarkan persetujuan. Perbuatan melawan hukum merupakan akibat perbuatan manusia yang ditentukan sendiri oleh undang-undang. Seperti yang tertuang dalam Pasal 1352 KUH Perdata:
“Perikatan yang lahir karena undang-undang, timbul dari undang sebagai undang atau dari undang-undang sebagai akibat perbuatan orang”
Untuk dapat mengatakan Pihak Sekolah Dasar Nomor 3 Penatih telah melakukan wanprestasi atau tidak melakukan wanprestasi tergantung dari kontrak yang para pihak lakukan. Dalam wanprestasi
biasanya kontrak terlebih dahulu dilakukan/dibuat, karena dari perjanjian kerjasama inilah yang nantinya akan dapat menimbulkan wanprestasi. Tentunya dalam membuat suatu perjanjian antara kedua belah pihak harus selalu berpedoman pada Pasal 1320 KUH Perdata, mengenai syarat sahnya suatu perjanjian kerjasama, adapun keempat syarat yang harus dipenuhi: kesepakatan para pihak untuk mengikatkan dirinya, kecakapan para pihak untuk bertindak/membuat suatu perjanjian kerjasama, suatu pokok persoalan tertentu, suatu sebab yang tidak terlarang. Dari keempat persyaratan untuk melakukan perjanjian yang sah inilah, bila dilanggar oleh Pihak Sekolah Dasar Nomor 3 Penatih dapat menimbulkan terjadinya wanprestasi dan kerugian yang dialami Pihak PT. Primagama Denpasar dalam suatu perjanjian kerjasama yang dibuat oleh para pihak berdasarkan kesepakatan bersama. Bila pihak Sekolah Dasar Nomor 3 Penatih melakukan wanprestasi dan mengakibatkan kerugian kepada pihak PT. Primagama Denpasar karena kelalaian dari pihak Sekolah Dasar Nomor 3 Penatih, maka seperti yang tertuang dalam Pasal 1366 KUH Perdata yang bunyinya:
“Setiap orang bertanggung jawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan oleh kelalaian atau kekurang hati-hatian” Pasal ini menjelaskan mengenai tanggung jawab seseorang yang telah melakukan kerugian kepada orang lain/pihak lain, baik itu karena perbuatannya sendiri atau pun karena kelalaian dan kekurang hati-hatian yang mengakibatkan pihak lain menderita kerugian olehnya
Wanprestasi sering sekali terjadi dalam suatu perjanjian kerjasama, namun tidak semua perjanjian kerjasama terdapat wanprestasi tetapi ada saja beberapa perjanjian kerjasama yang bermasalah atau terjadi wanprestasi. Biasanya wanprestasi ini terjadi dikarenakan adanya salah satu pihak yang tidak memenuhi kewajiban-kewajiban terutama dalam hal batas waktu pembayaran. Jika para pihak melakukan transaksi jual beli, maka terlebih para pihak harus melakukan pengikatan perjanjian kerjasama. Dimana pengikatan perjanjian kerjasama dilakukan di hadapan pejabat yang berwenang yaitu Notaris dan Pengikatan perjanjian kerjasama ini bertujuan agar para pihak merasa saling terikat antara satu dengan yang lainnya, untuk dapat memenuhi segala bentuk kewajiban-kewajibannya. Biasanya dalam pengikatan perjanjian kerjasama inilah terdapat tahapan-tahapan dalam hal pembayaran yang harus dilakukan oleh pihak Sekolah Dasar Nomor 3 Penatih dan berbagai macam kewajiban serta sanksi bila pihak Sekolah Dasar Nomor 3 Penatih melakukan kelalaian dalam kewajibannya atau yang sering disebut dengan melakukan perbuatan wanprestasi.
Ada dua (2) kemungkinan alasan tidak dipenuhinya kewajiban yang telah ditetapkan dalam perikatan, yaitu:
1. Karena kesalahan debitur, baik karena kesengajaan maupun karena kelalaian.
2. Karena keadaan memaksa, jadi di luar kemampuan debitur dan di sini debitur tidak bersalah.30
Dan menurut pendapat Dunne Van, dengan bukunya berjudul Wanprestasi dan Keadaan Memaksa, Ganti Kerugian, ada dua (2) macam perjanjian yang telah dibuat tetapi tidak dapat dilaksanakan antara lain: 1. Overmacht atau keadaan Memaksa
Merupakan suatu keadaan atau kejadian yang tidak dapat diduga terjadinya, sehingga menghalangi seorang debitur (Pihak II) dalam melakukan prestasinya, sebelum ia lalai untuk apa dan keadaan mana yang tidak dapat dipersalahkan kepadanya.
2. Wanprestasi atau cedera janji
Merupakan suatu keadaan atau kejadian bilamana debitur (Pihak II) tidak melakukan prestasinya sama sekali, melakukan prestasi tetapi keliru atau melakukan prestasi tetapi terlambat.31
Jika berbicara mengenai wanprestasi, menurut Purwahid Patrik ada beberapa bentuk atau syarat terjadinya wanprestasi dalam suatu perjanjian kerjasama yang dibuat oleh para pihak berdasarkan kesepakatan bersama diantaranya:
1. Tidak memenuhi perjanjian kerjasama sama sekali
Artinya: debitur tidak memenuhi kewajiban yang telah disanggupinya untuk dipenuhinya dalam suatu perjanjian kerjasama atau tidak memenuhi kewajiban yang ditetapkan undang-undang dalam perikatan yang timbul karena undang-undang.
31 Dunne, Van, 1987, Wanprestasi dan Keadaan Memaksa, Ganti Kerugian, Dewan Kerja Sama Ilmu Hukum Belanda dengan Proyek Hukum Perdata, Bandung, hal. 25.
2. Memenuhi perjanjian kerjasama tetapi tidak tepat waktunya
Artinya: disini debitur memenuhi prestasinya tetapi terlambat dan tidak sesuai dengan waktu yang ditetapkan undang-undang dalam perikatan yang timbul karena undang-undang.
3. Memenuhi perjanjian kerjasama tetapi tidak sesuai atau keliru
Artinya: disini debitur melaksanakan atau memenuhi apa yang diperjanjikan atau apa yang ditentukan oleh undang-undang, tetapi tidak sebagaimana mestinya menurut kualitas yang ditentukan dalam kontrak atau menurut kualitas yang ditetapkan oleh undang-undang.32
Dari fungsi pernyataan lalai merupakan upaya hukum untuk menentukan kapan menentukan kapan saat terjadinya wanprestasi. Sedangkan pernyataan lalai adalah pesan atau pemberitahuan dari Pihak I kepada Pihak II yang menerangkan kapan selambat-lambatnya Pihak II diharapkan memenuhi prestasinya atau kewajibannya.33
Dalam perjanjian kerjasama antara PT. Primagama Denpasar dengan Sekolah Dasar Nomor 3 Penatih berdasarkan kesepakatan bersama, wanprestasi yang dilakukan tidaklah jauh berbeda dengan wanprestasi terhadap bentuk-bentuk perjanjian lainnya, karena wanprestasi dapat timbul dikarenakan akibat dari sebuah perjanjian. Dimana wanprestasi yang dimaksud adalah seseorang yang telah lalai dalam memenuhi sebagaimana kewajiban-kewajibannya dalam perjanjian yang mereka lakukan. Lalai di sini yang dimaksud adalah baik lalai dalam memenuhi
32 Purwahid Petrik, Op.Cit, hal. 13.
sebagian kewajibannya, lalai memenuhi seluruh kewajibannya/tidak melakukan kewajibannya sama sekali, lalai dalam memenuhi apa yang diperjanjikannya, lalai dalam melakukan sesuatu yang menurut kontrak tidak boleh dan tidak dapat dilakukan.
Dalam pasal 1446 KUH Perdata ditentukan tentang wanprestasi bahwa :
Semua perikatan yang dibuat oleh orang belum dewasa atau orang-orang yang ditaruh di bawah pengampuan, adalah batal demi hukum, dan atas penuntutan yang dimajukan oleh atau dari pihak mereka, harus dinyatakan batal, semata-mata atas dasar kebelum-dewasaan atau pengampuannya. Perikatan-perikatan yang dibuat oleh orang-orang perempuan yang bersuami dan oleh orang-orang-orang-orang belum dewasa yang telah mendapat suatu pernyataan persamaan dengan orang dewasa, hanyalah batal demi hukum, sekedar perikatan-perikatan tersebut melampaui kekuasaan mereka.