• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II ITHBA@T NIKAH

B. Ithba@t Nikah

2. Dasar Hukum Ithba@t Nikah

25

pengiyaan dan arti nikah yaitu bergabung ( مَظ), hubungan kelamin (ءطَو), dan juga berati akad ( دْقَع).13

Dalam Kamus besar bahasa Indonesia, ithba@t berarti penyungguhan, penetapan atau penentuan. Sedangkan ithba@t nikah berati penetapan, kebenaran (keabsahan) nikah. 14

2. Dasar Hukum Ithba@t Nikah a. Pasal 2 dan pasal 3 KHI

Pasal 2 berbunyi: “Perkawinan menurut hukum Islam adalah

pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau mitha>qan ghali>dz}an untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.”15 Dan pasal 3 yang berbunyi: “Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang saki@nah, mawaddah, dan rahmah.”16

b. Pasal 5 KHI

Pasal 5 yang berbunyi: (1) Agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam setiap perkawinan harus dicatat. (2) Pencatatan perkawinan tersebut pada ayat (1), dilakukan oleh Pegawai Pencatat Nikah sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 1946 jo Undang-Undang-Undang-Undang No. 32 Tahun 1954.17

13 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia (Jakarta: Kencana, 2009), 36. 14 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), 443.

15 Pasal 2 Kompilasi Hukum Islam. 16 Ibid., Pasal 3.

26

c. Pasal 7 KHI

Pasal 7 menjelaskan tentang alasan-alasan mengajukan ithba@t nikah, pasal ini berbunyi:18

(1)Perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan akta nikah yang dibuat oleh Pegawai Pencatat Nikah. (2) Dalam hal perkawinan tidak dapat dibuktikan dengan akta nikah, dapat diajukan ithba@t nikahnya ke Pengadilan Agama. (3) ithba@t nikah yang dapat diajukan ke Pengadilan Agama terbatas mengenai hal-hal yang berkenaan dengan: (a) adanya perkawinan dalam rangka peyelesaian perceraian, (b) hilangnya akta nikah, (c) adanya keraguan tentang sah atau tidaknya salah satu syarat perkawinan, (d) adanya perkawinan yang terjadi sebelum berlakunya Undang-Undang No.1 Tahun 1974 dan, (e) perkawinan yang dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai halangan perkawinan menurut Undang-Undang No.1 Tahun 1974. (4) Yang berhak mengajukan permohonan ithba@@t nikah ialah suami atau istri, anak-anak mereka, wali nikah dan pihak yang berkepentingan dengan perkawinan itu.

d. Pasal 2 UU No.1 Tahun 1974

Pasal 2 yang berbunyi: “(1) Perkawinan adalah sah, apabila

dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. (2) Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.”19

e. Pasal 2 PP No. 9 Tahun 1975

Pasal 2 yang berbunyi: (1) Pencatatan perkawinan dari mereka yang melangsungkan perkawinan menurut agama Islam, dilakukan oleh Pegawai Pencatat sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1954 tentang pencatatan nikah, talak dan rujuk. (2) Pencatatan perkawinan dari mereka yang melangsungkan perkawinannya menurut agamanya dan kepercayaannya itu selain agama Islam, dilakukan oleh Pegawai Pencatat perkawinan pada kantor catatan sipil sebagaimana dimaksud dalam berbagai perundang-undang mengenai pencatatan perkawinan. (3) Dengan tidak mengurangi ketentuan-ketentuan yang khusus berlaku bagi tata

18 Ibid., Pasal 7.

27

cara pencatatan perkawinan berdasarkan berbagai peraturan yang berlaku, tata cara pencatatan perkawinan dilakukan sebagaimana ditentukan dalam pasal 3 sampai dengan pasal 9 Peraturan Pemerintah ini.20

f. Pasal 3 PP No. 9 Tahun 1975

Pasal 3 yang berbunyi: (1) Setiap orang yang akan melangsungkan perkawinan memberitahukan kehendaknya itu kepada Pegawai Pencatat di tempat perkawinan dilangsungkan. (2) Pemberitahuan tersebut dalam ayat (1) dilakukan sekurang-kurangnya sepuluh hari kerja sebelum perkawinan dilangsungkan. (3) Pengecualian terhadap jangka waktu tersebut dalam ayat (2) disebabkan sesuatu alasan yang penting, diberikan oleh Camat atas nama Bupati Kepala Daerah.21

g. Pasal 4 dan pasal 6 PP No. 9 Tahun 1975

Pasal 4 yang berbunyi: “Pemberitahuan dilakukan secara lisan atau tertulis oleh calon mempelai, atau oleh orang tua atau wakilnya.”22 Dan pasal 6 yang berbunyi:23 “(1) Pegawai Pencatat yang menerima pemberitahuan kehendak melangsungkan perkawinan, meneliti apakah syarat-syarat perkawinan telah dipenuhi dan apakah tidak terdapat halangan perkawinan menurut Undang-Undang. (2) Selain penelitian terhadap hal sebagai dimaksud dalam ayat (1) Pegawai Pencatat meneliti pula: a. Kutipan akta kelahiran atau surat kenal lahir calon mempelai. Dalam hal tidak ada akta kelahiran atau surat kenal lahir, dapat dipergunakan surat keterangan yang menyatakan umur dan asal usul calon mempelai yang diberikan oleh Kepala Desa atau yang setingkat dengan itu; b. Keterangan mengenai nama, agama/kepercayaan, pekerjaan dan tempat tinggal orang tua calon mempelai; c. Izin tertulis/izin pengadilan sebagai dimaksud dalam pasal 6 ayat (2), (3), (4) dan (5) Undang-Undang, apabila salah seorang calon mempelai atau keduanya belum mencapai umur 21 tahun; d. Izin pengadilan sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 Undang-Undang dalam hal calon suami yang masih mempunyai istri; e. Dispensasi pengadilan/pejabat sebagai dimaksud pasal 7 ayat (2) Undang-Undang; f. Surat kematian istri atau suami yang terdahulu atau dalam hal perceraian : surat keterangan perceraian, bagi perkawinan untuk keduanya atau lebih. g. Izin tertulis dari pejabat yang ditunjuk oleh menteri HANKAM/PANGAB, apabila

20 Pasal 2 PP No. 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

21 Ibid., Pasal 3. 22 Ibid., Pasal 4. 23

28

salah seorang calon mempelai atau keduanya anggota angkatan bersenjata; h. Surat kuasa otentik atau di bawah tangan yang disahkan oleh Pegawai Pencatat, apabila salah seorang calon mempelai atau keduanya tidak dapat hadir sendiri karena sesuatu alasan yang penting, sehingga mewakilkan kepada orang lain.

h. Pasal 11 PP No. 9 Tahun 1975

Pasal 11 yang berbunyi: (1) Sesaat sesudah dilangsungkannya perkawinan sesuai dengan ketentuan-ketentuan pasal 10 Peraturan Pemerintah ini, kedua mempelai menandatangani akta perkawinan yang telah disiapkan oleh Pegawai Pencatat berdasarkan ketentuan yang berlaku. (2) Akta perkawinan yang telah ditandatangani oleh mempelai itu, selanjutnya ditandatangani pula oleh kedua saksi dan Pegawai Pencatat yang menghadiri perkawinan dan bagi yang melangsungkan perkawinan menurut agama Islam, ditandatangani pula oleh wali nikah atau yang mewakilinya. (3) Dengan penandatanganan akta perkawinan, maka perkawinan telah tercatat secara resmi.24

i. Pasal 12 PP No. 9 Tahun 1975

Akta perkawinan memuat: a. Nama, tanggal dan tempat lahir, agama/kepercayaan, pekerjaan dan tempat kediaman suami-istri; Apabila salah seorang atau keduanya pernah kawin, disebutkan juga nama istri atau suami terdahulu. b. Nama, agama/kepercayaan, pekerjaan dan tempat kediaman orang tua mereka; c. Izin sebagai dimaksud dalam pasal 6 ayat (2), (3), (4), dan (5) Undang-Undang; d. Dispensasi sebagai dimaksud dalam pasal 6 ayat (2) Undang-Undang; e. Izin pengadilan sebagai dimaksud dalam pasal 4 Undang-Undang; f. Perjanjian sebagai dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) Undang-Undang; g. Izin dari pejabat yaang ditunjuk oleh Menteri HANKAM/PANGAB bagi anggota Angkatan Bersenjata; h. Perjanjian perkawinan apabila ada; i. Nama, umur, agama/kepercayaan, pekerjaan, dan tempat kediaman para saksi dan wali nikah bagi yang beragama Islam; j. Nama, umur, agama/kepercayaan, pekerjaan, dan tempat kediaman kuasa apabila perkawinan dilakukan melalui seorang kuasa.25

j. Pasal 13 PP No. 9 Tahun 1975

24 Ibid., Pasal 11.

29

Pasal 13 yang berbunyi: “(1) Akta perkawinan dibuat dalam rangkap 2 (dua) helai pertama disimpan oleh Pegawai Pencatat, helai kedua disimpan pada panitera pengadilan dalam wilayah Kantor Pencatatan Perkawinan itu berada. (2) Kepada suami dan istri masing-masing diberikan kutipan akta perkawinan.”26

Dokumen terkait