BAB II TEORI PERKAWINAN MENURUT HUKUM POSITIF DAN HUKUM
B. Dasar Hukum Perkawinan
2. Dasar Hukum Perkawinan Menurut Hukum Islam
26
(rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketentuan yang Mahaesa.
Dalam pasal 2 ayat (1) dijelaskan perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. Ayat (2) tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Sedangkan dalam pasal 3 ayat (1) dijelaskan pada azasnya dalam suatu perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang istri. Seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami. Ayat (2) pengadilan dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh fihak-fihak yang bersangkutan.
2. Dasar Hukum Perkawinan Menurut Hukum Islam
Nikah telah disyari’atkan dalam Islam berdasarkan al-Qur’an dan As-Sunnah. Adapun ayat yang menunjukkan nikah disyari’atkan adalah firman Allah SWT dalam surat al-Nur 24: 32 yang berbunyi:
ُﻮِ ِ ﺸﺴﺒﺴو
ﺸُِﺋ ﺂﺴِﺒﺴو ﺸُِﺚ ﺎﺴِ ﺸ ِ ﺴﺸﲔِِﳊ ﺎ ُﺒﺴو ﺸُ ﺸِ ﻰﺴ ﺴ�ﺴﻻﺸﺒﺒ
طﺴ ﺸنِﺒ
ِﻪِﺸ ﺴ ﺸ ِ ُﺷﻪُﺒ ُِﻬِﺸُـ ﺴءآﺴﺮﺴُـ ﺒﻮُ ﻮُ
طﺒﺴو
ُﺷﻪ
ﺲ ِﺴ ُ ِﺒﺴو
“Dan nikahkanlah orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang patut (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya.
Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui”. (QS. al-Nu<r
:32)
Dalam firman Allah SWT yang lain dalam Surah al-Nisa 4 ayat 3 yang berbunyi:
27
ﺒﺸﻮُ ِ ﺸﺎﺴ ﻰﺴﺎﺴﺴـﺒ ِﰱﺒﻮُ ِ ﺸُـﺴﻻﺴﺒ ﺸُﺸِﺸﳔِﺒﺴو
ﺴﺴُﺜﺴو ﺴ ﺴُـﺴو ﺴﺸـﺴ ِءﺂﺴ ِﺷﺒ ﺴ ِﺷ ﺸُ ﺴ ﺴبﺎﺴ ﺎﺴ
ﺗﺸُﺸ ِﺧ ﺸنِﺎﺴ
ﺴﻮﺴـ ﺒﺸﻮُ ِﺪﺸﺴـ ﻻﺴﺒ
ﺸُُ ﺎﺴﺸﳝﺴﺒ ﺸ ﺴ ﺴﺴ ﺎﺴ ﺸوﺴﺒ ًة ﺴﺪِ ﺒ
ﻰﺒﺸﻮُﺸﻮُﺴـ ﻻﺴﺒ ﺴﱏﺸﺚﺴﺒ ﺴ ِﺴﺛ
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih
dekat kepada tidak berbuat aniaya”. (QS. an-Nisa>: 3)
Adapun dasar hukum yang lain tentang nikah adalah hadits Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:
ُﻪ ِﺈﺴ ,ُﺗوﺴﺰﺴـﺴـﺸﺴـ ﺴةﺴء ﺎﺴﺸﺒ ﺸُ ﺸِ ﺴﺤﺎﺴ ﺴﺸ ﺒ ِ ﺴ , ِبﺎﺴِﺷ ﺒﺴﺮﺴ ﺸﺴ ﺴ�
ﺸ ﺴﺴو ,ِﺗﺸﺮﺴﺸِ ُ ﺴ ﺸ ﺴأﺴو ِﺮﺴ ﺴﺸِ ﺴﺴأ
ُءﺎﺴِو ُﻪﺴ ُﻪ ِﺈﺴ ,ِمﺸﻮ ِﺎ ِﻪﺸﺴﺴﺴـ ﺸ ِ ﺴﺸ ﺴ ﺸﺴ
“Wahai para pemuda, barang siapa yang mampu untuk menikah maka menikahlah, karena sesungguhnya menikah itu dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan (dari perbuatan zina) dan barang siapa yang tidak mampu maka hendaknya ia berpuasa karena puasa itu adalahpenawar”. (HR. Bukhari-Muslim). 7
Dalam KHI Bab II juga dijelaskan tentang dasar-dasar hukum perkawinan:
Pasal 2 menyatakan “ Perkawinan menurut hukum Islam adalah
pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau mi<s|a>qan gali<z}an untuk
mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.”
Pasal 3 menyatakan “Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawwadah, dan rahmah.”
7
Sahih al-Bukhari, Kitab al-Nikah, Jilid 6 h. 117, dan Sahih Muslim, Kitab al-Nikah hadis no. 1400, jilid 2 h.1019.
28
Pasal 4 menyatakan “perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut menurut hukum Islam sesuai dengan pasal 2 ayat (1) Undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan.”
Pasal 5 ayat (1) menyatakan “Agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam setiap perkawinan harus dicatat.” Ayat (2) menyatakan “pencatatan perkawinan tersebut pada ayat (1), dilakukan oleh pegawai pencatat nikah sebagaimana yang diatur dalam undang-undang No. 22 Tahun 1946 jo Undang-undang No.32 Tahun 1954.”
Pasal 6 ayat (1) menyatakan “untuk memenuhi ketentuan dalam pasal 5, setiap perkawinan harus dilangsungkan dihadapan dan di bawah pengawasan pegawai pencatat nikah.” Ayat (2) menjelaskan “Perkawinan yang dilakukan di luar pengawasan pegawai pencatat nikah tidak mempunyai kekuatan hukum”
Pasal 7 ayat (1) menyatakan “perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan Akta Nikah yang dibuat oleh Pegawai Pencatat Nikah.” Ayat (2) menyatakan “dalam hal perkawinan tidak dapat dibuktikan dengan Akta Nikah, dapat diajukan itsbat nikahnya ke Pengadilan Agama” Ayat (3) itsbat nikah yang dapat diajukan ke Pengadilan Agama terbatas mengenai hal-hal yang berkenaan dengan:
a. Adanya perkawinan dalam rangka penyelesaian perceraian;
29
c. Adanya keterangan tentang sah atau tidaknya salah satu syarat
perkawinan;
d. Adanya perkawinan yang terjadi sebelum berlakunya Undang-undang
No. 1 tahun 1974;”
Ayat (4) menyatakan “yang berhak mengajukan permohonan itsbat nikah ialah suami atau isteri, anak-anak mereka, wali nikah dan pihak yang berkepentingan dengan perkawinan itu.”
Pasal 8 menyatakan “Putusnya perkawinan selain cerai mati hanya dapat dibuktikan dengan surat cerai berupa putusan Pengadilan Agama baik yang berbentuk putusan perceraian, ikrar talak, khuluk atau putusan taklik talak.”
Pasal 9 ayat (1) menyatakan “apabila bukti sebagaimana pada pasal 8 tidak ditemukan karena hilang dan sebagainya, dapat dimintakan salinannya kepada Pengadilan Agama.” Ayat (2) menyatakan “dalam hal surat bukti yang dimaksud dalam ayat (1) tidak dapat diperoleh, maka dapat diajukan permohonan ke Pengadilan Agama”
Pasal 10 menyatakan “rujuk hanya dapat dibuktikan dengan kutipan buku pendaftaran Rujuk yang dikeluarkan oleh Pegawai Pencatat Nikah.”Adapun hukum menikah bagi setiap muslim dapat di bagi kedalam empat bagian, yaitu sebagai berikut:
30
a. Wajib hukumnya bagi orang yang mampu untuk menikah dan khawatir
akan melakukan perbuatan zina menurut jumhur ulama. Karena dia
wajib menjaga dirinya agar terhindar dari perbuatan haram. 8
b. Haram hukumnya bagi orang yang yakin akan menzalimi dan
membawa mudharat kepada istrinya karena ketidak mampuan dalam memberi nafkah lahir dan batin.
c. Sunah hukumnya menurut jumhur ulama bagi orang yang apabila
tidak menikah sanggup menjaga dirinya untuk tidak melakukan perbuatan haram dan apabila ia menikah harus yakin tidak akan menzalimi & membawa mudharat kepada istrinya, Rasulullah SAW bersabda:
و ﻪ ﷲ ﻰ ِﱯ ﺴﺒ نﺴأﱡ ﻪ ﻪﺎ ﺜ ﺳ ِ ﺎﺴ ِ ﺸ ِ ﺴﺴأ ﺸ ﺴ ﺴو
ﺴ ﺴﺸـﺴأﺴو , ﺴﻪﺴﺒ ﺴﺪِﺴﲪ
,ِﻪﺸﺴ
ﺸﺴﺴـ ِﱵ ُ ﺸ ﺴ ﺴ ِﺴﺜ ﺸ ﺴﺴ,ﺴءﺎﺴ ِﺷﺴﺒ ُﺗوﺴﺰﺴـﺴأﺴو ,ُﺮِ ﺸُأﺴو ُمﻮُ ﺴأﺴو ,ُمﺴ�ﺴأﺴو ِﺷﺴ ُأ ﺴ�ﺴأ ِﺷِ ﺴ :ﺴلﺎﺴﺴو
ﺴ
ﱠ ِﺷِ
ِﻪﺸﺴﺴ ُ ﺴـ ُ
Dari Anas Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi SAW bersabda: “Akan tetapi saya juga berpuasa, berbuka, shalat, bersenggama dan menikahi wanita-wanita. Maka barang siapa yang tidak suka sunnahkumaka tidak termasuk dari umatku”. (HR.Bukhari-Muslim).18
d. Makruh hukumnya menikah bagi orang yang khawatir akan berbuat
nista dan membawa mudharat kepada istrinya dan tidak merasa yakin dapat menghindarinya jika ia menikah seperti merasa
8
Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah, selanjutnya disebut Ibnu Qudamah al- Mughni, (Kairo: Hijr, 1413 H/1992 M) jilid 9, h. 340.
31
tidak mampu memberi nafkah, perlakuan tidak baik kepada istri
serta merasa tidak terlalu berminat terhadap perempuan.19
C.Rukun Dan Syarat Perkawinan
Rukun adalah sesuatu yang mesti ada yang menentukan suatu pekerjaan (ibadah), dan sesuatu itu termasuk dalam rangkaian itu, seperti membasuh muka untuk wudhu dan takbiratul ihram dalam sholat atau adanya calon pengantin laki-laki atau perempuan dalam perkawinan. Adapun syarat adalah sesuatu yang mesti ada yang menentukan sah atau tidaknya suatu pekerjaan atau (ibadah), tetapi sesuatu itu tidak termasuk dalam rangkaian pekerjaan. Seperti menutup aurat dalam sholat atau calon pengantin laki-laki dan perempuan harus beragama islam.