• Tidak ada hasil yang ditemukan

7. PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN

7.2. Dasar Pembayaran

Kuantitas pekerjaan perencanaan yang diukur menurut ketentuan di atas, akan dibayar menurut satuan pengukuran dengan harga yang dimasukkan dalam Daftar Kuantitas dan Harga untuk masing-masing Mata Pembayaran yang terdaftar di bawah ini, dimana harga dan pembayaran tersebut.

Nomor Pembayaran Uraian Satuan Pengukuran 1. 2.

Biaya Langsung Personil Biaya Langsung Non Personil : 2.1. Biaya Perjalanan Dinas 2.2. Biaya Operasional Kantor 2.3. Pengukuran dan Pemetaan

- Pemasangan Patok BM dan CP - Pengukuran poligon dan situasi - Pengukuran cross-section 2.4. Penyelidikan Lapangan Geoteknik 2.5. Penyelidikan Laboratorium Geoteknik 2.6. Survey dan Penyelidikan Sedimen dan

Air 2.7. Biaya Pelaporan 2.8. Biaya Diskusi OB Orang-kali Unit - Bulan Buah ha m Buah Sampel Sampel Exemplar Lump-sum

Bibliografi

Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Badan Penelitian dan Pengembangan, 2002, SNI 03-1724-1989, Tata Cara Perencanaan Hidrologi dan Hidraulik untuk Bangunan di Sungai. Jakarta

Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Badan Penelitian dan Pengembangan, 2002, SNI 03-2415-1991, Metode Perhitungan Debit Banjir, Jakarta

Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Badan Penelitian dan Pengembangan, 2002, KP-02, Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan Utama, Jakarta.

Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Badan Penelitian dan Pengembangan, 2002, KP-04, Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan Utama, Jakarta.

Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Badan Penelitian dan Pengembangan, 2002, KP-07, Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan Utama, Jakarta.

Sinaro, Radhi, dan A.Yusuf, Iskandar, HATHI, 1987, Perhitungan Simulasi Debit Sungai Cara Mock Untuk Menafsirkan Debit Andalan, Jakarta.

LAMPIRAN – A (Informatif)

Lampiran A.1

UJI HIDROLIS? YA TIDAK FINAL PERENCANAAN JARINGAN UTAMA B RENCANA ELEVASI MUKA AIR DI SALURAN

TAMBAHAN PENGUKURAN DAN PENYELIDIKAN YA PENYESUAIAN PERENCANAAN PENDAHULUAN DENGAN KEADAAAN LAPANGAN TINJAU KEMBALI KELAYAKAN PERLU PENYESUAIAN ? PERENCANAAN SALURAN PERENCANAAN BANGUNAN UTAMA PERENCANAAN BANGUNAN-BANGUNAN MODIFIKASI PERENCANAAN PERENCANAAN JARINGAN TERSIER PERENCANAAN AKHIR PELAKSANAAN EKSPLOITASI DAN PEMELIHARAAN

Lampiran A.2 Contoh Kerangka Acuan Kerja Pekerjaan Perencanaan Pendahuluan dan Studi Kelayakan

Perencanaan Pendahuluan dan Studi Kelayakan Bendung... di DAS... Kabupaten...

1. LATAR BELAKANG

Cakupan isi latar belakang dalam penyusunan kerangka acuan kerja, menguraikan :

- Menginformasikan tentang letak administratif daerah pekerjaan

- Menginformasikan kondisi daerah pekerjaan yang meliputi kondisi topografi, geologi regional, kondisi klimatologi, kondisi hidrologi serta ekositem pada daerah pekerjaan

- Kendala-kendala yang perlu diantisipasi dalam pelaksanaan pekerjaan

- Maksud dan tujuan secara global dengan adanya kegiatan

2. MAKSUD DAN TUJUAN 2.1. Maksud

Maksud dari pekerjaan ini adalah untuk menyusun rencana pelaksanaan pekerjaan bendung dengan kegiatan kajian perencanaan pendahuluan dan kajian kelayakan ekonomis pekerjaan dengan tujuan untuk rnendapatkan hasil survey dan investigasi secara menyeluruh serta konsep perencanaan bangunan pengambilan untuk keperluan irigasi.

2.2. Tujuan

Tujuan dari pekerjaan ini adalah untuk melakukan kajian terhadap rencana pembangunan bendung untuk keperluan irigasi beserta kajian ekonomis dan lingkungan dari pembangunan bendung

3. SASARAN

Sasaran dari pelaksanaan kegiatan Perencanaan Pendahuluan dan Studi Kelayakan Pembangunan bendung adalah mengoptimalkan pengambilan air dari sumber air dengan tujuan peningkatan hasil panen pada daerah pekerjaan.

4. NAMA DAN ORGANISASI PENGGUNA JASA Satuan Kerja Sementara... 5. SUMBER PENDANAAN

Pelaksanaan kegiatan ini diperlukan biaya kurang lebih Rp ...,- (...Rupiah) termasuk PPN dibiayai APBN-P tahun Anggaran ...

6. LINGKUP, LOKASI KEGIATAN, DATA DAN FASILITAS PENUNJANG SERTA ALIH PENGETAHUAN

6.1. Lingkup Kegiatan

Lingkup pekerjaan yang dilakukan oleh Penyedia Jasa adalah sebagai berikut : 6.1.1. Pengumpulan Data Sekunder

Kegiatan pengumpulan data sekunder, meliputi : a) Data Topografi

Kegiatan yang dilakukan adalah pengumpulan data peta topografi yang sudah ada, dimana keadaan topografi suatu daerah akan mempengaruhi bentuk dan ukuran suatu DAS. Peta topografi yang dikumpulkan harus

menampilkan kondisi tata guna lahan pada daerah studi, dimana kondisi tata guna lahan akan berpengaruh terhadap laju erosi, kecepatan aliran permukaan dan daya infiltrasisesuai dengan SNI 03-1724-1989.

Perolehan peta topografi dapat diperoleh pada Instansi yang berwenang, misalkan pihak Pengguna Jasa seperti PSDA berdasarkan peta yang ada serta skala dengan tingkat ketelitian yang ada. Jika di Instansi terkait tidak didapat maka pihak Penyedia Jasa dapat memperoleh di BAKOSURTANAL dengan skala minimum 1 : 250.000.

b) Data Hidrologi

Kegiatan pengumpulan data hidrologi berupa pengumpulan peta stasiun curah hujan, besarnya curah hujan, data meteorologi, debit historis baik debit minimum, rata-rata dan debit maksimum pada suatu daerah aliran sungai (DAS) yang pelaksanaan kegiatannya sesuai SNI 03-1724-1989. Berbagai data dan informasi dintaranya berupa :

i. Peta stasiun curah hujan dapat diperoleh pada instansi bmg dan mungkin juga Pengelola Sumber Daya Air (PSDA)

ii. Data curah hujan harian (terbaru) dapat diperoleh pada instansi bmg dan mungkin juga Pengelola Sumber Daya Air (PSDA).

iii. Data meteorologi berupa kondisi temperatur udara, kelembaban relatif, lama penyinaran dan kecepatan angin. perolehan data dapat diperoleh pada instansi BMG

iv. Data debit terbaru dengan bisa periode harian maupun bulanan minimum selama 5 tahun, yang didapat pada bangunan-bangunan sungai eksiting misalkan bendung.

c) Data Geologi Teknik

Kegiatan pengumpulan data geologi adalah pengumpulan peta geologi regional yang memuat jenis batuan, penyebaran jenis batuan, sifat fisik batuan serta tekstur dan struktur tanah dengan skala minimum 1:250.000 KP–01, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentang tahapan studi pelaksanaan pekerjaan.

Peta geologi regional dapat diperoleh di Direktorat Geologi Tata Lingkungan, jika tidak didapat maka pengumpulan data dapat diperoleh pada Instansi terkait.

d) Data Aspek Multisektor

Kegiatan pengumpulan data aspek multisektor melakukan pengumpulan yang berupa informasi lingkungan yang menginformasikan tentang kondisi kependudukan dan penggunaan air KP–01, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentang tahapan studi pelaksanaan pekerjaan. Informasi lingkungan dapat diperoleh dari dari BPS, PSDA, dan BAPEDAL. Data-data tersebut meliputi :

i. Komponen lingkungan fisik-kimia yang terdiri dari iklim, fisiografi dan geologi, hidrologi/kualitas air, ruang lahan dan tanah

ii. Komponen biologi yang terdiri dari kondisi flora, fauna dan biota air iii. Komponen sosial, ekonomi dan budaya yang meliputi jumlah penduduk,

tingkat pendidikan, mata pencaharaian dan pendapatan asli daerah (pad) dan lain-lain.

6.1.2. Survey

Kegiatan survey pada perencanaan pendahuluan dan studi kelaykan, meliputi : a) Survey Topografi

Melakukan kegiatan pengukuran dan pemetaan topografi untuk mendapatkan peta topografi ukuran 1 : 2.000, kegiatan pengukuran dan pemetaan mengacu dan berpedoman pada Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Pekerjaan yang Bersifat Umum, Bagian-2, Pengukuran Topografi dan Pemetaan.

b) Survey hidrometri

Sesuai dengan SNI 03-2414-1991 pelaksanaan pengukuran debit perlu diperhatikan ketentuan dan persyaratan yang meliputi :

i. Lokasi pengukuran debit perlu diperhatikan faktor : kesesuaian dengan perencanaan ; mudah pencapaian dalam segala situasi dan kondisi; mampu melewatkan banjir; geomteri dan badan sungai harus stabil; adanya kontrol penampang; bagian alur sungai atau saluran yang terbuka lurus.

ii. pertimbangan hidraulik meliputi : pola aliran yang seragam dan mendekati sub kritis; tdak terkena pengaruh arus balik dan aliran lahar iii. lama dan periode pelaksanaan : lama pengukuran debit tergantung dari

keadaan aliran pada saat pengukuran jika aliran rendah pengkuran debit dilaksanakan dua kali dalam sekali periode waktu pengukuran dan jika kondisi banjir pengukuran debit dilaksanakan sekali dalam periode waktu pengukuran sedangkan periode pelaksanaan pengukuran tergantung dari musim, jika musim kemarau pengukuran debit dilaksanakan cukup sekali dalam satu bulan dan jika musim penghujan pelaksanaan pengukuran dilaksanakan berulang kali paling sedikit 3 kali setiap bulannya

iv. keandalan peralatan dan sarana penunjang; peralatan dan sarana penunjang harus dipelihara agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya antara lain dengan kalibrasi secara berkala, dibersihkan dan dirawat dengan baik

v. kemampuan tim pengukurnya

Pelaksanaan pengukuran tinggi muka air, kecepatan dan debit dapat digunakan alat ukur arus tipe baling-baling. Cara pelaksanaan pengukuran dilakukan dengan merawas, menggunakan perahu, menggunakan jembatan dan menggunakan kerata gantung. Kedalaman pengukuran minimal 3,5 kali diameter baling-baling sesuai dengan SNI 03-2819-1992.

Jika metode pelaksanaan pengukuran di atas tidak dapat dipergunakan karena berbagai hal, misal keadaan aliran membahayakan keselamatan petugas atau peralatannya; kecepatan aliran melampaui kemampuan spesifikasi alat menurut jenis alat ukur arus yang digunakan dan untuk mendapatkan debit sesaat maka dapat dilakukan pengukuran dengan pelampung permukaan sesuai dengan SNI 03-2820-1992.

c) Survey Aspek Multisektor

Kegiatan survey aspek multisektor melakukan kunjungan lapangan yang bertujuan untuk menginventarisir permasalahan jika terjadi pengembangan dan menilai latar belakang sosial politik KP–01, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986.

6.1.3. Investigasi/Penyelidikan lapangan

Kegiatan investigasi atau penyelidikan lapangan pada kegiatan perencanaan pendahluan dan studi kelayakan, meliputi :

a) Sungai

(1) Sampling Sedimen Layang

Kegiatan investigasi sungai adalah pengambilan sampel sedimen baik dasar maupun layang, pengambilan sampel sedimen layang dilakukan pada lokasi yang tidak terpengaruh adanya aliran balik yang diakibatkan oleh bangunan air dan sebelum dilakukan kegiatan pengambilan sampel perlu dilakukan kegiatan pengukuran yang meliputi penampang melintang dan debit. Perletakan peralatan pada lubang pengambilan harus berada 10 cm di atas dasar sungai SNI 03-3414-1994.

(2) Sampling Sedimen Dasar

Sampel diambil dari dasar sungai pada penampang memanjang dan penampang melintang ditempat yang dianggap dapat mewakili kondisi material dasar sungai setempat metode pengambilan disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.

b) Geoteknik

Investigasi/penyelidikan lapangan pada goeteknik yang dilakukan adalah pengambilan sampel tanah serta pelaksanaan pemboran. Kegiatan investigasi geoteknik mengacu dan berpedoman pada Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Pekerjaan yang Bersifat Umum,

Bagian-3, Penyelidikan Geoteknik. 6.1.4. Uji Laboratorium

Kegiatan uji laboratorium, meliputi : a) Sedimen

Analisis laboratorium sedimen diperlukan untuk mengetahui karakteristik sedimen yang terbawa oleh aliran sungai.

(1) Sedimen Layang, pengujian dilakukan dengan prinsip sebagai berikut : i. jika pengambilan contoh benda uji sedimen sesuai dengan SNI

03-3414-1994, maka metode pengujian laboratorium yang digunakan untuk mengetahui kadar sedimen layang digunakan peralatan Piknometer SNI 03-4145-1996.

ii. jika pengambilan contoh benda uji sedimen layang dalam pengambilannya dilakukan dengan cara mencelupkan botol pada posisi berada ± 20 cm di bawah permukaan air dengan posisi mulut botol berlawanan dengan arah aliran maka metode pengujiannya dilakukan secara gravimetri dengan pengendapan untuk mengetahui kadar sedimen SNI 03-3961-1995. Sedangkan untuk mengetahui distribusi butiran maka dilakukan uji gravimetri dengan ayakan SNI 03-3962-1995.

(2) Sedimen Dasar

Pengujian sampel sedimen dasar dilakukan berdasarkan ketentuan yang berlaku.

b) Geoteknik (Index Properties dan Engineering Properties)

Analisis laboratorium geoteknik untuk keperluan Index Properties dan Engineering Properties mengacu dan bepedoman pada Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Pekerjaan yang Bersifat Umum,

Bagian-3, Penyelidikan Geoteknik. 6.1.5. Analisis

a) Hidrologi, meliputi : (1) Ketersediaan air

Adapun tahap kegiatannya adalah sebagai berikut :

(a) Analisis awal terhadap kondisi klimatologi pada lokasi pekerjaan yang berupa analisis evaporasi dan evapotranspirasi potensial.

i. Jika data klimatologi yang tersedia adalah suhu udara, kelembaban relatif, kecepatan angin, lama penyinaran matahari dan tekanan udara serta data topografi yang meliputi elevasi atau altitude stasiun pengamatan dan letak garis lintang maka perhitungan evapotranspirasi menggunakan metode Penman-Monteith sesuai dengan RSNI T-01-2004

ii. Jika data klimatologi yang ada adalah suhu udara, kelembaban relatif, kecepatan angin dan lama penyinaran matahari maka perhitungan evapotranspirasi menggunakan metode Penman Modifikasi

iii. Jika data klimatologi yang ada adalah suhu udara dan lama penyinaran matahari maka perhitungan evapotranspirasi menggunakan metode Radiasi dan Blaney-Criddle

iv. Jika data klimatologi yang ada adalah suhu udara maka perhitungan evapotranspirasi menggunakan metode Thornthwaite.

v. Jika data topografi berupa data digital map maka metode analisisnya digunakan Digital Elevation Modelling (DEM)

Tabel 1 Keperluan Data terhadap Metode Analisis Evapotranspirasi

No. Metode Suhu Udara Kelembaban Relatif Kecepatan Angin Lama Penyinaran Tekanan Udara 1. Penman-Monteith ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ 2. Penman Modifikasi ∗ ∗ ∗ ∗ 3. Blaney- Criddle ∗ ∗ 4. Thornwaite ∗

(b) Analisis ketersediaan air adalah besarnya debit aliran yang ada di sungai sebagai sumber pengambilan untuk pemenuhan kebutuhan yang meliputi debit andalan dengan berbagai probabilitas (probability) dalam artian 80 % musim kering.

i. Jika data debit yang tersedia ≥ 10 tahun dan berurutan maka metode yang digunakan adalah analisis lengkung kekerapan SNI 03-6738-2002 dan jika data debit yang tercatat kurang lengkap karena hilang atau rusak maksimum 10 %, maka dapat dilakukan pengisian sesuai dengan Pd. T-22-2004-A

ii. Jika data debit yang tersedia ≤ 10 tahun, untuk memperpanjang data dapat digunakan Model Simulasi Hidrologi Hujan-Aliran sesuai dengan ketentuan yang berlaku, misalkan menggunakan Metode Mock, N-Reca, Scramento dan lain-lain.

iii. Jika data debit dan data hujan tidak ada, maka perhitungan debit andal dapat dilakukan dengan :

- Cara Analisis Wilayah dari hasil penelitian yang sudah ada atau sesuai dengan ketentuan yang berlaku

- Model simulasi yang melahirkan data debit simulasi dengan menggunakan parameter dari DAS sekitarnya yang mempunyai karakteristik basin yang sama (kondisi topografi, geologi dan tanaman penutup) sesuai dengan ketentuan yang berlaku

(2) Analisis Debit Banjir Rancangan

Analisis frekuensi banjir rancangan berdasarkan data debit, curah hujan dan luas DAS SNI 03-2415-1991. Metode perhitungan adalah sebagai berikut :

i. Metode analisis probabilitas frekuensi debit banjir

Jika data aliran sungai yang tersedia cukup panjang (> 20 tahun), sehingga analisisnya dapat langsung dilakukan dengan Metode Gumbel, Log Pearson atau Log Normal

ii. Metode analisis regional, jika data debit < 20 tahun dan > dari 10 tahun

iii. Metode puncak banjir di atas ambang, apabila data debit yang tersedia antara 3 – 10 tahun

iv. Metode empiris apabila perkiraan besarnya banjir berdasarkan parameter hujan dan karakteristik DPS antara lain :

- Metode Rasional, digunakan pada perencanaan sarana drainase dengan daerah tangkapan yang kecil (< 40 Ha)

- Der Weduwen, digunakan untuk analisis debit banjir dari sebuah DAS dengan luas < 100 km2

- Melchior, digunakan untuk analisis debit banjir dari sebuah DAS dengan luas > 100 km2

- Haspers dan Mononobe digunakan untuk analisis debit banjir dari sebuah DAS tanpa memperhatikan luas DAS

- Metode Hidrograf Satuan

- Metode US – Soil Conservation Service

v. Model matematik digunakan apabila selang waktu pengamatan data hujan lebih panjang daripada pengamatan data debit selanjutnya yang selanjutnya digunakan untuk memperpanjang data aliran (3) Analisis air baku

Analisis kebutuhan air baku sesuai dengan KP-01, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentang tahapan studi pelaksanaan pekerjaan, meliputi :

i. Keperluan irigasi, kegiatannya analisis kebutuhan penyiapan lahan untuk padi, penggunaan konsumsi padi, perkolasi dan rembesan, penggantian lapisan air dan curah hujan efektif;

iii. Keperluan air industri (4) Analisis Kesetimbangan Air

Simulasi kesetimbangan air yang harus menganalisa tentang hubungan antara ketersediaan sumber air dan penggunaan air sesuai dengan KP-01, SK DJPengairan No. 185/KPTSA/A/1986.

b) Analisis Laju Muatan Sedimen

Analisis laju muatan sedimen baik sedimen dasar (bed load) maupun sedimen layang (suspended load) dengan parameter jenis material, diameter butir dan volume atau berat per satuan waktu, persamaan yang umum digunakan untuk analisa adalah Meyer-Peter dan Muller, Engelund-Hansen, Einstein dan Einstein-Brown sesuai dengan SNI 03-1724-1989. c) Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL)

Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 17 Tahun 2001 untuk kegiatan pembangunan bendung yang merlukan kajian ANDAL harus, jika bendung melayani areal irigasi seluas ≥ 2000 Ha

Ruang lingkup kegiatan ANDAL meliputi :

i. identifikasi semua rencana usaha dan atau kegiatan yang akan dilaksanakan, terutama yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup

ii. identifikasi komponen-kmponen lingkungan hidup yang akan terkena dampak besar dan penting

iii. perkiraan dan evaluasi usaha dan atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup

iv. perumusan RKL dan RPL d) Analisis Kelayakan Ekonomi

Analisa kelayakan ekonomi akan dilakuakn dengan mengkaji tiga parameter ekonomi yaitu :

(1) Economic Internal Rate of Return (EIRR) (2) Benefit/Cost ratio (B/C ratio)

(3) Net present value (NPV),

Sebagai evaluasi terhadap kemungkinan penundaan atau perubahan schedule pelaksanaan pekerjaan juga akan dikaji aspek sensitivitas EIRR. 6.1.6. Perekayasaan

a) Rencana pendahuluan tata letak bangunan. b) Kapasitas rencana

c) Tipe bangunan dan penggambaran.

d) Rincian volume dan perkiraan anggaran biaya 6.2. Lokasi Kegiatan

Lokasi pelaksanaan pekerjaan berada di Sungai...Kecamatan ... Kabupaten...

6.3. Data dan Fasilitas Penunjang Serta Alih Pengetahuan 6.3.1. Penyediaan Data dan Fasilitas Penunjang

1) Penyediaan oleh Pengguna Jasa

Data dan fasilitas yang disediakan oleh Pengguna Jasa yang dapat digunakan dan akan dipelihara oleh Penyedia Jasa :

a) Laporan dan data yang akan diberikan kepada Penyedia Jasa yaitu berbagai laporan dan data yang tersedia dari hasil studi terdahulu

b) Akomodasi dan Ruangan Kantor (sesuai kesepakatan)

c) Pengguna jasa akan menunjuk petugas atau wakilnya yang bertindak sebagai pengawas atau pendamping (countepart), atau project officer (PO) dalam rangka pelaksanaan jasa konsultansi

2) Penyediaan oleh Penyedia Jasa

Penyedia Jasa akan menyediakan dan memelihara semua fasilitas dan peralatan yang dipergunakan untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan.

a) Penyedia Jasa memfasilitasi : peralatan, laboratorium dan bahan yang sesuai untuk mencapai rencana mutu desain dan konstruksi.

b) Penyedia Jasa harus memberikan hasil pekerjaan sesuai dengan rencana mutu desain atau rencana mutu konstruksi. Pekerjaan akan diperiksa sewaktu-waktu untuk menjamin terpenuhinya persyaratan teknis yang telah ditetapkan. Penyedia Jasa menanggung biaya pekerjaan tambahan/pengulangan bila ternyata hasil pekerjaannya tidak memenuhi persyaratan teknis menurut penilaian pihak Direksi Pekerjaan atau Nara Sumber yang ditunjuk oleh Pengguna Jasa.

6.3.2. Tenaga Ahli dan Tenaga Pendukung

Dalam pelaksanaan pekerjaan perlu melibatkan personil baik tenaga ahli maupun tenaga pendukung dengan ketentuan dan persyaratan sebagai berikut :

1) Tenaga Ahli

Tenaga ahli termasuk asisten dan staf tenaga ahli yang diperlukan dalam rangka penyelesaian pekerjaan harus berkompeten dibidangnya masing-masing dengan menyerahkan kualifikasi/sertfikasi dan curriculum vitae/daftar riwayat hidup. 2) Tenaga Pendukung

Tenaga pendukung sifatnya mendukung tenaga ahli dalam penyelesaian pekerjaan baik dalam segi teknis, urusan administrasi serta kelancaran pelaksanaan pekerjaan.

6.3.3. Persyaratan Pelaksanaan

Dalam hal persyaratan pelaksanaan pekerjaan, Penyedia Jasa harus memperhatikan berikut ini :

1) Jadwal Pelaksanaan

Untuk perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan yang sebagaimana mestinya atas pekerjaan, Penyedia Jasa harus mempersiapkan Jadwal Pelaksanaan. Penyedia Jasa harus membuat Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan dalam bentuk Kurva-S yang menggambarkan seluruh kemajuan pekerjaan.

2) Diagram Batang (Bar-Chart)

Penyedia Jasa harus membuat diagram batang yang menginformasikan tentang keterlibatan personil baik tenaga ahli, asisten, staf tenaga ahli dan staf pendukung yang berhubungan dengan penyerapan biaya yaitu keterlibatan orang -bulan.

7. METODOLOGI

Metodologi yang dilakukan dalam perencanaan ini yaitu pengumpulan data sekunder (topografi, hidrologi, geologi regional), pengumpulan data primer (survey pengukuran dan pemetaan, survey hidrometri dan penyelidikan geoteknik), pengolahan data dan perencanaan bangunan utama dan penunjang bendung.

8. JANGKA WAKTU PELAKSANAAN

Jangka waktu pelaksanaan kegiatan ini diperkirakan ... (...) hari kalender 9. PERSONIL TENAGA AHLI

Keperluan tenaga ahli untuk penyelesaian pekerjaan ini adalah sebagai berikut : 1. Ketua Tim (Team Leader)

Ketua Tim disyaratkan seorang Ahli Sumber Daya Air Profesional Utama/Ahli Teknik Sipil (S1/S2/S3), berpengalaman dalam bidang Sumber Daya Ait dalam kegiatan perencanaan, pelaksanaan pembangunan, O&P bangunan air, dengan pengalaman minimal 10 tahun.

2. Tenaga Ahli Sungai

Tenaga Ahli Sungai adalah Ahli Sumber Daya Air Profesional Madya/Ahli Teknik Sipil (S1/S2/S3), berpengalaman dalam bidang Sumber Daya Air dalam kegiatan perencanaan, pelaksanaan pembangunan, O&P bangunan air, dengan pengalaman minimal 8 tahun.

3. Tenaga Ahli Hidrologi

Tenaga Ahli Hidrologi adalah Ahli Sumber Daya Air Profesional Madya /Ahli Teknik Sipil (S1/S2/S3), berpengalaman dalam bidang Sumber Daya Air dalam kegiatan perencanaan, pelaksanaan pembangunan, O&P bangunan air, dengan pengalaman minimal 7 tahun.

4. Tenaga Ahli Hidraulik Struktur

Tenaga Ahli Hidraulik Struktur adalah Ahli Sumber Daya Air Profesional Madya /Ahli Teknik Sipil (S1/S2/S3), berpengalaman dalam bidang Sumber Daya Air dalam kegiatan perencanaan, pelaksanaan pembangunan, O&P bangunan air, dengan pengalaman minimal 8 tahun.

5. Tenaga Ahli Geodesi

Tenaga ahli yang disyaratkan adalah Sarjana Geodesi Strata Satu (S.1) lulusan universitas perguruan tinggi negeri atau yang disamakan yang berpengalaman melaksanakan pekerjaan dibidang Geodesi subbidang Survey Topografi sekurang-kurangnya.6 (enam) Tahun Lulusan pendidikan Sarjana Geodesi (S1) dengan pengalaman kerja minimal 5 tahun.

6. Tenaga Ahli Geoteknik

Tenaga Ahli Geoteknik adalah Ahli Sumber Daya Air Profesional Madya/Ahli Teknik Sipil (S1/S2/S3), berpengalaman dalam bidang Sumber Daya Air dalam kegiatan perencanaan, penyelidikan dan supervisi geoteknik dengan pengalaman minimal 10 tahun

7. Tenaga Ahli Lingkungan

Tenaga ahli yang disyaratkan adalah Sarjana Biologi Strata Satu (S1) lulusan universitas pergururan tinggi negeri atau yang disamakan yang berpengalaman melaksanakan pekerjaan dibidang Lingkungan subbidang Analisis Lingkungan sekurang-kurangnya 5 (lima) Tahun. Sebagai pelaksana dan penanggung jawab

8. Tenaga Ahli Sosial Ekonomi

Tenaga ahli yang disyaratkan adalah Sarjana Ekonomi Strata Satu (S.1) lulusan universitas pergururan tinggi negeri atau yang disamakan yang berpengalaman melaksanakan pekerjaan dibidang Analisis Ekonomi subbidang Analisis Sosial Ekonomi sekurang-kurangnya.5 (lima) Tahun. Ahli Sosial - Ekonomi bertugas melakukan evaluasi dan analisis bidang ekonomi yang meliputi : Analisa Nilai Bersih Sekarang (NPV), Nisbah Biaya Keuntungan (BCR), dan Tingkat Pengembalian Internal (IRR) dan Titik Impas (BEP) serta menganalisis dampak sosial yang mungkin akan timbul akibat dari pelaksanaan pembangunan konstruksi. 9. Chief Surveyor

Tenaga Chief Surveyor dengan reputasi yang baik, lulusan Sarjana Muda Teknik Geodesi dengan pengalaman minimal 7 (tujuh) tahun atau STM Bangunan Air, atau lebih baik dari pendidikan tenaga survey dan pemetaan (PTSP) dengan pengalaman sedikitnya 8 (delapan) tahun dalam menangani pengkuran topografi dibidang keairan antara lain : sungai, irigasi, dan lain-lain.

Dokumen terkait