BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.8 Dasar Pemikiran Dan Konsep Solusi
Masalah yang muncul pada klien penyakit jantung koroner yang akan menjalani kateterisasi jantung adalah timbulnya kecemasan (Khaledifar et al. 2017; Cho et al. 2013; Ziyaeifard et al. 2016).
Kecemasan ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya : ketakutan akan kematian, komplikasi tindakan, kurang pengetahuan, perubahan pasca tindakan, hospitalisasi, menunggu tindakan, lingkungan tidak dikenal, terisolasi dari keluarga, petugas kesehatan tidak dikenal (Khaledifar et al. 2017; Cho et al. 2013; Ziyaeifard et al. 2016).
Kecemasan pada klien yang akan menjalani kateterisasi jantung yang disebabkan karena takut akan kematian dan prognosa buruk penyakit dapat diatasi
dengan pendekatan psiko spiritual yang dilakukan dengan membangkitkan kesadaran sebagai seorang hamba dan agar klien berupaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pendekatan yang dilakukan harus dilandasi atas kecintaan hamba kepada tuhannya. Seorang hamba yang mencinta akan senang dan tidak perlu merasa takut bila bertemu dengan yang dicintai, bahkan justru sebaliknya berharap bertemu dengan yang dicintai.
Zikir sebagai sebuah terapi atau cara pengobatan telah dikenal selama berabad-abad yang lalu. Di zaman Nabi Muhammad SAW (Abad 6 M) zikir digunakan untuk mengobati berbagai kelainan baik fisik maupun mental. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Thibbun Nabawi (Metode Pengobatan Nabi) menyatakan bahwa diantara berbagai obat untuk menyembuhkan penyakit adalah jenis obat-obat hati (jiwa), rohani, kekuatan hati, bersandar pada Allah, kembali dan tawakal kepada Allah, merendah dan pasrah kepada Allah, sedekah, doa, taubat, istigfar, berbuat baik, membantu orang yang kekurangan dan menghilangkan kesusahan orang lain (Al-Jauziyah 2004).
Alasan tersering yang diajukan oleh kebanyakan orang adalah tidak siap menghadapi kematian. Upaya mempersiapkan ini adalah merupakan suatu proses adaptasi sampai bisa ketahap penerimaan.
Teori adaptasi Roy menjelaskan bahwa ada suatu mekanisme proses kontrol yang menyatakan bahwa adaptasi dapat melalui proses belajar. Proses belajar meliputi peniruan, penguatan positif dan pemahaman yang mendalam (Aligood 2014). Proses belajar ini akan diterapkan dalam pelaksanaan intervensi zikir. Zikir dilakukan dengan pengulangan kata-kata positif, penguatan positif
melalui motivasi dan pemberian pemahaman makna zikir untuk meningkatkan persepsi positif sehingga mampu memberikan adaptasi positif. Tahap adaptasi ke fase penerimaan dapat melalui tahapan berduka Kubler ross yaitu menyangkal (denail), marah (anger), tawar menawar (bargaining), depresi dan penerimaan (acceptance) sebagai suatu proses pengendalian diri (Potter & Perry 2010). Upaya penerimaan terhadap kondisi sakit dapat dilakukan dengan cara melakukan pemeriksaan dan pengobatan sebagai suatu ikhtiar untuk mendapatkan kembali kesehatan dengan keyakinan bahwa tiada penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Setelah ikhtiar maka diperlukan ketawakalan atas hasilnya yaitu sembuh yang tidak akan kambuh atau sembuh untuk selamanya (meninggal). Cinta dan Kesadaran sebagai seorang hamba akan meningkatkan kecerdasan spiritual seseorang.
Zikir dalam penelitian ini dikombinasikan dengan aromaterapi karena aromaterapi mempercepat proses persepsi dengan cara mempengaruhi perubahan kognitif. Persepsi akan suatu aroma, misalnya aroma anyir darah dipersepsikan sebagai kematian, aroma kemenyan dapat dipersepsikan sebagai ritual agama demikian pula aroma lavender atau rose yang menyegarkan akan menimbulkan efek relaksasi, sehingga dapat meningkatkan koping dan menurunkan stres dan kecemasan (Buckle 1998).
Aromaterapi sudah digunakan sejak zaman Yunani oleh ratu Cleopatra dengan cara mencampurkan bunga pada air mandi untuk menyegarkan tubuh. Pada zaman nabi muhammad beliau juga sering mengunakan aroma atau wewangian untuk menjaga kesehatan dan menyarankan umatnya untuk memakai
wewangian saat akan sholat dan saat seorang pria/wanita akan mendekati pasangannya. Dalam kitab Thibbun Nabawi disebutkan bahwa aroma wewangian adalah makanan ruh, sementara ruh adalah pusat stamina, maka ketika ruh diberi makan dengan wewangian maka stamina juga akan meningkat. Dikatakan lebih lanjut bahwa wewangian dapat membersihkan otak, jantung, organ tubuh bagian dalam serta mengembirakan hati, menyenangkan jiwa serta memberi kesegaran ruh (Al-Jauziyah 2004).
Dalam ritual upacara berbagai agama juga banyak digunakan dupa, kemenyan, hio, atau aroma bunga sebagai kelengkapan ibadah. Aroma wewangian ini mampu meningkatkan fokus dan atensi pada ritual ibadah. Aroma yang dipelajari akan meningkatkan kognitif dan persepsi serta memperbaiki mood dan spirit.
Penelitian aromaterapi pada klien kateterisasi jantung mampu menurunkan kecemasan sebanyak 5% (Ziyaeifard et al. 2016). Perlu dilakukan kombinasi antara zikir dan aromaterapi agar mendapatkan hasil maksimal. Bahan aromaterapi yang dipilih adalah lavender karena mengandung linalool dan 1,8 cineol yang memiliki sifat antidepresi, anti cemas (anxiolytic) dan menenangkan (narcotic actions), mengatasi sakit kepala dan nyeri otot (T. Karaman et al. 2016; Ziyaeifard et al. 2016; Bagheri-nesami et al. 2016; Koulivand et al. 2013; Ali et al. 2015; Johnson et al. 2016).
Mekanisme dari cara kerja spiritual zikir aromaterapi (Spiriziomacare) yaitu zikir melalui perangsangan hipothalamus melalui jalur amigdala dan hipokampus pada sistem limbik di kortek pre frontal yang mengubah persepsi dan
meningkatkan spirit dan mood. Perangsangan pada korteks prefrontal maupun korteks serebral menghasilkan perbaikan persepsi, kognitif, mood dan spirit. Proses perbaikan persepsi inilah yang disebut sebagai stres persepsi (stress perception).
Adapun mekanisme aromaterapi melalui sinyal biologis dari sel reseptor (olfactory bulb) di hidung saat di inhalasi ditransmisikan melalui nervus olfactory menuju sistim limbik pada sebuah cincin komplek bagian dalam dari struktur otak dibawah kortek serebral, diterjemahkan pada regio 53 dan 35 yang dihubungkan oleh suatu saluran (Buckle 1998). Pada area ini amigdala mengatur respon emosional dan menurunkan pengaruh stimulus emosional luar dengan meningkatkan jumlah neuron inhibitor yang berisikan ℽ-aminobutyric acid (GABA), respon menghirup lavandula angustifolia (Lavender) serupa dengan efek sedatif yang diproduksi amigdala. Hippokampus sebagai area yang berperan dalam proses kimiawi dan pemicu memori atau ingatan tentang suatu aroma yang telah dipelajari. Hal ini menjelaskan cara seorang bayi belajar dan mengenali ibunya melalui aroma, atau tentang aroma kemenyan yang dihubungkan dengan simbol ritual keagamaan atau hal gaib (mistis).
Selanjutnya sinyal akan diteruskan pada bagian hipotalamus otak melalui saraf olfaktori yang selanjutnya akan mengaktifasi HPA axis untuk mengurangi produksi hormon corticotrophin-releasing factor (CRF) sehingga kelenjar hipofise anterior (pituitary) akan menurunkan sekresi ACTH (adrenocorticotropic hormon). Penurunan sekresi ACTH menyebabkan kadar kortisol juga mengalami penurunan sehingga terjadilah peningkatan kadar β endorfin. Peningkatan β
endorfin merupakan respon dari intervensi spiriziomacare dapat mengurangi kecemasan dan nyeri (Hall 2011).
Stabilitas tanda vital meliputi tekanan darah, nadi dan frekuensi pernapasan) disertai peningkatan rasa nyaman sebagai efek endorfin. Peningkatan endorfin akan menurunkan kecemasan sebagai respon tubuh. Penurunan tekanan darah, nadi dan frekuensi pernapasan merupakan respon fisiologis tubuh sedangkan penurunan kecemasan merupakan respon psikologis tubuh (stress response) terhadap intervensi spiriziomacare. Stress perception dan stress response merupakan bagian dari konsep psikoneuroimunologi.
Dapat disimpulkan bahwa konsep solusi mengatasi kecemasan melalui spiriziomacare adalah melalui konsep pendekatan kecintaan kepada Allah melalui zikir dan dikombinasikan dengan aromaterapi lavender yang memiliki efek sedatif, yang berperan dalam memperbaiki kognisi, persepsi, mood dan spirit dengan hasil akhir berupa penurunan kecemasan klien yang akan menjalani kateterisasi jantung.