• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Dasar Pertimbangan bagi Hakim Pengadilan Negeri Semarang

terhadap Anak

Sebagaimana telah dirumuskan di dalam pasal 1 butir (8) dan (9) KUHAP, pejabat peradilan yang berwenang membuat putusan pengadilan adalah Hakim. Sebelum memutuskan suatu perkara, terlebih-lebih lagi perkara yang menyangkut pelaku anak, Hakim harus memperhatikan hal-hal yang dapat menjadi pertimbangan dalam putusannya. Seorang hakim dalam mengadili dan memutus suatu perkara pidana, dituntut agar putusan yang diberikan dapat mencerminkan hukum positif yang berlaku dan dapat menerapkan apa yang tersirat dalam KUHP secara tepat dan benar. Dalam memutus perkara tersebut dituntut suatu persyaratan tertentu demi menemukan kebenaran dan menciptakan keadilan serta kepastian hukum dalam putusannya.

Jika kita perhatikan secara seksama maka Pasal 50 ayat (1) UU No. 48 Tahun 2009 mengatur mengenai penjatuhan putusan pengadilan, adapun dasar untuk mengadili terletak pada lapangan obyektif dulu (perbuatan) baru lapangan subyektif (kesalahan). Artinya, berdasarkan pasal tersebut sebelum menjatuhkan putusan, hakim harus menentukan terlebih dahulu hal yang bersifat obyektif, yakni apakah perbuatan yang dilakukan oleh pelaku terbukti melawan hukum atau tidak, dan tentunya hal ini harus didukung oleh suatu pasal dari KUHP atau peraturan lain di luar KUHP.

Setelah menentukan hal yang bersifat obyektif, langkah berikutnya adalah menentukan hal yang bersifat subyektif. Artinya, apakah pelaku punya kesalahan atau tidak. Kesalahan yang dimaksud di sini adalah kesalahan yang menyangkut perbuatan yang dilakukan dan merupakan kesalahan normatif yang menyatakan pernilaian terhadap hubungan antara sikap bathin dan perbuatan. Menurut Moeljatno, “Kesalahan adalah pernilaian dari keadaan psychologis, dan dinamakan Normatief Schuldbegrib (paham kesalahan yang normatif)”.62

Dengan demikian, setiap putusan hakim akan selalu membawa pengaruh bagi seorang terdakwa anak, terutama sekali adalah menyangkut masa depan si anak tersebut. Karena setiap anak tetap mempunyai hak untuk diperlakukan dengan baik dan juga untuk memperoleh dan mengisi masa depannya dengan hal-hal yang positif dengan harapan nantinya berguna bagi kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara.

Untuk itulah Hakim tidak boleh langsung menjatuhkan suatu pidana kepada seorang terdakwa anak yang diajukan ke depan sidang anak. Dan kalaupun seorang anak dijatuhi pidana maka hakim haruslah dapat menimbang

62 Moeljatno, Asas…, halaman 162. Dalam bukunya Moeljatno tersebut dijelaskan lebih lanjut, kesalahan normatif sebagai hal yang bersifat subyektif merupakan kesalahan yang harus dktikan oleh hakim dengan memperhatikan fakta-fakta yang ada di sekitar perbuatan pidana, baik sebelum, pada saat,ataupun sesudah perbuatan itu dilakukan. Adapun tujuannya adalah untuk menentukan:

a. apakah perbuatan pidana yang dilakukan oleh pelaku itu, terjadinya secara sengaja atau dengan alpa;

b. apakah pada saat melakukakan perbuatan pidana, pelaku mempunyai kemampuan bertanggung jawab atau tidak; dan

c. apakah pada saat melakukan perbuatan pidana tersebut, pada diri pelaku terdapat alasan yang menghapuskan pidana atau tidak. Hal ini berkaitan dengan ada tidaknya alasan pemaaf atau alasan pembenar.

dan memutus jenis pidana apa yang tepat dan sebaiknya dikenakan bagi terdakwa anak di bawah umur. Dengan demikian dapat diketahui, bahwa adanya pertimbangan hukum yang diberikan oleh Hakim sebagai dasar dan landasan dalam menjatuhkan pidana terhadap anak nakal adalah merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh Hakim, sehingga putusan yang telah dijatuhkan dapat berlaku secara sah menurut hukum dan mempertimbangkan rasa keadilan tidak hanya terhadap terpidana anak, tetapi juga terhadap kepentingan masyarakat secara umum.

Sebelum menguraikan beberapa alasan sebagai dasar pertimbangan hakim dalam menerapkan sanksi pidana dan tindakan dalam masing-masing putusan, terlebih dahulu dikemukakan beberapa alasan sebagai dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan sanksi pidana dan tindakan terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana, yaitu :

Bagan 2.

Analisa Dasar Pertimbangan bagi Hakim PN Semarang dalam Menjatuhkan Sanksi Pidana dan Tindakan terhadap Anak

Dasar

Berdasarkan bagan di atas, berikut ini dapat dijelaskan mengenai dasar pertimbangan bagi hakim Pengadilan Negeri semarang dalam menjatuhkan sanksi pidana dan tindakan terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana.

1. Faktor Yuridis (Pasal Peraturan Perundang-undangan yang menjadi Dasar Hukum dari Putusan)

Menurut penjelasan Pasal 1 UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, hakim diberi kebebasan di dalam melaksanakan wewenang yudisial (wewenang untuk menjatuhkan putusan). Meskipun kebebasan tersebut dibatasi oleh ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan perkataan lain, di dalam melaksanakan wewenang yudicial tersebut hakim terikat oleh ketentuan-ketentuan yuridis.

Berdasarkan pada uraian tersebut di atas dapat disimpulkan, bahwa faktor undang-undang mempengaruhi hakim di dalam membuat putusan terhadap perkara yang diajukan ke persidangan. Adapun faktor undang-undang yang dimaksud dalam hal tersebut adalah pasal-pasal atau ketentuan-ketentuan lain seperti penjelasan pasal, baik yang terdapat dalam hukum formal maupun dalam hukum materiil, termasuk di dalamnya KUHAP dan KUHP. Faktor tersebut menjadi pedoman atau acuan di dalam hakim memeriksa suatu perkara yang diajukan.

Seperti yang sudah dijelaskan pada Bab terdahulu, dalam Undang-undang No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak khususnya Pasal 1 ayat (2) menyebutkan, bahwa anak nakal adalah :

1. Anak yang melakukan tindak pidana; atau

2. Anak yang melakukan perbuatan yang dinyatakan terlarang bagi anak, baik menurut peraturan perundang-undangan maupun menurut peraturan hukum lain yang hidup dan berlaku dalam masyarakat bersangkutan.

Sementara itu, Pasal 23 ayat (1) UU No. 3 Tahun 1997 menerangkan, bahwa pidana yang dapat dijatuhkan kepada Anak Nakal ialah pidana pokok dan pidana tambahan. Selanjutnya ayat (2) menyatakan, bahwa Pidana pokok yang dapat dijatuhkan kepada Anak Nakal ialah :

(a). pidana penjara;

(b). Pidana kurungan;

(c). Pidana denda; atau (d). Pidana pengawasan.

Untuk menjatuhkan pidana terhadap anak pelaku tindak pidana maka hakim tidak dapat mengabaikan ketentuan yang terdapat dalam kedua pasal tersebut. Dengan kata lain, pasal 1 ayat (2) dan pasal 23 ayat (1) dan (2) UU No. 3 Tahun 1997 merupakan pasal peraturan perundang-undangan yang dijadikan dasar pertimbangan Hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap anak.

Di samping itu, hal paling mutlak yang dijadikan dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap anak di sini adalah, bahwa anak tersebut terbukti secara nyata telah melakukan perbuatan pidana sebagaimana yang didakwakan. Konsekuensi dari hal ini

adalah, bahwa anak tersebut telah terbukti melanggar salah satu pasal yang terdapat dalam KUHP atau pasal di luar KUHP dan terbukti pula kesalahan atas anak tersebut di dalam melakukan perbuatan pidana yang didakwakan.

Demikian juga untuk menjatuhkan tindakan terhadap anak pelaku tindak pidana maka hakim tidak dapat mengabaikan ketentuan yang terdapat dalam pasal 1 ayat (2) dan juga pasal 24 ayat (1) dan (2) UU No.

3 Tahun 1997, yang menyatakatan, bahwa:

(1). Tindakan yang dapat dijatuhkan kepada Anak Nakal ialah : a. Mengembalikan kepada orang tua, wali atau orang tua asuh;

b. Menyerahkan kepada negara untuk mengikuti pendidikan, pembinaan dan latihan kerja; atau

c. Menyerahkan kepada Departemen Sosial, atau Organisasi Sosial Kemasyarakatan yang bergerak di bidang pendidikan, pembinaan dan latihan kerja.

(2). Tindakan sebagaimana dimaksud ayat (1) dapat disertai dengan teguran dan syarat tambahan yang ditetapkan oleh Hakim.

Dengan kata lain, Pasal 1 ayat (2) dan Pasal 24 ayat (1) dan (2) UU No. 3 Tahun 1997 merupakan pasal peraturan perundang-undangan yang dijadikan pertimbangan Hakim dalam menjatuhkan sanksi tidakan terhadap anak.

Berikut ini akan dikemukakan mengenai pasal peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar hukum dari putusan sebagai faktor yang dijadikan pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana pengawasan terhadap anak nakal yang terdapat dalam putusan Pengadilan Negeri Semarang (sebagaimana terlampir), yaitu :

a. Pasal Peraturan Perundang-undangan yang menjadi Dasar Hukum dari Putusan hakim yang berupa pemidanaan.

Dari empat putusan Pengadilan Negeri semarang yang dijadikan sampel dalam penelitian ini, terdapat dua putusan yang berupa pemidanaan. Kedua putusan hakim Pengadilan Negeri Semarang tersebut adalah:

1. Putusan No. 02/Pid B/2009/PN. Smg, atas nama terdakwa DAPR bin S (15 Thn)

Terdakwa DAPR bin S dipidana dengan pidana penjara selama 1 (satu) bulan dan 15 (lima belas) hari, karena terbukti bersalah dan meyakinkan telah melakukan tindak pidana “Perjudian”

sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 303 bis ayat (1) ke-2 KUHP jo.UU RI No. 3 Tahun 1997

2. Putusan No. 1060/Pid.B/2009/PN.Smg, atas nama terdakwa MWR al.

B (17 Thn)

Terdakwa diadili dengan dijatuhkan sanksi pidana pidana penjara selama 4 (empat) bulan dan 15 (lima belas) hari, karena terbukti bersalah dan meyakinkan melakukan tindak pidana “di muka umum bersama-sama melakukan kekerasan terhadap orang yang mengakibatkan luka” sebagaimana diatur dan diancam pidana menurut Pasal 170 (2) ke-1 KUHP.

b. Pasal peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar hukum dari Putusan hakim sebagai dasar penerapan sanksi tindakan

Pasal peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar hukum dari Putusan hakim sebagai dasar penerapan sanksi tindakan terdapat dalam putusan hakim terdapat dalam:

1. Putusan No. 259/Pid B/2008/PN. Smg, atas nama terdakwa AR bin M (11 Thn).

Terdakwa dijatuhkan penerapan sanksi tindakan berupa

“diserahkan kepada Negara untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan kerja” oleh karena terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan telah melakukan tindak pidana “dengan sengaja menggunakan kekerasan melakukan persetubuhan dengan anak”

sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 81 ayat (1) UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

2. Putusan No. 936/Pid B/2008/PN. Smg, atas nama terdakwa KI bin SB (11 Thn).

Terdakwa diadili oleh Hakim dengan dikenakan penerapan sanksi tindakan berupa dikembalikan kepada orang tuanya, karena terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan tindak pidana

“Penganiayaan” sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 351 ayat (1) KUHP.

Dari apa yang diuraikan di atas dapat disimpulkan, bahwa faktor yuridis atau pasal peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar

hukum bagi Hakim dalam menjatuhkan sanksi pidana atau tindakan terhadap anak nakal adalah menunjukkan bahwa anak tersebut telah melakukan perbuatan pidana sebagaimana yang terdapat dalam pasal tersebut. Dan hal tersebut merupakan hal yang mutlak dijadikan pertimbangkan oleh hakim, yang tentunya disertai pula dengan pertimbangan ada atau tidaknya unsur kesalahan yang menyertai perbuatan pidana yang dilakukan dan merupakan kesalahan normatif yang menyatakan pernilaian terhadap hubungan antara sikap batin dan perbuatan. Adapun unsur kesalahan yang menyertai perbuatan yang dilakukan tersebut harus dibuktikan oleh hakim dengan memperhatikan fakta-fakta yang ada di sekitar perbuatan pidana, baik sebelum, pada saat ataupun sesudah perbuatan itu dilakukan. Adapun tujuannya adalah untuk menentukan:

a. Apakah perbuatan pidana yang dilakukan oleh anak itu terjadinya secara sengaja atau dengan alpa.

b. Apakah pada saat melakukan perbuatan pidana, anak tersebut memiliki kemampuan bertanggung jawab atau tidak.

c. Apakah pada saat melakukan perbuatan pidana tersebut, pada diri si anak terdapat alasan yang menghapus pidana atau tidak, yaitu alasan pembenar atau alasan pemaaf.

Dengan demikian tindakan hakim dalam mempertimbangkan pasal peraturan perundang-undangan baik yang terdapat dalam KUHP maupun pasal di luar KUHP, menurut peneliti selain memang merupakan syarat

utama untuk dapat dijatuhkannya sanksi (pidana atau tindakan), berarti dengan mempertimbangkan unsur-unsur yang terdapat dalam pasal-pasal tersebut hakim juga dalam prakteknya sudah mengikuti asas hukum pidana yang sudah seharusnya diterapkan, yaitu hakim sudah menerapkan “asas legalitas” sebagaimana yang terdapat dalam pasal 1 ayat (1) KUHP, yaitu :

“Tiada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas ketentuan aturan pidana dalam perundang-undangan yang telah ada, sebelum perbuatan dilakukan”.63 Adapun istilah asingnya dikenal dengan “Nullum Delictum Nulla Poena Sine Praevia Lege Poenali”.

2. Faktor Non Yuridis

Faktor non yuridis merupakan dasar pertimbangan bagi hakim yang berada di luar ketentuan yuridis dan bukan merupakan hal-hal yang berkaitan dengan perumusan unsur-unsur tindak pidana yang harus dibuktikan untuk memperoleh penilaian dari aspek yuridis normatif.

Faktor non yuridis yang dipertimbangkan oleh hakim Pengadilan Negeri semarang terhadap anak pelaku tindak pidana dari hasil penelitian terdiri dari:

a. Hal-hal yang Memberatkan dan Meringankan sebagai Faktor Psikologis

Berkaitan dengan faktor psikologis tersebut, Dr. Djamaluddin Ancok dalam makalah Viktimologi Suatau Tinjauan Psikologi, mengemukakan pendapat sebagai berikut: “Di dalam memutuskan berat

63 Moeljatno, Kitab …, halaman 3.

ringannya putusan suatu perkara seringkali para hakim terpengaruh dengan faktor-faktor non hukum.64 Faktor-faktor non hukum itu antara lain :

a) Sifat kepribadian hakim

Dilaporkan di dalam beberapa penelitian bahwa sifat kepribadian yang otoriter pada diri hakim, mempengaruhi berat ringannya hukuman yang dijatuhkan, hakim yang otoriter memberikan hukuman yang lebih berat daripada hakim yang tidak otoriter.

b) Faktor penampilan terdakwa dan pengacara

Penampilan terdakwa dan pengacara di ruang pengadilan, seperti gaya bicara, postur duduk dan berdiri, cara mempresentasikan argumentasi ikut mempengaruhi berat ringannya peraturan yan diberikan. Bicara yang berisi nada kemarahan misalnya, dapat menimbulkan reaksi emosional pada diri hakim, yang akan mengakibatkan hukuman yang dijatuhkan bertambah berat. Selain itu ciri fisik terdakwa, rupa yang menarik, kulit bersih dan pakaian rapi, dapat pula meringankan hukuman yang dijatuhkan.

c) Faktor diri korban

Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa bila korban rupanya menarik, akan lebih besar kemungkinan terdakwa untuk mendapatkan putusan bersalah dan dihukum lebih berat. Demikian pula apabila korban adalah seorang yang sudah tua dapat

64 J.E. Sahetapy, Viktimologi Sebuah Bunga Rampai, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1997), halaman 92-93.

mengakibatkan hukuman yang lebih berat pada diri pelaku, jika dibandingkan dengan korban yang masih muda. Tentunya saja faktor lain seperti status sosial ekonomi korban akan mempengaruhi berat ringannya hukuman terdakwa”.

Pendapat tersebut di atas mengandung suatu pengertian, bahwa faktor psikologis yang mempengaruhi hakim di dalam memberikan putusan terhadap perkara yang diajukan dalam persidangan dapat bersumber pada: kepribadian jaksa dan hakim, penampilan terdakwa atau pengacara (penasehat hukum) serta keadaan korban.

Kaitannya dengan faktor psikologis sebagai dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana pengawasan terhadap anak nakal ini, kiranya patut disimak pendapat dari B.W. Charles Ndaumanu yang menyatakan, bahwa:

Faktor psikologis bekerja pada saat hakim mempertimbangkan bersalah atau tidak bersalahnya anak, yang memerlukan dialog antara rasio dengan suara hatinya. Sebab untuk menentukan adanya kesalahan itu harus melihat pada sikap batin anak yang melakukan perbuatan pidana. Hakim mengadakan penilaian tentang hubungan antara sikap batin dengan perbuatan yang dilakukan.65

Dari apa yang dikemukakan oleh B.W. Charles Ndaumanu tersebut dapat dijelaskan lebih lanjut, bahwa faktor psikologis berpengaruh pada saat hakim menilai sikap anak selama dalam persidangan. Penilaian mengenai sikap anak tersebut berkaitan erat dengan kepribadian yang

65Wawancara dengan B.W. Charles Ndaumanu,S.H., M.H., Loc.Cit.

menilainya, yang dalam hal ini adalah hakim. Dengan demikian faktor psikologis ikut terlibat dalam penilaian tersebut.

Hal-hal yang memberatkan dan meringankan sebagai faktor psikologis adalah merupakan pertimbangan hukum yang merupakan perwujudan dari kewajiban hakim sebagaimana yang dimaksud dalam ketentuan Pasal 197 huruf (d) dan huruf (f) UU No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. Penjelasan Pertimbangan yang kuat sebagai pertanggungjawaban hukum dan upaya untuk memenuhi rasa keadilan masyarakat.

Dalam kaitannya dengan hal ini Tulus Basuki memberikan pendapatnya sebagai berikut :

Secara psikologis, sikap yang ditunjukkan si anak dalam persidangan turut memberikan andil bagi hakim dalam menjatuhkan pidana, dalam hal ini pidana pengawasan. Hakim bisa mempertimbangkan untuk menjatuhkan pidana pengawasan pada si anak apabila anak tersebut bersikap sopan dan kooperatif dengan tidak memberikan jawaban yang berbelit-belit.66

Dari pendapat di atas dapat dijelaskan lebih lanjut, bahwa faktor psikologis sebagai pertimbangan Hakim dalam menjatuhkan pidana pengawasan dalam setiap putusan hakim jelas sekali keberadaannya, yakni selalu terkait dengan hal-hal yang dan meringankan bagi terdakwa. Hal ini ditunjukkan dengan sikap anak yang sopan dan kooperatif serta tidak memberikan jawaban yang berbelit-belit. Dengan perkataan lain, faktor psikologis berpengaruh pada saat hakim menilai sikap terdakwa selama

66 Wawancara dengan Tulus Basuki,S.H., Hakim pada Pengadilan Negeri Semarang, Loc.Cit.

dalam persidangan. Dan dari pendapat tersebut dapat dinilai, bahwa dalam menjatuhkan pidana pengawasan terhadap anak nakal Hakim tidak mempertimbangkan faktor psikologis yang berkaitan dengan hal-hal yang memberatkan terdakwa.

Dengan demikian dapat penulis jelaskan lebih lanjut, bahwa konsekuensi dari adanya faktor psikologis terhadap pemberian putusan oleh hakim khususnya terhadap perkara anak nakal tersebut antara lain adalah, bahwa tidak setiap pertimbangan dan keyakinan hakim dalam putusan tersebut dapat dirasakan demikian oleh orang lain (masyarakat).

Konsekuensi lainnya adalah adanya putusan yang berbeda antara hakim yang satu dengan hakim yang lain terhadap kasus yang sama. Hal ini dapat dilihat pada putusan peradilan tingkat banding yang tidak selalu menguatkan isi putusan pada peradilan tingkat pertamanya.

Berdasarkan analisa yang dilakukan terhadap 4 (empat) putusan hakim Pengadilan Negeri Semarang, maka hal-hal yang memberatkan lebih dijadikan sebagai dasar pertimbangan bagi hakim untuk menerapkan sanksi berupa pidana sementara hal-hal yang meringankan lebih dijadikan dasar bagi hakim untuk menerapkan sanksi berupa tindakan terhadap anak pelaku tindak pidana.

Berikut ini diuraikan alasan-alasan yang memberatkan sebagai dasar menerapkan sanksi pidana dan alasan-alasan yang meringankan sebagai dasar menerapkan sanksi tindakan terhadap anak berdasarkan

putusan hakim Pengadilan Negeri Semarang yang dijadikan sampel dalam penelitian ini.

1. Putusan No. 02/Pid B/2009/PN. Smg, atas nama terdakwa DAPR bin S.

Hal-hal yang memberatkan Terdakwa, sehingga terhadap diri Terdakwa dijatuhkan sanksi pidana penjara selama 1 (satu) bulan dan 15 (lima belas) hari, karena terbukti bersalah dan meyakinkan telah melakukan tindak pidana “Perjudian” sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 303 bis ayat (1) ke-2 KUHP jo.UU RI No. 3 Tahun 1997, adalah perbuatan Terdakwa yang melakukan perjudian dinilai oleh hakim tidak mendukung program pemerintah dalam memberantas perjudian.

2. Putusan No. 1060/Pid.B/2009/PN.Smg, atas nama terdakwa MWR alias B.

Hal-hal yang memberatkan terdakwa sehingga hakim menerapkan sanksi pidana berupa pidana penjara selama 4 (empat) bulan dan 15 (lima belas) hari, karena terbukti bersalah dan meyakinkan melakukan tindak pidana “di muka umum bersama-sama melakukan kekerasan terhadap orang yang mengakibatkan luka” sebagaimana diatur dan diancam pidana menurut pasal 170 (2) ke-1 KUHP, adalah karena perbuatan Terdakwa telah meresahkan masyarakat dan merugikan korban, yakni akibat kekerasan yang dilakukan terdakwa, maka korban mengalami luka di bagian wajah.

3. Putusan No. 259/Pid B/2008/PN. Smg, atas nama terdakwa AR bin M.

Hal-hal yang dipertimbangkan oleh hakim sebagai hal-hal yang meringankan Terdakwa sehingga terhadap Terdakwa dijatuhkan sanksi tindakan berupa diserahkan kepada Negara untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan kerja, adalah :

1. Terdakwa masih berusia muda/anak-anak dan belum pernah dihukum;

2. Terdakwa mengakui terus terang dan menyesali perbuatannya;

3. Terdakwa sopan dalam persidangan.

4. Putusan No. 936/Pid B/2008/PN. Smg, atas nama terdakwa KI bin SB.

Dalam putusan tersebut, dasar pertimbangan hakim dalam kaitannya dengan hal-hal yang meringankan sehingga Terdakwa dijatuhkan sanksi tindakan berupa dikembalikan kepada orang tuanya, adalah sebagai berikut:

1. Terdakwa belum pernah dihukum;

2. Terdakwa masih berusia muda dan masih sekolah;

3. Terdakwa mengaku terus terang perbuatannya;

4. Terdakwa bersikap sopan di persidangan;

5. Terdakwa berjanji tidak akan lagi mengulangi perbuatannya.

Pertimbangan hukum yang dilakukan dengan mendasarkan pada hal-hal yang meringankan adalah penilaian secara psikologis mengenai sikap dan perilaku anak yaitu anak menyesali perbuatannya dan mau berjanji dengan sungguh-sungguh untuk tidak mengulangi perbuatannya serta mau memperbaiki diri, anak tersebut tidak pernah dipidana

sebelumnya, selama proses persidangan si anak telah memberikan keterangan dan pengakuan yang jujur dan tidak berbelit-belit sehingga memudahkan proses berlangsungnya pemeriksaan di persidangan, dan sebagainya.

Adapun pertimbangan terhadap hal-hal tersebut adalah merupakan perwujudan dari kewajiban hakim sebagaimana yang dimaksud dalam ketentuan Pasal 197 hruf (d) dan huruf (f) UU No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, dan merupakan pertanggungjawaban hukum dan upaya untuk memenuhi rasa keadilan masyarakat.

Beberapa hal yang merupakan perkembangan yang dijadikan sebagai pertimbangan bagi hakim dalam memberikan putusan (pemidanaan). Yakni baik merupakan hal yang dapat meringankan maupun hal yang akan memberatkan bagi terdakwa, dikarenakan adanya perkembangan keadaan yang dinilai oleh hakim dari diri terdakwa maupun perkembangan dalam masyarakat. Adapun faktor-faktor yang dapat memberatkan atau meringankan pidana bagi terdakwa sebagaimana tersebut di atas, merupakan pertimbangan bagi hakim. Dengan demikian, pidana yang dijatuhkan oleh hakim diharapkan sesuai dengan perbuatan dan kesalahan terdakwa. Artinya tidak berlebihan dan benar-benar diperlukan untuk mempertahankan tertib hukum. Upaya pemidanaan yang dilakukan tersebut bukan lagi semata-mata didasarkan untuk maksud pembalasan, melainkan di dalamnya terkandung tujuan tertentu yang ingin

dicapai seperti pencegahan dan perlindungan bagi masyarakat serta untuk pembinaan.

b. Latar Belakang Kehidupan Sosial Anak yang terdapat dalam Laporan Penelitian Kemasyarakatan

Menurut pasal 50 ayat (1) UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, “Putusan pengadilan selain harus memuat alasan dan dasar putusan, juga memuat pasal tertentu dari peraturan perundang-undangan yang bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili”.67

Berdasarkan rumusan pasal tersebut, Hakim harus terjun ke

Berdasarkan rumusan pasal tersebut, Hakim harus terjun ke

Dokumen terkait