• Tidak ada hasil yang ditemukan

DASAR TEORI

Dalam dokumen Evaluasi Teknis Produktivitas PC 1250 (Halaman 59-79)

3.1 Produksi Excavator

Pada penelitian ini produksi menyatakan banyaknya volume lapisan penutup yang dapat dikupas / dipindahkan oleh excavator , satuan yang digunakan adalah bcm / jam. Produksi dirumuskan sebagai berikut :

Produksi = kapasitas bucket  x faktor keterisian bucket  x 3600 x efisiensi…….…(3.1) Waktu edar excavator 

Produksi dinyatakan dalam bcm/jam, sedangkan kapasitas bucket   dalam m3, efisiensi dalam persen, faktor keterisian bucket  dalam persen, dan waktu edar dalam detik. Angka 3600 merupakan faktor konversi untuk merubah satuan waktu edar dari  jam ke detik. Dari rumusan diatas dapat kita ketahui bahwa kapasitas bucket , faktor

keterisian bucket , efisiensi, dan waktu edar adalah faktor utama yang memengaruhi  produksi exvacator. Ada pula faktor faktor lain yang memengaruhi produksi excavator   secara tidak langsung, seperti match  factor , jumlah alat angkut, dan geometri jalan angkut.

3.2 Faktor yang Memengaruhi Produksi Excavator secara langsung 3.2.1 Kapasitas bucket

Besarnya kapasitas bucket excavator  akan memengaruhi volume material yang dapat digali, semakin besar kapasitas bucket excavator  semakin besar pula  produksinya. Satuan untuk menyatakan kapasitas bucket excavator  adalah m3.

3.2.2 Faktor keterisian bucket

Material yang digali adalah material hasil p eledakan yang bentuk dan ukurannya tidak seragam, sehingga ketika dimuat dalam bucket  akan membentuk rongga-rongga udara. Hal ini menyebabkan bucket  tidak dapat terisi penuh, sehingga  perlu adanya faktor koreksi untuk menyatakan volume dari bucket excavator  yang

 benar-benar terisi oleh material. Faktor koreksi ini disebut faktor keterisian bucket  atau faktor keterisian bucket . Semakin besar nilai faktor keterisian bucket , maka semakin besar produksinya.

3.2.3 Efisiensi

Efisiensi atau efisiensi kerja disini menyatakan seberapa efektif suatu  produksi berjalan selama waktu terjadwal, dirumuskan sebagai berikut :

Efisiensi = waktu kerja efektif x 100% ...….…(3.2) Waktu kerja terjadwal

Waktu kerja efektif adalah waktu yang benar – benar digunakan excavator  untuk menggali dan memuat material, sedangkan waktu kerja terjadwal adalah lamanya waktu excavator   bekerja dalam sekali pengamatan. Dalam sekali  pengamatan tidak semua waktu dapat digunakan untuk produksi, ada saat dimana seharusnya excavator   dapat menggali dan memuat material, namun karena suatu sebab tidak dapat dilakukan contohnya adalah ketika excavator   menunggu alat angkut datang. Semakin besar efisiensi, berarti kinerja excavator   semakin efisien, dan produksi semakin besar.

3.2.4 Waktu edar

Untuk excavator , yang disebut satu kali edar adalah waktu dari mulai bucket  excavator   menggali material, kemudian mengayun ketika bucket nya penuh, lalu menumpahkan material, kemudian mengayun ketika bucket nya kosong. Besarnya waktu edar dipengaruhi oleh sudut ayunan dan kemampuan dari excavator   itu sendiri. Semakin kecil waktu edarnya, maka semakin b esar produksinya.

3.3 Faktor yang Memengaruhi Produksi Excavator secara tidak langsung Untuk mengupas dan memindahkan lapisan penutup dari  pit  ke disposal, excavator  Komatsu PC 1250 SP berpasangan dengan dumptruck  Komatsu HD 465. Dengan demikian produksi excavator   sangat dipengaruhi oleh kinerja dumptruck , apabila kinerja dumptruck  terhambat, maka produksi excavator  juga ikut terhambat. Faktor – faktor yang memengaruhi kinerja dumptruck  antara lain :

3.3.1  Rimpull  dumptruck

 Rimpull adalah suatu gaya tarik maksimum yang bisa disediakan oleh mesin.  Rimpull  ini suatu istilah yang hanya diterapkan pada peralatan yang beroda ban (rubber tired equipment ). Besar kecilnya  Rimpull  bergantung pada kecepatan atau Gear  yang dipakai. Jika pada spesifikasi mesin, belum tersedia daftar  Rimpull, pada setiap Gear , maka bisa di hitung dengan rumus :

 Rimpull (lb)  

) ( 375 mph speed  efficiency  HP

……….……..……(3.3)

Keterangan : 375 = faktor konversi HP = horse power 

Angka 375 merupakan faktor konversi yang digunakan untuk mengubah satuan HP dan mph menjadi lb. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada perhitungan berikut:

1 HP = 550 ft lb / detik 1 mph = 5280 ft / 3600 detik Rimpull (lb)

 

) tan(mph kecepa efisiensi  HP

 

dtk   ft  effisiensi dtk  lb  ft  3600 / 5280 / 550 Rimpull (lb)

 

) tan( 375 mph kecepa efisiensi  HP

3.3.2 Tahanan Gelinding/Gulir ( rolling resistance)

Tahanan gulir adalah jumlah segala gaya-gaya luar ( external forces) yang  berlawanan dengan arah gerak kendaraan yang berjalan diatas jalur jalan (jalan raya

atau kereta api) atau permukaan tanah.

Dengan sendirinya yang mengalami tahanan gulir ini secara langsung adalah  bagian luar bannya. Tahanan gulir tegantung dari banyak hal, diantaranya yang

terpenting adalah :

a. Keadaan jalan, yaitu kekerasan dan kemulusan permukaannya, semakin kecil tahanan gulirnya. Macamnya tanah atau material yang dipergunakan untuk membuat jalan tidak terlalu berpengaruh.

-

Jika memakai ban karet yang akan berpengaruh adalah ukuran ban, tekanan dan keadaan permukaan bannya, apakah masih baru atau sudah gundul, dan macam kembangan pada ban tersebut.

-

Jika memakai crawler track , maka keadaan dan macam track   kurang  berpengaruh, tetapi yang lebih berpengaruh adalah keadaan jalan.

Berdasarakan tahanan gulir dinyatakan dalam pounds (lbs) dari tractive pull yang diperlukan untuk menggerakkan tiap gross ton berat kendaraan beserta isinya  pada jalur jalan yang mendatar dengan kondisi jalur jalan tertentu. Besarnya tahanan

gulir dapat didefinisikan sebagai berikut : RR =

W  P

………(3.4)

Keterangan :

RR = tahanan gulir, lb/gross ton

P = gaya tarik pada kabel penarik, lb W = berat kendaraan, gross ton

Yang dimaksud dengan gaya tarik pada kabel penarik adalah kabel penarik yang dipasang sebuah dynamometer   untuk mengukur gaya tarik ( tension) rata-rata  pada kabel tersebut ketika menarik sebuah kendaraan dengan berat yang sudah

diketahui pada jalur jalan yang tetap. Gaya tarik tersebut tidak lain adalah jumlah tahanan gulir yang diderita oleh kendaraan tersebut. Selain dengan persamaan diatas, ada cara lain untuk menyatakan tahanan gulir tersebut, yaitu dengan persentase berat kendaraan yanag beratnya dinyatakan dalam satuan  pound  ( Tabel 3.1 )

Tabel 3.1

Angka RR rata-rata untuk jenis roda ban karet dan macam jalan 3) Jenis Jalan RR (lb/ton)  Hard, Smooth Surface, Well Maintained 40

Furm but flexible surface, well maintained 65  Dirt road, average construction road, little maintenance 100  Dirt road, soft or rutted 150  Deep, muddy surface, or loose sand 250-400

3.3.3 Tahanan Kemiringan ( grade resistance)

Tahanan kemiringan adalah besarnya gaya berat yang melawan atau membantu gerak kendaraan karena kemiringan jalur jalan yang dilalui. Jika jalur  jalan itu naik, disebut kemiringan positif ( plus slope), maka tahanan kemiringan akan melawan gerak kendaraan, sehingga memperbesar  Rimpull (tractive effort ) yang diperlukan. Sebaliknya jika jalur jalan itu turun, disebut kemiringan negatif ( minus slope), maka tahanan kemiringannya akan membantu gerak kendaraan, artinya mengurangi rimpul yang dibutuhkan.

Tahanan kemiringan tergantung dari dua faktor, yaitu :

1. Besarnya kemiringan yang biasanya dinyatakan dalam persen. Kemiringan 1%  berarti jalur jalan itu naik atau turun 1 meter setiap jarak 100 meter mendatar

(Gambar 3.1)

2. Berat kendaraan itu sendiri yang dinyatakan dalam gross ton.

Besarnya tahanan kemiringan rata-rata dinyatakan dalam 20 lbs dari  Rimpull tiap kemiringan 1 %.

Gambar 3.1 Grade jalan 1%

Kemiringan negatif selalu membantu mengurangi  Rimpull  kendaraan itu, maka sedapat mungkin harus diusahakan agar pada waktu alat itu mengangkut muatan melalui jalur yang turun, sedangkan pada waktu kosong menaiki jalur itu. Sehingga dengan demikian pada waktu berisi muatan dapat bergerak lebih cepat dan membawa muatan lebih banyak karena  Rimpull  yang diperlukan sudah dikurangi dengan kemiringan negatif. Ini berarti sedapat mungkin tempat penimbunan material harus dipilihkan yang letaknya lebih rendah dari tempat penggaliannya sendiri.

3.3.4 Percepatan ( acceleration)

Percepatan adalah waktu yang diperlukan untuk mempercepat kendaraan dengan memakai kelebihan  Rimpull  yang tidak dipergunakan untuk menggerakkan

1 m 100 m

kendaran. Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mempercepat kendaran tergantung dari beberapa faktor, yaitu :

-

Berat kendaraan, semakin berat, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk mempercepat kendaraan pada keadaan pada keadaan menanjak dan lurus.

-

Kelebihan  Rimpull  yang ada, semakin besar  Rimpull  yang ada, maka semakin cepat kendaraan itu dapat dipercepat.

Jadi kalau kelebihan  Rimpull itu tidak ada, maka percepatan pun tidak akan timbul, artinya kendaraan tersebut tidak dapat dipercepat. Untuk menghitung  percepatan itu secara tepat memang sulit, namun dapat dipergunakan pendekatan

sebagai berikut : g a W  F  ………...…(3.5) Keterangan: F = kelebihan Rimpull, lbs

g = percepatan karena gaya gravitasi, 32,2 ft/s2 W = berat alat yang harus dipercepat, lbs

a = percepatan, ft/s2

3.3.5 Geometri dan Kondisi Jalan Angkut

Geometri jalan angkut yang tidak sesuai standar akan menyebabkan terhambatnya laju alat angkut. Laju alat angkut yang terhambat pada akhirnya akan menyebabkan efisiensi excavator  berkurang karena menunggu alat angkut.

Geometri jalan yang memenuhi syarat adalah bentuk dan ukuran dari jalan tambang sesuai dengan spesifikasi alat angkut yang digunakan dengan memperthitungkan kodisi medan yang ada sehingga dapat menjamin keamanan dan keselamatan operasi pengangkutan. Geometri jalan yang sesuai merupakan hal mutlak yang harus dipenuhi. Geometri / dimensi jalan angkut yang harus dipenuhi antara lain :

a. Lebar Jalan Angkut

-

Lebar pada Jalan Lurus

Penentuan lebar jalan angkut minimum untuk jalan lurus didasarkan pada rule of thumb  yang dikemukakan oleh  AASHTO Manual Rural Highway Design (Gambar 3.2). Dengan persamaan sebagai berikut :

L = (nWt )(n1)(0,5Wt ); meter………..…(3.7) Keterangan:

L = lebar jalan angkut n = jumlah jalur

Wt = lebar alat angkut total, meter

Gambar 3.2

Lebar Jalan Angkut Pada Jalan Lurus

-

Lebar pada jalan tikungan

Lebar jalan angkut pada tikungan selalu lebih besar daripada lebar pada jalan lurus (Gambar 3.3). Untuk jalur ganda, lebar minimum pada tikungan dihitung dengan mendasarkan pada :

1. Lebar jejak ban.

2. Lebar juntai atau tonjolan ( overhang) alat angkut bagian depan dan belakang  pada saat belok.

3. Jarak antara alat angkut yang bersimpangan. 4. Jarak (spasi) alat angkut terhadap tepi jalan.

Perhitungan terhadap lebar jalan angkut pada tikungan atau belokan dapat menggunakan persamaan : W = n (U + Fa + Fb + Z ) + C………...…(3.8) C = Z = ½ (U + Fa + Fb) ………....(3.9) sin =  putar  radius U  ………...(3.10) Keterangan :

W = Lebar jalan angkut pada tikungan, m

½ Wt Wt ½ Wt Wt ½Wt  parit

 N = Jumlah jalur

U = Jarak jejak roda kendaraan Fa = Lebar juntai depan

Fb = Lebar Juntai belakang

Ad = Jarak as roda depan dengan bagian depan truck , m Ab = Jarak as roda belakang dengan bagian belakang truck , m C = Jarak antara dua truck  yang akan bersimpangan

Z = Jarak sisi luar truck  ke tepi jalan, m

  = Sudut penyimpangan roda depan, derajat

Gambar 3.3

Lebar Jalan Angkut Pada Jalan Tikungan  b. Kemiringan Jalan (grade)

-

Kemiringan jalan angkut

Kemiringan atau grade  jalan angkut merupakan satu faktor penting yang harus diamati secara detil dalam kajian terhadap kondisi jalan angkut. Hal ini dikarenakan kemiringan jalan angkut b erhubungan langsung dengan kemampuan alat angkut, baik dari pengereman maupun dalam mengatasi tanjakan.

Kemiringan jalan angkut biasanya dinyatakan dalam persen (%). Dalam  pengertiannya, kemiringan 1 % berarti jalan tersebut naik atau turun 1 meter atau 1 ft

untuk jarak mendatar 100 m atau 100 ft. Kemiringan jalan dapat dihitung dengan  persamaan : Grade (%) =  x  H  ………..…(3.11) Keterangan: :

Δx = jarak datar antara dua titik yang diukur

Secara umum kemiringan jalan maksimum yang dapat dilalui dengan baik oleh alat angkut besarnya berkisar antar 10% - 18%. Akan tetapi untuk jalan naik maupun turun pada bukit, lebih aman kemiringan jalan maksimum sebesar 8% atau 4,5o.

3.3.6 Jumlah Alat Angkut

Jumlah alat angkut secara tidak langsung akan memengaruhi efisiensi kerja excavator , apabila jumlah alat angkut kurang, maka akan terjadi waktu tunggu bagi excavator   yang akan mengurangi efisiensi kerja excavator   dan pada akhirnya mengurangi produksi. Perhitungan jumlah alat a ngkut dirumuskan sebagai berikut : Jumlah alat angkut = waktu edar truk ..……(3.12)

Jumlah pemuatan tiap truk x waktu edar excavator 

3.3.7 Faktor Keserasian Alat ( match factor)

Keseimbangan atau sinkronisasi kerja antara truk dengan alat muat, dapat diukur dengan menggunakan faktor keserasian atau match factor  ( MF ). Adapun  persamaannya adalah sebagai berikut :

 MF  =

 

angkut  alat  Ct  nL angkut  alat  memuati untuk  muat  alat  Ct  nH  1 ………(3.13) Keterangan :

nH = jumlah alat angkut nL = jumlah alat muat Ct = waktu edar (menit)

Dari persamaan (3.13) akan menghasilkan tiga kemungkinan, yaitu :

- MF < 1 , artinya alat muat bekerja kurang dari 100%, sedang alat angkut bekerja 100% sehingga terdapat waktu tunggu bagi alat muat karena menunggu alat angkut yang belum datang.

- MF = 1 , artinya alat muat dan angkut bekerja 100%, sehigga tidak terjadi waktu tunggu dari kedua jenis alat tersebut.

- MF > 1 , artinya alat muat bekerja 100%, sedangkan alat angkut bekerja kurang dari 100%, sehingga terdapat waktu tunggu bagi alat angkut.

BAB IV

Dalam dokumen Evaluasi Teknis Produktivitas PC 1250 (Halaman 59-79)

Dokumen terkait