b. Manajer
Manajer memiliki tugas untuk mengawasi kinerja para karyawan yang ada di toko agar mampu bekerja sesuai dengan tugasnya, memberikan pengarahan-pengarahan dan pelatihan untuk karyawan serta memberikan motivasi untuk meningkatkan kualitas kinerja karyawan.
c. Bagian Produksi
Bagian Produksi memiliki tugas untuk memasak dan membuat produk yang diproduksi oleh toko dan melakukan pembelian terkait bahan-bahan yang di butuhkan dalam proses produksi.
d. Bagian Keuangan
Bagian Keuangan memiliki tugas untuk menerima pembayaran dari konsumen yang membeli di toko dan juga melakukan pencatatan atas semua transaksi.
e. Pramuniaga
Pramuniaga memiliki tugas untuk melayani setiap konsumen yang datang ke toko dengan ramah dan juga mengetahui tentang barang dagangan yang di jual.
4.1.3 Data-Data Keuangan Perusahaan
Mengenai data-data keuangan perusahaan dapat dilihat pada halaman lampiran.
4.2 Pembahasan
Sebelum melakukan perhitungan break even point, terlebih dahulu akan dilakukan pemisahan antara biaya variabel dan biaya tetap. Oleh karena Toko
Pangestu ini memiliki dua usaha yang dijalankan, maka perlu diketahui apa saja yang termasuk dalam biaya produksi dari toko ini. Berikut hasil yang diberikan oleh perusahaan yang termasuk dalam laporan biaya variabel dan biaya tetap.
Tabel 4.1
Pemisahan Biaya Variabel dan Biaya Tetap Untuk Produksi Kopi Zanjabil pada Toko Pangestu
(dalam rupiah) Penggolongan
Biaya
Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016
Biaya variabel Sumber data: diolah dari Laporan Hpp dan laporan laba-rugi toko pangestu
1. Mencari jumlah unit yang terjual a. Tahun 2014
Diketahui : TR= Rp. 144.000.000,-
P= Rp. 90.000,-
Ditanya : Q...?
Jawab : π
π π b. Tahun 2015
Diketahui : TR= Rp. 157.500.000,- P= Rp. 90.000,- Ditanya : Q...?
Jawab : π
π c. Tahun 2016
Diketahui : TR= Rp. 171.000.000,- P= Rp. 90.000,- Ditanya : Q...?
Jawab : π
π
π
Berdasarkan hasil perhitungan di atas, maka diketahui unit yang terjual pada tahun 2014 sebanyak 1600 Kg, tahun 2015 sebanyak 1750 Kg dan tahun 2016 sebanyak 1900 Kg. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa jumlah hasil produksi setiap tahun mengalami kenaikan. Langkah selanjutnya adalah mencari biaya variabel per-unit. Hal ini berguna dalam rangka untuk melakukan perhitungan break even point dari tahun-tahun sebelumnya.
2. Mencari jumlah biaya variabel per unit a. Tahun 2014
Berdasarkan perhitungan di atas maka, biaya per-unit dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yaitu, pada tahun 2014 biaya variabel per-unit diketahui sebesar Rp. 61.204,375 atau Rp. 61.204,- pada tahun 2015 sebesar Rp.
69.817,7143 atau Rp. 69.818,- dan pada tahun 2016 biaya variabel per-unit kembali mengalami peningkatan sebesar Rp. 78.038,9474 atau Rp. 78.039,-
Setelah diketahui biaya variabel per-unit tahap selanjutnya adalah menghitung analisa break even point. Perhitungan ini bisa dilakukan karena biaya variabel per-unit untuk produk kopi zanjabil sudah diketahui.
3. menentukan break even point dalam unit dan rupiah
Menghitung break even point bisa dilakukan jika beberapa unsur sudah terpenuhi seperti harga jual per-unit, biaya variabel per-unit dan total biaya tetap.
Berikut ini adalah cara melakukan perhitungan break even point.
a. Tahun 2014
Diketahui : a = Rp. 16.468.750,- b = Rp. 61.204,-
c = Rp. 90.000,-
Ditanya : XBepunit dan XBeprupiah...?
Jawab :
Ditanya : XBepunit dan XBeprupiah...?
Jawab :
Ditanya : XBepunit dan XBeprupiah...?
Jawab :
π
( π π π )
= Rp. 123.918.359,7 atau Rp. 123.918.359,-
Berdasarkan hasil perhitungan break even point diatas maka, diketahui bahwa tingkat break even point pada toko pangestu untuk hasil produksi kopinya pada tahun 2014 adalah 571,9110 Kg dibulatkan menjadi 572 Kg jika dihitung dalam rupiah sebesar Rp. 51.471.992,64 dibulatkan menjadi Rp. 51.471.993,- . sementara pada tahun 2015 break even terjadi setelah perusahaan menjual sebanyak 816,0118 Kg dibulatkan menjadi 816 Kg atau jika dihitung dalam rupiah sebesar Rp. 73.441.061,34 dibulatkan menjadi Rp. 73.441.061,- . dan pada tahun 2016 terjadi pada penjualan 1.376,8707 Kg dibulatkan menjadi 1.377 Kg atau jika dihitung dalam rupiah sebesar Rp. 123.918.359,7 atau Rp. 123.918.359,-
Untuk mengetahui kebenaran dari Break Event Point diatas, maka dapat diketahui dengan pembuktian sebagai berikut :
a. Tahun 2014
Penjualan dalam BEP
Rp. 90.000 x 571,9110293 = 51.471.992,64
Biaya Variabel
Rp. 61.204 x 571,9110293 = 35.003.242,64
Contribution Margin = 16.468.750,00
Biaya Tetap = 16.468.750
Laba / Rugi 0
b. Tahun 2015
Penjualan dalam BEP
Rp. 90.000 x 816,0117927 = 73.441.061,34
Biaya Variabel
Rp. 69.818x 816,0117927 = 56.972.311,34
Contribution Margin = 16.468.750,00
Biaya Tetap = 16.468.750
Laba / Rugi 0
c. Tahun 2016
Penjualan dalam BEP
Rp. 90.000 x 1376,870663 = Rp123.918.360
Biaya Variabel
Rp. 78.039 x 1376,870663 = Rp 107.449.610
Contribution Margin = 16.468.750
Biaya Tetap = 16.468.750
Laba / Rugi 0
Dari hasil pembuktian diatas didapat nilai Contribution Margin sebesar Rp. 16.468.750 (Countribution Margin adalah hasil penjualan dikurangi biaya variabel atau bagian dari hasil penjualan yang tersedia untuk menutupi biaya tetap), sehingga untuk mencapai Break Event Point perusahaan harus mencapai
penjualan dimana Contribution Marginnya sama dengan biaya tetapnya yaitu Rp.16.468.750
Dari hasil perhitungan Break Event Point diatas, jika digambarkan dalam sebuah grafik akan nampak sebagai berikut :
Gambar 4.2 Toko Pangestu
Grafik Break Event Point Kopi Zanjabil Tahun 2014
Dengan grafik tersebut akan terlihat bahwa perusahaan akan mendapatkan keuntungan jika menjual diatas titik Break Event Point atau diatas 572 kg. Atau dengan nilai Rp.51.471993
Gambar 4.3 Toko Pangestu
Grafik Break Event Point Kopi Zanjabil Tahun 2015
Berdasarkan grafik di atas akan terlihat bahwa perusahaan akan mendapatkan keuntungan jika menjual diatas titik Break Event Point atau diatas 816 kg. Atau dengan nilai Rp.73.441.061
Gambar 4.4 Toko Pangestu
Grafik Break Event Point Kopi Zanjabil Tahun 2016
Berdasarkan grafik di atas akan terlihat bahwa perusahaan akan mendapatkan keuntungan jika menjual diatas titik Break Event Point atau diatas 1.377 kg. Atau dengan nilai Rp.123.918.359
4. menghitung margin of safety
Kegunaan margin of safety berguna untuk menentukan seberapa banyak penjualan boleh turun sebelum perusahaan menderita kerugian berikut perhitungan margin of safety dari tahun 2014-2016.
a. Tahun 2014
Diketahui : Total penjualan = 1600 Penjualan impas margin = 572 Ditanya : Margin Pengaman penjualan...?
Jawab :
Diketahui : Total penjualan = 1750 Penjualan impas margin = 816 Ditanya : Margin Pengaman penjualan...?
Diketahui : total penjualan = 1.900 Penjualan impas margin = 1.377 Ditanya : Margin Pengaman penjualan...?
Jawab :
Berdasarkan hasil perhitungan margin of safety ini memberikan informasi berapa maksimum volume penjualan boleh turun, agar perusahaan tidak menderita kerugian. Penurunan penjualan yang boleh terjadi pada tahun 2014 adalah sebesar dan tahun 2015 sebesar sementara tahun 2016 sebesar
. jika ternyata penurunannya kurang dari margin of safety hal ini akan menyebabkan perusahaan mengalami kerugian.
4. melakukan peramalan data penjualan per-unit tahun 2017
Cara melakukan peramalan adalah dengan menggunakan analisa trend berdasarkan data dari tahun-tahun sebelumnya.
Berikut data penjualan dari hasil produksi toko pangestu dari tahun ke tahun Tabel 4.2
Sumber data: diolah dari perhitungan mencari jumlah unit yang dijual
Tabel 4.3 Toko Pangestu
Mencari persamaan metode trend dari data penjualan Kopi Zanjabil
Tahun Penjualan
a = β π
b = β β a = 5.250:3 = 1750 b = 300:2 = 150 Metode trend Y=a+bX
=1750+150(2)
=2050
Berdasarkan analisa trend penjualan tahun 2017 diperkirakan sebanyak 2050 unit.
Dan juga perlu di proyeksikan biaya variabel per-unit pada tahun 2017 yang disajikan dalam bentuk tabel di bawah ini:
Tabel 4.4 Toko Pangestu Proyeksi biaya variabel
Tahun Biaya variabel per-unit
2014 Rp. 61.204
2015 Rp. 69.818
2016 Rp. 78.039
Sumber data: dari hasil perhitungan biaya variabel per-unit
Tabel 4.5 Toko Pangestu
Mencari persamaan metode trend dari data biaya variabel
Tahun Penjualan terakhir perusahaan tidak pernah menambah peralatan dan tidak ada perbaikan pada bangunan.
1. mencari break even point tahun 2017 Diketahui : a = Rp. 16.468.750,-
b = Rp. 86.522,- c = Rp. 90.000,-
Ditanya : XBepunit dan XBeprupiah...?
Jawab :
Berdasarkan hasil perhitungan di atas maka break even point per-unit pada tahun 2017 terjadi pada penjualan 4.735,121 Kg dibulatkan menjadi 4735 Kg.
Gambar 4.5 Toko Pangestu
Grafik Break Event Point Kopi Zanjabil Proyeksi Tahun 2017
3. menghitung margin of safety
Diketahui : total penjualan = 2050 Penjualan impas margin = 4735 Ditanya : Margin Pengaman penjualan...?
Jawab :
Margin Pengamanan Penjualan = πππ‘ π Pπππualanβ ππππ’ π π πΌππ π π ππ π
= 2050β4735
= -2.685
Jika perusahaan tetap menggunakan harga yang lama justru mengalami kerugian hal ini dapat terlihat dari margin of safety yang sampai -130,97%.
berdasarkan perhitungan diatas perusahaan perlu untuk mengubah harga jualnya.
3. Mencari harga jual yang diinginkan perusahaan
Toko pangestu menginginkan break event point pada tahun 2017 terjadi pada penjualan 1250 Kg. Sehingga perlu dilakukan perhitungan seperti di bawah ini.
Diketahui : XBepunit = 1250 Kg
a = Rp. 16.468.750,- b = Rp. 86.522,- Ditanya : C...?
πππ’π π‘ ππ π π π ππππ’π π
c
=
+ π c = Rp. 99.697
berdasarkan perhitungan di atas maka, harga jual yang diinginkan perusahaan adalah sebesar Rp. 99.697. untuk mengetahui banyaknya unit terjual dapat dibuktikan dengan menggunakan rumus break event point.
Diketahui : a = Rp. 16.468.750,- b = Rp. 86.522,-
c = Rp. 99.697,- Ditanya : XBepunit...?
Dan perhitungan diatas terbukti jika perusahaan ingin break event dari penjualan sebanyak 1250 kg. Harga jual yang ditetapkan perusahaan adalah sebesar Rp. 99.727
Contribution Margin = 16.468.750
Biaya Tetap = 16.468.750
Laba / Rugi 0 Gambar 4.6
Toko Pangestu
Grafik Break Event Point Kopi Zanjabil Proyeksi Tahun 2017 setelah perubahan harga
3. menghitung margin of safety
Diketahui : total penjualan = 2050 Penjualan impas margin = 1250 Ditanya : Margin Pengaman penjualan...?
Jawab :
Margin Pengamanan Penjualan = πππ‘ π πππualanβ ππππ’ π π πΌππ π π ππ π
= 2050β1250
= 800
Dengan menentukan harga jual yang baru prosentase pengamanan penjualan semakin menurun sehingga perusahaan harus mencari konsumen sebanyak-banyaknya agar bisa menutupi penjualan.
43 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN