• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.4 Data Hasil Laju Korosi

Laju korosi digunakan untuk mengetahui kecepatam spesimen uji terkorosi pada setiap bulannya. Perhitungan laju korosi untuk membandingkan spesimen tanpa tempering dengan spesimen dengan tempering.

1. Data perhitungan laju korosi spesimen kekerasan menggunakan rumus mdd seperti persamaan (2.1) :

T mdd

Tabel 4.6 Data laju korosi uji kekerasan Baja S45C tanpa quenching tempering 400°C.

luas (cm²) Laju Korosi (mdd)

Sebelum terkorosi 0 0 0 0

Terkorosi 45 hari 0,5 11,11 8,74 127,13

Terkorosi 90 hari 1,1 12,22 8,65 141,30

Tabel 4.7 Data laju korosi uji kekerasan Baja S45C dengan quenching tempering 400°C.

Spesimen Penurunan berat (gram)

Pengurangan berat per hari

(mg)

Perhitungan

luas (cm²) Laju Korosi (mdd)

Sebelum terkorosi 0 0 0 0

Terkorosi 45 hari 0,3 6,67 8,66 76,98

Terkorosi 90 hari 0,7 7,78 8,64 90,02

Gambar 4.10 Grafik laju korosi uji kekerasan Baja S45C tanpa quenching tempering 400°C.

Gambar 4.11 Grafik laju korosi uji kekerasan Baja S45C dengan quenching tempering 400°C.

Gambar 4.12 Grafik perbandingan laju korosi uji kekerasan Baja S45C tanpa dan dengan perlakuan quenching tempering 400°C.

Dari Gambar 4.12 nampak bahwa laju korosi spesimen kekerasan dengan perlakuan quenching tempering lebih rendah dari pada spesimen kekerasan tanpa perlakuan quenching tempering. Saat terkorosi 45 hari spesimen kekerasan dengan quenching tempering nilai laju korosi sebesar 76,98 mdd, setelah terkorosi 90 hari meningkat menjadi 90,02 mdd. Sedangkan pada spesimen kekerasan tanpa perlakuan quenching tempering mengalami laju korosi lebih tinggi. Saat spesimen uji terkorosi 45 hari nilai laju korosi sebesar 127,13 mdd, setelah terkorosi 90 hari nilai laju korosi meningkat menjadi 141,30 mdd.

Data tersebut membuktikan bahwa semakin tinggi suhu tempering yang diberikan pada spesimen uji maka laju korosi akan semakin rendah dan ketahanan spesimen uji terhadap korosi akan semakin meningkat. Hal tersebut juga sejalan dengan pendapat Perdana, dkk. (2017), peningkatan suhu tempering dapat menurunkan tegangan sisa dan meningkatkan ketahanan korosi baja

2. Laju korosi digunakan untuk mengetahui kecepatam spesimen uji terkorosi pada setiap bulannya. Perhitungan laju korosi spesimen kelelahan dapat dihitung dengan persamaan (2.1) :

T mdd

Tabel 4.8 Data laju korosi uji kelelahan Baja S45C tanpa perlakuan quenching

luas (cm²) Laju korosi (mdd)

2,10 46,67 37,07 125,89

2,20 48,89 36,69 133,25

2,20 48,89 36,88 132,56

2,10 46,67 33,91 137,62

2,10 46,67 36,79 126,85

2,40 53,33 36,79 144,97

2,20 48,89 36,98 132,20

2,50 55,56 36,69 151,42

2,70 60,00 36,88 162,69

Rata-rata 2,278 50,62 36,52 138,60

Tterkorosi 90 hari

5,70 63,33 36,69 172,62

5,75 63,89 36,69 174,13

6,10 67,78 37,07 182,84

5,90 65,56 36,98 177,27

5,30 58,89 36,79 160,07

5,90 65,56 36,79 178,19

4,00 44,44 36,69 121,14

5,80 64,44 36,88 174,74

4,90 54,44 36,98 147,23

Rata-rata 5,483 60,93 36,84 165,36

tempering 400°C.

luas (cm²) Laju korosi (mdd)

1,55 34,44 36,60 94,11

1,65 36,67 36,79 108,74

1,55 34,44 36,88 101,88

1,70 37,78 36,60 112,67

1,60 35,56 36,69 105,76

1,55 34,44 36,51 103,00

1,65 36,67 36,74 108,90

1,80 40,00 36,79 118,62

1,75 38,89 36,69 115,67

Rata-rata 1,644 36,543 36,70 107,71

Terkorosi 90 hari

4,1 45,56 36,79 123,83

3,9 43,33 36,60 118,40

3,6 40,00 36,51 109,56

3,7 41,11 36,69 112,05

4,2 46,67 36,79 126,85

4,1 45,56 36,84 123,66

3,9 43,33 36,74 117,95

4,1 45,56 36,88 123,52

3,8 42,22 37,83 111,61

Rata-rata 3,933 43,70 36,85 118,60

Gambar 4.13 Grafik laju korosi uji kelelahan Baja S45C tanpa quenching tempering 400°

Gambar 4.14 Grafik laju korosi uji kelelahan Baja S45C dengan quenching tempering 400°

Gambar 4.15 Grafik perbandingan laju korosi uji kelelahan Baja S45C tanpa dan dengan perlakuan quenching tempering 400°C.

Dari Gambar 4.15 nampak bahwa laju korosi spesimen kelelahan dengan perlakuan quenching tempering lebih kecil dari pada spesimen kelelahan tanpa perlakuan quenching tempering. Saat terkorosi 45 hari spesimen kelelahan dengan perlakuan quenching tempering nilai laju korosi sebesar 107,71 mdd, setelah terkorosi 90 hari meningkat menjadi 118,80 mdd.

Sedangkan pada spesimen kelelahan tanpa perlakuan quenching tempering mengalami laju korosi lebih tinggi. Saat spesimen uji terkorosi 45 hari nilai laju korosi sebesar 138,60 mdd, setelah terkorosi 90 hari nilai laju korosi meningkat menjadi 165,36 mdd.

Dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu tempering yang diberikan pada spesimen uji maka laju korosi akan semakin rendah dan ketahanan spesimen uji terhadap korosi akan semakin meningkat.

Hal tersebut juga sejalan dengan pendapat Perdana, dkk. (2017), peningkatan suhu tempering dapat menurunkan tegangan sisa dan meningkatkan ketahanan korosi baja.

60 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN

Dari data-data yang diperoleh berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat dibuat beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Nilai kekerasan pada spesimen dengan quenching temepring lebih tinggi dibandingkan dengan spesimen tanpa perlakuan panas. Spesimen dengan perlakuan panas quenching tempering memiliki nilai kekerasan tertinggi 245,30 BHN sebelum terkorosi dan spesimen tanpa perlakuan panas nilai kekerasan tertinggi 208,08 BHN sebelum terkorosi. Kedua spesimen uji mengalami penurunan nilai kekerasan setiap waktu kontaknya dengan lingkungan pantai.

2. Jumlah siklus spesimen kelelahan dengan quenching tempering lebih tinggi dibandingkan dengan spesimen tanpa quenching tempering.

Spesimen dengan tempering pada beban awal 18 kg sebelum terkorosi mempunyai jumlah siklus 42178 dan spesimen tanpa tempering pada beban awal 18 kg sebelum terkorosi mempunyai jumlah siklus 16835 . Kedua Spesimen uji mengalami penurunan kekuatan setiap waktu kontaknya dengan lingkungan pantai.

3. Spesimen uji dengan perlakuan quenching tempering mempunyai laju korosi lebih rendah dibanding dengan spesimen uji tanpa perlakuan quenching tempering, dan spesimen uji mengalami kenaikan nilai laju korosi setiap waktu kontaknya dengan lingkungan pantai. Spesimen kekerasan dengan perlakuan panas mempunyai nilai laju korosi 90,02 mdd setelah terkorosi 90 hari. Spesimen tanpa perlakuan panas mempunyai nilai laju korosi 141,30 mdd setelah terkorosi 90 hari.

Spesimen kelelahan dengan perlakuan panas mempunyai nilai laju korosi 118,60 mdd setelah terkorosi 90 hari. Spesimen tanpa perlakuan panas mempunyai nilai laju korosi 165,36 mdd setelah terkorosi 90 hari.

5.2 SARAN

Untuk proses penelitian lebih lanjut dan mendapatkan hasil yang lebih baik. Maka, disarankan untuk :

1. Penelitian ini dilakukan penempatan spesimen dengan jarak 100 meter dari bibir pantai. Berikutnya dapat dijadikan topik penelitian lebih lanjut dengan jarak lebih jauh dari bibir pantai.

2. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret-Juni saat musim hujan.

Berikutnya dapat dijadikan judul topik penelitian lebih lanjut saat musim kemarau.

3. Penelitian ini memerlukan waktu kontak terhadap lingkungan pantai paling lama 90 hari. Berikutnya dapat dijadikan topik penelitian lebih lanjut dengan waktu kontak terhadap lingkungan pantai dengan waktu yang lebih lama.

4. Dapat dijadikan topik penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan pengaruh bentuk spesimen terhadap korosi.

DAFTAR PUSTAKA

Affandi, Y.K., dkk (2015). Analisa Laju Korosi pada Pelat Baja Karbon dengan Variasi Ketebalan Coating, JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, No. 1.

ASTM E140-52 2008. Standard Test Method and Definitions for Mechanical Testing of Steel Products. ASTM International.

Bima, W. (2017). Pengaruh Lingkungan Pantai Terhadap Laju Korosi Dan Sifat Mekanik Pada Baja Karbon Sedang Dengan Perlakuan Quenching Dan tempering, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Diater, G.E. (1992). Metalurgi Mekanik, Jilid 2, edisi ketiga, alih bahasa oleh Sriati Djaprie, Erlangga, Jakarta.

Fontana, M.G. (1987). Corrosion Engineering, Third Edition, Department of Metallurgy Engineering Fontana Corrosion Center The Ohio State University.

Guide To Fatigue Testing. www.imrtest.com. New York : IMR Test Labs

Hadi Perdana, Moch. Syaiful Anwarb, Andinnie Juniarsiha dan Efendi Mabrurib., 2017, Pengaruh Suhu Dan Waktu Tempering Terhadapkekerasan, Struktur Mikro, Dan Laju Korosi Baja Tahan Karat Martensitik 13cr3mo3ni,

Handoyo, Yopi (2015).Pengaruh Quenching Dan tempering Pada Baja JIS Grade S45C Terhadap Sifat Mekanis Dan Struktur Mikro Crankshaft.

Indonesia Corrosion Assosiation, Jurnal Korosi dan Material,: (2000).

JIS Z 2274. 1973 JIS Hand Book Non- Ferrous Metals and Metallurgy, Jepanese Standards Association.

Meisilia, A. (2016). Pengaruh Heat Treatment Dengan Variasi Media Quenching Air Garam Dan Oli Terhadap Struktur Mikro Dan Nilai Kekerasan Baja Pegas Daun AISI 6135, Universitas Lampung, Lampung.

Najamudin, dkk. (2016). Pengaruh Perlakuan Quenching- tempering Terhadap Kekuatan Impak Pada Baja Karbon Sedang. Bandar Lampung : Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Bandar Lampung.

Setyahandana, B. Materi Kuliah Bahan Teknik Manufaktur, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Smallman, R.E. (1991). Metalurgi Fisik Modern, PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Sotya, A., (2017), Pengaruh Perlakuan Panas Quenching Dan Tempering Terhadap Laju Korosi Pada Baja Aisi 420, JURNAL ENGINE Vol.1 No.2, Nopember 2017, pp no 19-29.

Wilson Instrument. 2005. Hardness Testers. USA : University Avenue.

Zamri, A. (2006). Pengaruh Temperatur Pemanasan Pada Proses tempering Terhadap Laju Korosi Besi Tuang Kelabu.

http://teknikmesin.org/pengertian-pengujian-impak/. Diakses pada tanggal 9 Mei 2019.

http://www.academia.edu/9027468/Jenis-Jenis Korosi. Diakses pada tanggal 9 Mei 2019.

http://www.calphad.com/iron-carbon.html. Diakses pada tanggal 9 mei 2019

LAMPIRAN

Lampiran Uji Komposisi

Dokumen terkait