• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Data Hasil Penelitian

Penelitian ini menggunakan perusahaan industri barang-barang

konsumsi yang terdaftar di BEI pada tahun 2008, 2009 dan 2010 sebagai objek

penelitian. Bursa efek di Indonesia berdiri pada tahun 1912 di Batavia yang

didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk kepentingan pemerintah

kolonial atau VOC. Meskipun pasar modal telah ada sejak tahun 1912,

perkembangan dan pertumbuhan pasar modal tidak berjalan seperti yang

diharapkan, bahkan pada beberapa periode kegiatan pasar modal mengalami

kevakuman. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti perang dunia

ke I dan II, perpindahan kekuasaan dari pemerintah kolonial kepada pemerintah

Republik Indonesia, dan berbagai kondisi yang menyebabkan operasi bursa

efek tidak dapat berjalan sebagimana mestinya. Pemerintah Republik Indonesia

mengaktifkan kembali pasar modal pada tahun 1977, dan beberapa tahun

kemudian pasar modal mengalami pertumbuhan seiring dengan berbagai

insentif dan regulasi yang dikeluarkan pemerintah. Pada tanggal 16 juni 1989

Bursa Efek Surabaya (BES) mulai beroperasi dan dikelola oleh Perseroan

dilakukan penggabungan Bursa Efek Surabaya (BES) ke Bursa Efek Jakarta

(BEJ) dan berubah nama menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dari populasi yang ada, sampel diambil berdasarkan kriteria yang telah

ditetapkan, yaitu sebanyak 21 perusahaan dengan tiga tahun pengamatan

sehingga berjumlah 63 unit analisis.

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

analisis statistik yang menggunakan regresi linear berganda. Pengujian asumsi

klasik dan regresi dilakukan dengan menggunakan software SPSS versi 16. Proses pengolahan data dimulai dengan memasukkan variabel-variabel

penelitian ke program SPSS tersebut dan menghasilkan output-output sesuai

metode analisis data yang telah ditentukan.

4.2. Analisis Data Hasil Penelitian 4.2.1. Statistik Deskriptif

Analisis statistik deskriptif merupakan metode analisis yang

digunakan untuk memberikan gambaran yang dilihat dari frekuensi dan

deskriptif (minimum, mkasimum, mean, standar deviasi) dari setiap variable, baik variable independen maupun variable dependen. Hasil

Tabel 4.1.

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

DebtCovenant 63 .01 41.99 8.5074 11.67292

GrowthOpportunities 63 .17 35.40 2.7627 5.52894

Konservatisme 63 -434.00 334.00 -8.8317 130.70389

Valid N (listwise) 63

Sumber: Hasil Pengolahan SPSS 16 (2012)

Berdasarkan table 4.1. dapat dideskripsikan sebagai berikut:

1. Jumlah seluruh sampel dalam penelitian ini yang dapat dilihat dari

nilai N sebanyak 63 unit analisis yang terdiri dari 21 perusahaan

dalam tiga tahun pengamatan. Jumlah data yang valid adalah 63,

yang menunjukkan bahwa semua data valid. Penelitian ini

menggunakan dua variable independen dengan skala rasio yaitu debt covenant (X1) dan growth opportunities (X2), dan satu variable dependen dengan skala nominal yaitu konservatisme (Y).

2. Variable independen yang pertama yaitu debt covenant memiliki nilai minimum 0.01, maksimum 41.99 dan mean 8.5074 yang berarti

nilai debt covenant yang dimiliki perusahaan sampel paling sedikit 0.01, paling banyak 41.99 dan rata-rata 8.057 dengan standar deviasi

11.67292.

3. Variable independen yang kedua yaitu growth opportunitiesmemiliki nilai minimum 0.17, maksimum 35.40 dan mean 2.7627 yang berarti

tingkat growth opportunities perusahaan sampel paling rendah 0.17, paling tinggi 35.40 dan rata-rata 2.7627 dengan standar deviasi

5.52894.

4. Variable dependen yaitu konservatisme memiliki nilai minimum

-434.00, maksimum 334.00 dan mean -8.8317 yang berarti tingkat

konservatisme perusahaan sampel paling rendah -434.00, paling

tinggi 334.00 dan rata-rata -8.8317 dengan standar deviasi

130.70389.

4.2.2. Pengujian Asumsi Klasik 4.2.2.1. Uji Normalitas Data

Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah

dalam model regresi, variable pengganggu atau residual

memiliki distribusi normal atau tidak. Uji normalitas dapat

dilakukan dengan analisis grafik dan uji statistik.

Hasil uji normalitas dalam penelitian ini awalnya tidak

terdistribusi secara normal. Untuk mengatasi masalah tersebut,

maka dilakukanwinsorizing, yaitu mengubah nilai data yang

outlier ke suatu nilai tertentu. Hasil uji normalitas setelah data terdistribusi normal disajikan sebagai berikut:

Gambar 4.1. Grafik Histogram

Sumber: Hasil Pengolahan SPSS 16 (2012)

Pada gambar 4.1. dapat dilihat bahwa data terdistribusi normal

karena grafik histogram menunjukkan distribusi data tidak menceng ke

Gambar 4.2. Grafik Normal P-Plot

Sumber: Hasil Pengolahan SPSS 16 (2012)

Pada gambar 4.2. grafik normal P-Plot memperlihatkan titik-titik

menyebar di sekitar garis diagonal serta penyebarannya mendekati garis

Tabel 4.2.

Hasil Uji Kolmogorov Smirnov

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 63

Normal Parametersa Mean .0000000

Std. Deviation 1.29976091E2

Most Extreme Differences Absolute .153

Positive .138

Negative -.153

Kolmogorov-Smirnov Z 1.216

Asymp. Sig. (2-tailed) .104

a. Test distribution is Normal.

Sumber: Hasil Pengolahan SPSS 16 (2012)

Pada table 4.2. hasil uji kolmogorov-smirnov menunjukkan nilai Asymp.Sig.(2-tailed) 0.104 lebih besar dari nilai signifikansinya 0.05

(0.104 > 0.05), yang artinya adalah data terdistribusi secara normal.

Hasil ini sesuai dengan grafik histogram dan grafik normal P-Plot yang

menggambarkan data terdistribusi normal.

4.2.2.2. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah

model regresi ditemukan adanya korelasi antara variable bebas.

Model regresi yang baik adalah yang tidak terjadi korelasi

penelitian ini dilakukan dengan melihat angka tolerance dan nilai VIF dari masing-masing variabel independen yang diuji.

Hasil pengujian multikolinearitas dalam penelitian ini

disajikan sebagai berikut:

Tabel 4.3.

Hasil Uji Multikolinearitas

Sumber: Hasil Pengolahan SPSS 16 (2012)

Untuk mengetahui multikolinearitas dapat dilihat dari

nilai Variance Inflation Factor (VIF) dan nilai toleransi

(tolerance value). Nilai cut off yang umum dipakai adalah nilai toleransi < 0.10 atau sama dengan nilai VIF > 10. Jika

nilai VIF lebih besar dari 10, maka terjadi multikolinearitas

yang cukup berat antara variable independen.

1. Variable debt covenant memiliki nilai tolerance 0.992 yang lebih besar dari 0.10 dan nilai VIF 1.008 yang lebih besar

dari 10. Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics

B Std. Error Beta Tolerance VIF

1(Constant) -20.272 21.924 -.925 .359

DebtCovenant .787 1.443 .070 .545 .587 .992 1.008

GrowthOpportunities 1.717 3.046 .073 .564 .575 .992 1.008

2. Variable growth opportunities memiliki nilai tolerance 0.992 yang lebih besar dari 0.10 dan nilai VIF 1.008 yang

lebih besar dari 10.

Dari hasil pengujian yang dilakukan terlihat bahwa

tidak ada nilai tolerance yang kurang dari 0.10 dan tidak ada

angka VIF yang lebih dari 10, maka dapat disimpulkan bahwa

tidak terjadi multikolinearitas antar variabel bebas dalam

model regresi.

4.2.2.3. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan “menguji apakah

model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu

pengamatan ke pengamatan yang lain” (Ghozali, 2007: 105).

Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas, atau

tidak terjadi heteroskedastisitas.

Hasil pengujian heteroskedastisitas dapat dilihat dari

Gambar 4.3. Scatterplot

Sumber: Hasil Pengolahan SPSS 1666 (2012)

Hasil pengujian heterokedastisitas dengan jelas

menunjukkan bahwa tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik

menyebar di atas dan di bawah angka nol pada sumbu Y.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi

heterokedastisitas dalam model regresi tersebut.

Selain scatterplot, heteroskedastisitas juga dapat diuji

Tabel 4.4. Hasil Uji Glejser

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) -20.272 21.924 -.925 .359 DebtCovenant .787 1.443 .070 .545 .587 GrowthOpportunities 1.717 3.046 .073 .564 .575

a. Dependent Variable: Konservatisme

Sumber: Hasil Pengolahan SPSS 16 (2012)

Dari hasil regresi diatas menunjukkan bahwa

probabilitas signifikansinya adalah 0.587 dan 0.575. Semuanya

berada diatas 0.05 maka dapat dipastikan tidak terjadi

heteroskedastisitas pada model regresi.

4.2.2.4. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan “menguji apakah model

regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada

periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1”

(Ghozali, 2007: 95). Auto korelasi muncul karena observasi

Untuk mengetahui adanya autokorelasi dilakukan dengan uji

Durbin Watson.

Hasil uji Durbin Watson disajikan dalam table berikut ini:

Tabel 4.5. Uji Durbin Watson

Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .105a .011 -.022 132.12460 2.215

a. Predictors: (Constant), GrowthOpportunities, DebtCovenant

b. Dependent Variable: Konservatisme

Sumber: Hasil Pengolahan SPSS 16 (2012)

Tabel 4.5. memperlihatkan nilai statistik D-W sebesar 2.215lebih besar dari batas atas (du) 1.736 dan kurang dari

4-1.736 (4-du), yang berarti tidak terjadi autokorelasi.

4.2.3. Pengujian Hipotesis Penelitian

Pengujian hipotesis penelitian dilakukan untuk mengetahui

seberapa besar pengaruh beberapa variable independen terhadap satu

variable dependen. Hasil dari analisis regresi berganda berupa koefisien

untuk setiap variable independen.

Hasil pengolahan SPSS 16 untuk pengujian hipotesis penelitian

Tabel 4.6. Hasil Analisis Regresi

Sumber: Hasil Pengolahan SPSS 16 (2012)

Dengan pengujian persamaan regresi linier berganda tersebut, maka

diperoleh model regresi berganda sebagai berikut:

Konservatisme = -20.272 + 0.787 Debt Covenant + 1.717 Growth Opportunities + e

Keterangan:

1. Konstanta sebesar -20.272 menunjukkan apabila tidak ada

variable independen (X1 = 0, X2 = 0) maka tingkat

konservatisme adalah sebesar -20.272.

2. β1 sebesar 0.787 menunjukkan bahwa setiap kenaikan debt covenant sebesar 1% maka akan diikuti oleh kenaikan konservatisme sebesar 0.787 dengan asumsi variable lain

tetap. Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) -20.272 21.924 -.925 .359 DebtCovenant .787 1.443 .070 .545 .587 GrowthOpportunities 1.717 3.046 .073 .564 .575

3. β2 sebesar 1.717 menunjukkan bahwa setiap kenaikan

growth opportunities sebesar 1% maka akan diikuti oleh kenaikan konservatisme sebesar 1.717 dengan asumsi

variable lain tetap.

4.2.4. Uji Kelayakan Model Regresi (Goodness of Fit) 4.2.4.1. Koefisien Determinasi (R2)

“Koefisien determinasi mengukur seberapa jauh

kemampuan model dalam menerangkan variasi variable

dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan

satu” (Ghozali, 2007: 83).

Hasil Uji Koefisien determinasi adalah sebagai berikut :

Tabel 4.7.

Uji Koefisien Determinasi

Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .105a .011 -.022 132.12460

a. Predictors: (Constant), GrowthOpportunities, DebtCovenant

b. Dependent Variable: Konservatisme

Sumber: Hasil Pengolahan SPSS 16 (2012)

Tabel 4.7. dapat dideskripsikan sebagai berikut:

1. Dari hasil ujidapat dilihat nilai R sebesar 0.105, hal ini

variabel-variabel independen nya sangat tidak erat (hanya

10.5%) karena berada diantara 0.0 – 0.19.

2. Dari hasil uji nilai R Square didapat 0.011, berarti 1.1% factor-fator konservatisme dapat dijelaskan oleh debt

covenant dan growth opportunities. Sedangkan sisanya

98.1% dapat dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak

dijelaskan dalam penelitian ini.

3. Standard Error of the Estimate (SEE) model tersebut adalah 132.12460. SEE yang semakin kecil akan membuat

model regresi semakin tepat dalam memprediksi variabel

dependen.

4. Dari hasil uji nilai Adjusted R Square adalah 0.22, hal ini berarti 22% variasi konservatisme dapat dijelaskan oleh

variasi dari variabel independen yaitu debt covenant dan

growth opportunities. Sedangkan sisanya dijelaskan oleh sebab lain diluar model.

4.2.4.2. Uji Signifikansi Simultan (Uji F)

Uji ini bertujuan untuk menunjukkan pengaruh variable

independen secara bersama-sama apabila dimasukkan ke dalam

Hasil uji signifikansi simultan (uji F) adalah:

Tabel 4.8.

Uji Signifikansi Simultan (Uji F)

ANOVAb

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 11762.727 2 5881.363 .337 .715a

Residual 1047414.630 60 17456.910

Total 1059177.357 62

a. Predictors: (Constant), GrowthOpportunities, DebtCovenant

b. Dependent Variable: Konservatisme

Sumber: Hasil Pengolahan SPSS 16 (2012)

Hasil uji ANOVA atau uji F menunjukkan F hitung

sebesar 0.337 dengan tingkat signifikansi 0.715. Sedangkan F

table yang diperoleh dari perhitungan Microsoft Excel dengan rumus FINV(0.05,2,60) yaitu sebesar 3.150 dengan

signifikansi 0.05. Dengan demikian F hitung < F table (0.337 <

3.150) dan signifikansi penelitian lebih besar dari 0.05 (0.715

> 0.05). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa

debt covenant dan growth opportunities tidak berpengaruh signifikan secara simultan terhadap konservatisme.

4.2.4.3. Uji Signifikansi Parsial (Uji t)

Uji signifikansi parsial (Uji t) digunakan untuk menguji

signifikansi konstanta dan setiap variabel independennya. Uji

ini menunjukkan seberapa besar pengaruh suatu variable

independen secara individual dalam menerangkan variasi

variable dependennya. Jika t hitung lebih besar dari t table atau

tingkat signifikansi lebih kecil dari 5% maka menunjukkan

adanya pengaruh variable independen dalam menerangkan

variable dependennya. Jika t hitung lebih kecil dari t table atau

tingkat signifikansi lebih besar dari 5% maka menunjukkan

tidak adanya pengaruh variable independen dalam

menerangkan variable dependennya.

Hasil pengujian signifikansi parsial (uji t) adalah sebagai berikut:

Tabel 4.9.

Uji Signifikansi Parsial (Uji t)

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) -20.272 21.924 -.925 .359 DebtCovenant .787 1.443 .070 .545 .587 GrowthOpportunities 1.717 3.046 .073 .564 .575

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) -20.272 21.924 -.925 .359 DebtCovenant .787 1.443 .070 .545 .587 GrowthOpportunities 1.717 3.046 .073 .564 .575

a. Dependent Variable: Konservatisme

Sumber: Hasil Pengolahan SPSS 16 (2012)

Berdasarkan table 4.9. dapat diketahui bahwa:

1. Variable debt covenant memiliki nilai t hitung 0.545, lebih kecil dari t table yaitu 1.9983 (0.545 < 1.9983) dan

memiliki signifikansi 0.587 yang lebih besar dari 0.05.

maka dapat disimpulkan bahwa variable debt covenant

tidak berpengaruh signifikan terhadap konservatisme.

2. Variable growth opportunities memiliki nilai t hitung 0.564, lebih kecil dari t table yaitu 1.9983 (0.564 < 1.9983)

dan memiliki signifikansi 0.575 yang lebih besar dari 0.05.

maka dapat disimpulkan bahwa variable growth opportunities tidak berpengaruh signifikan terhadap konservatisme.

Dokumen terkait