HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Data Hasil Penelitian
Data riset didapat dari tes, angket serta dokumentasi. Digunakan 2 kelas pada riset ini yakni X MIA 2 berjumlah 32 anak selaku kelas eksperimen, sedangkan X MIA 1 berjumlah 30 anak selaku kelas konrol. Digunakan model
Creative Problem Solving berbantu media Pictorial Riddle dikelas eksperimen, serta pada kelas kontrol digunakan model DI. Data yang didapat ialah perolehan skor tes akhir kemampuan memecahkan masalah, kuesioner minat belajar, serta dokumentasi jalannya belajar mengajar. Data yang didapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Hasil Posttest Kemampuan Pemecahan Masalah
Perolehan tes akhir dikelas eksperimen maupun kontrol dipaparkan sebagai berikut:
cxi
Table 4.12
Data Hasil Posttest Kemampuan Pemecahan Masalah Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
No Hasil Akhir Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
1 Rata-Rata Posttest
X MIA 2 X MIA 1
82 79
Bersumber: Perolehan Kalkulasi Tes Akhir Kemampuan Pemecahan Masalah
Dengan melihat tabel 4.12 diketahui bahwasannya skor kemampuuan pemecahan masalah memperlihatkan rata-rata skor tes akhir dikelas eksperimen lebih tinggi dibandingkani kelas kontrol. Keadaan ini ditunjukkan dari pembelajaran dengan model Creative Problem Solving berbantu media Pictorial Riddle memberikan pengaruh terhadap kemampuan dalam melakukan pemecahan masalah. Berikut tersaji perolehan kemampuan pemecahan masalah setiap indikator:
Tabel 4.13
Perolehan Kemampuan Pemecahan Masalah Tiap-tiap Indicator Kelas Eksperimen Dengan Model Creative Problem Solving Berbantu Media Pictorial
Riddle
No Indikator No Soal Presentase Keterangan
1 Mengidentifikasi Masalah 1, 6, 9 81% Sangat Baik
2 Mendiagnosis Masalah 8, 10 78% Baik
3 Merumuskan Alternatif Strategi 2, 4, 7 86% Sangat Baik 4 Menentukan dan menetapkan strategi pilihan 3 51% Kurang
5 Melakukan evaluasi 5 74% Cukup
Dengan melihat tabel 4.13 tampak pada indikator merumuskan alternatif strategi yang terdapat disoal bernomor 2, 4, 7 tergolog sangat baik dengan memeroleh presentase nilai paling tinggi yakni 86%. Sedangkan presentase
nilai teramat rendah terdapat pada indikator menentukan dan menetapkan strategi tergolong 51% disoal bernomor 5. Berikut hasil kemampuan pemecahan masalah dipada kelas kontrol:
Table 4.14
Perolehan Kemampuan Pemecahan Masalah Tiap-tiap Indikator Kelas Kontrol Dengan Model Pembelajaran DI
No Indikator No Soal Presentase Keterangan
1 Mengidentifikasi Masalah 1, 6, 9 75% Baik
2 Mendiagnosis Masalah 8, 10 71% Cukup
3 Merumuskan Alternatif Strategi
2, 4, 7 82% Sangat Baik
4 Menentukan dan
menetapkan strategi pilihan
3 32% Kurang
5 Melakukan evaluasi 5 60% Cukup
Dengan melihat tabel 4.14 menunjukkan bahwa perolehan presentase tertinggi terdapat pada indikator merumuskan alternatif strategi yaitu sebesar 82% yang terdapat dinomor 2, 4, 7 tergolong sangat baik. Sedangkan perolehan presentase nilai paling rendah terdapat pada indikator menentukan dan menetapkan strategi dengan presentase 32% pada soal nomor 5. Berikut disajikan perolehan kemampuan pemecahan masalah dikelas eksperimen serta kontrol:
cxiii
Diagram 4.1 Presentase Tiap Indikator Kemampuan Pemecahan Maslah Dikelas Eksperimen serta Kontrol
SMA Negeri 3 Bandar Lampung
D. Pembahasan
Uji hipotesis pertama hasil perhitungan dengan analisis varians dua jalan sel tak sama didapatkan nilai 𝐹𝑎𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 > 𝐹𝑎𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 maka dapat disimpulkan bahwa
𝐻0ditolak, artinya terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah peserta didik antara kelas yang menggunakan model pembelajaran Creative Problem Solving berbantu media Pictorial Ridlle dengan kelas yang menggunakan model konvensional. 81% 78% 86% 51% 74% 75% 71% 82% 32% 60% 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100% Mengidentifikasi Masalah Mendiagnosis Masalah Merumuskan Alternatif Strategi Menentukan dan menetapkan strategi pilihan Melakukan evaluasi EKSPERIMEN KONTROL
Dari uji lanjut yang telah dilakukan yaitu dengan menggunakan uji Scheff
dengan melihat rataan marginalnya pada tabel 4.9 dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah peserta didik dengan menggunakan model pembelajaran Creative Problem Solving berbantu media Pictorial Riddle memberikan kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik dibandingkan dengan model Direct Instruction.
Kelas eksperimen pada penelitian ini menggunakan Creative Problem Solving. Peneliti memberikan motivasi, apersepsi serta menjelaskan langkah-langkah pembelajaran kepada peserta didik sebelum memberikan permasalahan yang harus diselesaikan oleh peserta didik.
Selanjutnya pesesrta didik diarahkan untuk mengamati permasalahan yang disajikan oleh pendidik melalui riddle yang telah disiapkan pada lembar diskusi. Langkah ini merupakan langkah pertama yaitu objective finding dimana peserta didik diarahkan untuk mengamati serta berdiskusi.
Peserta didik saling berdiskusi serta saling bertukar pendapat tentang fakta-fakta yang ditemukan dari permasalahan tersebut. Lalu peserta didik mendefinisikan kembali atau menyampaikan pendapat yang berkenaan dengan masalah yang ditemukan. Selepas itu gagasan atau ide peserta didik didaftar dalam kelompok untuk melihat kemungkinan menjadi solusi. Setelah ide didaftar lalu peserta didik diarahkan untuk menentukan solusi pemecahan masalah. Langkah terakhir yang harus dilakukan ialah pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat mempresentasikan hasil diskusinya dengan harapan
cxv
peserta didik telah mempunyai cara dalam menyelesaikan permasalahan secara kreatif.
Pembelajaran menggunakan model DI jarang aktif dalam pengetahuan awal dan kurang motivasi pada awal pembelajaran sehingga berdampak pada peserta didik kurang dalam mendapatkan pengetahuan yang berdampak pada proses pembelajaran serta pemecahan masalah yang rendah.
Temuan sebelumnya yang mendukung penelitian ini yaitu penelitian oleh Muhamad Syazali tahun 2015 yang menyatakan bahwasannya terdapat pengaruh yang signifikan pada penerapan model pembelajaran CPS berbantuan Maple II terhadap kemampuan pemecahan masalah peserta didik kelas XI IPA MAN 2 Bandar Lampung.116 Perbedaan yang signifikan diperoleh dari kemampuan pemecahan masalah lebih efektif menggunakan model pembelajaran CPS dibanding dengan kelas yang memperoleh pembelajaran problem Posing, kelas yang memperoleh model Problem Posing tidak menunjukkan peningkatan yang maksimal.117 Pada penerapan model pembelajaran CPS, peserta didik dituntut untuk mengembangkan eksplorasi intelektualnya sehingga dapat menyelesaikan soal atau permasalahan dengan teknik yang bervariasi.118 Ni Nyoman Parwati
menyatakan bahwa “Problem solving learning model is different from that which
116Muhammad Syazali, “Pengaruh Model Pembelajaran Creative Problem Solving
Berbantuan Maple II Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis”, Jurnal Pendidikan
Matematika, Vol. 6, No. 1 (2015), h.97
117N. I. Fajariyah,dkk. “Keefektifan Implementasi Model Posing Dan Creative Problem
Solving terhadap kemampuan Pemecahan Masalah Peserta Didik Di Smp N 1 Tengaran”, Unnes
Journal of Mathematics Education, ISSN NO 2252-6927, h.27
uses direct instructional model. The direct instructional model follows the following steps: presenting an objective and a new material by the teacher, giving examples of problems and discussing them, and finally practice of solving
problems”.119
Penelitian selanjutnya yang mendukung peneitian ini yaitu Penelitian yang dilakukan oleh Hariawan Kamaluddin dan Unggul Wahyono tentang pembelajaran Creative Problem Solving di SMA Negeri 4 Palu memiliki pengaruh signifikan dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional.120 peningkatan hasil belajar disebabkan penerapan model pembelajaran CPS yang dilengkapi dengan diskusi kelas sehingga membuat peserta didik lebih memahami materi yang dibahas serta mengetahui pemecahan masalah yang paling tepat.121
Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat yang telah dipaparkan diatas bahwa model pembelajaran Creative Problem Solving berbantu media Pictorial Riddle dapat mendorong peserta didik dalam mengembangkan kemampuan pemecahan masalah terhadap permasalahan-permasalahan yang ada. Hal ini disebabkan pada tahapan-tahapan model pembelajaran Creative Problem Solving menekankan kepada
119Ni Nyoman Parwati, “Local Wisdom-Oriented Problem-Solving Learning Model To
ImproveMathematical Problem-Solving Ability “, Journal of Technology and Science Education, ISSN: 2014-5349, h.313
120Hariawan, Kamaluddin, dkk. “Pengaruh Model Pembelajaran Creative Problem Solving
Terhadap Kemampuan Memecahkan Masalah Fisika Pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 4 Palu”,
Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako, Vol. 1 No.2 ISSN 2338 3240, h.5
121Restika Maulidina Hartantia, “Penerapan Model Creative Problem Solving (CPS) Untuk
Meningkatkan Minat Dan Hasil Belajar Kimia Pada Materi Pokok Termokimia Siswa Kelas XI. IA2
SMA Negeri Colomadu Tahun Pelajaran 2012/2013”, Jurnal Pendidikan Kimia (JPK), Vol. 2 No. 2 (2013), ISSN 2337-9995, h.108
cxvii
proses berfikir peserta didik sehingga peserta didik dapat mengembangkan proses berfikirnya.
Model pembelajaran Creative Problem Solving adalah salah satu model pembelajaran yang cocok dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, pada model pembelajaran ini ditekankan pada memusatan pengajaran dan keterampilan dalam memecahkan masalah yang diikuti dengan penguatan keterampilan.122 Sehingga tidak hanya menghafalkan saja, keterampilan pemecahan masalah dapat memperluas proses berfikir.123 Model pembelajaran
Creative Problem Solving merupakan model yang didalamnya peserta didik dibagi kedalam kelompok-kelompok kecil, selanjutnya peserta didik belajar dalam kelompoknya untuk menyelesaikan persoalan dengan tahapan Creative Problem Solving dan diakhir pembelajaran peserta didik perkelompok diminta untuk memaparkan hasil diskusinya.
Kemampuan pemecahan masalah merupakan sebuah proses penerapan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya ke dalam situasi baru yang belum dikenal.124 Suatu permasalahan ini biasanya memuat situasi yang mendorong seseorang agar dapat menyelesaikannya. Jonassen menegaskan bahwa seharusnya fokus utama dalam pembelajaran adalah belajar menyelesaikan permasalahan,
122Siska Candra Ningsih,” Meningkatkan Pemecahan Masalah Matematika Pada Mata Kuliah
Teori Bilangan Melalui Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS)”, Jurnal Mercumatika,
Vol. 1 No. 2 ISSN: 2548-1819 (2017), h. 133
123Ibid, h.134
124M.F.A. Saputra, Mashuri, “Komparasi Kemampuan Pemecahan Masalah Antara
Pembelajaran Creative Problem Solving Dan Problem Posing”, Unnes Journal of Mathematics
sehingga hendaknya didalam belajar kemampuan memecahkan masalah diberikan, dilatihkan, dan dibiasakan sedini mungkin kepada peserta didik.125
Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh M.F.A. Saputra, Mashuri pada tahun 2015 bahwasannya hasil kemampuan pemecahan masalah peserta didik lebih baik yang menerima model pembelajaran CPS dibandingkan dengan yang menerima model pembelajaran langsung (Direct Instruction).126
Sejalan dengan penelitian M.F.A. Saputra, penelitian yang dilakukan oleh Yopi Ahmad Sofian dan Eka Satya Adila Afriyansah pada tahun 2017 terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik yang signifikan kelas yang menggunakan model pembelajaran Creative Problem Solving dan Resource Based Learning.127 Hasil yang signifikan ini ditunjukkan dari rata-rata nilai posstest kemampuan pemecahan masalah kelas yang menggunakan model pembelajaran Creative Problem Solving dari pada kelas yang menggunakan model Resource Based Learning. Hasil penelitian Kasmadi Imam Supardi dan Indraspuri Rahning Putri menunjukkan model CPS berpengaruh terhadap hasil belajar kimia siswa.128
125Eko Andy Purnomo, Venissa Dian Mawarsari, “Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Melalui Model Pembelajaran Ideal Problem Solving Berbasis Project Based Learning”,
JKPM, Vol. 1 No 1 ISSN : 2339-2444 (2014), h. 25
126M.F.A. Saputra, Mashuri, Op.Cit, h. 55
127Yopi Ahmad Sofian dan Eka Satya Adila Afriyansah, “Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematis Siswa Melalui Model Creative Problem Solving dan Resource Based Learning (Study
Eksperimen Pada Siswa Kelas X SMK Krija Bhakti Utama Limbangan”, Jurnal Elemen, Vol. 3, No. 1
(2017), h.105
128Kasmadi Imam Supardi, Indraspuri Rahning Putri, “Pengaruh Penggunaan Artikel Kimia
Dari Internet Pada Model Pembelajaran Creative Problem Solving Terhadap Hasil Belajar Kimia
cxix
Hal ini diakibatkan berdasarkan karakteristik dalam tahapan model pembelajaran Creative Problem Solving tampak dalam model pembelajaran ini dapat menuntun peserta didik dalam mengembangkan seluruh keterampilan serta kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik dalam proses pembelajaran, dimana proses pembelajaran menggunakan model Creative Problem Solving menjadi berpusat pada peserta didik sehingga pendidik dapat mengoptimalkan perannya sebagai fasilitator dalam pembelajaran sehingga peserta didik dilatih untuk berfikir memunculkan ide-ide sesuai materi yang dipelajari. Berdasarkan dari tahapan yang terdapat dalam model pembelajaran Creative Problem Solving terlihat bahwasannya model Creative Problem Solving dapat menuntun peserta didik dalam menuntun peserta didik untuk mengembangkan seluruh keterampilan sehingga dapat melatih kemampuan pemecahan masalah.
Untuk pengujian hipotesis kedua hasil perhitungan dengan analisis varians dua jalan sel tak sama mendapatkan 𝐹𝑏𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 > 𝐹𝑏𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 sehingga disimpulkan bahwa 𝐻0𝐵 ditolak. Artinya terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah dengan menggunakan model pembelajaran Creative Problem Solving berbantu media Pictorial Ridlle pada peserta didik yang memiliki minat belajar tinggi, sedang, dan rendah.
Dari uji lanjut yang terdapat pada tabel 4.9 dapat dilihat bahwa rerata marginal kemampuan pemecahan masalah peserta didik dengan tipe minat belajar sedang lebih besar dibandingkan dengan rerata marginal kemampuan pemecahan
masalah peserta didik dengan tipe minat belajar rendah, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah peserta didik dengan tipe minat belajar sedang lebih baik dibandingkan dengan kemampuan pemecahan masalah peserta didik dengan tipe minat belajar rendah.
Keberhasilan ini selain didukung oleh penggunaan model pembelajaran, juga didukung oleh minat dalam belajar yang dimiliki oleh peserta didik itu sendiri. Hurlock menyatakan bahwasanya minat adalah salah satu pendorong psikologi serta sumber motivasi dalam mencapai tujuan yang diinginkan oleh seseorang.129 Minat diartikan sebagai sebuah kecenderungan yang menetap, untuk merasa tertarik pada mata pelajaran maupun pokok bahasan tertentu dan merasa senang mempelajari materi tersebut.130 Dengan perasaan senang tersebut peserta didik dalam belajar akan lebih berkonsentrasi. Konsentrasi merupakan akibat dari perhatian peserta didik sehingga akan menimbulkan minat terhadap sesuatu dan apabila peserta didik memiliki minat terhadap mata pelajaran tertentu maka peserta didik akan berkonsentrasi terhadap mata pelajaran tersebut. Sehingga peserta didik tidak akan bosan menekuni sesuatu apabila ia memang berminat terhadapnya.131 Dengan demikian minat belajar merupakan salah satu faktor penting yang ada didalam diri peserta didik dalam proses pembelajaran.
129Wahyu Purwanto,dkk. “Penggunaan Model Problem Based Learning Dengan Media Powerpoint Untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa”, Jurnal Pendidikan, Vol.1 No. 9 (2016), h.1702
130Jatmiko, “Eksperimen Model Pembelajaran Think-Pair-Share Dengan Modul(Tps-M)
Terhadap Prestasi Belajar Matematika Ditinjau Dari Minat Belajar”, Jurnal Ilmiah Pendidikan
Matematika, Vol 3 No. 2 (2015), h.420
cxxi
Temuan yang mendukung penelitian ini yaitu penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Ruslan Laisouw yang menyatakan bahwa peserta didik dengan minat belajar tinggi memiliki prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan dengan peserta didik dengan minat belajar sedang, sedangkan peserta didik dengan minat belajar sedang lebih baik dibandingkan dengan peserta didik dengan minat belajar rendah.132 Maka dari itu semakin tinggi minat belajar akan diikuti oleh semakin baiknya hasil belajar peserta didik.133 Sejalan dengan pernyataan tersebut minat belajar cenderung menghasilkan prestasi belajar yang tinggi, sedangkan minat belajar yang kurang akan menghasilkan prestasi belajar yang rendah.134 Hal ini sejalan dengan hasil penelitian dari Siti Komariyah, dkk yaitu peserta didik dengan minat belajar tinggi lebih unggul memiliki pemahaman konsep dalam pemecahan masalah.135
Untuk pengujian hipotesis ketiga hasil perhitungan dengan analisis varians dua jalan sel tak sama mendapatkan 𝐹𝑎𝑏𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 > 𝐹𝑎𝑏𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 sehingga disimpulkan bahwa 𝐻0𝐵 ditolak. Artinya terdapat interaksi antara penggunaan model pembelajaran Creative Problem Solving berbantu media Pictorial Ridlle terhadap kemampuan pemecahan masalah peserta didik.
132Berhan Mustaqim, “Eksperimentasi Model Pmbelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share
(TPS) dan Mood Understand Recall Detect Elaborate Review (MURDER) Pada Materi Pokok
Logaritma ditinjau Dari Minat Belajar Siswa Kelas X SMK Se Kabupaten Karanganyar”, h.294
133Wahyu Purwanto,dkk, Op.Cit, h.1702
134Roida Eva Flora Siagian, “Pengaruh Minat Dan Kebiasaan Belajar Siswa Terhadap Prestasi
Belajar Matematika”, Jurnal Formatif, ISSN: 2088-351X, h.126
135Siti Komariyah, dkk. “analisis Pemahaman Konsep Dalam Memecahkan Masalah
Dari uji lanjut yang telah dilakukan yaitu dengan menggunakan uji Scheff dengan melihat rataan marginalnya pada tabel 4.9 dapat dilihat bahwa rerata marginal kemampuan pemecahan masalah peserta didik dengan tipe minat belajar sedang lebih besar dibandingkan dengan rerata marginal kemampuan pemecahan masalah peserta didik dengan tipe minat belajar rendah, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah peserta didik dengan tipe minat belajar sedang lebih baik dibandingkan dengan kemampuan pemecahan masalah peserta didik dengan tipe minat belajar rendah.
Temuan ini didukung oleh penelitian sebelumnya yang menunjukkan adanya interaksi antara model pembelajaran dengan minat belajar terhadap hasil belajar.136 Tetapi penemuan dari Jatmiko tidak sejalan dengan penemuan sebelumnya karena tidak adanya interaksi antara model pembelajaran dengan minat belajar terhadap prestasi belajar peserta didik.137
Peserta didik yang diberi pelakuan dengan model Creative Problem Solving berbantu media Pictorial Riddle dengan minat belajar tinggi kemampuan pemecahan masalahnya lebih baik dibandingkan dengan peserta didik yang memiliki minat belajar sedang dan rendah. Peserta didik yang diberi pembelajaran dengan model Creative Problem Solving dengan minat belajar tinggi lebih baik kemampuan pemecahan masalahnya dibandingkan peserta didik yang memiliki
136Ira Vahlia, dkk. “Evektivitas Pendekatan Saintifik Berbasis group Investigation dan
Discovery Learning Ditunjau Dari Minat Belajar Mahasiswa”, Vol. 6 No. 1 ISSN 2089-8703 (2017),
h.134
137Jatmiko, “Eksperimen Model Pembelajaran Think-Pair-Share Dengan Modul(TPS-M)
Terhadap Prestasi Belajar Matematika Ditinjau Dari Minat Belajar”, Jurnal Ilmiah Pendidikan
cxxiii
minat belajar tinggi, sedang, rendah pada model Direct Instruction. Hal ini dikarenakan peserta didik dengan minat belajar tinggi memiliki ketertarikan terhadap suatu pembelajaran. Sehingga peserta didik akan mendalami suatu pelajaran secara mendetail, selanjutnya akan mudah menguasai serta memahami pelajaran.138 Sehingga peserta didik dengan minat belajar tinggi lebih unggul memiliki pemahaman konsep dalam pemecahan masalah.139 Selain itu, penelitian diperkuat oleh penelitian sebelumnya yang menyatakan hasil belajar peserta didik yang memiliki minat belajar tinggi hasil belajarnya lebih tinggi dari peserta didik yang memiliki minat belajar rendah.140
Peserta didik yang diberi pembelajaran dengan model Creative Problem Solving dengan minat belajar sedang lebih baik kemampuan pemecahan masalahnya dibanding peserta didik yang memiliki minat belajar rendah, tetapi tidak lebih baik dengan peserta didik yang memiliki minat belajar tinggi. Peserta didik yang diberi pembelajaran dengan model Creative Problem Solving dengan minat belajar sedang lebih baik kemampuan pemecahan masalahnya dibanding peserta didik yang memiliki minat belajar tinggi, sedang, dan rendah pada model pembelajaran Direct Instruction. Hal ini dikarenakan strategi ataupun model
138Dafid Slamet Setiana, Jailani, “Komparasi Metode CTL dan Open-Ended dengan Gaya
Belajar Ditinjau dari Prestasi dan Minat Belajar”, Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 8 No. 2 ISSN: 1978-4538(2013) , h.137
139Siti Komariyah, dkk. Op.Cit, h.6
140Baso Intang Sappaile, “Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Discoverry Learning
Terhadap Hasil Belajar Matematika Ditinjau Dari Minat Belajar Siswa SMP Negeri di Kota
belajar merupakan faktor yang berprngaruh terhadap hasil belajar.141 Model pembelajaran ialah salah satu dorongan yang dapat merangsang peserta didik dalam proses pembentukan kreativitasnya dalam memecahkan masalah.
Peserta didik yang diberi pembelajaran dengan model Creative Problem Solving yang memiliki minat belajar rendah lebih rendah kemampuan pemecahan masalahnya dibanding peserta didik yang memiliki minat belajar tinggi dan sedang. Peserta didik yang diberi pembelajaran dengan model Creative Problem Solving dengan minat belajar rendah lebih baik kemampuan pemecahan masalahnya dibandingkan dengan peserta didik yang memiliki minat belajar rendah pada model pembelajaran Direct Instruction tetapi tidak lebih baik pada minat belajar tinggi dan sedang. Hal ini dikarenakan peserta didik yang memiliki minat belajar rendah akan mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah. Rendahnya minat belajar ini menyebabkan rendahnya kemampuan pemecahan masalah. Sedangkan keterampilan memecahkan masalah dapat memperluas proses berpikir.142
Peserta didik yang diberi pelakuan dengan model Direct Instruction dengan minat belajar tinggi kemampuan pemecahan masalahnya lebih baik dibandingkan dengan peserta diidk yang memiliki minat belajar sedang dan rendah. Peserta didik yang diberi pembelajaran dengan model Direct Instruction dengan minat belajar
141Siti Nursiami, Soeprodjo, “Keefektifan Model Pembelajaran Creative Problem Solving Berbantu Flash Interaktif Terhadap Hasil Belajar”, Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, vol. 9, No. 1 (2015), h.1141
142Eka Fitriah, “Implementasi Model Creative Problem Solving Bervisi Sets Dalam
Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Dan Kreativitas Siswa SMA Berbasis Pesantren”, Jurnal
cxxv
tinggi lebih baik kemampuan pemecahan masalahnya dibandingkan peserta didik yang memiliki minat belajar rendah pada model Creative Problem Solving tetapi tidak lebih baik pada minat belajar tinggi dan sedang. Hal ini dikarenakan selain dari penggunaan model pembelajaran factor psikologis peserta didik juga sangat berpengaruh. Sifat rasa ingin tahu yang besar pada peserta didik yang memiliki minat belajar tinggi mengakibatkan peserta didik kaya informasi sehingga berguna dalam menyelesaikan permasalahan khususnya pada mata pelajaran biologi.143
Peserta didik yang diberi pelakuan dengan model Direct Instruction dengan minat belajar sedang kemampuan pemecahan masalahnya lebih baik dibandingkan dengan peserta diidk yang memiliki minat belajar rendah tetapi tidak lebih baik dengan peserta didik yang memiliki minat belajar tinggi. Peserta didik yang diberi pembelajaran dengan model Direct Instruction dengan minat belajar sedang lebih baik kemampuan pemecahan masalahnya dibandingkan peserta didik yang memiliki minat belajar rendah pada model Creative Problem Solving tetapi tidak lebih baik pada minat belajar tinggi dan sedang. Hal ini menjadi bahan pertimbangan bahwasannya model pembelajaran dalam merangsang peserta didik dalam proses pembentukan minat, selain itu juga dapat dijadikan bahan dalam pengelompokan minat belajar tiggi, sedang dan rendah.
Peserta didik yang diberi pelakuan dengan model Direct Instruction dengan minat belajar rendah lebih rendah dibanding peserta didik yang memiliki minat
143Asri Nafi’a Dewi, dkk. “Pengaruh Model Active Knowledge Terhadap Hasil Belajar
Ditinjau Dari Minat Belajar Siawa SMAN 2 Karanganyar”, Jurnal Nasional IX Pendidikan Biologi
belajar tinggi dan sedang. Peserta didik yang diberi pembelajaran dengan model