HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Hasil Penelitian
Penelitian menghasilkan data – data yang meliputi nilai tekanan refrigeran (P1 dan P2), suhu refrigeran (T1 dan T3), suhu kabin, arus (I) dan tegangan (V) pada titik-titik yang telah ditentukan pada waktu tertentu. Data yang digunakan dalam pembahasan penelitian menggunakan 10 data terakhir, dan disajikan pada Tabel 4.1, Tabel 4.2, Tabel 4.3 dan Tabel 4.4.
Tabel 4. 1 Data hasil pengukuran untuk tekanan P1 25 psi sirkulasi udara dalam No
Tabel 4. 2 Data hasil pengukuran untuk tekanan P1 25 psi sirkulasi udara luar No
No
Tabel 4. 3 Data hasil pengukuran untuk tekanan P1 30 psi sirkulasi udara dalam No
Tabel 4. 4 Data hasil pengukuran untuk tekanan P1 30 psi sirkulasi udara luar
No
Keterangan :
- P1 : Tekanan refrigerant saat masuk kompresor (psig) - P2 : Tekanan refrigerant saat keluar kompresor (psig) - T1 : Suhu refrigerant saat masuk kompresor (oC) - T3 : Suhu refrigerant saat masuk katup ekspansi (oC) - Suhu Kabin : Suhu udara yang berada di ruang kabin (oC) - I : Arus yang digunakan motor listrik (Ampere) - V : Tegangan listrik yang digunakan (Volt) 4.2 Perhitungan dan Pengolahan Data
Dari data yang diperoleh dan dengan menggambarkan pada diagram P-h dapat ditentukan besarnya entalpi (h). Pada penelitian refrigerant yang digunakan adalah refrigerant R134a, sehingga diagram P-h yang digunakan adalah diagram P-h R134a. Perhitungan tekanan P1 dan P2 ditambah 1 atm serta diubah ke dalam bar (1 psia = 0,0689 bar).
Perhitungan dari Tabel 4.1 untuk tekanan P1 25 psig sirkulasi udara dalam.
Contoh data yang dihitung menggunakan data ke-10.
P1 = 25 psig + 1 atm = 39,7 psia × 0,0689 bar/psia = 2,74 bar P2 = 145 psig + 1 atm = 159,7 psia × 0,0689 bar/psia = 11,03 bar
Dengan mempergunakan nilai tekanan P1 dan P2, T1 dan suhu T3, siklus kompresi uap dapat digambarkan pada diagram p-h. Gambar 4.1 menyajikan hasil penggambaran siklus kompresi uap yang diperoleh.
Gambar 4. 5 Siklus Kompresi Uap pada diagram P-h R134a menggunakan hasil rata - rata Tabel 4.1
Dari Gambar 4.1 dapat diperoleh :
Te = -4 oC (Suhu kerja evaporator) Tc = 42 oC (Suhu kerja kondensor)
h1 = 428 kJ/kg (Entalpi refrigerant masuk kompresor) h2 = 455 kJ/kg (Entalpi refrigerant keluar kompresor) h3 = 248 kJ/kg (Entalpi refrigerant masuk katub ekspansi) h4 = 248 kJ/kg (Entalpi refrigerant keluar katub ekspansi)
1. Kerja Kompresor persatuan massa refrigeran (Win)
Untuk mendapatkan kerja kompresor persatuan massa refrigeran yang dihasilkan oleh AC mobil, menggunakan Persamaan (2.1) :
Win = h2– h1
= 455 kJ/kg - 40 kJ/kg
= 35 kJ/kg
Maka kerja kompresor persatuaan massa refrigerant sebesar 35 kJ/kg 2. Kalor persatuan massa refrigerant yang dilepas kondensor (Qout)
Untuk mendapatkan nilai kalor persatuan massa refrigerant yang dilepas kondensor pada AC mobil, menggunakan Persamaan (2.2) :
Qout = h2 – h3
= 455 kJ/kg - 248 kJ/kg
= 207 kJ/kg
Maka kalor persatuan massa refrigerant yang dilepas kondensor sebesar 207 kJ/kg 3. Kalor yang diserap evaporator (Qin)
Untuk mendapatkan kalor persatuan massa refrigerant yang diserap evaporator pada AC mobil, menggunakan Persamaan (2.4) :
Qin = h1 – h4
= 420 kJ/kg - 248 kJ/kg
= 172 kJ/kg
Maka kalor persatuan massa refrigerant yang diserap evaporator sebesar 172 kJ/kg
4. COPaktual
COPaktual dipergunakan untuk menyatakan performance (unjuk kerja) dari mesin AC mobil yang bekerja dengan siklus kompresi uap, dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan (2.5) :
COPaktual = (h1 – h4) / (h2– h1)
= (420 kJ/kg - 248 kJ/kg) / (455 kJ/kg - 420 kJ/kg)
= 4,9
Maka COPaktual AC mobil sebesar 4,9 5. COPideal
Untuk menghitung performance (unjuk kerja) ideal pada AC mobil yang bekerja dengan siklus kompresi uap, dapat menggunakan Persamaan (2.6) :
COPideal =
=
= 5,85
Maka COPideal AC mobil sebesar 5,85 6. Efisiensi (η)
Untuk mendapatkan efisiensi AC mobil dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan (2.7) :
η = (COPactual : COPideal) × 100%
= (4,9 : 5,85) × 100%
= 84%
Maka efisiensi AC mobil sebesar 84%
7. Laju aliran massa refrigerant (ṁ)
Untuk mendapatkan laju aliran massa refrigerant dapat dihitung dengan Persamaan (2.8)
ṁ = (VI)/(Win x 1000)
= (220 x 9,57)/(35 x 1000)
= 0,06015 kg/s
Maka laju aliran massa refrigerant AC mobil sebesar 0,06kg/s
Perhitungan dari Tabel 4.2 untuk tekanan P1 25 psig sirkulasi udara luar.
Contoh data yang dihitung menggunakan data ke-10.
P1 = 25 psig + 1atm = 39,7 psia × 0,0689 bar/psia = 2,74 bar P2 = 145 psig + 1atm = 154,7 psia × 0,0689 bar/psia = 11,03 bar
Dengan mempergunakan nilai tekanan P1 dan P2, T1 dan suhu T3, siklus kompresi uap dapat digambarkan pada diagram p-h. Gambar 4.2 menyajikan hasil penggambaran siklus kompresi uap yang diperoleh.
Gambar 4. 6 Siklus Kompresi Uap pada diagram P-h R134a menggunakan hasil rata - rata Tabel 4.2.
Dari Gambar 4.2 dapat diperoleh :
Te = -4 oC (Suhu kerja evaporator) Tc = 42 oC (Suhu kerja kondensor)
h1 = 420 kJ/kg (Entalpi refrigerant masuk kompresor) h2 = 460 kJ/kg (Entalpi refrigerant keluar kompresor) h3 = 248 kJ/kg (Entalpi refrigerant masuk katub ekspansi) h4 = 248 kJ/kg (Entalpi refrigerant keluar katub ekspansi)
1. Kerja Kompresor persatuan massa refrigerant (Win)
Untuk mendapatkan kerja kompresor persatuan massa refrigerant yang dihasilkan oleh AC mobil, menggunakan Persamaan (2.1) :
Win = h2– h1
= 460 kJ/kg - 420 kJ/kg
= 40 kJ/kg
Maka kerja kompresor persatuaan massa refrigerant sebesar 40 kJ/kg 2. Kalor persatuan massa refrigerant yang dilepas kondensor (Qout)
Untuk mendapatkan nilai kalor persatuan massa refrigerant yang dilepas kondensor pada AC mobil, menggunakan Persamaan (2.2) :
Qout = h2 – h3
= 460 kJ/kg - 248 kJ/kg
= 212 kJ/kg
Maka kalor persatuan massa refrigerant yang dilepas kondensor sebesar 212 kJ/kg 3. Kalor yang diserap evaporator (Qin)
Untuk mendapatkan kalor persatuan massa refrigerant yang diserap evaporator pada AC mobil, dapat menggunakan Persamaan (2.4) :
Qin = h1 – h4
= 420 kJ/kg - 248 kJ/kg
= 172 kJ/kg
Maka kalor persatuan massa refrigerant yang diserap evaporator sebesar 172 kJ/kg
4. COPaktual
COPaktual dipergunakan untuk menyatakan performance (unjuk kerja) dari mesin AC mobil yang bekerja dengan siklus kompresi uap, dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan (2.5) :
COPaktual = (h1 – h4) / (h2– h1)
= (420 kJ/kg - 248 kJ/kg) / (460 kJ/kg - 420 kJ/kg)
= 4,3
Maka COPaktual AC mobil sebesar 4,3 5. COPideal
Untuk menghitung peformance ideal pada AC mobil yang bekerja dengan siklus kompresi uap, dapat menggunakan Persamaan (2.6) :
COPideal =
=
= 5,85
Maka COPideal AC mobil sebesar 5,85 6. Efisiensi (η)
Untuk mendapatkan efisiensi AC mobil dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan (2.7) :
η = (COPactual : COPideal) × 100%
= (4,1 : 5,85) × 100%
= 70%
Maka efisiensi AC mobil sebesar 70%
7. Laju aliran massa refrigerant (ṁ)
Untuk mendapatkan laju aliran massa refrigerant dapat dihitung dengan Persamaan (2.8)
ṁ = (VI)/(Win x 1000)
= (220 x 9,49)/(40 x 1000)
= 0,05219 kg/s
Maka laju aliran massa refrigeran AC mobil sebesar 0,052 kg/s
Perhitungan dari Tabel 4.3 untuk tekanan P1 30 psig sirkulasi udara dalam.
Contoh data yang dihitung menggunakan data ke-10.
P1 = 30 psig + 1atm = 44,7 psia × 0,0689 bar/psia = 3,08 bar P2 = 160 psig + 1atm = 174,7 psia × 0,0689 bar/psia = 12,04 bar
Dengan mempergunakan nilai tekanan P1 dan P2, T1 dan suhu T3, siklus kompresi uap dapat digambarkan pada diagram p-h. Gambar 4.3 menyajikan hasil penggambaran siklus kompresi uap yang diperoleh.
Gambar 4. 7 Siklus Kompresi Uap pada diagram P-h R134a menggunakan hasil rata – rata Tabel 4.3.
Dari Gambar 4.3 dapat diperoleh :
Te = -3 oC (Suhu kerja evaporator) Tc = 44 oC (Suhu kerja kondensor)
h1 = 430 kJ/kg (Entalpi refrigerant masuk kompresor) h2 = 465 kJ/kg (Entalpi refrigerant keluar kompresor h3 = 250 kJ/kg (Entalpi refrigerant masuk katub ekspansi) h4 = 250 kJ/kg (Entalpi refrigerant keluar katub ekspansi)
1. Kerja Kompresor persatuan massa refrigerant (Win)
Untuk mendapatkan kerja kompresor persatuan massa refrigerant yang dihasilkan oleh AC mobil, menggunakan Persamaan (2.1) :
Win = h2– h1
= 465 kJ/kg - 430 kJ/kg
= 35 kJ/kg
Maka kerja kompresor persatuaan massa refrigerant sebesar 35 kJ/kg 2. Kalor persatuan massa refrigerant yang dilepas kondensor (Qout)
Untuk mendapatkan nilai kalor persatuan massa refrigerant yang dilepas kondensor pada AC mobil, menggunakan Persamaan (2.2) :
Qout = h2 – h3
= 465 kJ/kg - 250 kJ/kg
= 215 kJ/kg
Maka kalor persatuan massa refrigerant yang dilepas kondensor sebesar 215 kJ/kg 3. Kalor yang diserap evaporator (Qin)
Untuk mendapatkan kalor persatuan massa refrigerant yang diserap evaporator pada AC mobil, dapat menggunakan Persamaan (2.4) :
Qin = h1 – h4
= 430 kJ/kg - 250 kJ/kg
= 180 kJ/kg
Maka kalor persatuan massa refrigerant yang diserap evaporator sebesar 180 kJ/kg
4. COPaktual
COPaktual dipergunakan untuk menyatakan performance (unjuk kerja) dari mesin AC mobil yang bekerja dengan siklus kompresi uap, dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan (2.5) :
COPaktual = (h1 – h4) / (h2– h1)
= (430 kJ/kg – 250 kJ/kg) / (465 kJ/kg - 430 kJ/kg)
= 5,1
Maka COPaktual AC mobil sebesar 5,1 5. COPideal
Untuk menghitung peformance ideal pada AC mobil yang bekerja dengan siklus kompresi uap, dapat menggunakan Persamaan (2.6) :
COPideal =
=
= 5,6
Maka COPideal AC mobil sebesar 5,6 6. Efisiensi (η)
Untuk mendapatkan efisiensi AC mobil dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan (2.7) :
η = (COPactual : COPideal) × 100%
= (5,1 : 5,6) × 100%
= 91%
Maka efisiensi AC mobil sebesar 91%
7. Laju aliran massa refrigerant (ṁ)
Untuk mendapatkan laju aliran massa refrigerant dapat dihitung dengan Persamaan (2.8)
ṁ = (VI)/( Win x 1000)
= (220.10,758)/(39 x 1000)
= 0,05415 kg/s
Maka laju aliran massa refrigerant AC mobil sebesar 0,054 kg/s
Perhitungan dari Tabel 4.4 untuk tekanan P1 30 psig sirkulasi udara luar.
Contoh data yang dihitung menggunakan data ke-10.
P1 = 30 psig + 1atm = 44,7 psia × 0,0689 bar/psia = 3,08 bar P2 = 160 psig + 1atm = 174,7 psia × 0,0689 bar/psia = 12,04 bar
Dengan mempergunakan nilai tekanan P1 dan P2, T1 dan suhu T3, siklus kompresi uap dapat digambarkan pada diagram p-h. Gambar 4.4 menyajikan hasil penggambaran siklus kompresi uap yang diperoleh.
Gambar 4. 8 Siklus Kompresi Uap pada diagram P-h R134a menggunakan hasil rata – rata Tabel 4.4.
Dari Gambar 4.4 dapat diperoleh :
Te = -3 oC (Suhu kerja evaporator) Tc = 45 oC (Suhu kerja kondensor)
h1 = 428 kJ/kg (Entalpi refrigerant masuk kompresor) h2 = 465 kJ/kg (Entalpi refrigerant keluar kompresor) h3 = 250 kJ/kg (Entalpi refrigerant masuk katub ekspansi) h4 = 250 kJ/kg (Entalpi refrigerant keluar katub ekspansi)
1. Kerja Kompresor persatuan massa refrigerant (Win)
Untuk mendapatkan kerja kompresor persatuan massa refrigerant yang dihasilkan oleh AC mobil, menggunakan Persamaan (2.1) :
Win = h2– h1
= 465 kJ/kg - 428 kJ/kg
= 37 kJ/kg
Maka kerja kompresor persatuaan massa refrigerant sebesar 37 kJ/kg 2. Kalor persatuan massa refrigerant yang dilepas kondensor (Qout)
Untuk mendapatkan nilai kalor persatuan massa refrigerant yang dilepas kondensor pada AC mobil, menggunakan Persamaan (2.2) :
Qout = h2 – h3
= 465 kJ/kg - 250 kJ/kg
= 215 kJ/kg
Maka kalor persatuan massa refrigerant yang dilepas kondensor sebesar 215 kJ/kg 3. Kalor yang diserap evaporator (Qin)
Untuk mendapatkan kalor persatuan massa refrigerant yang diserap evaporator pada AC mobil, dapat menggunakan Persamaan (2.4) :
Qin = h1 – h4
= 428 kJ/kg - 250 kJ/kg
= 178 kJ/kg
Maka kalor persatuan massa refrigerant yang diserap evaporator sebesar 178 kJ/kg
4. COPaktual
COPaktual dipergunakan untuk menyatakan performance (unjuk kerja) dari mesin AC mobil yang bekerja dengan siklus kompresi uap, dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan (2.5) :
COPaktual = (h1 – h4) / (h2– h1)
= (428 kJ/kg - 250 kJ/kg) / (465 kJ/kg - 428 kJ/kg)
= 4,81
Maka COPaktual AC mobil sebesar 4,81 5. COPideal
Untuk menghitung peformance ideal pada AC mobil yang bekerja dengan siklus kompresi uap, dapat menggunakan Persamaan (2.6) :
COPideal =
=
= 5,62
Maka COPideal AC mobil sebesar 5,62 6. Efisiensi (η)
Untuk mendapatkan efisiensi AC mobil dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan (2.7) :
η = (COPactual : COPideal) × 100%
= (4,81 : 5,62) × 100%
= 86%
Maka efisiensi AC mobil sebesar 86%
7. Laju aliran massa refrigerant (ṁ)
Untuk mendapatkan laju aliran massa refrigerant dapat dihitung dengan Persamaan (2.8)
ṁ = (VI)/( Win x 1000)
= (220.9,53)/(37 x 1000)
= 0,0566 kg/s
Maka laju aliran massa refrigerant AC mobil sebesar 0,057 kg/s 4.3 Pembahasan
Dari hasil penelitian, diperoleh informasi bahwa mesin AC mobil dapat bekerja dengan baik serta komponen-komponen AC mobil juga dapat bekerja dengan baik sehingga dapat menghasilkan data yang baik. Hasil dari pengambilan data menggunakan diagram P-h dan membentuk siklus kompresi uap dengan
proses pemanasan lanjut dan pendinginan lanjut. Dari penelitian yang dilakukan suhu kondensor lebih tinggi dari suhu lingkungan AC mobil sehingga pelepasan kalor berjalan dengan baik, suhu kerja rata-rata yang dihasilkan kondensor sekitar 43,25 oC. Sedangkan evaporator juga menghasilkan suhu rata rata yang lebih rendah dari suhu ruangan kabin mobil, yaitu sekitar -3,5 oC.
Dari hasil penelitian yang dilakukan kondisi ini memberi keuntungan pada AC mobil. Karena dengan adanya proses pemanasan lanjut dan pendinginan lanjut, maka dapat menaikkan nilai COP dan efisiensi mesin AC mobil. Begitu juga dengan kondisi refrigeran pada saat masuk kompresor sudah benar-benar berubah fase menjadi gas, sehingga proses kompresi dapat berjalan ideal dan tidak merusak kompresor. Kondisi refrigeran ketika masuk katup ekspansi juga dalam keadaan cair sehingga masuknya refrigerant ke katup ekspansi mudah.
Dari hasil perhitungan yang dilakukan diperoleh informasi Win, Qout, Qin, COPaktual, COPideal, Efisiensi, Laju aliran massa refrigerant dengan pemanasan lanjut dan pendinginan lanjut. Dari data yang diambil terdapat perbandingan tiap variasi.
Tabel 4. 5 Perbandingan nilai Win tiap variasi
Variasi Hasil Win
25 psig sirkulasi udara dalam 35 kJ/kg 25 psig sirkulasi udara luar 40 kJ/kg 30 psig sirkulasi udara dalam 35 kJ/kg 30 psig sirkulasi udara luar 37 kJ/kg
Dari Tabel 4.5 menyajikan perbandingan Win tiap variasi, niai Win terendah pada tabel sebesar 35 kJ/kg untuk 25 psig dan 30 psig udara dalam.
Sedangkan nilai Win tertinggi pada tabel sebesar 40 kJ/kg untuk 25 psig udara luar. Nilai rata-rata Win adalah 36,75 kJ/kg. Selama proses kerja kompresor berubah setiap kompresor bekerja (hidup). Semakin besar kerja kompresor maka energi yang dibutuhkan kompresor semakin besar.
Tabel 4. 6 Perbandingan nilai Qin tiap variasi
Variasi Hasil Qin
25 psig sirkulasi udara dalam 172 kJ/kg 25 psig sirkulasi udara luar 172 kJ/kg 30 psig sirkulasi udara dalam 180 kJ/kg 30 psig sirkulasi udara luar 178 kJ/kg
Dari Tabel 4.6 menyajikan besarnya perbandingan Qin tiap variasi, nilai terendah pada sebesar 172 kJ/kg untuk 25 psig udara dalam dan luar dan 20 psig.
Sedangkan nilai tertinggi sebesar 175 kJ/kg untuk 30 psig udara dalam. Nilai rata-rata kalor yang diserap adalah 175,5 kJ/kg. Semakin besar nilai Qin, berarti besarnya energi kalor yang diserap evaporator dalam persatuan massa refrigeran dari dalam kabin semakin besar. Hal ini berarti menunjukkan bahwa semakin besar nilai Qin, suhu ruangan kabin yang di inginkan akan semakin cepat tercapai.
Kalor yang diserap oleh evaporator meliputi kalor sensibel dan kalor laten. Kalor sensibel di peroleh dari manusia yang ada dalam ruang kabin, konduksi melalui dinding plat, konduksi melalui kaca, radiasi dan udara luar yang masuk.
Sedangkan kalor laten hanya diperoleh dari manusia dan udara luar yang masuk ke dalam ruang kabin.
Tabel 4. 7 Perbandingan nilai Qout tiap variasi Variasi Hasil Qout 25 psig sirkulasi udara dalam 207 kJ/kg 25 psig sirkulasi udara luar 212 kJ/kg 30 psig sirkulasi udara dalam 215 kJ/kg 30 psig sirkulasi udara luar 215 kJ/kg
Dari Tabel 4.7 memperlihatkan besarnya perbandingan Qout tiap variasi, niai terendah sebesar 207 kJ/kg untuk 25 psig udara dalam. Sedangkan nilai tertinggi sebesar 215 kJ/kg untuk 30 psig udara dalam dan udara luar. Nilai rata-rata kalor yang dilepas adalah 212,25 kJ/kg. Nilai kalor persatuan massa refrigeran yang dilepas kondensor berubah pada setiap menit. Hal ini sesuai dengan perubahan yang terjadi pada kompresor dan evaporator. Karena kalor yang di lepas kondensor merupakan jumlah energi atau kerja yang diberikan kompresor ditambah dengan besarnya energi kalor yang diserap evaporator dalam persatuan massa refrigeran.
Tabel 4. 8 Perbandingan nilai COPaktual tiap variasi Variasi Hasil COPaktual 25 psig sirkulasi udara dalam 4,9 25 psig sirkulasi udara luar 4,3 30 psig sirkulasi udara dalam 5,1 30 psig sirkulasi udara luar 4,81
Dari Tabel 4.8 memperlihatkan besarnya perbandingan COPaktual tiap variasi, nilai terendah pada 25 psig sirkulasi udara luar sebesar 4,3. Sedangkan nilai tertinggi pada 30 psig sirkulasi udara dalam sebesar 5,1. Nilai rata-rata COPaktual adalah 4,78. Perubahan kerja kompresor juga berpengaruh pada koefisien prestasi COPaktual
Tabel 4. 9 Perbandingan nilai COPideal tiap variasi Variasi Hasil COPideal 25 psig sirkulasi udara dalam 5,85 25 psig sirkulasi udara luar 5,85 30 psig sirkulasi udara dalam 5,6 30 psig sirkulasi udara luar 5,62
Dari Tabel 4.9 memperlihatkan besarnya perbandingan COPideal tiap variasi, niai terendah pada 30 psig sirkulasi udara dalam sebesar 5,6. Sedangkan nilai tertinggi pada 25 psig sirkulasi udara dalam dan luar sebesar 5,85. Nilai rata-rata COPideal adalah 5,73. Perubahan kerja kompresor yang diikuti COPaktual mengakibatkan perubahan nilai pada COPideal.
Tabel 4. 10 Perbandingan nilai efisiensi tiap variasi Variasi Hasil efisiensi 25 psig sirkulasi udara dalam 84%
25 psig sirkulasi udara luar 70%
30 psig sirkulasi udara dalam 91%
30 psig sirkulasi udara luar 86%
Dari Tabel 4.10 memperlihatkan besarnya perbandingan efisiensi tiap variasi. Niai terendah pada 25 psig sirkulasi udara luar sebesar 70%. Sedangkan nilai tertinggi pada 30 psig sirkulasi udara dalam sebesar 91%. Nilai rata-rata efisiensi adalah 82,75%. Perubahan kerja kompresor yang semakin berat karena transfer kalor yang terjadi, pemasangan pipa refrigeran yang dipasang ditekuk, kemungkinan aliran refrigeran tidak sempurna dan ruang kabin yang terbuat dari triplek dan sterofom masih belum tertutup dengan sempurna menyebabkan efisiensi AC mobil tidak dapat mencapai 100%.
Tabel 4. 11 Perbandingan nilai laju aliran massatiap variasi Variasi Hasil laju aliran massa 25 psig sirkulasi udara dalam 0,060 kg/s 25 psig sirkulasi udara luar 0,052 kg/s 30 psig sirkulasi udara dalam 0,054 kg/s 30 psig sirkulasi udara luar 0,057 kg/s
Dari Tabel 4.11 memperlihatkan besarnya perbandingan laju aliran massa tiap variasi. Niai terendah pada 15 psig sirkulasi udara dalam sebesar 0,04384 kg/s. Sedangkan nilai tertinggi pada 20 psig sirkulasi udara dalam sebesar 0,06068 kg/s. Nilai rata-rata laju aliran massa adalah 0,05041 kg/s. Tertutupnya evaporator oleh butiran air yang membeku mengakibatkan laju aliran massa menurun sesuai dengan kerja kompresor. Uap air yang membeku dan menebal pada bagian dalam evaporator dapat menghalangi transfer kalor. Uap air yang membeku menghalangi kinerja evaporator sehingga kalor yang diserap evaporator semakin kecil.
Akibatnya kalor yang dilepas kondensor juga semakin kecil. Hal ini mengakibatkan menurunnya koefisien prestasi mesin, baik aktual maupun ideal dan juga menurunnya laju aliran massa dan efisiensi.
72