Penentuan tata letak krib harus dipertimbangkan berdasarkan tinjauan berikut :
(1) pertimbangan terhadap perencanaan sungai terpadu, pemasangan konstruksi krib baik untuk perlindungan tebing maupun perbaikan arah aliran pada suatu daerah krib, harus mempertimbangkan perencanaan sungai secara keseluruhan, dalam rangka mewujudkan konsep pengelolaan sungai secara terpadu
(2) letak krib, meliputi :
i. krib dipasang dengan jarak optimal;
ii. letak krib dengan arah tegak paling efektif untuk menciptakan medan krib, sehingga krib tegak paling sesuai untuk pelindung tebing dan pengatur alinyemen horisontal alur sungai;
iii. pangkal krib diletakkan pada tebing yang mantap untuk menghindari terobosan arus dibelakang krib dan agar tahan terhadap longsoran tebing;
iv. krib untuk pendalaman alur bagi navigasi diletakkan pada kedua tebing sungaisepanjang alur yang dikehendaki dengan arah tegak atau arah tajam;
v. peletakan krib sepanjang daerah krib, diambil berdasarkan panjang tebing yang perlu dilindungi dengan memperhitungkan kemungkinan perubahan arus pada keadaan krib terpasang
b) Penentuan debit rencana
Debit banjir rencana harus diperiksa dan dikontrol terhadap data morfologi sungai, informasi historis di lokasi rencana krib, keamanan/kestabilan, resiko, konsekuensi dan ekonomi. Debit alur penuh diambil berdasarkan kala ulang 2 tahun
c) Arah pemasangan krib
Untuk memperoleh hasil yang paling optimum, yang sesuai dengan kondisi sungai itu, maka arah pemasangan dapat dilakukan dalam 3 cara berikut ini :
i. pemasangan tegak lurus terhadap sisi sungai atau aliran yang disebut krib normal; krib normal dibangun dengan tujuan untuk menyempitkan suatu ruas sungai yang telah melebar akibat adanya perubahan morfologi sungai
ii. pemasangan condong ke arah udik yang disebut krib elak;
disamping berfungsi untuk menyempitkan aliran bagian sungai yang telah melebar yang disebabkan adanya perubahan morfologi sungai, jenis ini dapat digunakan pada sisi yang cekung pada belokan-belokan. Sudut inklinasi dapat diambil antara 10o – 20o dari garis normal terhadap sisi sungai.
iii. pemasangan condong ke arah hilir yang disebut krib pikat.
dengan krib ini arah aliran akan tertarik ke sisi/tebing sungai meskipun pada ujung krib tersebut mula-mula aliran terdorong ke tengah. Jadi penggunaan krib ini harus lebih hati-hati.
d) Perencanaan teknik struktur dan pondasi
Perencanaan teknik struktur dan pondasi meliputi : (1) Dimensi krib
Dimensi krib yang harus ditentukan sesuai SNI 03-2829-1992 meliputi :
(a) elevasi mercu krib ditentukan :
i. sama tinggi dengan elevasi muka air pada debit alur penuh (bank full discharge);
ii. miring ke arah ujung;
iii. jika panjang tiang terbatas maka mercu krib dapat dibuat bertingkat.
(b) panjang krib, ditentukan berdasarkan :
i. panjang krib untuk pengarah arus ditentukan sedemikian rupa sehingga didapatkan pola aliran baru;
ii. perbandingan panjang krib dan jarak krib dibuat sedemikian rupa sehingga kecepatan arus di tepi tebing cukup aman untuk kestabilan lereng;
iii. jika krib berfungsi untuk memperdalam alur bagi navigasi, panjang krib ditentukan oleh faktor lebar dan kedalaman alur yang diperlukan untuk navigasi, material sedimen dan sifat aliran sungai;
(c) dimensi tiang ; ditentukan berdasarkan persyaratan hidraulik dan persyaratan kestabilan konstruksi;
(d) jarak antar tiang ; untuk mendapatkan terjadinya endapan antara lain ; susunan tiang pancang dibuat satu baris
(e) panjang tiang ; ditentukan berdasarkan elevasi mercu krib dan kedalaman pemancangan tiang menurut persyaratan keamanan dan stabilitas;
Tabel Hubungan antara panjang dan interval krib Lokasi pembuatan krib di sungai
Hubungan antara interval (D) dan panjang (l)
Bagian lurus D = (1,7 - 2,3)l Belokan luar D = (1,4 - 1,8)l Belokan dalam D = (2,8 – 3,6)l
(f) jarak krib ; dibuat sedemikian rupa sehingga susunan krib menghasilkan suatu model krib yang paling efektif; untuk memastikan hal ini dapat digunakan penyelidikan hidraulik dengan model
(2) stabilitas dan kekuatan krib
konstruksi krib disebut stabil, jika mampu menahan semua beban atau gaya yang bekerja pada krib, meliputi :
i. stabilitas dan kekuatan krib tiang pancang ; krib harus dtinjau kestabilan masing-masing tiangnya (single of pile) ; ii. stabilitas dan kekuatan krib pasangan batu ; krib harus ditinjau terhadap tegangan yang terjadi akibat krib tidak boleh melampaui daya dukung pondasi; stabilitas terhadap longsoran tebing ke arah alur sungai ;
iii. stabilitas dan kekuatan krib bronjong : kawat bronjong yang harus digunakan harus mengikuti standar yang berlaku ; anyaman dibuat dengan lilitan ganda dan lilitan pada kawat sisi dibuat sedemikian rupa ; dan lilitan pada kawat sisi gaya-gaya yang mempengaruhi stabilitas krib tiang pancang adalah :
i. tekanan arus sejajar arah aliran dianggap merata pada tiang dengan kecepatan arus maksimal pada debit desain;
ii. tekanan tambahan akibat penumpukan sampah setebal 1,0 m;
iii. beban lateral sejajar krib yang bekerja pada tiang-tiang akibat endapan diperkirakan membentuk lereng dengan kemiringan 1 : 1;
iv. tekanan tanah pasif pada tiang yang terpancang;
v. tiang ditinjau tunggal maupun secara kesatuan (3) stabilitas tanah dasar pondasi
stabilitas tanah pondasi diperhitungkan terhadap :
i. gerusan lokal yang terjadi akibat penempatan krib merupakan akumulasi dari gerusan yang diakibatkan oleh penyempitan alur dan gerusan akibat penempatan tiang pada dasar sungai, disamping penurunan dasar sungai secara menyeluruh ;
ii. perkiraan penggerusan dan besarnya rip-rap sebagai pelindung dasar dengan menggunakan persamaan yang berlaku
iii. lokasi maupun besaran gerusan yang terjadi akibat penempatan krib/tiang pancang, baik gerusan setempat pada tiang krib, gerusan setempat rangkaian krib maupun gerusan akibat degradasi, disarankan dilakukan model uji hidraulik fisik di laboratorium
e) spesifikasi dan jenis krib berdasarkan bahan pembuatnya jenis krib berdasarkan bahan pembuatannya meliputi :
(a) krib bronjong, spessifikasi perencanaannya adalah sebagai berikut :
jarak krib
(1) pada tikungan luar l = b
(2) pada tikungan dalam l = (1,50 – 2,00) b;
(3) pada bagian peralihan l = (1,00 – 1,50) b.: b = panjang krib.
Gambar 1 Ukuran jarak krib (2) tinggi dan lebar mercu krib
(1) elevasi mercu krib dapat dibuat sama tinggi dengan elevasi muka air pada debit alur penuh (bank full discharge), atau bisa dibuat bertingkat;
(2) lebar mercu antara 1,00 – 2,00 meter;
(3) kemiringan potongan melintang antara 2v : 1h dan 1v : 1h;
(4) ujung krib bronjong diambil kemiringan 1v : 1h,
(5) jika konstruksi krib bronjong cukup tinggi dan besar maka bagian tengah bisa diisi dengan batu lepas
panjang krib
panjang krib adalah dihitung mulai dari pangkal krib sampai dengan garis ujung krib yang direncanakan;
panjang krib paling kecil : 0,25 jarak antara dua krib.
Gambar 9 – Pengaman Dasar Sungai – Dinding Beton dan Dinding Bronjong
Gambar 10 – Pengaman Dasar Sungai – Turap Baja
Gambar 11 – Pengaman Dasar Sungai – Pagar Ganda dengan Isian Batu
Kerusakan 504 - Afflux Yang Berlebihan
Masalahnya dapat berkembang apabila tidak cukupnya bukaan pada daerah alur sungai di jembatan (biasanya hal ini terjadi pada waktu diadakan penyelidikan dan perencanaan) atau adanya hambatan pada alur sungai tersebut.
Perbedaan ketinggian air di -hulu dan di hilir sungai pada jembatan. Perbedaan ini disebut "afflux".
Apabila besarnya/tingginya afflux ini berlebihan, maka kecepatan aliran sungai dapat bertambah dan sering mengakibatkan scouring.
CARA PENANGANAN :
Jika ketinggian afflux tersebut melebihi tinggi ruang bebas aliran sungai yang mengakibatkan timbulnya hambatan maka masalah ini harus ditangani sesuai dengan kerusakan no. 502.
Jika hambatan tersebut bukan disebabkan oleh adanya sampah yang menumpuk atau adanya afflux-yang berlebihan, maka untuk mengatasi masalah tersebut harus diadakan penyelidikan secara khusus.
Dengan tidak mengurangi adanya penyelidikan secara khusus, metoda yang cukup memuaskan untuk menangani masalah afflux ini adalah menambah bentangan jembatan atau memperbaiki karakter aliran sungai di bawah jembatan.
Sungai atau kanal dapat mengakibatka kerusakan pada jembatan dalam berbagai bentuk :
Dengan adanya pengkaratan pada baja dan/atau elemen beton yang berada di dalam sungai.
Ditangani dengan cara-cara yang sudah diuraikan pada pasal-pasal terdahulu
Benda-benda hanyutan dapat merusak atau menghancurkan pilar atau tiang pancang.
Ditangani dengan cara-cara yang sudah diuraikan pada pasal-pasal terdahulu.
Banjir mengakibatkan jembatan tidak dapat dilalui dan berbahaya.
Banjir yang melanda bangunan atas jembatan dapat terjadi apabila bukaan dibawah jembatan terlalu kecil/sempit. dalam keadaan yang demikian, diperlukan bentangan jembatan yang lebih panjang atau membuat tambahan bentang pada jembatan yang sudah ada atau membuat gorong-gorong baru disamping jembatan yang sudah ada untuk menghidarkan pengaruh banjir.
Scouring pada dasar dan tanggul sungai.
2.3 Timbunan dan Pondasi
8llamana pondasi mengalami kerusakan maka cara perbaikan pada beton, baja atau kayu dapat dipakai.
Jika tanah timbunan memerlukan perbaikan maka harus dilakukan perbaikan timbunan dengan tanah yang pilihan, padatkan dengan vibrator roller yang sesuai atau plat dan kemudian bangunan pengaman pada daerah timbunan dapat dibangun kembali. Pengamanan semacam ini mungkin memerlukan suatu filter yang dipasang. Jika terjadi scouring lebih lanjut maka diperlukan suatu pertimbangan untuk menambah bangunan pengaman. Teknik perbaikan timbunan secara garis besar diuraikan pada Tabel 2.
Beberapa metoda pengamanan yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:
Pemasangan talud batu kosong
Pemasangan talud beton
Pemasangan dinding dengan bronjong
Penanaman. tanaman yang rapat pada lereng
Bllaman dilakukan cara pengamanan permukaan maka perlu dibuat pengamanan dengan konstruksi yang lebih dalam daripada terjadinya scouring yang diharapkan.
Pada umumnya, ujung talud selebar 800 mm dan paling sedikit digali 1 meter dalamnya yang kemudian diisi dengan batu. Jika dilakukan pemasangan permukaan talud beton maka perlu dibuat lubang drainase dinding dengan jarak yang tertentu dan teratur.
Harus diperhatikan agar tidak terjadi scouring kembali. Jika diperlukan penambahan lapisan geotextile dapat dihamparkan pada tebing sebagai lapisan dasar.
Dinding bronjong (gabion) harus dipasang sesuai dengan buku petunjuk pemasangan bronjong.
Tabel 2 – Garis Besar Teknik Pengaman Tebing
turap baja tiang atau dinding penahan tanah beton ronjong yang diperkuat kecil saja dan dipakai sebagai pengamanan misalnya pada kuat menahan gaya dari segala arah.