Bab 4 Hasil Penelitian
4.1 Data Karakteristik Subjek Penelitian
Penelitian dilakukan di kecamatan Talawi kabupaten Batubara, provinsi Sumatera Utara selama bulan Januari sampai Februari 2020. Di kecamatan Talawi terdapat 32 SD yang tersebar di beberapa tempat. Diantara SD tersebut, dipilih tiga SD secara random, yaitu SD negeri 40, SD negeri 48 dan SD negeri 52. Pada ketiga SD tersebut terdapat 449 siswa dan semua nya bersedia untuk diperiksakan feses serta diberi pengobatan kecacingan. Pada 449 siswa SD tersebut diantaranya 23 anak tidak mengembalikan pot sehingga sisanya sebanyak 426 anak diperiksa terhadap adanya infeksi STH.
Dari hasil pemeriksaan feses didapat 199 anak yang menderita infeksi STH, yang kemudian dibagi menjadi dua kelompok secara random, sehingga didapatkan kelompok pertama terdiri dari 102 anak yang mendapatkan pengobatan albendazol 400 mg dosis tunggal dan kelompok kedua terdiri dari 97 anak yang mendapat pengobatan mebendazol 500 mg dosis tunggal.
Profil penelitian dapat dilihat pada gambar 4.1.
Prevalensi kecacingan pada anak SD di kecamatan Talawi kabupaten Batubara didapatkan sebesar 46.7% (199/426), dengan prevalensi infeksi Ascaris lumbricoides 46.7% (93/199), infeksi Trichuris trichiura 89.4%
(178/199), dan infeksi Hookworm 5% (10/199).
Gambar 4.1 Diagram CONSORT penelitian Randomisasi
426 anak diperiksa feses bulan ke-0
mebendazol 500 mg (n= 97) Kelompok 1:
30
Data karakteristik dasar subjek penelitian pada kedua kelompok sebelum intervensi tidak berbeda, dengan rerata usia sembilan tahun dan status gizi baik. Pada hasil pengamatan, infeksi STH paling banyak disebabkan oleh Trichuris trichiura. Diantara subjek penelitian, infeksi tunggal STH dapat terjadi oleh karena satu jenis cacing, infeksi ganda oleh dua jenis cacing, maupun infeksi oleh ketiga jenis cacing. Infeksi ganda paling tinggi pada penelitian ini adalah infeksi gabungan oleh Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura. Selain itu, berdasarkan jumlah telur per gram feses,
didapati sebagian besar anak mengalami intensitas infeksi ringan, walaupun terdapat juga anak yang mengalami infeksi STH dengan intensitas sedang (tabel 4.1).
Tabel 4.1. Karakteristik dasar subjek penelitian
Karakteristik Albendazol (n=102) Mebendazol (n=97)
Median usia, tahun (min-maks) 9 (5-13) 9 (6-12)
A.lumbricoides + T. trichiura 43 (42.2) 25 (25.8)
T. trichiura + Hookworm 0 (0) 6 (6.2)
Jumlah telur/gram feses, geometric mean epg. (±SD)
A. lumbricoides 2.9 (0.64) 3.2 (0.60)
T. trichiura 2.4 (0.60) 2.9 (0.50)
Hookworm 1.6 (0.27) 1.0 (0.19)
32
4.2 Perbandingan Angka Kesembuhan dan Intensitas infeksi
Angka kesembuhan infeksi STH tergantung jenis perlakuan yang diberikan didapatkan bahwa kedua regimen obat memberikan angka kesembuhan yang berbeda secara bermakna pada infeksi Ascaris lumbricoides dengan nilai P<0.05. (Tabel 4.2).
Tabel 4.2 Perbedaan tingkat kesembuhan setelah terapi
Infeksi STH Albendazol
Efikasi pengobatan dapat dinilai dari angka kesembuhan dan penurunan jumlah telur STH. Setelah pemberian terapi dan dilakukan pemeriksaan ulang setelah satu bulan, dijumpai perbedaan bermakna penurunan jumlah telur STH antara kedua kelompok. (Tabel 4.3)
Tabel 4.3 Perbedaan penurunan jumlah telur setelah satu bulan Jumlah telur STH Albendazol
(n=102)
Pemeriksaan bulan-0 2.4 (0.60) 2.9 (0.50) <0.001 Pemeriksaan bulan-1 2.3 (0.55) 2.4(0.39) 0.346 Hookworm
Pemeriksaan bulan-0 1.6 (0.27) 1.0 (0.19) 0.005
*Uji T-tidak berpasangan
Hasil analisis uji statistik untuk penurunan jumlah telur sebelum dan setelah pengobatan, mengalami penurunan yang signifikan pada setiap jenis STH (Tabel 4.4).
Tabel 4.4 Perbedaan jumlah telur sebelum dan setelah pengobatan Jumlah telur STH Sebelum
pengobatan
Setelah
pengobatan P*
Jumlah telur/gram feses, geometric mean epg. (±SD)
Kelompok albendazol
A. lumbricoides 3.5 (0.70) 2.6 (0.41) 0.023 T. trichiura 2.9 (0.52) 2.4 (0.55) <0.001 Kelompok mebendazol
A. lumbricoides 3.5 (0.53) 2.5 (0.49) <0.001 T. trichiura 3.4 (0.40) 2.4 (0.39) <0.001
*Uji T-berpasangan
Pada penelitian ini tidak didapati efek samping seperti anoreksia, mual, muntah, mencret, pusing, rash dan gatal-gatal setelah pengobatan.
BAB 5 PEMBAHASAN
Prevalensi STH tertinggi di daerah yang beriklim tropis, dimana sebagian besar terjadi di daerah Asia.16 Indonesia merupakan salah satu negara Asia dengan iklim tropis yang sangat cocok untuk STH.52 Penelitian kami mendapatkan prevalensi kecacingan di Kabupaten Batubara Provinsi Sumatera Utara sebesar 46.7%. Hasil ini lebih rendah dibandingkan penelitian yang pernah dilakukan di Kota Medan dengan prevalensi STH sebesar 73%,53 di Kabupaten Karo (2002) dengan prevalensi sebesar 95.4%47 dan di Kabupaten Karo (2004) sebesar 91.3%.6 Prevalensi STH pada penelitian ini lebih rendah dibandingkan penelitian sebelumnya dimungkinkan karena adanya program pengendalian kecacingan oleh pemerintah sejak tahun 2005 dengan sasaran anak prasekolah (1-4 tahun) dan anak usia SD (5-12 tahun).3 Namun prevalensi pada penelitian kami lebih tinggi jika dibandingkan penelitian yang dilakukan di kota Medan yang melaporkan prevalensi kecacingan sebesar 7.6%.54
Perbedaan dalam prevalensi dan intensitas STH juga tergantung pada beberapa faktor, antara lain kemanjuran antelmintik dan cakupan program deworming oleh pemerintah yang secara efektif membersihkan infeksi STH dari semua individu yang terinfeksi dalam populasi, tingkat kontaminasi
lingkungan dengan telur dan larva, serta paparan individu terhadap kontaminasi lingkungan (faktor perilaku dan sosial).55
Dari ketiga jenis STH, Trichuris trichiura merupakan salah satu dari nematoda STH yang banyak menginfeksi manusia.2 Pada penelitian kami, prevalensi kecacingan menurut jenis STH paling besar adalah karena Trichuris trichiura yaitu sebesar 89.4%, kemudian Ascaris lumbricoides
sebesar 46.7%, dan Hookworm 5%. Hasil serupa didapatkan pada studi di Kabupaten Karo pada tahun 2002 dengan prevalensi Trichuris trichiura yang paling tinggi yaitu 88.7%, kemudian Ascaris lumbricoides sebesar 79.5% dan infeksi Hookworm yang paling rendah yaitu 3.1%.47 Penelitian di Tanzania juga melaporkan hal serupa, dimana prevalensi Trichuris trichiura paling tinggi diantara STH lainnya yaitu sebesar 97%.56 Infeksi oleh Trichuris trichiura lebih tinggi dibandingkan kedua cacing lainnya dimungkinkan karena
adanya penggunaan albendazol dalam program pengendalian kecacingan, dimana Trichuris trichiura kurang sensitif terhadap albendazol dosis tunggal.3,7,15
Infeksi STH dapat ditemukan sebagai infeksi tunggal maupun campuran.57 Pada tahun 2010 diperkirakan sebanyak 16 juta orang terinfeksi STH dengan infeksi yang terbanyak merupakan infeksi campuran antara Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura.58 Pada penelitian kami, didapatkan infeksi ganda 37.2%, dan infeksi oleh ketiga jenis STH sebesar 2%. Infeksi ganda terbanyak adalah infeksi campuran Ascaris lumbricoides
36
dan Trichuris trichiura. Hasil ini serupa dengan penelitian yang dilakukan di Kota Medan dan di kabupaten Karo, dimana infeksi ganda terbanyak adalah campuran Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura.6,47,53 Hal ini dapat terjadi karena kedua cacing ini memiliki cara infeksi yang sama yaitu tertelan telur yang infektif.16
Infeksi Hookworm pada penelitian kami sebesar 5%. Hasil ini lebih tinggi dibandingkan studi sebelumnya di Kota Medan yang mendapatkan infeksi Hookworm hanya sebesar 0.53%.53 Hal ini dimungkinkan karena kebiasaan siswa ditempat penelitian kami yang berbeda dengan murid di perkotaan, yaitu kebiasaan bermain tanpa alas kaki dilingkungan sekolah.
Seperti diketahui, bahwa kebiasaan tidak menggunakan alas kaki dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi Hookworm, karena salah satu cara infeksi Hookworm adalah akibat larva infektif yang menembus kulit.24
Infeksi STH sering terjadi pada anak berusia 5 hingga 15 tahun.13 Pada penelitian kami infeksi STH terjadi pada anak usia SD dengan rata-rata berusia sekitar sembilan tahun. Prevalensi infeksi STH berhubungan dengan usia, dimana dengan bertambahnya usia maka resiko infeksi STH semakin menurun. Anak yang lebih tua memiliki pola permainan dan aktivitas yang berbeda, serta tingkat kebersihan dan daya tahan tubuh yang lebih baik daripada anak yang lebih kecil.59
Infeksi STH, baik infeksi tunggal atau campuran jarang menyebabkan kematian secara langsung, tetapi dapat mempengaruhi asupan makanan,
pencernaan, penyerapan, dan metabolisme anak.60 Berbagai penelitian telah mencatat hubungan antara status gizi dan penyakit infeksi, di mana status gizi rendah akan memperberat penyakit dan sebaliknya, penyakit infeksi menurunkan status gizi.22,61 Survei Kementerian Kesehatan juga menunjukkan hubungan antara status gizi dan infeksi STH.4 Selain itu, berbagai jenis infeksi STH dapat mempengaruhi pertumbuhan dengan berbagai cara, seperti mengganggu penyerapan nutrisi dan merusak mukosa usus. Infeksi STH dapat memengaruhi status gizi inang dengan menyebabkan anoreksia, meningkatkan kebutuhan nutrisi STH itu sendiri, menghambat penyerapan mukosa oleh infeksi Ascaris lumbricoides dan kehilangan darah akibat infeksi oleh Ankilostoma duodenale dan Necator americanus.62,63 Studi di Brazil menemukan hubungan antara infeksi STH dan status gizi.62
Pada penelitian kami didapatkan sebagian besar anak dengan infeksi STH memiliki status gizi baik. Hal ini berbeda dengan penelitian di Medan yang menilai hubungan status nutrisi dengan infeksi STH, didapatkan anak dengan infeksi STH memiliki status gizi kurang dan buruk.53 Perbedaan ini bisa disebabkan karena status gizi juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan, sosial dan ekonomi.64,65 Pada penelitian kami, berdasarkan jumlah telur per gram feses, sebagian besar mengalami infeksi STH dengan derajat ringan.
Sedangkan kejadian malnutrisi biasanya terjadi pada infeksi STH derajat sedang atau berat.25
38
Pengobatan infeksi tunggal oleh salah satu jenis STH umumnya memberikan hasil yang baik, namun pengobatan terhadap infeksi campuran belum mendapatkan hasil yang cukup memuaskan karena sulitnya mencari satu obat yang mempunyai efikasi yang baik untuk semua jenis cacing STH.
Infeksi STH pada sebagian besar penderita tidak hanya infeksi tunggal tetapi juga merupakan infeksi campuran oleh beberapa spesies. Saat ini terdapat beberapa obat antelmintik berspektrum luas dosis tunggal antara lain : albendazol, levamisol, mebendazol, dan pirantel pamoat yang dapat membasmi cacing dengan masing-masing kelebihan dan kekurangannya.8 Untuk kemoterapi dan pengobatan massal saat ini, obat cacing yang sering digunakan adalah albendazol.4 Pada pengobatan massal akan terjadi peningkatan penggunaan albendazol di banyak daerah endemis yang dapat mengarah pada kemungkinan terjadinya resistensi obat.Beberapa penelitian terbaru melaporkan tentang adanya resistensi obat pada manusia dan hewan dari Afrika, Amerika Selatan dan Australia. Meskipun albendazol terbukti efektif dan aman, namun masalah resistensi obat harus menjadi perhatian khusus karena resistensi antelmintik adalah masalah yang tidak dapat dipulihkan.66
Studi yang membandingkan tingkat kesembuhan albendazol dan mebendazol terhadap Ascaris lumbricoides melaporkan angka kesembuhan yang tinggi pada kedua kelompok, yaitu albendazol 96.7% dan mebendazol 100%.66 Pada penelitian kami didapatkan angka kesembuhan Ascaris
lumbricoides dengan albendazol 87.5%, dan mebendazol sebesar 31%. Hasil
pada penelitian kami berbeda dimana terdapat perbedaan signifikan pada tingkat kesembuhan Ascaris lumbricoides diantara kedua kelompok.
Perbedaan dalam tingkat kesembuhan pengobatan STH dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti perbedaan dalam kerentanan cacing, variasi terkait obat, perbedaan antara strain parasit, intensitas infeksi sebelum pengobatan, faktor spesifik host.27 Pada penelitian kami, salah satu faktor yang diketahui adalah rata-rata jumlah telur Ascaris lumbricoides pada kelompok mebendazol yang lebih tinggi dibanding pada kelompok albendazol. Namun dapat saja akibat faktor lain yang mempengaruhi efikasi pengobatan yang tidak dinilai pada penelitian kami.
Pada penelitian kami, untuk pengobatan terhadap Trichuris trichiura didapatkan angka kesembuhan albendazol 61.5% dan mebendazol 65.6%.
Hal ini serupa dengan penelitian yang dilakukan di Medan yang menilai efikasi albendazol terhadap Trichuris trichiura didapatkan tingkat kesembuhan sebesar 66.7%37 dan penelitian yang dilakukan di enam negara yang melaporkan tingkat kesembuhan Trichuris trichiura sebesar 63.1%.45 Penelitian yang dilakukan di Yunnan, China yang menilai efikasi albendazol dan mebendazol dosis tunggal melaporkan tingkat kesembuhan Trichuris trichiura yang juga rendah, yaitu albendazol 33.8% dan mebendazol 39.7%.46 Penatalaksanaan trichuriasis secara umum lebih sulit daripada infeksi STH lainnya. Tempat hidup cacing Trichuris trichiura disekum menjadikan cacing
40
ini lebih resisten terhadap antelmintik yang diberikan, selain itu disekum Trichuris trichiura membenamkan kepalanya didalam dinding usus.21,67
Angka kesembuhan pengobatan terhadap Hookworm pada penelitian kami sangat baik untuk kedua kelompok pengobatan, yaitu albendazol 100%
dan mebendazol 83.3%. Hasil ini berbeda dengan yang pernah dilaporkan, dimana efikasi pengobatan Hookworm dengan menggunakan albendazol 69.1% dan mebendazol 31.0%.46 Hasil penelitian kami berbeda, dimungkinkan karena sampel pasien yang terinfeksi Hookworm pada penelitian kami sangat kecil dibandingkan penelitian tersebut.
Pada penelitian kami, setelah satu bulan didapatkan perbedaan tidak bermakna pada jumlah telur STH diantara kedua kelompok. Namun terdapat perbedaan bermakna jumlah telur STH sebelum dan setelah pengobatan antelmintik. Hal ini berarti bahwa kedua jenis obat dapat menurunkan jumlah telur pada ketiga jenis cacing STH. Hasil ini serupa dengan penelitian di Ethiopia dan Secanggang, Sumatera Utara yang melaporkan penurunan jumlah telur yang tinggi pada ketiga jenis STH dengan pengobatan albendazol dan mebendazol.68,69 Penurunan jumlah telur secara langsung menyebabkan penurunan intensitas infeksi, hal ini karena albendazol dan mebendazol bersifat ovasidal.70
Berdasarkan angka kesembuhan pada setiap kelompok pengobatan, dapat juga dihitung nilai CER, EER, ARR dan NNT. Nilai NNT digunakan untuk melihat berapa jumlah pasien yang harus diobati untuk mendapat
tambahan satu hasil yang baik atau menghindarkan satu kegagalan. Pada pengobatan Ascaris lumbricoides dan Hookworm diperlukan sebanyak dua subjek, sedangkan pada pengobatan Trichuris trichiura diperlukan sebanyak 20 subjek yang mendapat terapi mebendazol untuk mendapatkan satu hasil yang baik atau menghindarkan satu kegagalan.
Efek samping yang mungkin terjadi pada penggunaan obat albendazol dan mebendazol biasanya ringan dan berlangsung sementara, seperti mual, muntah, diare, kram perut, pusing, mengantuk, nyeri kepala, susah tidur dan rasa lelah. Selain itu pada pemberian obat jangka pendek hampir selalu bebas dari efek samping.3,27 Pada penelitian kami, tidak dijumpai efek samping pemberian obat. Hal ini dapat disebabkan karena, obat-obat antelmintik memiliki absorpsi yang buruk di saluran cerna.27
Penelitian ini dapat menjadi sumber informasi untuk penelitian selanjutnya. Kekurangan penelitian kami adalah tidak dilakukan penilaian faktor lain yang dapat mempengaruhi keberhasilaan pengobatan kecacingan, sehingga tingkat kesembuhan yang tinggi atau rendah pada salah satu pengobatan sangat mungkin dipengaruhi faktor lain selain obat.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Pengobatan dengan albendazol dosis tunggal masih memiliki efikasi yang baik dalam hal angka kesembuhan terhadap infeksi Ascaris lumbricoides dibandingkan mebendazol. Untuk infeksi Trichuris trichiura, baik albendazol maupun mebendazol memiliki angka kesembuhan yang serupa dan tidak memuaskan. Pada infeksi Hookworm, tidak terdapat perbedaan angka kesembuhan diantara kedua kelompok pengobatan. Jika efikasi dinilai dengan penurunan jumlah telur, maka kedua kelompok pengobatan memiliki efikasi yang baik dalam penurunan jumlah telur untuk ketiga jenis STH.
6.2 Saran
Albendazol dosis tunggal masih dapat menjadi pilihan untuk mengatasi infeksi STH. Namun, tetap perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menemukan antelmintik yang memiliki angka kesembuhan yang tinggi pada ketiga jenis STH, terutama Trichuris trichiura. Selain itu, perlu juga ditingkatkan edukasi kepada masyarakat tentang kebiasaan hidup bersih sehingga dapat menurunkan prevalensi kecacingan.
Indonesia merupakan negara dengan iklim yang sesuai untuk berkembangnya STH. Infeksi STH selain sebagai infeksi tunggal, sering juga ditemukan sebagai infeksi gabungan oleh beberapa jenis STH. Untuk kemoterapi dan pengobatan massal saat ini, obat cacing yang sering digunakan adalah albendazol. Program kemoterapi yang dilakukan di berbagai negara, mungkin akan menyebabkan genotipe parasit yang resisten terhadap obat antelmintik. Hal tersebut dapat menyebabkan kegagalan program pemberantasan kecacingan di masyarakat. Beberapa penelitian terakhir malaporkan bahwa pengobatan STH dengan albendazol mendapatkan tingkat kesembuhan maupun tingkat penurunan telur yang tidak memuaskan. Hal ini diperkirakan akibat sudah mulai munculnya parasit yang resisten terhadap obat ini.
Hasil penelitian kami menunjukan albendazol masih memiliki tingkat kesembuhan yang baik terhadap infeksi Ascaris lumbricoides dan Hookworm.
Pada infeksi Trichuris trichiura tingkat kesembuhan albendazol dan mebendazol tidak memuaskan. Efikasi pengobatan jika dilihat dari penurunan jumlah telur menunjukan hasil yang cukup baik pada semua kelompok pengobatan terhadap infeksi STH.
DAFTAR PUSTAKA
1. World Health Organization. Deworming for health and development.
Report of the third global meeting of the partners for parasite control.
Geneva: World Health Organization, 2005
2. Margono SS. Important human helminthiasis in Indonesia. Dalam:
Crompton DW, Montresor A, Nesheim MC, Savioli L, penyunting.
Controlling disease due to helminth infections.Geneva:WHO,2003. h.3-14 3. Direktorat Jenderal P2PL. Pedoman pengendalian kecacingan. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI; 2012
4. Kementerian Kesehatan RI. Rencana aksi program pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan tahun 2015-2019. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI; 2015
5. Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara. Laporan akuntabilitas kinerja instansi pemeritah Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara tahun 2010. Medan: Dinas Kesehatan; 2011
6. Pasaribu S. Penentuan frekuensi optimal pengobatan massal askariasis dengan albendazole pada anak usia sekolah dasar di desa suka [disertasi]. Medan: Universitas Sumatera Utara, 2004
7. World Health Organization. Report of the WHO informal consultation on the use of chemotherapy for the control of morbidity due to soil-transmitted nematodes in humans. Geneva: Division of Control of Tropical Diseases; 2006
8. Olliaro P, Seiler J, Kuesel A, Horton J, Clark JN, Don R, dkk. Potential drug development candidates for human soil-transmitted helminthiases.
PLoS Negl Trop Dis. 2011;5:1-8
9. Vercruysse J, Behnke JM, Albonico M, Ame SM, Angebault C, dkk.
Assessment of the anthelmintic efficacy of albendazole in school children in seven countries where soil-transmitted helminths are endemic. PLoS Negl Trop Dis. 2011;5:e948.
10. Bennett AB, Anderson TJC, Barker GC, Micheal E, Bundy DAP.
Sequence variation in the trichuris trichiura β-tubulin locus: implications for the development of benzimidazole resistance. Int J Parasitol.
2002;32:1519-28
11. Dayan AD. Albendazole, mebendazole and praziquantel: review of non-clinical toxicity and pharmacokinetics. Acta Trop. 2003;86:141-59
12. World Health Organization. Helminth control in school-age children : a guide for managers of control programmers. Edisi kedua. WHO;2011 13. Hotez PJ, Bundy DAP, Beegle K, Brooker S, Drake LD, Silva ND, dkk.
Helminth infections: soil-transmitted helminth infections and schistosomiasis. Dalam Jamison DT, Measham AR, Alleyne G, Claeson M, Evans DB, dkk, penyunting. Disease control priorities in developing countries. Edisi kedua. Washington (DC): New York;2006. h.467-82 14. Alelign T, Degarege A, Erko B. Soil-transmitted helminth infections and
associated risk factors among school children in durbete town, northwestern ethiopia. J Parasitol Res. 2015:1-5
15. Bethony J, Brooker S, Albonico M, Geiger SM, Loukas A, Diemert D, dkk.
Soil-transmitted helminth infections: ascariasis, trichuriasis, and hookworm. Lancet. 2006;367:1521–32
16. Margono SS, Hadidjaja P. Askariasis. Dalam: Hadidjaja P, Margono SS, penyunting. Dasar parasitologi klinik. Edisi pertama. Jakarta: Badan penerbit FK UI; 2011. h.121-9
17. Chin J, editors. Manual pemberantasan penyakit menular. Jakarta: Ditjen PP & PL Departemen Kesehatan RI; 2005
18. Soedarmo SS, Garna H, Hadinegoro SR, Satari HI, penyunting. Buku ajar infeksi dan penyakit tropis. Edisi kedua. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2012
19. Margono SS. Nematoda. Dalam: Gandahusada S, Ilahude HD, Pribadi W, penyunting. Parasitology kedokteran. Edisi ketiga. Jakarta: Badan penerbit FKUI, 2000. h.7-30
20. Centers for Disease Control and Prevention. Trichuriasis [Trichuris trichiura]. 2013 (diakses Agustus 2019). Tersedia di https://www.cdc.gov/dpdx/trichuriasis/index.html
21. Soedarto. Buku ajar parasitology kedokteran. Edisi ke-2. Jakarta: Sagung seto; 2016
22. Crompton DW, Nesheim MC. Nutritional impact of intestinal helminthiasis during the human life cycle. Annu.Rev.Nutr. 2002;22:35-59.
23. Hotez P. Helminth infections. Dalam: Gershon A, Hotez P, Katz S, penyunting. Krugman's infectious diseases of children. Edisi kesebelas.
Philadelphia: Pennsylvania, 2003. h.227-30
24. Prasetyo H, Margono SS. Ankilostomiasis dan nekatoriasis. Dalam:
Hadidjaja P, Margono SS, penyunting. Dasar parasitologi klinik. Edisi pertama. Jakarta: Badan penerbit FK UI, 2011. h.136-45
46
25. Crompton DW, Torlesse H, Hodges ME. Hookworm infection and iron status. Dalam: Crompton DW, Montresor A, Nesheim MC, Savioli L, penyunting. Controlling disease due to helminth infections. Geneva: WHO;
2003. h.23-32
26. Fernandez-Nino JA, Ramírez JD, Lopez MC, Moncada LI, Reyes P, Heredia RD. Agreement of the kato-katz test established by the WHO with samples fixed with sodium acetate analyzed at 6 months to diagnose intestinal geohelminthes. Acta Trop. 2015;146:42–4
27. Keiser J, Utzinger J. Efficacy of current drugs against soil-transmitted helminth infections systematic review and meta-analysis. Jama.
2008;299:1937-48
28. Montresor A, Crompton DW, Gyorkos TW, Savioli L. Helminth control in school-age children. A guide for managers of control programmes.
Geneva: World Health Organization; 2002. h. 10-28
29. Horton J. Albendazole: a review of anthelminthic efficacy and safety in humans. Parasitology. 2000;121:113–32.
30. Vardanyan RS, Hruby VJ. Antihelmintic drugs. Synthesis of Essential Drugs. 2006: 583–93
31. Vankestesan P. Albendazole. J of Antimicrob Chemother. 1998;41:145–7 32. Katzung BG. Farmakologi dasar dan klinik. Dalam: Bagian farmakologi
fakultas kedokteran Universitas airlangga, penyunting. Farmakologi dasar dan klinik. Edisi keenam. Surabaya: Penerbit Buku Salemba Medika, Soc Trop Med Hyg. 2011;105:586-90
35. Sukarban S, Santoso SO. Antelmintik. Dalam: Ganiswarna SG, Setiabudy R, Suyatna FD, Purwantyastuti, Nafrialdi, penyunting. Farmakologi dan terapi. Edisi keempat. Jakarta: Penerbit Bagian Farmakologi FK UI, 2001.
h. 523-36
36. Kihara JH, Muhoho N, Njomo D, Mwobobia IK, Josyline K, Mitsui Y, dkk.
Drug efficacy of praziquantel and albendazole in school children in mwea division, central province, kenya. Acta Trop. 2007;102:165-71
37. Anto EJ, Nugraha SE. Efficacy of albendazole and mebendazole with or without levamisole for ascariasis and trichuriasis. Open Access Maced J Med Sci. 2019; 7:1299-302
38. Saathoff E, Olsen A, Kvalsvig JD, Appleton CC. Patterns of geohelminth infection, impact of albendazole treatment and re-infection after treatment in school children fram rural kwazulu-natal/south-afrika. BMC Infect Dis.
2004;4:27-38
39. Dewayani BS, Situmeang R, Sembiring T, Hamid ED, Pasaribu S, Lubis CP. Albendazole pada soil-transmitted helminthiasis. USU 2004.
(Diakeses Agustus 2019). Tersedia di:
http://library.usu.ac.id/download/fk/anal-cahiruddin12.pdf
40. National Center for Biotechnology Information. PubChem Database.
Mebendazole, (Diakses pada Desember 2019). Tersedia di:
https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/compound/Mebendazole
41. Urbani C, Palmer K. Drug-based helminth control in Western Pacific countries: a general perspective. Trop Med Int Health. 2001;6:935-44 42. Ebadi M. Desk reference of clinical pharmacology. Edisi kedua. London :
CRC Press, 2007
43. Speich B, Ame SM, Ali SM, Alles R, Hattendorf J, Utzinger J, dkk. Efficacy
43. Speich B, Ame SM, Ali SM, Alles R, Hattendorf J, Utzinger J, dkk. Efficacy