3. Mengapa daerah tersebut rentan terhadap kerawanan pangan?
1.3.8 Data Kelembagaan Pangan
Kelembagaan pangan yang dimaksud di sini adalah kelembagaan penyuluhan pada tingkat kabupaten/kota, kecamatan dan tenaga penyuluh.
Kelembagaan Tingkat Kabupaten/Kota
Sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 Tahun 2007, penataan sistem penyuluhan pertanian termasuk kelembagaannya ditujukan untuk pemenuhan ketahanan pangan masyarakat. Pada tingkat kabupaten/kota, penataan organisasi sesuai peraturan perundangan yang berlaku disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan daerah masing-masing. Kondisi pembentukan organisasi/ kelembagaan penyuluhan tingkat kabupaten/kota se-Provinsi NTT sebagai berikut:
30
Tabel 5 : KELEMBAGAAN TINGKAT KABUPATEN/KOTATabel 6 : KELEMBAGAAN TINGKAT KABUPATEN/KOTA No Kabupaten/Kota Nama Kelembagaan Dasar Pembentukan
1 Sumba Barat
Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian dan Ketahanan Pangan
Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2007 tanggal 22 Desember 2007 2 Alor Badan Ketahanan Pangan dan
Penyuluh Pertanian
Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2007 tanggal 28 Desember 2007
3 Nagekeo
Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian dan Ketahanan Pangan
Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2009 tanggal 19 November 2009
4 Manggarai Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian
Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2008 tanggal 3 Maret 2008 5 Flores Timur Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2008 tanggal 23 Mei 2008
6 Belu Badan Penyuluhan Pertanian dan Ketahanan Pangan
Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2008 tanggal 23 Mei 2008 7 Lembata Badan Ketahanan Pangan dan
Pelaksana Penyuluhan
Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2008 tanggal 19 Juni 2008 8 Sumba Tengah Badan Penyuluhan Pertanian
dan Ketahanan Pangan
Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2008 tanggal 21 Juli 2008
9 Ngada
Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian dan Ketahanan Pangan
Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2008 tanggal 22 Juli 2008
10 Sumba Barat Daya Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian
Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2008 tanggal 22 Mei 2008
11 Manggarai Timur
Kantor Pelaksana Penyuluhan Pertanian dan Ketahanan Pangan
Peraturan Daerah Nomor 31 Tahun 2009 tanggal 6 Juni 2009
12 Sikka Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan
Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2008 tanggal 28 Mei 2008 13 Ende Badan Ketahanan Pangan dan
Penyuluhan Pertanian
Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2008 tanggal 23 Juli 2008
14 Sumba Timur
Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan
Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2008 tanggal 7 Desember 2008
15 Timor Tengah Utara
Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan
Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2008 tanggal 30 September 2008
16 Kota Kupang Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Pertanian
Surat Keputusan Walikota Kupang Nomor 20 Tahun 2008 tanggal 22 Desember 2008
17 Kupang*
Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan
Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2011 tanggal 16 Februari 2011
18 Timor Tengah Selatan
Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan
Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2011 tanggal 3 Maret 2011
19 Rote Ndao
Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan
Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2009 tanggal 28 Januari 2009
20 Manggarai Barat Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan
Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2010 tanggal 7 April 2010
21 Sabu Raijua
Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Perikanan, Kehutanan
Peraturan Bupati Nomor 1 Tahun 2009 tanggal 18 Agustus 2009
* Belum dioperasionalisasikan
Sumber: Sekretariat Badan Koordinasi Penyuluhan (BAKORLUH) Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Provinsi NTT
31 Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa seluruh kabupaten/kota
telah membentuk kelembagaan sesuai PP. no. 41 Tahun 2007, kecuali kabupaten pemekaran baru, Sabu Raijua yang masih dalam tahap pemrosesan dan diperlukan dukungan sosialisasi dan evaluasi dari pemerintah provinsi dan pusat.
Kelembagaan Penyuluhan Tingkat Kecamatan
Kelembagaan penyuluhan di tingkat kecamatan, yaitu Balai Penyuluhan Kecamatan (BPK). Keadaan BPK di Provinsi NTT pada September 2011 adalah sebagai berikut:
Tabel 7: KELEMBAGAAN PENYULUHAN TINGKAT KECAMATAN
Badan Penyuluhan Kecamatan (BPK) Fisik Bangunan
No Kabupaten/Kota Kecamatan Jumlah Jmlh BPK Baik Rusak Belum Ada Bangunan
1 Kota Kupang 6 6 1 0 5 2 Kupang 24 24 2 6 16 3 TTS 32 32 25 7 0 4 TTU 24 24 0 3 21 5 Belu 24 24 14 1 9 6 Rote Ndao 8 8 8 0 0 7 Alor 17 17 6 3 8 8 Lembata 9 9 3 1 5 9 Flores Timur 19 19 12 1 6 10 Sikka 21 21 21 0 0 11 Ende 21 21 14 1 6 12 Ngada 9 9 8 1 0 13 Manggarai 9 9 9 0 0 14 Manggarai Barat 7 7 4 3 0 15 Sumba Barat 6 6 5 1 0 16 Sumba Timur 22 22 22 0 0
17 Sumba Barat Daya 8 8 2 3 3
18 Manggarai Timur 6 6 1 1 4
19 Sumba Tengah 5 5 3 0 2
20 Nagekeo 7 7 7 0 0
21 Sabu Raijua 6 6 1 0 5
290 290 168 32 90
Sumber Sekretariat Badan Koordinasi Penyuluhan (BAKORLUH) Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Provinsi NTT
Tabel 6: KELEMBAGAAN PENYULUHAN TINGKAT KECAMATAN
Sumber: Sekretariat Badan Koordinasi Penyuluhan (BAKORLUH) Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Provinsi NTT
32
Gambaran yang ada menunjukan kondisi BPK yang baik hanya 50 persen, yang rusak 11 persen dan belum dibangun 31 persen. Kondisi BPK membutuhkan perhatian yang serius karena merupakan pusat informasi pertanian dan pusat penyuluhan pertanian di tingkat kecamatan.
Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan
Keadaan penyuluh pertanian, perikanan dan kehutanan hingga September 2011 adalah di bawah ini:
Tabel 7: DATA PENYULUH PERTANIAN, PERIKANAN DAN KEHUTANAN
Sumber: Sekretariat Badan Koordinasi Penyuluhan (BAKORLUH) Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Provinsi NTT
33 Rasio penempatan penyuluh pertanian, perikanan dan kehutanan
adalah satu penyuluh per desa. Realita data menunjukan: • Jumlah desa/kelurahan di NTT sebanyak 2,845 buah • Jumlah penyuluh tetap sebanyak 1,484 orang
• Jumlah penyuluh tidak tetap/kontrak sebanyak 1,071 orang, sehingga
• Jumlah penyuluh yang harus ditambahkan sebanyak 390 orang.
Dengan demikian pemerintah harus menyiapkan tenaga penyuluh tetap sebanyak 1,461 orang untuk memenuhi rasio satu penyuluh per desa. Hal ini sangat menentukan pemenuhan kebutuhan pangan baik melalui produksi maupun peningkatan daya beli, karena tugas penyuluh adalah menyiapkan kapasitas masyarakat yang mandiri untuk memenuhi kebutuhan pangan di tingkat keluarga.
Kelembagaan Keamanan Pangan Segar
Kelembagaan penanganan keamanan pangan segar sudah diinisiasi sejak tahun 2004 dengan dikeluarkannya surat Menteri Pertanian kepada Gubernur dan Bupati/Walikota yang ditindaklanjuti oleh surat Kepala Badan Ketahanan Pangan untuk membentuk Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Segar (OKKP-P/OKKP-D) di wilayahnya masing-masing.
Tujuan umum kelembagaan ini adalah meningkatkan ketersediaan dan konsumsi pangan segar yang aman bagi masyarakat. Sedangkan tujuan khusus adalah menguatkan Kelembagaan, keamanan pangan segar, meningkatkan kapasitas dan kapabilitas SDM, meningkatkan pengawasan keamanan pangan segar, meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang keamanan pangan segar.
Kelembagaan Informal Pangan dan Gizi
Salah satu kelembagaan informal yang memegang peranan penting dalam pengembangan ketahanan pangan dan gizi masyarakat adalah pemberdayaan dan kesejahteraan keluarga (PKK). PKK adalah gerakan pembangunan masyarakat yang tumbuh dari bawah dengan perempuan sebagai motor penggeraknya untuk membangun keluarga sebagai unit atau kelompok terkecil dalam
34
masyarakat guna menumbuhkan, menghimpun, mengarahkan, dan membina keluarga guna mewujudkan keluarga sejahtera. Kelembagaan PKK ini identik dengan kegiatan yang dilaksanakan di tingkat desa dan kelurahan, dengan demikian maka jumlah kelembagaan PKK sama dengan jumlah desa dan kelurahan yang ada di NTT pada tahun 2011, yaitu sebanyak 2,965. Selain PKK terdapat juga kelompok kelembagaan informal seperti Desa SiAGa dan posyandu. Jumlah posyandu di provinsi NTT pada tahun 2010 sebanyak 917 buah dan Desa SiAGa sebanyak 8,942 buah.
1.4 PERMASALAHAN DAN TANTANGAN YANG DIHADAPI DI PROVINSI