HIDRASI MATERNAL
4.4. Data kepustakaan mengenai manfaat hidrasi maternal
Salah satu pendekatan yang dilakukan untuk mengatasi komplikasi oligohidramnion pada saat inpartu yaitu melakukan amnioinfusion untuk meningkatkan cairan amnion di dalam uterus. Bagaimanapun juga, jika menginginkan penatalaksanaan secara ekspektatif, maka hidrasi maternal dapat meningkatkan volume cairan amnion. Hidrasi maternal baik peroral maupun intravena telah diteliti sebagai cara lain dalam penatalaksanaan oligohidramnion pada wanita hamil aterm.15 Pada trimester kedua kehamilan, kebanyakan cairan amnion dihasilkan melalui produksi urin fetus, dan diabsorbsi melalui proses menelan fetus. Cairan amnion juga diabsorbsi melalui paru-paru fetus dan melalui plasenta. Hidrasi maternal dan osmolaritas maternal mempengaruhi jumlah cairan amnion juga mempengaruhi produksi urin fetus dan reabsorbsinya saat mendekati hamil aterm.15 Dalam suatu review yang sistematik, Hofmeyr (2004) menemukan bahwa volume cairan amnion meningkat pada oligohidramnion atau ICA normal yang telah minum 2 liter air atau yang mendapat hidrasi larutan hipotonik intravena, tapi yang mendapat hidrasi larutan isotonik intravena tidak menunjukkan peningkatan. Volume cairan amnion diukur 6 jam kemudian, memperlihatkan efek peningkatan rata-rata 2,01 (95% CI, 1,43-2,60) pada wanita yang mendapat hidrasi secara oral dan peningkatan rata-rata 2,3 (95% CI, 1,36-3,24) pada wanita yang mendapat hidrasi larutan hipotonik intravena.17
Leeman dan Almond (2005) melaporkan peningkatan AFI sebesar 30% pada wanita yang mengkonsumsi 2 liter air, 2 sampai 5 jam sebelum dilakukan USG ulangan, dibandingkan dengan wanita yang tidak mendapat hidrasi peroral. Mereka merekomendasikan bahwa wanita yang diketahui oligohidramnion, dipertimbangkan memberikan hidrasi maternal sebelum mengukur kembali AFI 2 sampai 6 jam kemudian.16
The Cochrane Library dalam reviewnya menemukan 2 penelitian yang berhubungan, dilakukan dengan metode acak terkontrol, membandingkan yang mendapat dan yang tidak mendapat hidrasi maternal pada wanita hamil dengan cairan amnion yang kurang dan normal.
Kedua penelitian ini menyertakan 78 wanita . Para wanita ini diminta minum 2 liter air sebelum dilakukan USG ulangan. Hidrasi maternal pada wanita dengan dan tanpa oligohidramnion diketahui volume cairan amnionnya meningkat ( peningkatan 2,01 cm, 95%
CI 1,43-2,60 pada oligohidramnion dan 4,5 cm, 95% CI 2,92-6,08 pada ICA normal). Hidrasi maternal dengan larutan hipotonis intravena pada wanita yang oligohidramnion juga mengalami peningkatan volume cairan amnion (naik 2,3 cm, 95% CI 1,36-3,24). Pemberian larutan isotonis tidak menunjukkan peningkatan volume cairan amnion. 17
Penelitian lain yang mendukung bahwa volume cairan maternal berperan penting dalam mempertahankan volume cairan amnion. Sherer dkk (1990) melaporkan kasus oligohidramnion berat pada wanita hamil yang menderita dehidrasi berat akibat gastroenteritis. Setelah pasien mendapat hidrasi cairan kristaloid intravena 6500 ml dan tidak ada lagi hipovolume, terjadi akumulasi cairan yang cepat sehingga pada pengamatan selanjutnya ditemukan ICA yang normal.18 Kilpatrick dan Safford (1993) menemukan bahwa pembatasan cairan akan menurunkan ICA. Mereka juga memperlihatkan bahwa hidrasi maternal oral dengan air 2 liter dalam periode 2 jam akan meningkatkan ICA pada kehamilan yang volume cairan amnion normal sebesar 16 %.19 Sebelumnya, Kilpatrick dkk (1991) telah memperlihatkan bahwa hidrasi maternal oral dengan air 2 liter dalam periode 2 jam akan meningkatkan ICA sebesar 31 % pada kehamilan yang volume cairan amnion berkurang.18
Hal yang berbeda, Flack dkk (1995) menemukan bahwa hidrasi maternal peroral meningkatkan ICA pada wanita dengan oligohidramnion, tapi tidak meningkat secara bermakna pada volume air ketuban yang normal.20 Flack dkk (1995) menemukan bahwa peningkatan ICA bukan merupakan peranan dari peningkatan produksi urin fetus tapi lebih mungkin peranan perbaikan perfusi uteroplasental akibat ekspansi volume plasma maternal.20 Penelitian Flack dkk. juga menduga bahwa kemungkinan terjadi perpindahan cairan dari kompartemen intravaskular maternal ke dalam kompartemen cairan amnion. Meskipun sudah di uji coba pada binatang, tapi pada manusia belum ada percobaan. Pada binatang percobaan ditemukan aliran cairan amnion yang bermakna melalui jalur transmembraneous antara pembuluh darah fetus dalam chorionic plate dan rongga amnion.20 Flack dkk. juga menduga bahwa volume cairan ketuban juga meningkat dengan transfer air intramembraneous antara ibu dan fetus menyeberangi chorionic plate, kulit fetus dan permukaan tali pusat.20 Kilpatrick dan Safford (1993) menuliskan peningkatan yang bermakna pada mean velocity arteri umbilikalis sesudah hidrasi maternal dan mengemukakan teori bahwa hidrasi bekerja meningkatkan ICA dengan memperbaiki aliran darah plasenta atau transfer air menyeberangi plasenta secara besar-besaran.19
Chelmow dkk (1996) melaporkan wanita hamil preterm yang mengalami pecah ketuban, dengan hidrasi maternal intravena didapatkan peningkatan AFI yang bermakna.
Mereka meneliti 13 wanita dengan umur kehamilan 24-37 mg yang didiagnosis KPD preterm. Kemudian dibagi menjadi grup terapi dan kontrol, 6 orang mendapat 1 liter normal salin IV bolus selama 30 menit. Kedua grup diperiksa ulang 90 menit kemudian, pada kelompok terapi peningkatan ICA sebesar 5,1 cm.21
Bagaimana efek jangka panjang hidrasi maternal terhadap peningkatan AFI? Baru sedikit penelitian yang berhubungan dengan itu. Malhotra (2004) di New Delhi meneliti efek hidrasi maternal akut dengan memberikan 2 liter air dalam 1 jam, kemudian AFI diukur sesudah 3, 24 dan 48 jam kemudian. Dia mendapatkan ICA meningkat dalam waktu 3 jam sesudah hidrasi maternal, tapi peningkatan ICA itu hanya bertahan kurang dari 24 jam.22 Fait G dkk (2003) dalam penelitian setelah memberikan air 2 liter setiap hari selama 1 minggu mendapatkan ICA tetap sama ukurannya setelah 1 minggu. Mereka membuat kesimpulan pemberian hidrasi maternal oral jangka panjang akan meningkatkan ICA pada wanita yang jumlah cairan amnionnya kurang dan kemungkinan dapat mencegah oligohidramnion.23
Penelitian saat ini menyebutkan bahwa wanita hamil dengan oligohidramnion, peningkatan yang signifikan pada ICA terlihat dari baik pemberian infuse hipotonik maupun oral. Beberapa penelitian membandingkan apakah pemberian oral atau intravena yang lebih mempengaruhi peningkatan ICA. Lorzadeh dkk (2008) dalam penelitiannya menemukan rata-rata peningkatan ICA setelah hidrasi maternal secara sinifikan lebih besar pada kelompok yang meminum air (p < 0,0001) dari pada kelompok yang mendapat intravena.9 Doi dkk (1998) dalam penelitiannya membandingkan efek dari hidrasi matenal dengan cairan isotonic IV, cairan hipotonik IV dan meminum air, pada wanita dengan dengan ICA menunjukkan oligohidramnion. Mereka menyimpulkan bahwa hidrasi meternal baik dengan cairan hipotonik IV atau cairan oral meningkatkan ICA pada oligohidramnion atau perubahan osmotic maternal itu lebih mempunyai pengaruh langsung daripada ekspansi volume maternal pada peningkatan volume cairan amnion pada waktu yang singkat dengan hidrasi yang cepat. Mereka tidak menemukan peningkatan yang signifikan dari ICA pada kelompok cairan isotonic IV.24
Oosterhof dkk (2000) menyelidiki efek dari rehidrasi maternal terhadap kecepatan produksi urin fetus pada fetus menjelang aterm. Sebanyak 21 ibu hamil dengan usia kehamilan diantara 37 dan 48 minggu datang ke klinik ANC diteliti. Kecepatan produksi urin fetal dinilai dengan menggunakan pengukuran serial dari 3 diameter kandung kemih janin.
Didapatkan peningkatan kecepatan urin fetus tiap jamnya secara signifikan setelah rehidrasi hipotonik. Penemuan baru-baru ini menunjukkan bahwa fetus cukup bulan dapat mengatasi perubahan akut dari osmolaritas cairan dengan cara meningkatkan kecepatan produksi urin untuk menjaga keseimbangan cairan amnion. Mekanisme ini menunjukkan bahwa perubahan osmolaritas dan volume dari plasma ibu berperan penting dalam menentukan volume cairan amnion.25 Flack dkk (1995) merencanakan suatu penelitian apakah hidrasi maternal yang cepat pada kehamilan trimester III dengan oligohidramnion dapat meningkatkan ICA dan
kecepatan produksi urin fetal tiap jamnya dan apakah hal tersebut merubah perfusi uteroplasenta dan aliran darah fetal. Hasil menunjukkan pengurangan yang signifikan dari maternal plasma dan osmolaritas urin pada kedua grup tersebut setelah hidrasi oral dalam jangka pendek. Hidrasi meningkatkan volume cairan amnion pada ibu dengan oligohidramnion tetapi tidak meningkat pada volume amnion normal.20
Hidrasi juga berhubungan dengan peningkatan kecepatan rata-rata arteri uterina pada kelompok oligohidramnion namun tidak pada kelompok kontrol. Para penulis menyimpulkan bahwa hidrasi oral maternal dalam jangka pendek dapat meningkatkan ICA pada ibu dengan oligohidramnion pada ibu trimester ketiga. Walaupun mekanisme efek ini masih belum jelas, hal tersebut bukan merupakan akibat dari urinasi fetal tetapi lebih banyak berhubungan dengan perbaikan perfusi uteroplasenta. 8,28 Tidak ada efek samping yang penting secara klinik yang ditemukan pada percobaan-percobaan diatas.19
Berbeda dengan penelitian saat ini, Chelmow dkk (1996) menyebutkan bahwa bolus cairan IV dengan 1 liter NaCl yang diberikan lebih dari 30 menit dapat menyebabkan penurunan ICA 5.11 cm pada pasien dengan KPD preterm.21
BAB 4 RANGKUMAN
Oligohidramnion pada kehamilan ditegakkan bila indeks cairan amnion kurang dari 5 cm atau kurang dari 5 persentile dari rentang volume yang sesuai dengan usia kehamilan.
Oligohidramnion dikaitkan dengan kelainan pada janin seperti kelainan ginjal, pertumbuhan janin terhambat dll.
Penanganan oligohidramnion pada kehamilan aterm umumnya akan dilakukan penanganan aktif dengan induksi persalinan. Keberhasilan induksi persalinan tergantung pada jumlah paritas, skor bishop, dan respon terhadap obat yang digunakan. Beberapa penelitian menemukan bahwa induksi persalinan pada indeks cairan amnion kurang dari 5 akan meningkatkan angka seksio sesaria karena intoleransi janin terhadap persalinan (fetal distress).
Pada oligohidramnion yang tidak disertai komplikasi pada ibu dan bayi, maka penanganan ekspektif perlu dipertimbangkan. Salah satu cara yang dinilai non invasif dan efektif adalah cara hidrasi maternal. Hidrasi maternal dapt dilakukan dengan cara sederhana dengan minum air 2 liter dalam satuan waktu maupun dengan memberikan cairan melalui intra vena. Beberapa penelitian menemukan baik secara oral maupun intra vena akan meningkatkan volume cairan amnion dan akan bertahan selama lebih kurang24 jam, dan bisa diulang lagi pada keesokan harinya. Penanganan ekspektatif dengan pemantauan pemantauan fetus 2 kali seminggu adalah alternatif yang efektif dan kebanyakan wanita akan masuk ke dalam persalinan spontan dalam 3 hari setelah diagnosis ditegakkan. Pelaksanan hidrasi maternal sangat sederhana, tapi efektif meningkatkan volume cairan amnion dan menghindari seksio sesaria akibat fetal distress akibat induksi persalinan. Pada studi-studi tersebut diatas hampir tidak ditemukan efek samping yang serius terhadap ibu hamil dan bayinya.
Bagaimanapun, kebanyakan penelitian tersebut dibatasi oleh jumlah sampel yang terbatas dan pemeriksaan dilakukan pada kehamilan aterm . Jadi, dibutuhkan penelitian dengan jumlah sampel yg lebih besar dan kisaran umur kehamilan yg lebih lebar untuk memperoleh validitas dari metode ini pada ibu hamil padakehamilan preterm dengan oligohidramnion, untuk menghindari induksi persalinan preterm dan mencegah konsekuensi yang serius bagi ibu bayi yang baru lahir.