BERBAHAYA DAN BERACUN) DARI PROSES PRODUKSI
5.1. Pengertian Limbah
5.3.4. Data Limbah Padat Non-B3 Tahun 2018
Data Limbah Padat Non-B3 Tahun 2018 dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Data Limbah Padat Non-B3
Bulan HH/HP Penggoren gan Actual (kg) HH/HP Giling Actual (kg) HH/HP Kotor Actual (kg) Mie Basah Actual (kg) Hancur Halus Actual (kg) Hancur Patah Actual (kg) Adonan Mie Actual (kg) Total Januari 6,413.12 57363.272 1149.598 6,673.53 20,800.74 31,957.52 2,411.91 126,769.68 Februari 2,264.99 40,868 657 7,868 17,075 21,421.39 2,896.01 93,050.57 Maret 2,612.01 50,082 671.001 7,257.34 16,559.28 27,989.73 2,636.69 107,808.05 April 4,250.90 44,689 1237.203 7,031.60 14,566 24,847 3,664 100,285.31 Mei 5,022.80 47,112 1,400 6,000.70 13,149.70 23,461.20 3,716.80 99,863.50 Juni 3,276 33,495 1,179 6.046.94 10,206.99 19,693.25 2,695.70 76,593.85 Juli 6,283 56,581 1,764 7,201.56 16,127.52 28,322.04 3,651.90 119,930.85
39 Agustus 6,878 44,315 1,358 6,34.40 14,018.80 23,777 3,434.10 100,154.70 September 5,779 40,624 1,212 6,374.40 11952.6 19,703.40 3,028.50 89,366.90 Oktober 6,612 43,145 1,773 7,067.60 13,142.50 20,907.50 3,355.50 95,480.49 November 5,300 38,960 2,230 5,590 12,880 20,519.99 3,240 88,720.00 Desember 4,820 38,170 1,950 5,700 11,020 18,410 3,650 83,719.99 Total 59,513 535,404 16,580 79,357 171,499 281,010 38,381 1,181,744 Keterangan :
HH : Hancur Halus, HP : Hancur Patah
Dapat dilihat pada Tabel 4. bahwa limbah padat non-B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) yang dihasilkan dari proses produksi mengalami perubahan. Limbah padat non-B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) dengan jumlah terbanyak selama tahun 2018 adalah mie Hancur Halus/Hancur Patah Giling Actual yaitu sebesar 535,404 kg. Sedangkan untuk total semua limbah padat non-B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) yang dihasilkan pada tahun 2018 berjumlah 1,181,744 kg.
5.4. Pembahasan
Pada laporan ini akan menjelaskan lebih lanjut mengenai limbah padat non-B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) yang dihasilkan dari proses produksi di PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Noodle Division Cabang Pontianak. Limbah padat non-B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) yang dihasilkan oleh PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk.
Noodle Division Cabang Pontianak setiap hari jumlahnya berbeda-beda sesuai dengan
proses produksi yang berjalan. Pada proses produksi jenis limbah yang dihasilkan antara lain paper core (paper core), karton, etiket, plastik hasil dari seasoning, mie hancur patah/hancur halus, kantong bekas tepung dan ingredient, serpihan mie basah, serta mie
reject. Sedangkan untuk limbah padat non-B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) yang
dhasilkan dari laboratorium (qualiy control) adalah limbah sisa sampel berupa cup mie yang mengalami miss print yang digunakan pada produk Pop Mie.
40
Paper core merupakan gabungan dari strip kertas yang digulung dan direkatkan menjadi
satu dengan menggunakan gulungan sesuai diameter dari paper core. Paper core sering juga disebut dengan paper tube. Paper tube dalam proses produksi memiliki fungsi sebagai bahan pembaru atau sub material yang digunakan untuk media pembantu suatu produk dalam proses gulung/roll, packaging, dan juga wrapping film (PT. Asia Carton Lestari, 2006).Limbah karton yang dihasilkan berasal dari proses produksi merupakan karton yang mengalami miss print (kesalahan dalam mencetak). Kesalahan-kesalahan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor antara lain warna yang dihasilkan kurang tebal, gambar atau tulisan yang terpotong dan juga karton yang sobek. Karton-karton tersebut akan dibawa menuju gedung penyimpanan dengan menggunakan forklift yang sudah dialasi dengan pallet agar mudah dalam pengangkutan. Forklift merupakan alat yang berfungsi untuk menempatkan dan mengangkat barang dengan beban yang berat dan besar (DOSH, 2007). Sementara itu, pallet kayu adalah salah satu pilihan yang digunakan beberapa industri, perusahaan transportasi, eksportir, dan logistik untuk mempermudah dalam membawa komoditinya dalam kegiatan ekspor, transit, pergudangan maupun pengapalan.
Etiket merupakan limbah yang banyak dihasilkan oleh PT. Indofood CBP Sukses
Makmur Tbk. Noodle Division Cabang Pontianak. Selain banyak, limbah etiket juga tidak dapat dihancurkan dan butuh waktu lama untuk diuraikan ketika limbah etiket secara langsung dibuang ke lingkungan. Material etiket yang digunakan sebagai pengemas primer yaituExpander Polystyrene (EPS). Bahan pengemas merupakan media yang digunakan untuk melindungi dan membungkus produk. Kemasan tersebut harus bisa membantu konsumen dalam memperoleh informasi yang jelas, menambah keindahan, dan juga memudahkan konsumen dalam menggunakannya (Kaihatu, 2014).Etiket yang dihasilkan dari proses produksi akan dibungkus menjadi satu dikantong-kantong besar lalu diambil dengan mmenggunakan forklift menuju ke gudang penyimpanan. Etiket yang akan disimpan di gudang penyimpanan merupakan etiket yang robek dan yang mengalami kesalahan dalam pencetakan (miss print).
Mie hancur patah merupakan mie yang jatuh pada saat proses produksi berlangsung. Mie tersebut akan dikumpulkan menjadi satu dengan mie hancur kotor dan mie reject. Mie hancur kotor sendiri merupakan mie yang jatuh dan terkena bumbu (ingredient)
41
dan bahan lainnya. Mie reject merupakan mie yang tidak sesuai dengan ketentuan, misalnya ukuran dan warna yang dihasilkan tidak sesuai. Mie hancur patah, mie reject, dan mie hancur kotor lalu dibungkus menggunakan kantong plastik besar berwarna bening kemudian diletakkan diatas pallet agar udah dalam pengambilan menggunakan
forklift. Limbah mie tersebut akan dibawa menuju tempat scrapuntuk digiling menjadi
mie hancur halus. Sebelum dibawa menuju ke tempat scraplimbah mie akan ditimbang terlebih dahulu di neraca timbang. Pengambilan serta penggilingan mie berlangsung sejak pagi yaitu pukul 07.00 WIB hingga siang hari pukul 13.00 WIB selama 6 hari kerja dan limbah mie yang dihasilkan bergantung pada proses produksi.
Proses penggilingan mie hancur halus dilakukan dengan menggunakan mesin yang bernama crusher. Di dalam mesin tersebut terdapat besi-besi yang berbentuk seperti pisau yang mengelilingi besi besar yang dapat berputar, sehingga memudahkan mesin untuk menggiling mie menjadi halus. Mesin ini sangat efektif untuk menghancurkan mie, selain itu mesin ini juga memiliki kelemahan yaitu gilingan mie yang dihasilkan bervariasi (Brennanet all., 1990). Setelah digiling mie akan dimasukkan ke dalam karung bekas tepung. Mie hancur halus kemudian ditimbang dengan berat 20 kg lalu dijahit dengan menggunakan alat jahit karung. Setelah dijahit, karung-karung tersebut diletakkan diatas pallet dengan cara ditumpuk hingga mencai 25 karung. Kemudian,
pallet yang sudah berisi 25 karung akan dipindahkan dengan menggunakan hand pallet.
Dalam satu hari, penggilingan mie hancur halus dapat menghasilkan ± 4-6 pallet yang jumlahnya bisa mencapai ± 2-3 ton/hari dan dalam seminggu dapat menghasilkan limbah mie hancur halus sebanyak ± 12 ton. Limbah mie hancur halus tersebut akan dijual kepada CV. Horindo untuk dijadikan campuran pakan ternak.
Mie basah merupakan mie yang dihasilkan dari proses steam yang tidak berjalan secara sempurna. Selain mie basah juga terdapat mie gosong. Mie yang gosong ini disebabkan karena listrik yang padam sehingga menyebabkan mesin yang digunakan untuk penggorengan mie berhenti. Mie yang berada di dalam mesin penggorengan tidak dapat berjalan menuju mesin selanjutnya sehingga akan tertahan pada tempat penggorengan. Mie basah dan mie gosong akan dibungkus dengan menggunakan plastik besar berwarna bening kemudian ditempatkan diatas pallet lalu dibawa menuju gudang
42
sementara dengan menggunakan forklift. Limbah mie tersebut akan dijual kepada peternakan lokal.
Kemasan cup yang digunakan oleh PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Noodle
Division Cabang Pontianak terbuat dari bahan polystyrene. Kemasan polystyrene ini
memiliki sifat yang mudah patah, kaku, berwarna buram, bentuknya akan berubah pada suhu 95°C, dan mudah larut dalam lemak maupun pelarut yang lainnya (Trubus, 2010). Limbah cup akan dihancurkan dengan mesin penghancur. Cup yang dihancurkan merupakan cup yang mengalami miss print (kesalahan dalam mencetak) yaitu yang memiliki warna yang tidak sesuai, tulisan tidak jelas, kekerasannya kurang, ada bagian yang robek, dan warna tidak sesuai. Limbah cup akan dimasukkan ke dalam kantong besar berwarna bening kemudian dibawa menuju mesin penghancur cup. Mesin penghancur cup disebut dengan scrap yang memiliki pemotong seperti pisau yang menempel mengelilingi besi panjang dan akan berputar. Pemotong tersebut akan berputar sehingga cup dapat menjadi serpihan-serpihan kecil. Cup yang sudah dihancurkan menjadi serpihan kecil akan dimasukkan dalam kantong besar berwarna bening kemudian disimpan pada tempat penyimpanan sementara (TPS) khusus cup. Cup yang telah tersimpan nantinya akan dijual. Penghancuran cup bertujuan agar cup tersebut tidak disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Semua limbah yang berada di gudang penyimpanan nantinya akan dijual. Limbah dalam bentuk etiket dan karton akan dikirim kembali ke Jakarta untuk diolah kembali. Limbah tersebut akan dimuat dalam kontainer yang sebelum mengangkut limbah dan sesudah mengangkut limbah harus dilakukan penimbangan terlebih dahulu. Limbah mie yang berasal dari produksi sebelum dibawa menuju tempat penggilingan juga harus ditimbang terlebih dahulu. Penimbangan tersebut berlangsung ditempat penimbangan yang berada di dekat pintu keluar PT.Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Noodle
Division Cabang Pontianak. Pengangkutan limbah-limbah tersebut dapat berlangsung
8-9 kali dalam 1 bulan menggunakan kontainer. Dan untuk satu minggu biasanya pengangkutan dapat berjalan 1-2 kali. Kontainer merupakan kemasan yang dirancang khusus dengan ukuran tertentu dan dapat digunakan berulang kali untuk mengangkut sekaligus menyimpan muatan yang berada di dalamnya (Suryono 2003).
43
Limbah-limbah yang dijual merupakan limbah campuran sesuai dengan permintaan pembeli. Untuk limbah mie hancur halus akan dijual kepada peternakan lokal maupun ke CV. Horindo yang ada di Jakarta untuk dijadikan campuran dari pakan ternak. Selain itu juga dilakukan pengangkutan limbah campuran (scrap). Limbah campuran (scrap) tersebut berupa eitket, karton, dan paper core. Jumlah scrapyang diangkut ke dalam kontainer bisa mecapai 6 ton untuk sekali angkut. Satu kontainer yang berisi limbah
scrapbiasanya dihargai Rp. 600.000.- oleh PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Noodle Division Cabang Pontianak. Kontainer yang mengangkut mie hancur halus dan
juga etiket harus disegel dan segel tersebut harus sama dengan kode yang ada pada kontainer.
Penjualan mie hancur halus ke peternakan lokal maksimal 5 ton/bulan. Pengangkutan limbah untuk peternakan lokal biasanya menggunakan mobil pick up atau truk. Prosedur pembelian mie hancur halus yaitu harus memiliki izin dari RT dan RW, Kelurahan, Kecamatan, dan juga izin usaha. Setelah itu akan dilakukan survei oleh pihak PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Noodle Division Cabang Pontianak menuju tempat usaha. Kemudian dari survei tersebut pihak PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk.
Noodle Division Cabang Pontianak akan memberitahukan kepada PT. Indofood yang
berada di kantor pusat Jakarta. Ada pembatasan untuk penjualan limbah mie hancur halus ke peternakan lokal karena dikhawatirkan limbah yang dihasilkan kurang sehingga terjadi perebutan antara peternakan satu dengan peternakan yang lainnya. Mie hancur halus yang akan dijual memiliki harga Rp. 2000/kg. Paper core yang akan dijual biasanya disusun sebanyak 12 ikat/palet dengan 6 tumpukan dan satu ikat berisi 10
paper core. Hambatan yang biasanya terjadi dalam pengiriman limbah adalah tidak
tersedianya kotainer yang mengangkut.
Menurut data limbah padat non-B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Noodle Division Cabang Pontianak tahun 2018 berjumlah 1.181.744 kg. Limbah padat non-B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) tersebut antara lain mie hancur halus penggorengan, hancur halus atau hancur patah giling, hancur halus atau hancur patah kotor, mie basah, hancur halus, hancur patah, dan adonan mie. Dari data limbah tersebut yang paling banyak dihasilkan adalah mie hancur patah atau hancur halus patah giling yaitu sebesar 535.404 kg pada tahun 2018. Sedangkan limbah
44
yang dihasilkan dalam jumlah kecil dalam proses produksi yaitu limbah adonan mie yang berjumlah 38.381 kg pada tahun 2018.
Limbah non-B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) yang dihasilkan bukan dari proses produksi antara lain dihasilkan dari branch office (berupa kertas bekas, limbah pembersihan area perkantoran, bekas tempat minum), kantin (sisa makanan dan limbah pembersihan area kantin), quality control (limbah sisa sampel dan limbah pembersihan area laboratorium), lingkungan (rontokan daun dan potongan rumput/kayu/tanaman), gudang (serpihan kayu pallet, dan tali plastik), dan teknik (serpihan atau potongan material logam atau non-logam, sparepart rusak, dan sampah pembersihan area teknik). Limbah non-B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) tersebut akan dibuang ke TPS dan selanjutnya dibuang ke TPA oleh Dinas Kebersihan Kabupaten Mempawah. Untuk limbah non-B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) yang berasal dari teknik yaitu serpihan atau potongan material logam dan logam serta sparepart rusak akan dijual.
Pengelolaan limbah padat non-B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) ini ini dikategorikan sebagai sampah. Limbah padat non-B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) ini diatur dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 18 tentang Pengelolaan Sampah. Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, sampah yang dikelola berdasarkan Undang-undang ini terdiri atas sampah rumah tangga, sampah sejenis sampah rumah tangga dan sampah spesifik. Limbah padat non-B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) ini masuk dalam jenis sampah sejenis sampah rumah tangga. Sampah sejenis sampah rumah tangga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b pada Undang-undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 berasal dari kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas sosial, fasilitas umum, dan/atau fasilitas lainnya.
45 6. PENUTUP
6.1. Kesimpulan
Limbah padat non-B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) yang dihasilkan oleh PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Noodle Division Cabang Pontianak berasal dari proses produksi dan non-produksi.
Limbah padat non-B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) yang dihasilkan dari proses produksi antara lain berupa mie hancur patah, mie hancur kotor, mie basah, etiket, karton, paper core, dan cup mie.
Limbah padat non-B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) yang paling banyak dihasilkan adalah limbah mie hancur halus dan mie hancur patah.
Limbah mie hancur halus akan dijual kepada perusahaan pakan ternak yaitu CV. Horindo.
Karton, paper core, dan etiket akan dikembalikan kembali ke kantor pusat untuk diolah kembali.
Limbah padat non-B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) yang berasal dari quality
control berupa cup mie yang mengalami miss print akan dihancurkan dengan
menggunakan mesin penghancur cup. 6.2. Saran
Meningkatkan pengendalian mutu dari setiap tahapan proses produksi secara cermat dan juga efisien agar tidak menghasilkan limbah mie yang berlebih. Limbah etiket selain dapat dijual, juga dapat digunakan sebagai bahan pembuatan ecobrick. Dengan pembuatan ecobrick limbah etiket yang dihasilkan dari proses produksi di PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Noodle Division Cabang Pontianak dapat berkurang dan mengurangi sampah plastik.
46 7. DAFTAR PUSTAKA
Adriansyah et al. (2014). Pengembangan Mesin Penggiling Jagung Jenis Buhr Mill Sistem Hantaran Screw dan Penggilingan Plat Bergerigi. Seminar Nasional Sains dan Teknologi. Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta. Diakses dari
https://media.neliti.com/media/publications/174549-ID-pengembangan-mesin-penggiling-jagung-jen.pdf
Emillia. Yuliansyah. (2018). Metode Yuridis Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis di STT-PLN. Jurusan Teknik Mesin STT-PLN Jakarta. Diakses dari
http://202.159.8.148:8002/ojs/index.php/kilat/article/download/352/337/
Endang Widjajanti. Penanganan Limbah Laboratorium Kimia. Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta. Diakses dari
http://staff.uny.ac.id/system/files/pengabdian/endang-widjajanti-lfx-ms-dr/limbah.pdf
Fitri Annisa B. (2017). Karakteristik Kemasan Mi Instan Cup “Pop Mie” di PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Divisi Nodle Semarang. Program Studi Teknologi Pangan. Fakultas Teknologi Pertanian. Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang.
Diakses dari
http://repository.unika.ac.id/14004/1/KP%2014.I1.0165%20Fitri%20Annisa%20Brillia nti.pdf
Kurniadi Defri. (2014). Analisis Resiko Pada Pengoperasian Forklift Di PT XYZ Tahun 2014. Program Studi Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok, Indonesia. Diakses dari
http://lib.ui.ac.id/naskahringkas/2016-04/S56131-Defri%20Kurniadi
Pamela, L. (2016). Proses Produksi dan Evaluasi Umur Simpan Cup Noodle di PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Divisi Noodle Semarang. Program Studi Teknologi Pangan Universitas Soegijapranata. Fakultas Teknologi Pertanian. Diakses dari
http://repository.unika.ac.id/12719/1/KP%2013.70.0014%20Liem%20Pamela%20Lukit o.pdf
Ryan Leonel, et al. (2008). Optimalisasi Produksi Papper Tube Menggunakan Metode Dynamic Programming. Jurusan Matematika, FMIPA, Universitas Bina Nusantara.
Jakarta Barat. Diakses dari
http://research-dashboard.binus.ac.id/uploads/paper/document/publication/Journal/MatsTat/Vol.%2008 %20No.%201%20Januari%202008/05_Wikaria.pdf
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah. Diakses dari https://www.bphn.go.id/data/documents/08uu018.pdf
Willyanto Sahputra. Optimasi Pergerakan Kontainer Kosong Menggunakan Model Empty Container Reuse di Kota Pontianak. Program Studi Teknik Industri, Fakultas
Teknik, Universitas Tanjungpura. Diakses dari
47 8. LAMPIRAN
8.1. Denah Perusahaan PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Noodle Division Cabang Pontianak
Lampiran 1. Denah Perusahaan PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Noodle Division Cabang Pontianak
WWTP TP S LB3 R. Screw R. Mixer R. Alkali R. Ingg R.Press R.Steam R. Q C R. R. Fryer Scetoin R. Cooling R. PPIC R. Packing R. G udang Masjid Drainase R. Koperasi R. SPSI B ranch Of f ice Area Parkir
Pos Satpam P arkir
G udang FG R Staf f WHS G .Scrap G . A&P IAP Poliklinik Spare Part
Locker Wanita WC Wanita Lorong
R. Packing
Locker Pria WC Pria G . Etiket R.Kantin R. Meeting Supermie R. B oiler Ga leri P P IC & QC G . B umbu R. G enset R. Workshop Pintu Keluar RO G. T er igu R Pompa R Sparepart TPS LB 3 Gudang Batubara Gudang Batubara G udang batubara R boiler batubara Sungai Kapuas P os Secirity Hydrant TPS Non B 3
Bak penampung G udang scrap
Tanki SOG R. Staf SOG P intu Tangga Naik Tangga Naik
Tanki Tanki Tanki T P S LB3 Bat ubara
T P S LB3 Non Bat ubara Unit WWTP
48 8.2. Presensi Kerja Praktek
49