• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HASIL PENELITIAN

B. Data Pajak Penerangan Jalan

Seperti yang kita ketahui dari hasil pemungutan pajak begitu sangat membantu bagi pertumbuhan dan perkembangan bagi penerimaan Negara maupun daerah terutama bagi Kota Medan. Dan berdasarkan Observasi dilapangan, pengumpulan data-data yang ada, berikut ini adalah data-data tentang penerimaan dan target pajak penerangan jalan terhadap pajak daerah di kota Medan pada tahun 2016-2018.

Comment [L29]:

Tabel 3.2. Penerimaan dan Target Pajak Penerangan Jalan Terhadap Pajak Medan

TAHUN TARGET REALISASI PRESENTASE

2017 Rp.239.755.254.753 Rp.255.943.080.406 106,75%

2018 Rp.244.755.254.753 Rp.278.135.298.509 113,64%

2019 RP.288.821.952.000 Rp.294.962.540.702 102.12%

Sumber: Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan

C. Dasar Pengenaan Pajak Penerangan Jalan

Menurut Peraturan daerah Nomor 15 Tahun 2010 Tentang Pajak Penerangan Jalan Dasar Pengenaan Pajak Penerangan Jalan terbagi atas :

1) Dasar pengenaan Pajak Penerangan Jalan adalah Nilai Jual Tenaga Listrik.

2) Nilai Jual Tenaga Listrik yang ditetapkan pada nomor pertama ialah:

a) Tenaga listrik yang berasal dari sumber lain dengan metode pembayaran, Nilai Jual Tenaga Listrik maksudnya ialah jumlah tagihan biaya beban maupun tetap ditambah dengan biaya pemakaian kWh / variabel yang ditagih dalam rekening listrik;

b) Dalam hal tenaga listrik dihasilkan sendiri, Nilai Jual Tenaga Listrik dihitung meliputi kapasitas tersedia, tingkat penggunaan listrik, jangka waktu pemakaian listrik, dan harga satuan listrik.

D. Tata Cara Pendaftaran Pajak Penerangan Jalan 1. Pendaftaran

Bentuk pendaftaran Pajak Penerangan Jalan dilakukan bersamaan dengan proses pemasangan lampu penerangan jalan tersebut, dimana lampu penerangan jalan yang dipasang sendiri dari beberapa sektor sesuai dengan penetapan wilayah kecamatan masing-masing yang terdiri dari :

a. Sektor A

Terdiri dari kecamatan Medan Johor, Medan Selayang, Medan Baru, Medan Polonia, Medan Tuntungan, Medan Petisah, dan Medan Sunggal.

b. Sektor B

Terdiri dari kecamatan Medan Kota, Medan Maimun, Medan amplas, Medan area, Medan Tembung, Medan Denai, dan Medan Perjuangan.

c. Sektor C

Terdiri dari kecamatan Medan Belawan, Medan Labuhan, Medan Timur, Medan Marelan, Medan Barat, Medan Deli, dan Medan Helvetia.

d. Sektor Lampu Taman / air sirkulasi

Meliputi Pemasangan Lampu pada tanaman dan gedung yang meliputi semua kecamatan yang ada di Kota Medan.

Pemasangan Lampu Penerangan Jalan tersebut dilakukan oleh konsumen dari pihak perusahaan dengan pemasangan Lampu Penerangan Jalan Umum (LPJU) maupun oleh Pemerintah Kota (PEMKO) sendiri. Tahap-tahap yang dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Perusahaan

Perusahaan meminta atau memohon rekomendasi / izin kepada Dinas Pertamanan Kota Medan untuk memasang Lampu Penerangan Jalan.Dalam melakukan permintaan atau permohonan rekomendasi / izin dilampirkan KTP, gambar situasi lapangan, jenis lampu yang

dipasang, dan diketahui oleh kelurahan setempat. Lalu akan diberikan jawaban oleh Dinas Pertamanan Kota Medan melalui surat yang memuat syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh konsumen yang melakukan permohonan. Syarat-syarat tersebut memuat hal-hal berikut ini :

b. Pemasangan harus sesuai standard PLN dan Dinas Pertamanan sebagai pengawas pekerjaan.

c. Teknik pemasangan harus sesuai standard PLN dan harus dipedomani

“Petunjukan Umum Instalansi Listrik (PUIL)”.

d. Pekerjaan harus dilaksanakan, dipertanggung jawabkan oleh instalator yang sah dan terdaftar di PT.PLN (Persero) wilayah II Sumatera Utara Cabang Medan.

Adapun beberapa aturannya:

1) Pemasangan harus membentuk sudut 200 mengarah ke jalan umum dan memakai sistem instalansi jaringan udara dengan kelengkapan Box Main Panel, MCB, Switch Kontektur dan Team Switch Setelah selesai pemasangan, konsumen harus melaporkan kembali ke Dinas Pertamanan Kota Medan, meyerahkan bukti kuitansi pembayaran BP dan UJL (Biaya Peyambungan dan Uang Jaminan Langganan) serta bukti telah dipasang Kwh Meter LPJU-nya dari PLN untuk diinvestasikan.

2) Seluruh biaya material untuk pemasangan lampu / perawatan dan BP-UJL ke PLN, berikut pemasangan Kwh meternya adalah menjadi tanggung jawab pihak konsumen.

3) Dengan adanya persetujuan teknis dari PLN, maka biaya pemakaian arus listriknya setiap bulan adalan tanggung jawab Pemerintahan Kota (PEMKO) Medan.

Lalu konsumen melakukan pelaporan ke PLN, apakah pemasangan yang dilakukan memenuhi teknis atau tidak. Saat melakukan pelaporan tersebut, konsumen harus membawa surat rekomendasi / izin yang diberikan oleh Dinas Pertamanan Kota Medan. Waktu pelaporan paling lama 1 (satu) minggu. Jika memenuhi teknis akan dilakukan pemasangan oleh Dinas Pertamanan Medan. Selanjutnya PLN akan melakukan pemasukan atau pemberian arus. Pemasukan atau pemberian arus paling lama 3 (tiga) hari.

Kemudian akan dibebankan BP-UJL-nya (biaya Penyambungan Uang Jaminan Langganan). Selanjutnya data-data konsumen akan diserahkan oleh Dinas Pertamanan Kota Medan kepada Dinas Pendapatan Daerah. Kalau ada terdapat kendala yang ditemukan baik dalam proses pemasangan maupun setelahnya, konsumen melakukan pelaporan ke PLN.

E. Tata Cara Perhitungan Pajak Penerangan Jalan

Cara menghitung besarnya Pajak Penerangan Jalan

TARIF PAJAK PENERANGAN JALAN x DASAR PENGENAAN PAJAK PENERANGAN

JALAN

Comment [L30]:

Contoh:

Pemakaian listrik suatu rumah:

1. Pemakaian listrik dengan batas daya sambung = 900 Va (= 0,9 kVA) termasuk golongan tarif RI 250 s/d 900 VA = 20.000/kVA

2. Termasuk dalam biaya pemakaian Blok I : <60 jam nyala = Rp.275/Kwh 3. Termasuk dalam pemakaian Blok II : <60 jam nyala = Rp.445/Kwh 4. Termasuk dalam pemakaian Blok III : <60 jam nyala = Rp. 495/Kwh Perhitungan:

a). Biaya beban = 0,9 kVA x Rp.20.000/kVA = Rp. 18.000 b). Biaya pemakaian:

Blok I/20 Kwh x Rp.275 = Rp. 5.500 Blok II/40 Kwh x Rp.445 = Rp. 17.800 Blok III/30 Kwh x Rp.396 = Rp. 14.850 c). Sub jumlah = Rp. 55.150

d). Pajak Penerangan Jalan Umum (10 %) = 10% x Rp. 55.150 = Rp. 5.515 e.) Jumlah Tagihan Rekening Listrik = Rp. 60.665

Keterangan :

Untuk biaya beban kVA, dan biaya pemakaian listrik / Kwh ditetapkan sesuai Dengan standard tarif yang dikenakan PLN. Pajak Penerangan Jalan sebesar = Rp.5.515 harus dilaporkan dan disetor ke Badan Pengelola Pajak Dan Retribusi Daerah Kota Medan (BPPRD) oleh PLN dengan melampirkan Laporan Hasil Realisasi dan Daftar Rekapitulasi Rekening Listrik.

F. Proses Administrasi Pajak Penerangan Jalan

Pajak Penerangan Jalan yang terutang dipungut di wilayah Daerah.

Masa Pajak Penerangan Jalan ditetapkan 1 (satu) bulan. Pajak terutang dalam masa pajak terjadi pada saat pembayaran dan/atau yang seharusnya dibayarkan oleh wajib pajak , Pendataan dilakukan dengan menggunakan SPTPD. Setiap Wajib Pajak wajib menerima, mengisi dan menyampaikan SPTPD. SPTPD sebagaimana dimaksuddiisi dengan jelas, benar dan lengkap serta ditanda tangani oleh Wajib Pajak atau kuasanya dan disampaikan kepada Walikota.

Pengembalian SPTPD disampaikan kepada Walikota selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari setelah berakhirnya masa pajak. Pemungutan Pajak Daerah dilarang diborongkan, Wajib Pajak yang memenuhi kewajiban perpajakan dengan dibayar sendiri, dibayar dengan menggunakan SPTPD, SKPDKB dan/atau SKPDKBT. Pembayaran Pajak dilakukan dengan menggunakan

SSPD. Comment [L31]:

BAB IV PEMBAHASAN

A. Target kontribusi penerimaan Pajak Penerangan Jalan Pada Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah

Sesuai dengan Undang-Undang tentang otonomi daerah, Pemerintah daerah Kota Medan memiliki kewajiban untuk menggali sumber penerimaan daerah dalam melaksanakan pembangunan daerahnya sendiri. Setiap tahunnya Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) Kota Medan memiliki target penerimaan Pajak Penerangan Jalan yang akan terlealisasi pada tahun berikutnya. Berikut ini target penerimaan dan realisasi Pajak Penerangan Jalan selama tahun 2017-2019.

Tabel 4.1.Tingkat Pencapaian Pajak Penerangan Jalan terhadap Target dan Realisasi Penerimaan Pajak Penerangan Jalan dari tahun

TAHUN TARGET REALISASI PRESENTASE KETERANGAN

2017 Rp.239.755.254.753 Rp.255.943.080.406 106,75% Tercapai 2018 Rp.244.755.254.753 Rp.278.135.298.509 113,64%. Tercapai 2019 RP.288.821.952.000 Rp.294.962.540.702 102.12% Tercapai

B. Realisasi Penerimaan Pajak Penerangan Jalan di Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) Kota Medan

1. Target dan Penerimaan Realisasi Pajak Penerangan Jalan Dalam Kamus Pajak, “Penerimaan” adalah penghasilan yang diperoleh oleh pemerintah yang bersumber dari pajak rakyat.Dalam hal ini, untuk memperolehnya secara maksimal diperlukan target agar perolehan pajak dapat

terealisasi dengan baik seperti peningkatan mekanisme yang bagus dan pengelolaan yang baik.

Namun adakalnya target tersebut tidak dapat dicapai atau tidak sesuai dengan realisasi dan bahkan ada juga yang melampaui target yang telah ditentukan. Sama halnya dalam penentuan Target penerimaan Pajak Penerangan Jalan. Pemerintah Daerah pun menetapkan target yang hendak dicapai. Agar lebih jelas, Peneliti akan menjelaskan Target dan Realisasi Penerimaan Pajak Penerangan Jalan Pada BPPRD pada tabel 4.1

Berdasarkan tabel 4.1 target dan realisasi penerimaan Pajak Penerangan Jalan pada BPPRD Selama 3 (Tiga) tahun terakhir, adalah sebagai berikut :

1. Realisasi Penerimaan Pajak Penerangan Jalan pada tahun 2017 mencapai target yang telah ditentukan. Dari target Rp..239.755.254.753 yang terealisasi Rp. 255.943.080.406 dengan presentase 106,75%.

2. Realisasi Penerimaan Pajak Penerangan Jalan pada tahun 2018 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya dan telah mencapai target yang telah ditentukan dari target Rp.244.755.254.753 yang terealisasi Rp.278.135.298.509 dengan presentase 113,64%.

3. Realisasi Penerimaan Pajak Penerangan Jalan pada tahun 2019 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya dan telah mencapai target yang telah ditentukan dari target RP.288.821.952.000 yang terealisasi

Rp.294.962.540.702 dengan presentase 102.12%. Comment [L32]:

C. Upaya-upaya Peningkatan Pajak Penerangan Jalan

Upaya mengatasi masalah yang dihadapi dalam Pajak Penerangan Jalan tersebut, tentu ada langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengantisipasinya. Dengan menentukan langkah-langkah untuk mengantisipasinya dapat mengurangi atau memperbaiki masalah-masalah yang terjadi agar tidak terulang lagi untuk kesekian kalinya Karen bisa merugikan bagi sektor Pajak Penerangan Jalan tersebut. Langkah-langkah yang diambil tersebut dapat diwujudkan dalam melakukan upaya-upaya peningkatan Pajak Penerangan Jalan tersebut. Adapun upaya-upaya peningkatan yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Adanya peningkatan bagi penunggakan pembayaran rekening listrik. PLN memberikan TUL (Tata Usaha Langganan) VI. Dimana TUL VI ini sifatnya ialah berupa surat peringatan. Waktunya maksimal 6 (enam) hari harus sudah ditanggapi oleh konsumen atau pelanggan. Jika tidak ditanggapi akan dilakukan pemutusan sambungan arus listrik.

2. Peningkatan pelayanan terhadap konsumen. Salah satu peningkatan pelayanan terhadap konsumen ini ialah mengatasi gangguan listrik sehingga dapat berkurang. Misalnya dari gangguan listrik dengan presentase 20%

menjadi 5%.

3. Menggalakan operasi penerbitan listrik-listrik liar. Hal ini dilakukan untuk mengurangi pemasangan listrik-listrik liar yang dilakukan masyarakat.

Sehingga mengurangi kerugian rekening listrik-listrik liar tersebut yang tidak dibayarkan oleh masyarakat.

4. Pemerintah menetapkan kenaikan TKL (Tarif Dasar Listrik) sesuai Keputusan Presiden. Dengan naiknya tarif TDL tersebut maka otomatis naik juga tarif Pajak Penerangan Jalan.Sehingga dapat meningkatkan jumlah pemasukan Pajak Penerangan Jalan yang dibayar melalui rekening listrik.

5. Pemasangan kWH meter. Kwh meter sebagai kawat arus pembatas, dengan tujuan meningkatkan pendapatan tetapi mengurangi besarnya tagihan PLN, sehingga tidak memberatkan masyarakat. Dengan kata lain sama-sama menguntungkan kedua pihak.

1. Sanksi terhadap yang wajib pajak dalam Pajak Penerangan Jalan

Wajib Pajak yang karena kealpaannya tidak menyampaikan SPTPD atau mengisi dengan tidak benar atau dengan tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan daerah dapat dipidana dengan pidana kurungan atau pidana denda sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan. Wajib Pajak yang dengan sengaja tidak menyampaikan SPTPD atau mengisi dengan tidak benar atau dengan tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan Daerah dapat dipidana dengan pidana penjara atau pidana denda sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan. Tindak pidana di bidang perpajakan daerah tidak dituntut setelah melampaui jangka waktu 5 (lima) tahun sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya masa pajak atau berakhirnya bagian tahun pajak atau berakhirnya tahun pajak yang bersangkutan. Pejabat atau tenaga ahli yang dihunjuk oleh Walikota yang karena kealpaannya tidak memenuhi kewajiban merahasiakan hal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau pidana denda

Comment [L33]:

Comment [L34]:

paling banyak Rp 4.000.000 (empat juta rupiah). Pejabat atau tenaga ahli yang dihunjuk oleh Walikota yang dengan sengaja tidak memenuhi kewajibannya atau seseorang yang menyebabkan tidak dipenuhinya kewajiban pejabat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) dan ayat (2) di pidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) tahun dan pidana denda paling banyak Rp 10.000.000 (sepuluh juta rupiah). Penuntutan terhadap tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) hanya dilakukan atas pengaduan orang yang kerahasiannya dilanggar. Tuntutan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai dengan sifatnya dalam menyangkut kepentingan pribadi seseorang atau badan selaku Wajib Pajak, karena itu dijadikan tindak pidana pengaduan. Denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 dan Pasal 36 ayat (1)

dan ayat (2) merupakan penerimaan negara. Comment [L35]:

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian-uraian yang telah dimuat, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Dalam melaksanakan tugasnya Badan Pengelolaan Pajak Dan Retribusi Daerah Kota Medan (BPPRD) pada Sub Bagian Penagihan, seksi penagihan dan pelaporan menerima pelaporan Pemungutan Pajak Penerangan Jalan yang dilakukan oleh PLN yang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Medan dan Dinas Pertamanan Kota Medan.

2. Berdasarkan data-data yang didapat, terlihat pada target yang ditetapkan oleh pihak Badan Pengelolaan Pajak Dan Retribusi Daerah Kota Medan (BPPRD) dan realisasi penerimaannya banyak yang tercapai dan selalu meningkat setiap tahun.

3. Kewajiban Pemerintahan Kota Medan dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap PT. PLN yaitu dengan cara mensosialisasikan pelanggan PT.

PLN mengenai pengertian Pajak Penerangan Jalan, dasar hukum kewenangan Pemko Medan mengenakan Pajak Penerangan Jalan, dasar hukum kewenangan PT. PLN (PERSERO) memungut PPJ, besaran tarif PPJ, serta keberadaan kerjasama antara kedua belah pihak.

4. Berdasarkan data yang diperoleh menunjukaan bahwa Penerimaan Pajak Penerangan Jalan memiliki kontribusi yang besar bagi Pendapatan Asli Daerah Kota Medan

5. Terdapat masih adanya hambatan-hambatan yang menjadikan penerimaan Pajak Penerangan Jalan kurang maksimal, seperti pemasangan listrik liar seperti mengambil dari Listrik Lampu Penerangan Jalan Umum yang bertujuan agar tidak terdata oleh PLN.

6. Dengan adanya hambatan dalam memaksimalkan penerimaan Pajak Penerangan Jalan dilakukanlah upaya-upaya peningkatan Pajak Penerangan

Jalan seperti peningkatan pelayanan terhadap konsumen, menambah pekerja dan lansung terjun ke lapangan untuk meminimalisir penggalakan listrik liar.

B. Saran

Untuk memperlancar penerimaan pajak penerangan di Kota Medan pada kedepannya, penulis memberikan saran agar dapat menjadi bahan masukan, yaitu:

1. Dalam menetapkan target Pajak Penerangan Jalan pada tahun-tahun yang akan datang, hendaknya benar-benar melihat atau meninjau kembali kondisi di lapangan. Sejauh mana target dapat ditetapkan untuk mencapai realisasi penerimaan yang baik.

2. Adanya peningkatan pelayanan terhadap konsumen selaku pelanggan pembayaran rekening listrik, dengan memberikan sarana dan prasarana yang baik.

3. Diharapakan bagi Badan Pengelolaa Pajak dan Retribusi Kota Medan sebagai mitranya memaksimalkan kerja agar dapat meminimalkan masalah-masalah dilapangan yang sering terjadi.

4. Menambah dan memperluas jangkauan pengguna lisrik seperti kedaerah-daerah terpencil maupun kedaerah-daerah yang belum menggunakan listrik agar dapat memaksimalkan realisasi penerimaan pajak penerangan jalan serta juga dapat memberi dampak positif bagi daerah yang daerahnya belum terjangkau listrik.

Comment [L36]:

Comment [L37]:

DAFTAR PUSTAKA

BUKU :

Bambang Prasetyo dan Lina Miftahul Jannah, Metode Penelitian Kuantitatif, Jakarta:: PT Raja Grafindo Persada, 2006, hlm. 65

Mardiasmo. 2009. Perpajakan Edisi Revisi Tahun 2009. Yogyakarta: Andi Offset.

. 2009. Akutansi Sektor Publik. Yogyakarta: Andi Offset.

Resmi, Siti. 2003. Perpajakan Teori dan Kasus. Jakarta: Salemba Empat.

Soemitro, Rochmat; Kania, Dewi. 2016. Asas Dan Dasar Perpajakan. Jakarta:

Refika Aditama Sugiyono, op. cit, hlm. 199.

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN :

Undang-Undang No.18 Tahun 1997 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Undang-undang No.28 tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah

Pajak Penerangan jalan

Peraturan daerah Nomor 15 Tahun 2010 Tentang Pajak Penerangan Jalan Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2015 Tentang Pajak Daerah Kota Medan INTERNET :

https://www.kemenkeu.go.id/apbn2017 (diakses 2 juni 2020)

https://www.bpkp.go.id/perekonomian/konten/263/penerimaan-negara-bukan-pajak.bpkp (diakses 2 juni 2020)

perpajakan.studentjournal.ub.ac.id (diakses 8 juni 2020) E-BOOK :

Pemerintah Indonesia. 2009. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah. Lembaran Negara Republik Indonesia, No 5049. Jakarta.

Putra, W.E., & Sumanda, K. 2016. MODUL AJAR PENGANTAR PERPAJAKAN.

Jambi: Salim Media Indonesia.

Isroah. 2013. PERPAJAKAN. Yogyakarta: Badan Pengelola dan Pengembangan Usaha Universitas Yogyakarta. 2011 Tentang Pajak Restoran. Berita Daerah Kota Medan Tahun 2017, No 8.

Medan Comment [L38]:

Dokumen terkait