4.3. Hasil Data Pendukung
4.3.1 Data Pendukung Observasi
a. Observasi Riset Partisipan P1 dan P2
Pada saat peneliti melakukan observasi rumah
kedua partisipan, peneliti melihat kondisi rumah kedua
partisipan sangat kekurangan ventilasi udara dikamar,
seperti kamar kedua partisipan yang tidak mempunyai
ventilasi udara, sehingga kurang mendapatkan
pencahayaan pada siang hari. Hasil data-data pada
saat peneliti melakukan observasi seperti ruang tamu,
kamar, terlampir dihalaman lampiran.
4.4 Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui faktor
penyebab TB MDR di RSPAW Salatiga. Dalam penelitian ini
ditemukan bahwa sebagain besar dari kedua partisipan memiliki
faktor penyebab yang sama terkait dengan TB MDR, untuk
mengetahui faktor penyebab TB MDR akan dirangkum dalam
enam tema besar yang akan dibahas oleh peneliti, yaitu : (1)
Pengetahuan, (2) Sikap, (3) Ekonomi Rendah, (4) Jarak yang
jauh , (5) Pengawasan minum obat, (6) Dukungan Keluarga
peneliti berdasarkan tujuan penelitian untuk mencari tahu faktor
penyebab TB MDR di RSPAW Salatiga.
4.4.1 Pengetahuan
Berdasarkan analisa hasil penelitian diketahui
bahwa kedua partisipan memiliki pengetahuan yang
kurang tentang penyakit TB MDR yang mereka derita,
pengetahuan tersebut didapatkan setelah mendapatkan
penjelasan dari petugas kesehatan.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Maesaroh
(2009), bahwa kurangnya pengetahuan penderita dapat
menyebabkan ketidakpatuhan berobat pada penderita TB
serta dapat kambuh dengan kuman yang resisten
terhadap OAT (Obat Anti Tuberkulosis). P1 dan P2
mengatakan bahwa sebelumnya mereka tidak mengetahui tentang TB MDR. Pengetahuan tersebut
diketahui ketika mendapatkan penjelasan dari tenaga
kesehatan.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Erawatyningsih, dkk (2012) yang
mengatakan bahwa tingkat pengetahuan penderita yang
rendah akan berisiko lebih dari dua kali terjadi kegagalan
memiliki pengetahuan tinggi. Ketidakpatuhan pengobatan
ini meliputi keteraturan pengobatan, pemeriksaan dahak
ulang pada akhir pengobatan fase awal dan satu bulan
sebelum akhir pengobatan fase lanjutan. Kepatuhan
adalah kesesuaian antara perilaku pasien dengan
ketentuan yang diberikan obat sesuai jangka waktu yang
ditentukan dan rutin kontrol ke instansi kesehatan.
Peneliti berpendapat bahwa kurangnya
pengetahuan tentang TB akan menyebabkan
keterlambatan dalam pemberian terapi pengobatan dan
mengakibatkan resistance terhadap obat anti
tuberkulosis. Dalam penelitian terdahulu didapati bahwa pengetahuan pasien berkaitan erat dengan kepatuhan
berobat. Pengetahuan yang kurang, tentu saja
berpengaruh pada saat pasien melakukan pengobatan.
Sedangkan pengetahuan, dalam penelitian ini peneliti
mendapati bahwa begitu minimnya pengetahuan pasien
akan penyakit yang dideritanya. Hal ini dikarenakan
kurangnya pendidikan kesehatan yang diberikan, seperti
penyuluhan tentang TB khusunya TB MDR baik di rumah
sakit ataupun puskesmas. Pengetahuan pasien sebelum
terdiagnosa MDR hanyalah pengetahuan umum tentang
pasien terkena TB MDR. Sehingga membutuhkan waktu
yang lama dalam melakukan proses pengobatan dan
harus melakukan pengobatan dari tahap awal.
4.6.1 Sikap
Dari hasil penelitian menunjukan bahwa P2
mengungkapkan beberapa alasan yang mempengaruhi
perilaku pengobatan yaitu setelah mendapatkan
pengobatan dan merasakan gejala dan kondisi fisik mulai
membaik sehingga menyebabkan untuk memberhentikan
pengobatan. Merujuk pada teori Green, (2005) yang
menyatakan bahwa, sikap merupakan faktor predisposisi untuk terjadinya suatu perilaku seseorang bersikap
negatif atau kurang setuju terhadap suatu pengobatan,
akan mendorong penderita tersebut untuk berperilaku
tidak patuh dalam berobat ulang maupun dalam hal
minum obat. Hal ini juga didukung oleh Zoebir (1997)
dalam Rosiana (2013). Perilaku berobat akan terjadi
bila hilangnya atau kurangnya gejala penyakit,
merupakan ukuran kesembuhan bagi penderita
sehingga penderita menghentikan pengobatannya.
Disamping hal tersebut, berat atau ringannya gejala
Selain dikarenakan gejala penyakit mulai membaik atau
berkurang ada hal lain yang menyebabkan perilaku tidak
patuh dalam berobat yaitu efek samping obat.
P1 dan P2 mengatakan salah satu yang
membuat mereka memberhentikan pengobatan jangka
panjang yaitu karena tidak kuat dengan efek samping
OAT yang diminum, karena setelah mengkonsumsi obat
mereka selalu berimajinasi dan kadang sampai hilang
kesadaran. Pendapat ini berkaitan dengan Safarino
(1990) dalam Maesaroh (2009), mengatakan bahwa
ketidakpatuhan menelan obat dapat menurunkan efek
samping obat. Dapat diartikan ketidakpatuhan dalam menelan obat bisa berawal dari adanya efek samping
obat yang dirasakan, tidak jauh berbeda dengan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Erawatyningsih, dkk
(2012) bahwa ada pengaruh signifikan antara efek
samping obat dengan ketidakpatuhan berobat penderita
TB paru. Hasil penelitian ini menunjukkan, adanya
keterkaitan antara keluhan penderita dengan kepatuhan
penderita untuk berobat. Dengan kata lain, semakin
banyak keluhan penderita sebagai akibat dari efek
samping obat, maka semakin besar kemungkinan
Pada umumnya gejala efek samping obat yang
ditemukan pada penderita adalah sakit kepala,
mual-mual, muntah serta sakit sendi tulang. Gejala efek
samping OAT dapat terjadi pada fase awal pengobatan.
Hal ini juga didukung oleh teori Notoadmojo (2007)
yang mengatakan bahwa sikap merupakan faktor
predisposisi untuk terjadinya suatu perilaku seseorang,
sikap negatif atau kurang setuju terhadap suatu
pengobatan akan mendorong penderita tersebut
berperilaku tidak patuh dalam berobat.
Dalam kaitannya dengan penelitian ini, perilaku kedua partisipan tergambar dalam sebuah sikap tidak
patuh. Sikap tidak patuh tersebut meliputi kebiasaan
merokok dan mengabaikan perintah dokter. Kebiasaan
merokok tersebut bagi peneliti merupakan sebuah sikap
negative atau kurang setuju yang diperlihatkan partisipan
baik secara tidak sadar maupun sengaja terhadap suatu
pengobatan. Sikap seperti ini akan mendorong perilaku
tidak patuh dalam berobat, karena meskipun telah
dilarang, partisipan tetap saja melakukan kebiasaan
tersebut. Selain itu, sikap tidak patuh yang kedua adalah
dan menghentikan pengobatan yang tidak sesuai dengan
anjuran dokter. Padahal, kesembuhan seorang pasien
ditentukan melalui pemeriksaan medis terhadap penyakit
yang diderita pasien.
Selain itu juga yang menyebabkan perilaku tidak
patuh disebabkan efek samping Obat anti tuberkulosis
(OAT) yang diminum, OAT yang diminum setiap hari
menimbulkan banyak keluhan dari penderita seperti
mual, hilangnya nafsu makan, dan hilangnya kesadaran
seperti yang dialami oleh partisipan kedua. Sehingga
menimbulkan rasa khawatir ketika mengkonsumsi OAT.
4.6.3 Ekonomi Rendah
Pada penelitian ini peneliti mendapatkan satu
masalah yang mempengaruhi ketidakpatuhan dalam pengobatan TB MDR yaitu ekonomi. Berdasarkan hasil
wawancara dari kedua partisipan, P1 dan P2
menyatakan bahwa setelah terdiagnosis TB MDR
mereka tidak mempunyai penghasilan tetap dan hanya
bergantung kepada keluarga untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari serta tidak mempunyai askes. Sehingga harus
menggunakan biaya sendiri untuk melakukan
transportasi. Hal ini sejalan dengan penelitian
Erawatyningsih,dkk (2012) yang mengatakan bahwa ada
pengaruh signifikan antara pendapatan terhadap
ketidakpatuhan berobat pada penderita TB. Pendapatan
yang rendah dapat menyababkan ketidakpatuhan
penderita dalam berobat. Penderita TB paling banyak
menyerang masyarakat yang berpenghasilan rendah,
sehingga dalam pengobatan TB selain penghasilannya
untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, mereka
harus mengeluarkan biaya transportasi untuk berobat di
puskesmas. Hal ini yang menyebabkan mereka tidak
patuh dalam pengobatan. Disisi lain sosial ekonomi juga
mempengaruhi kemampuan pembiayaan dalam bidang
kesehatan karena masih terfokus kebutuhan pokoknya.
Peneliti berpendapat bahwa status ekonomi
mempengaruhi dalam melakukan pengobatan. Hal
tersebut dikarenakan kedua partisipan karena tidak
mempunyai pengasila serta tidak mempunyai askes. Hal
tersebut yang menyebabkan penderita TB MDR tidak
patuh dalam melakukan pengobatan karena masih
terfokus untuk memenuhi kebutuhan pokok. Sehingga
pemeriksaan rotgen, pemeriksaan dahak, dan biaya
kehidupan sehari-hari dipenuhi oleh keluarga.
4.6.4 Jarak yang jauh
Pada penelitian ini, ditemukan juga faktor lain yang
menyebabkan tidak patuh dalam minum obat dan
melakukan pemeriksaan. Hal itu diungkapkan P2
mengatakan bahwa selain faktor pengetahuan, perilaku,
dan ekonomi, Salah satu faktor yang menghambat
dalam proses pengobatan menuju puskesmas ataupun
rumah sakit, adalah jarak yang jauh. Menurut P2 jarak
rumah yang lumayan jauh dari akses pelayanan kesehatan seringkali muncul sikap malas berobat.
Pernyataan diatas berkaitan dengan pendapat Astuti
(2008) yang mengatakan bahwa kesulitan akses
pelayanan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tidak
adanya kemampuan sarana ekonomi dikarenakan biaya
kesehatan yang mahal, kondisi geografis yang sulit
untuk menjangkau sarana kesehatan. Peneliti
berpendapat semakin jauh jarak yang ditempuh oleh
penderita dalam mengakses pelayanan kesehatan maka
dan akan menimbulkan sikap malas untuk melakukan
pengobatan.
4.6.5 Pengawasan minum obat
Menurut Depkes RI (1999) PMO (Pengawas Minum
Obat) adalah seseorang yang ditunjuk dan dipercaya
untuk mengawasi dan memantau penderita TB dalam
meminum obatnya secara teratur dan tuntas. PMO bisa
berasal dari keluarga, tetangga, kader atau tokoh
masyarakat atau petugas kesehatan.
Pengawasan minum obat merupakan kegiatan yang
dilakukan untuk menjamin kepatuhan penderita
penderita untuk minum obat sesuai dengan dosis dan
jadwal yang telah ditetapkan. Berdasarkan hasil
penelitian, ada perbedaan P1 dan P2 dalam pengawasan minum obat dimana P1 selalu diawasi oleh
petugas Kesehatan. Sedangkan P2 diawasi oleh suami.
Dalam prakteknya, P2 selalu teratur minum obat
dikarenakan ada pengawasan dari suami yang sering
mengontrol serta mengingatkan jadwal meminum obat di
rumah.
Hal ini juga didukung oleh WHO (1998) dalam
minum obat) adalah orang pertama yang selalu
berhubungan dengan pasien sehubungan dengan
pengobatannya. PMO bertugas untuk mengingatkan
agar pasien meminum obat, mengawasi sewaktu
menelan obat, membawa pasien untuk kontrol secara
berkala, dan menolong pada saat ada efek samping. Hal
ini juga didukung oleh teori Mangunnegoro dan
Suryatenggoro (1994) bahwa dalam pengawasan
pengobatan, petugas harus mengikut sertakan keluarga
supaya pasien dapat berobat secara berkelanjutan.
Dukungan keluarga dan masyarakat mempunyai andil
yang besar dalam meningkatkan kepatuhan penderita.
Namun demikian, peneliti berpendapat bahwa tidak
menutup kemungkinan terjadi kegagalan. Hal ini
dikarenakan faktor yang mempengaruhi kesembuhan
TB tidak hanya dari kinerja PMO saja melainkan dari
faktor pasien, faktor lingkungan serta kepatuhan untuk
minum obat dan pemeriksaan rutin untuk memantau
perkembangan pengobatan. Faktor lingkungan yang
bersih sangat terkait dengan keberadaan kuman dan
proses timbul serta penularan. Faktor perilaku sangat
berpengaruh pada kesembuhan yang dimulai dari
rokok dan alkohol. Hal ini didukung oleh Kulsum (2014),
menyatakan bahwa pengawas menelan obat merupakan
faktor eksternal yang ada di lingkungan individu yang
akan berpengaruh terhadap menyelesaikan seluruh
pengobatannya hingga tuntas, mengingat jangka waktu
pengobatan yang cukup lama sehingga berpotensi
terhadap ketidakteraturan dalam pengobatan.
4.6.6 Dukungan keluarga pada pasien penderita TB MDR
Hasil penelitian ini juga menunjukan bahwa
dukungan keluarga tidak ada pengaruh terhadap
kepatuhan dalam menjalani pengobatan, dikarenakan P1 dan P2 selalu mendapatkan motivasi dan dukungan
dari keluarga untuk dapat menyelesaikan pengobatan
secara tuntas.
Friedman (1998) dalam dhewi, dkk (2012)
mengungkapkan bahwa keluarga memiliki peran seperti
memberikan dukungan dan mengajarkan segala
sesuatu untuk mempersiapkan anggota keluarga
berhubungan dengan orang lain dalam
mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga
agar tetap memiliki produktivitas tinggi. Sedangkan
terhadap penderita merupakan faktor penguat agar tetap
berperilaku patuh dalam menjalankan pengobatan. Ini
berarti bahwa sikap keluarga merupakan motivasi untuk
mendorong penderita dalam melakukan pengobatan
serta meningkatkan kepatuhan berobat.
Dalam penelitian ini peneliti berpendapat
bahwa dukungan dari keluarga sangat mempengaruhi
tingkat keberhasilan keluarga, Hal ini dikarenakan saat
menjalani proses pengobatan penderita sangat
membutuhkan orang terdekat seperti keluarga, ataupun
suami untuk memberikan dorongan atau motivasi
selama menjalani proses pengobatan, sehingga mendukung perilaku untuk patuh dalam menyelesaikan
pengobatan sampai tuntas.