• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Gambaran Umum Wilayah Kota Majene

2. Data Penelitian

70

71 Jumlah Luasan Eksisting RTH

Publik

307 6,82

Luas Kota Majene 4.495 100

Sumber : BLH dan Hasil Survey, Tahun 2017

Dari hasil identifikasi diatas diketahui bahwa Ruang Terbuka Hijau Publik Kota Majene sekarang ini hanya 6,82 % atau 307 Ha dari luas wilayah perkotaan.

Sesuai hasil bahwa RTH Publik belum tercapai sesuai standar yang mewajibkan setiap wilayah harus menyediakan minimal 20 % dari luas wilayah Kota atau Kabupaten. Untuk lebih jelas tentang kondisi dan fungsi jenis RTH Publik yang ada saat ini sesuai pembahasan berikut :

i. Hutan Kota

Kota Majene dilihat dari bentuk topografi yang bergelombang hingga berbukit, sehingga nampak kawasan hutan yang terbentang luas. Berdasarkan data dalam angka menurut wilayah kecamatan, kawasan hutan Lindung di Kota Majene khususnya di Kecamatan Banggae Timur, seluas 93 Ha atau 2,10 % dari luas wilayah Kota Majene dan berfungsi sebagai sistem sirkulasi paru-paru kota (fungsi ekologis), dan adapun fungsi tambahan adalah sebagai sumber penghasilan. Dari hasil wawancara baik dengan masyarakat maupun dengan istansi terkait, bahwa sebagian besar lahan di Kota Majene telah dimiliki oleh perorangan dan badan usaha swasta dan selebihnya dikuasai oleh pemerintah atau tanah Negara. Dengan demikian, kawasan hutan kota yang ada saat sekarang ini adalah terdapat di Kelurahan Baurung (i) dan Kelurahan Labuang (ii), dimana merupakan milik Negara dan berfungsi sebagai penyangga kawasan dan resapan air. Selain itu, dari hasil survey lapangan, terdapat beberapa kawasan yang nantinya dapat dijadikan sebagai alternatif kawasan

72 hutan kota, salah satunya adalah disekitar Kelurahan Baurung dimana lokasi vegetasi yang paling banyak dari persentase yang ada di Kota Majene.

ii. Taman Kota dan Lapangan Olahraga

Berdasarkan dari hasil survey lapangan, bahwa taman kota yang ada saat sekarang ini di Kota Majene terdapat di 4 (empat) lokasi, masing-masing (i) Kelurahan Baurung (Taman Segitiga dekat SD), (ii) di Kelurahan Banggae (wilayah pesisir, dekat Terminal), (iii) taman yang terletak di Kel. Pangaliali (wilayah Pesisir), (iv) Taman di Kel. Labuang (Taman Segitiga).

Pada umumnya, taman kota yang ada di Kota Majene tergolong prasarana rekreasi pasif atau belum dimanfaatkan untuk kegiatan lain yang berorientasi wisata, seperti berolahraga dan seni. Taman kota yang ada saat sekarang ini memiliki patung sebagai ornament estetika yang berfungsi membentuk keindahan lingkungan kota, seperti di taman Kelurahan Baurung (Taman Segitiga dekat SD) yang memiliki patung Laki-laki dan perempuan, dan taman di Kel. Pangaliali (wilayah Pesisir), yang memiliki ornamen perahu (Sandeq). Untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) berupa lapangan bermain olahraga sepak bola, dimana juga berfungsi sebagai open space yang

Gambar 4.1 , Kondisi Hutan Kota Majene Sumber : Foto Hasil Survey Lapangan, 2017

73 difungsikan sebagai wadah objek pendidikan, pelatihan, orasi politik dan tempat beribadah yang juga banyak terdapat di wilayah perkotaan Majene, yang tersebar di Setiap kecamatan.

iii. Jalur Hijau Jalan dan Sempadan Sungai

Pemanfaatan RTH daerah sempadan sungai dilakukan untuk kawasan konservasi, perlindungan tepi kiri-kanan bantaran sungai yang rawan erosi, pelestarian, peningkatan fungsi sungai, mencegah okupasi penduduk yang mudah menyebabkan erosi, dan pengendalian daya rusak sungai melalui kegiatan penatagunaan, perizinan, dan pemantauan dan sabuk jalur jalan berfungsi untuk meredam kebisingan dan polusi.

Di Kota Majene terdapat 2 sungai sedang termasuk kanal yang melintas di tengah Kota Majene. (i) Sungai yang berbatasan langsung dengan laut, (ii) Sungai yang melintas ditengah kota Majene. Lebar sungai berkisar antara 5 sampai 25 meter dan sebagian besar sudah diberi pembatas, seperti talud

Gambar 4.2 Taman SD.

Sumber : Foto Hasil Survey Lapangan, 2017

74 ataupun tanggul. Dari pengamatan langsung di lapangan, kawasan bantaran sungai ataupun tepian sungai dimanfaatkan sebagian masyarakat untuk bermukim, sehingga terjadi pencemaran lingkungan dengan adanya buangan limbah padat maupun cair. Selain itu, terlihat adanya garis sempadan sungai terutama disekitar Sungai Abaga, Sungai Puawang, yakni; pembangunan yang belum mentaati ketentuan tentang garis sempadan sungai yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Majene.

iv. Pemakaman Umum

Pemakaman memiliki fungsi utama sebagai tempat pelayanan publik untuk penguburan jenasah. Pemakaman juga dapat berfungsi sebagai RTH untuk menambah keindahan kota, daerah resapan air, pelindung, pendukung ekosistem, dan pemersatu ruang kota, sehingga keberadaan RTH yang tertata di komplek pemakaman dapat menghilangkan kesan seram pada wilayah tersebut. Berdasarkan dari hasil pengamatan langsung di lapangan, terdapat kawasan pemakaman umum, diantaranya adalah (i) Pemakaman Islam di Kelurahan Pangaliali dan Labuang, (ii) Taman Makan Raja-raja Kelurahan Pangaliali dengan luas lahan  1 Ha, dimana kondisi jalan menuju

Gambar 4.3, Kondisi Bantaran Sungai Sumber : Foto Hasil Survey Lapangan, 2017

75 kawasan yang cukup bagus, dimana berada di atas bukit dan lingkungan permukiman penduduk, (iii) Pemakaman Umum di Kelurahan Baurung. Pada dasarnya keberadaan RTH Publik pemakaman sangat dibutuhkan dalam kawasan perkotaan sebagai lahan terbuka yang mampu memberikan nilai estetika lingkungan apabila dilakukan penataan.

b. Kurangnya pengawasan dari pemerintah

Dalam implementasinya, kebijakan Ruang Terbuka Hijau di Kota Majene tidak terlepas dari hambatan-hambatan sehingga menyebabkan sasaran program tidak tercapai dengan maksimal.

Pertumbuhan penduduk kota yang tidak terkendali menyebabkan munculnya aktivitas pembukaan lahan untuk pemukiman. Kebutuhan ruang meningkat untuk mengakomodir kebutuhan-kebutuhan penduduk kota. Meningkatnya jumlah permintaan akan ruang kota, mengakibatkan kemerosotan kualitas lingkungan.

Gambar 4.4. RTH pemakaman juga dapat berfungsi sebagai daerah resapan air, sehingga

perlu untuk dipertahankan.

Sumber : Foto Hasil Survey Lapangan, 2017

76 c. Kurangnya kesadaran masyarakat tentang ruang terbuka hijau.

Dalam penataan dan pengelolaan ruang terbuka hijau banyak pihak yang berkepentingan didalamnya yakni pemerintah dan masyarakat.

Kurangnya pengawasan yang ada pada badan pengawas, mengakibatkan kurangnya kesadaran yang timbul dari masyarakat Kota Majene, mereka seharusnya ikut berpartisipasidalam merawat dan menjaga lingkungan.

Kesadaran lingkungan merupakan suatu syarat yang mutlak bagi pengembangan lingkungan secara efektif. Artinya tanpa adanya kesadaran tentang lingkungan hidup bagi manusia maka tentu pengembangan lingkungan kearah yang bermanfaat tidak akan tercapai.

Menurut salah seorang pegawai BAPPEDA Kabupaten Majene hambatan yang muncul antara lain koordinasi ke instansi yang terkait dan belum adanya keterpaduan dalam pengelolaan RTH. Mulai dari perencanaan sampai dengan evaluasi dan juga minimnyaketerlibatan para stakholder. Hal itu sebagaimana diungkapkan berikut ini :

“Belum adanya keterpaduan baik arah maupun tindak, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan. Pelibatan stakholder harus menjadi hal yang utama bagi suatu proses sebagai mekanisme pembangunan dan pengelolaan program pemerintah yang tepat.”1

Seseorang Koordinator Teknis menambahkan sebagai berikut :

1 Hasil Wawancara dengan Staf BAPPEDA Kab. Majene

77

“Masalah program, sosialisasi, anggaran dan realisasi pelaksanaan”2

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan di kota Majene mengenai tingkat kesadaran masyarakat tentang ruang terbuka hijau masih sangat kurang. Ini dibuktikan dengan adanya kerusakan fasilitas taman kota yang di kota Majene dan dari wawancara di lapangan banyak masyarakat yang belum tahu apa itu RTH dan keuntungan dengan adanya RTH .

d. Harga lahan

Kendala lain yang juga dikemukakan oleh Seksi Pengembangan Badan Lingkungan Hidup dalam implementasi kebijakan RTH di Kabupaten Majene, yaitu :

“Lahan sulit dibebaskan karena harga tanah, tata kota yang mengetahui lahan RTH yang tidak disosialisasikan”3

Berdasarakan hasil survey di kota majene kami mendapkan bahwa setelah Sulbar menjadi Provinsi ke 33 di Indonesia, dan pemerintahnya melakukan pembangunan infrastruktur berupa sarana pemerintahan harga tanah kemudian melonjak mencapai Rp500.000 per meter hingga Rp900.000 per meter,.

Harga lahan yang di rasakan tinggi oleh pemerintah Kota Majene dengan keterbatasan anggaran.

e. Status kepemilikan lahan yang bukan pemerintah

2 Hasil Wawancara dengan Koordinator Teknis BAPPEDA Kab. Majene

3 Hasil Wawancara dengan Seksi Pengembangan RTH BLH Kab. Majene

78 Bertambahnya jumlah penduduk yang tidak dibarengi dengan penambahan luas lahan menyebabkan semakin tingginya harga lahan, terutama harga lahan yang ada di kota daerah perkotaan. Namun hal ini bukan menjadi alasan bagi masyarakat untuk memiliki lahan didaerah perkotaan. Salah satu alasan masyarakat membeli lahan didaerah perkotaan yaitu karena mereka bekerja di kota tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian, kami dapat mengetahui bahwa untuk kepemilikan lahan yang ada di Kota Majene didominasi oleh lahan-lahan yang dimiliki oleh warga setempat, sehingga lahan milik pemerintah di kota majene sangat sedikit dan juga keadaan topografinya yang sebagian berbukit.

Sehingga hal inilah yang menyebabkan pemerintah susah untuk melakukan pembangunan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat.

Dokumen terkait