• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

Lampiran 5.Rekapitulasi Data Penelitian

xiv

ABSTRAK

PENGARUH SIKAP TERHADAP IKLAN DAN SOCIAL MEDIA PADA

BRAND IMAGE, BRAND ATTITUDE, DAN MINAT BELI KONSUMEN

WALL’S MAGNUM DI KOTA YOGYAKARTA Ria Utami Zuliadhani

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

2013

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana 1) pengaruh sikap terhadap iklan dan social media pada brand image, 2) pengaruh brand image terhadap brand attitude dan 3) pengaruh brand attitude terhadap minat beli konsumen es krim Wall’s Magnum.

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsumen es krim Wall’s Mag u yang berada di kota Yogyakarta. Sampel yang diambil sebanyak 100 responden dengan menggunakan teknik Purposif sampling. Teknik analis data yang digunakan adalah Regresi berganda dan Regresi sederhana.

Data hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sikap terhadap iklan berpengaruh positif pada brand image, sikap terhadap social media tidak berpengaruh positif pada brand image, brand image berpengaruh poitif pada brand attitude, dan brand attitude berpengaruh positif pada minat beli.

xv

ABSTRACT

INFLUENCE ATTITUDE TOWARD ADVERTISEMENTS AND SOCIAL MEDIA ON BRAND IMAGE, BRAND ATTITUDE, AND THE BUYING INTEREST OF CONSUMERS WALL’S MAGNUM IN YOGYAKARTA

Ria Utami Zuliadhani Sanata Dharma University

Yogyakarta 2013

This research is aimed at knowing 1) The influence of attitude on advertisement and social media towards brand image, 2) The influence of brand image towards brand attitude, 3) The influence of brand attitude towards buying interst of Wall’s Magnum ice cream consumers.

Data collection method used in the research is by distributing quesionnaires.

Population in this research is the Wall’s Magnum ice cream consumers residing in the

Yogyakarta. Sample of 100 respondents was taken by using Purposive Sampling

technique used is Multiple Regression Analysis and Simple Regression Analysis.

Result of this research shows that attitude toward advertising had a positive influence on brand image, attitude toward social media did not have positive influence on brand image, the brand image had positive influence on brand attitude, and brand attitude had positive influence on buying interest.

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang

Penelitian ini meneliti tentang salah satu produk yang fenomenal di Indonesia

yaitu Wall’s Magnum. Magnum adalah produk es krim Walls yang bernaung di bawah perusahaan multinasional unilever yang dimiliki oleh perusahaan Unilever

Inggris/Belanda, dan dijual sebagai bagian dari garis Heartbrand produk di sebagian

besar negara (dijual dengan brand Wall's di Inggris dan lainnya). Indonesia adalah

salah satu negara tujuan distribusi Magnum menyusul beberapa negara di Amerika,

Australia, dan Eropa. Selama beberapa tahun terakhir, beragam varian es krim

produksi PT Unilever ini telah berhasil menguasai pasar Indonesia. Permintaan yang

cukup tinggi dari masyarakat ini diimbangi dengan banyaknya outlet yang

disediakan, mulai dari Sabang sampai Merauke (Tribunjogja, 17 september 2012).Es

krim magnum telah memenuhi cita rasa yang unik, dan memiliki latar belakang yang

menimbulkan reaksi positif sehingga produk ini menjadi pembicaraan setiap orang.

Bila kita cermati Yogyakarta merupakan kota yang identik dengan para pendatang.

Hal ini mendorong produk-produk kuliner dapat dipasarkan dengan mudah.

Dibuktikan dengan banyaknya mahasiswa pendatang yang menuntut ilmu di

Yogyakarta, disamping itu pula banyak kuliner yang merupakan lokasi paling ramai

Untuk menjadi sebuah brand yang fenomenal tentunya diperlukan pemasaran

yang baik. Magnum, dengan fenomena brand image-nya melakukan beberapa metode

pembentukan brand image dengan komunikasi pemasaran.

Integrated marketing communication menurut America Association of

Advertising Agencies adalah “konsep perencanaan komunikasi pemasaran yang

mengakui nilai tambah suatu rencana yang komprehensif. Rencana ini mengevaluasi

peran strategis berbagai bidang komunikasi misalnya iklan umum, serta

menggabungkan bidang-bidang lain untuk memberikan kejelasan, konsistensi dan

pengaruh maksimum melalui integrasi pesan-pesan yang saling berlainan secara

mulus”.

Dalam beberapa dekade terakhir, pemasar telah menyempurnakan seni

pemasaran massal dengan menjual produk standar tinggi kepada massa pelanggan.

Dalam prosesnya, para pemasar mengembangkan teknik komunikasi media massa

yang efektif untuk mendukung strategi pemasaran massal ini. Perusahaan besar secara

rutin menginvestasikan jutaan atau bahkan miliaran dolar dalam bentuk iklan televisi,

majalah, atau media periklanan massal lain, menjangkau puluhan juta pelanggan

dengan satu iklan.

Salah satu elemen komunikasi pemasaran yang menarik pada es krim

magnum adalah advertising. Advertising merupakan salah satu bentuk promosi yang

jangkaunya yang luas dan dibuktikan bahwa pada semester I 2012, iklan di televisi

masih menjadi primadona perusahaan pengiklan. Iklan televisi berkontribusi sebesar

68 persen dari total belanja iklan, 30 persen oleh iklan koran dan media cetak, dan

sisanya radio (Tempobisnis, 19 November 2012).

Pemanfaatan berbagai situs jejaring social seperti facebook, twitter, dan web

sebagai media komunikasi juga digunakan untuk memanfaatkan komunikasi

pemasaran. Berbeda dengan konsep pemasaran secara langsung atau media offline

seperti menyebar brosur, memasang spanduk, iklan di televisi, atau radio. Aktivitas

pemasaran online didukung oleh perkembangan internet, sehingga konsumen dapat

mencari produk yang diinginkan hanya dengan membuka iklan yang dipasarkan

melalui media facebook, twitter dan web.Social media adalah tempat banyak pembeli

(pengguna internet) berkumpul sehingga penjual bisa memasarkan produknya di situs

tersebut. Semakin berkembangnya web serta situs jejaring sosial seperti facebook dan

twitter, membuat banyaknya pemasang iklan yang hijrah ke iklan online. Apalagi

setelah adanya situs-situs jejaring sosial yang banyak diminati dan secara intense

dikunjungi oleh para anggotanya. Salah satunya adalah twitter yang sedang marak

digunakan oleh hampir masyarakat global dari berbagai kalangan (Wiguna, 2009).

Dalam metode pemasaran (advertising), produk juga tidak lepas dari brand

image, brand image yang baik akan membentuk asumsi yang baik di benak

yang muncul di benak konsumen ketika mengingat sebuah brand tertentu. Asosiasi

tersebut secara sederhana dapat muncul dalam bentuk pemikiran atau citra tertentu

yang dikaitkan dengan suatu brand, yang dapat dikonseptualisasikan berdasarkan; 1)

Jenis, 2) Dukungan, 3) Kekuatan dan 4) Keunikan. Aspek penting pada brand image

ini adalah gambaran mental yang dimiliki konsumen terhadap produk (Shimp, 2003).

Salah satu ukuran dalam melihat efek iklan adalah pengaruh iklan pada sikap

(attitude affectife) konsumen. Janben (2001), mendukung pernyataan ini bahwa faktor

krusial yang menjadikan suatu iklan sukses salah satunya adalah brand attitude.

Sikap (attitude) adalah suatu mental dan syaraf sehubungan dengan kesiapan untuk

menanggapi, diorganisasi melalui pengalaman dan memiliki pengaruh yang

mengarahkan dan atau dinamis terhadap perilaku (Gordon Allport dalam Nugroho J.

Setiadi, 2003).

Berdasarkan kasus tersebut, penulis ingin membuktikan seberapa kuat pengaruh

komunikasi pemasaran dan branding terhadap Wall’s Magnum. Maka dari itu, penulis akan melakukan penelitian dengan judul “PENGARUH SIKAP

TERHADAP IKLAN DAN SOCIAL MEDIA PADA BRAND IMAGE, BRAND

ATTITUDE DAN MINAT BELI KONSUMEN WALL’S MAGNUM DI KOTA

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah sikap terhadap iklan dan sikap terhadap social media sebagai strategi

komunikasi pemasaran berpengaruh pada brand image Magnum?

2. Apakah brand image berpengaruh pada brand attitude terhadap Magnum?

3. Apakah brand attitude berpengaruh pada minat beli konsumen?

1.3 Batasan Masalah

Penelitian ini akan meneliti mengenai Integrated Marketing Communication,

khususnya pengaruh iklan, social media dan branding pada produk Wall’s Magnum.

Responden pada penelitian ini adalah para pelajar dan orang-orang yang mengetahui

Wall’s Magnum di Kota Yogyakarta (DIY).

1.4 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui pengaruh sikap terhadap iklan dan sikap terhadap

social media sebagai strategi komunikasi pemasaran pada brand image

Magnum.

2. Untuk mengetahui pengaruh brand image terhadap brand attitude

Magnum.

1.5Manfaat Penelitian

Manfaat yang akan diperoleh dari penelitian ini adalah :

1. Bagi Unilever: Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan untuk

mengembangkan komunikasi pemasaran yang lebih efektif khususnya dengan

integrated marketing communication untuk mempengaruhi minat beli

konsumen.

2. Bagi Perusahaan lain: Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi agar

7

BAB II

TINJAUAN LITERATUR DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

Bab ini akan mendiskusikan kerangka pemikiran yang menjadi landasan

perumusan hipotesis.

2.1 Integrated Marketing Communication (IMC)

Integrated Marketing Communication adalah konsep perencanaan komunikasi

pemasaran yang mengakui nilai tambah suatu rencana yang komprehensif. Rencana

ini mengevaluasi peran strategis berbagai bidang komunikasi misalnya iklan umum,

tanggapan langsung, promosi penjualan dan hubungan masyarakat, serta

menggabungkan bidang-bidang lain untuk memberikan kejelasan, konsistensi dan

pengaruh maksimum melalui integrasi pesan-pesan yang saling berlainan secara

mulus (Belch dan Belch, 2009).

IMC adalah suatu proses pengembangan dan implementasi berbagai bentuk

program komunikasi persuasive kepada pelanggan dan implementasi berbagai bentuk

program komunikasi persuasive kepada pelanggan dan calon pelanggan secara

berkelanjutan. Tujuan IMC tersebut adalah mempengaruhi atau memberikan efek

langsung kepada perilaku khalayak sasaran yang dimilikinya. IMC menganggap jalur

yang potensial untuk menyampaikan pesan di masa mendatang adalah seluruh sumber

yang dapat menghubungkan pelanggan atau calon pelanggan dengan produk atau jasa

IMC membentuk identitas merek yang kuat di pasar dengan mengikat

bersama dan memperkuat semua citra dan pesan, komunikasi pemasaran terpadu

berarti bahwa semua pesan, positioning, citra dan identitas perusahaan

dikoordinasikan melalui semua bentuk komunikasi pemasaran (Kotler dan Amstrong,

2004).

2.2 Konsep IMC

Komunikasi Pemasaran Terpadu adalah sebuah konsep pemasaran dengan

menerapkan enam strategi pemasaran secara bersama, yaitu:

2.2.1 Iklan (advertising)

Periklanan (advertising) merupakan segala biaya yang harus dikeluarkan

sponsor untuk melakukan presentasi dan promosi non-pribadi dalam bentuk

gagasan, barang, atau jasa. Tujuan periklanan adalah tugas komunikasi

tertentu yang harus dilakukan dengan audiens sasaran tertentu selama periode

waktu tertentu. Tujuan periklanan dapat digolongkan menurut keperluan

utamanya, apakah member informasi, membujuk, atau mengingatkan (Kotler

dan Amstrong, 2001)

Periklanan dapat disajikan dalam berbagai bentuk dan media sebagai

berikut: media cetak seperti; surat kabar, majalah, brosur dan leaflet seta

melaui media elektronik seperti: media audio dan media audiovisual; serta

media outdoor; billboard, signboard, umbul-umbul dan sticker (Rangkuti,

2.2.2 Pemasaran Langsung (Direct Marketing)

Penggunaan surat, telephone, faximile, e-mail dan alat penghubung

non personal lain untuk berkomunikasi secara langsung dengan mendapatkan

tanggapan langsung dari pelanggan dan calon pelanggan tertentu.

Para pemasar langsung berkomunikasi secara langsung dengan para

pelanggan, sering berdasarkan satu lawan satu, dan interaktif. Dengan

menggunakan basis data yang rinci, mereka merancang tawaran dan

komunikasi pemasaran yang mampu menanggapi kebutuhan-kebutuhan

segmen yang sudah didefinisikan secara sempit atau bahkan para pembeli

individu. Lebih dari sekedar mengembangkan merek dan citra, mereka

bisaanya mencari tanggapan pelanggan yang langsung segera, dan dapat

diukur (Kotler dan Amstrong, 2004).

2.2.3 Promosi Penjualan (Sales Promotion)

Promosi merupakan salah satu cara yang dibuthkan perusahaan dalam

meningkatkan volume penjualan. Promosi berasal dari kata promote dalam

bahasa Inggris yang diartikan sebagai mengembangkan atau meningkatkan.

Promosi mencakup semua alat-alat bauran pemasaran (marketing mix) yang

peran utamanya adalah lebih mengadakan komunikasi yang sifatnya

membujuk (Rangkuti, 2009). Promosi penjualan secara umum dapat

dibedakan menjadi dua bagian bagian: yaitu promosi penjualan yang

berorientasi kepada pelanggan (pull strategy). Promosi penjualan yang

berorientasi kepada konsumen ditujukan kepada pengguna akhir suatu barang

atau jasa yang mencakup: pemberian kupon, pemberian sampel produk,

porongan harga, undian berhadiah, kontes dan sebagainya. Instrument

promosi semacam ini dapat menarik minat konsumen untuk membeli

sehingga meningkatkan penjualan perusahaan dalam jangka pendek.

Promosi penjualan yang yang berorientasi kepada perdagangan

ditujukan kepada pihak-pihak yang menjadi perantara pemasaran, seperti

pemberian bantuan dana promosi, pengaturan atau penyesuaian harga produk,

kompetisi penjualan, pameran dagang dan sebagainya yang semuanya

bertujuan untuk mendorong pedagang untuk mempersiapkan stok dan

mempromosikan produk bersangkutan.

Adapun tujuan sales promotion adalah:

a) Meningkatkan pelanggan yang ingin mencoba dan melakukan pembelian.

b) Meningkatkan frekuensi konsumsi dan jumlah pembelian.

c) Meningkatkan penawaran untuk bersaing.

d) Meningkatkan “Cross Selling” atau sejenis produk yang dibeli.

e) Meningkatkan penggunaan merek

f) Meningkatkan citra merek dan memperkuat hubungan jangka panjang

2.2.4 Penjualan Personal (Personal Selling)

Personal selling merupakan alat promosi yang berbeda dari periklanan

Karena penjualan perseorangan menggunakan orang atau individu dalam

pelaksanaanya. Dengan demikian, komunikasi yang dilakukan orang secara

individu dapat lebih fleksibel. Hal ini adalah karena terjadi interaksi personal

langsung antara seorang pembeli. Alat komunikasi umum yang digunakan

pada personal selling adalah presentasi penjualan, pertemuan penjualan,

program intensif dan sampel wiraniaga (Rangkuti, 2009).

2.2.5 Pemasaran Interaktif

Sejak memasuki abad ke-21 kita menyaksikan perubahan yang paling

dinamis sekaligus revolusioner sepanjang sejarah pemasaran. Perubahan ini

didorong oleh kemajuan teknologi komunikasi yang memungkinkan

dilakukannya komunikasi secara interaktif melalui media massa, dalam hal ini

yang utama internet. Media interaktif memungkinkan terjadinya arus

informasi timbal balik yang memungkinkan pengguna dapat berpartisipasi dan

memodifikasi bentuk dan isi informasi pada saat itu juga. Selain berfungsi

sebagai media promosi, internet juga dipandang sebagai suatu instrument

2.2.6 Hubungan Masyarakat (Public Relations)

Salah satu kegiatan yang dilakukan humas adalah publisitas yakni

kegiatan upaya suatu organisasi agar kegiatannya diberitakan di media massa.

Kata publisitas berasal dari bahasa Inggris publicity memiliki pengertian

informasi yang berasal dari sumber luar yang digunakan media massa karena

informasi itu memiliki nilai berita.

Kegunaan Komunikasi Pemasaran menurut Prisgunanto (2006):

a) Kegunaan langsung (Direct Benefit)

Komunikasi pemasaran memiliki kegunaan agar dari hasil transfer

pesan dan persuasi tersebut tercipta gambaran yang mengarah kepada hasrat

atau keinginan beli atau menggunakan produk dan jasa yang ditawarkan.

Artinya, upaya mengarahkan langsung kepada kepuasan untuk membeli

adalah dasar pemikiran dari kegunaan pemasaran. Memang pandangan ini

masih kuno dan klasik sekali, tetapi demikianlah pada kenyataanya walau

dimodifikasi seperti apapun juga akan bermuara sedemikian.

b) Kegunaan Tidak Langsung (Indirect Benefit)

Dalam kegunaan tidak langsung, melakukan komunikasi pemasaran

merupakan keinginan untuk mendapatkan suatu tambahan yang dapat dicapai

oleh perusahaan, selain mengarahkan sikap pembelian. Jadi, jelas bahwa alas

an perusahaan merancang strategi pemasaran tidak hanya „melulu‟ karena

perubahan sikap beli pelanggan, tetapi juga membina hubungan antara

menggunakan nilai apa saja yang membuat pelanggan memilih produk mereka

dari sisi hubungan masyarakat.

2.3 Periklanan

2.3.1 Pengertian Iklan

AMA (American Marketing Association) mendefinisikan iklan sebagai

semua bentuk bayaran untuk mempresentasikan dan mempromosikan ide,

barang, atau jasa secara non personal oleh sponsor yang jelas.

Iklan adalah bentuk komunikasi tidak langsung, yang didasari pada

informasi tentang keunggulan atau keuntungan suatu produk, yang disusun

sedemikian rupa sehingga menimbulkan rasa menyenangkan yang akan

mengubah pikiran seseorang untuk melakukan pembelian.

Suatu iklan mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :

a) Public presentation

Iklan memungkinkan setiap orang menerima pesan yang sama tentang

produk yang diiklankan.

b) Pervasiveness

Pesan iklan yang sama dapat diulang-ulang untuk memantapkan

c) Amplified Expressiveness

Iklan mampu mendramatisasi perusahaan dari produknya melalui gambar

dan suara untuk menggugah dan mempengaruhi perasaan khalayak.

d) Impersonality

Iklan tidak bersifat memaksa khalayak untuk memperhatikan dan

menanggapinya, karena merupakan komunikasi yang monolog (satu arah).

Klasifikasi iklan berdasarkan aspek tujuan:

1) Pioneering advertising (informative advertising), yaitu iklan yang

berupaya menciptakan permintaan awal (primary demand),

misalnya iklan permen untuk senam wajah (sebelum terpikirkan

bagi sebagian besar masyarakat untuk melakukan senam wajah

melalui makan permen).

2) Competitive advertising (persuasive advertising), yaitu iklan yang

berupaya mengembangkan pilihan pada merek tertentu. Ada satu

bentuk iklan yang yang secara terang-terangan menunjukkan

kelebihan/keunggulan produk merek tertentu dibandingkan produk

merek lain (merek pesaing). Bentuk iklan seperti ini bisaa disebut

comparative advertising.

3) Reminder advertising, yaitu iklan yang berupaya melekatkan nama

atau merek produk tertentu di benak khalayak. Reinforcement

advertising merupakan suatu bentuk reminder advertising yang

2.3.2 Peran dan Fungsi Iklan

Menurut Shimp (2003) fungsi-fungsi iklan adalah sebagai berikut:

a) Memberikan informasi (informing)

Iklan membuat konsumen sadar akan merek-merek baru,

mendidik mereka tentang berbagai fitur dan manfaat merek serta

memfasilitasi penciptaan citra merek positif. Iklan merupakan bentuk

komunikasi yang berkemampuan menjangkau masyarakat luas dengan

biaya yang relative rendah. Iklan akan memfasilitasi pengenalan

produk, meningkatkan kesadaran dibenak konsumen serta

mengajarkan manfaat-manfaat baru dari merek tertentu.

b) Membujuk (persuading)

Iklan yang efektif akan mampu membujuk pelanggan untuk

mencoba produk yang diiklankan. Persuasi dalam hal ini adalah

mempengaruhi permintaan primer yaitu menciptakan permintaan bagi

keseluruhan kategori produk. Iklan yang dibuat harus mampu

membujuk konsumen untuk memilih merek tertentu, menganjurkan

untuk membeli produk tertentu, membujuk konsumen untuk menerima

produk yang diiklankan dan harus bisa membujuk konsumen untuk

c) Mengingatkan (Reminding)

Iklan dapat menjaga merek dari suatu produk tertentu agar

tetap segar dalam ingatan konsumen. Ketika konsumen membutuhkan

suatu produk yang diiklankan maka konsumen akan membeli produk

yang dibutuhkan tersebut. Iklan ini dapat mengingatkan konsumen

terhadap merek yang mungkin tidak akan dipilih, serta mampu

mempengaruhi pengalihan merek (brand switching).

d) Memberikan nilai tambah (Addingvalue)

Iklan berfungsi memberikan nilai tambah bagi perusahaan akan

tiga hal yang mendasar yaitu: terjadinya inovasi, penyempurnaan

kualitas dan perubahan persepsi konsumen.

e) Membantu/mendampingi upaya-upaya lain dari perusahaan

(Assisting)

Iklan dari perusahaan dapat memberikan informasi

pendahuluan kepada wiraniaga sebelum melakukan kontak dengan

konsumen. Dalam hal ini iklan digunakan sebagai alat komunikasi

untuk promosi-promosi penjualan seperti kupon-kupon dan undian.

Iklan juga dapat meningkatkan hasil komunikasi pemasaran lainnya.

Para konsumen dapat mengetahui kemasan-kemasan produk di toko dan lebih

mudah mengenali produk setelah melihat iklan produk tersebut di media iklan

Berdasarkan pembahasan diatas, periklanan merupakan salah satu cara

dalam pemasaran untuk mempromosikan barang atau jasa. Periklanan

merupakan sarana bagi komunikasi pemasaran dalam mengembangkan

produk atau jasa agar produk yang diiklankan dapat dikenal khalayak.

2.3.4 Sikap Terhadap Iklan

Sikap merupakan respon yang konsisten baik itu respon positif

maupun negatif terhadap suatu obyek sebagai hasil dari proses belajar

(Sciffman dan Kanuk, 2007). Dalam memperhatikan iklan, konsumen

pastinya juga memiliki sikap yang positif dan negatif, bisa dilihat dari

pengaruh iklan terhadap pembelian produk yang diiklankan. Menurut survey

yang dilakukan Ghozali (2007), bahwa anak muda paling mudah terpengaruh

terhadap iklan. Hal ini menunjukkan mahasiswa sebagai bagian dari anak

muda memiliki sikap yang positif terhadap iklan. Dengan demikian,

membuktikan bahwa iklan mampu mensugesti dan membentuk opini

2.4 Social media

Dalam proses periklanan, iklan didukung media promosi sebagai alat

menyampaikan informasi. Ada beberapa contoh jenis media promosi yang

berpengaruh terhadap keputusan pembelian, salah satunya melalui social

media.

Menurut wikipedia Social media adalah information content created

by people using highly accessible and scalable publishing technologies.

Sedangkan pengertian social media marketing adalah salah satu bentuk

marketing dengan menggunakan konsep social media. Memasarkan sesuatu

(product, brand, issue, etc) menggunakan social media dengan memanfaatkan

masyarakat yang turut berpartisipasi di social media dalam campaignya.

Salah satu bentuk social media yang dijadikan penelitian yaitu twitter.

Twitter adalah sebuah situs web yang dimiliki dan dioperasikan oleh Twitter

Inc., yang menawarkan jaringan sosial berupa mikroblog sehingga

memungkinkan penggunanya untuk mengirim dan membaca pesan yang

disebut tweets. Tweets adalah teks tulisan hingga 140 karakter yang

ditampilkan pada halaman profil pengguna. Tweets bisa dilihat secara luar,

namun pengirim dapat membatasi pengiriman pesan ke daftar teman-teman

mereka saja. Pengguna dapat melihat tweets penulis lain yang dikenal dengan

Gambar 2.1 Timeline Magnum 1

(Sumber: Twiiter @MyMagnumID diakses tanggal pukul 4.15 PM 23

Oktober 2012)

Gambar 2.1 adalah contoh timeline yang diberikan para „follower’

Walls Magnum kepada Walls Magnum@MyMgnumID, dalam gambar

tersebut dapat dilihat para ‘follower’ ikut serta mempromosikan ice cream magnum.

2.4.1 Sikap Terhadap Social Media

Tidak berbeda dengan sikap terhadap iklan, bila pengertian sikap

merupakan respon yang konsisten baik itu respon positif maupun negatif

terhadap suatu obyek sebagai hasil dari proses belajar (Sciffman dan Kanuk,

2007). Dalam memperhatikan iklan, konsumen pastinya juga memiliki sikap

yang positif dan negatif dari konsumen. Begitu pula sikap terhadap social

media, sikap positif dan negatif tersebut memiliki pengaruh pada sikap

terhadap social media.

2.5 Brand Image

2.5.1 Pengertian Brand Image

Brand image (Citra merek) merupakan keseluruhan persepsi terhadap

suatu merek yang dibentuk dengan memproses informasi dari berbagai

sumber setiap waktu. Brand image dibangun berdasarkan kesan, pemikiran

ataupun pengalaman yang dialami seseorang terhadap suatu merek yang pada akhirnya

akan membentuk sikap terhadap merek yang bersangkutan (Setiadi, 2003)

Berdasarkan pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa Brand image

Dokumen terkait