• Tidak ada hasil yang ditemukan

DATA PENGAMATAN N

Dalam dokumen Enzim Pengaruh Pemanasan dan Inhibtor te (Halaman 33-49)

O

PERLAKUAN HASIL KET

1.  Uji Aktivitas Enzim Amilase

 Tabung I : 2ml larutan saliva + larutan amilum 1%

 Tabung II : 2ml larutan saliva (sudah dididihkan) + 5ml larutan amilum 1%

 Tabung III : 2ml larutan saliva + 1ml larutan inhibitor + 5ml larutan amilum 1 %  Tabung IV : 1ml larutan inhibitor + 5ml larutan amilum 1%  Tabung V : 2ml akuades + 5ml larutan amilum 1%  Kemudian masing – masing tabung diinkubasi pada suhu ruang 370C selama 30menit

 Uji Benedict

 Pembagian menjadi 2 : bagian 1 diuji dengan

 Pada masing – masing tabung berwarna putih bening.

 Sebelum diinkubasi larutan lebih keruh.

 Setelah diinkubasi larutan agak encer

 Dibagi menjadi 2 bagian:

Bagian 1 (diuji dengan larutan iodine)

 Tabung I : Bening

 Tabung II : Ungu

 Tabung III : Ungu muda

 Tabung IV : Ungu muda

 Tabung V : Biru Kehitaman Bagian 2 ( diuji dengan larutan benedict)

 Tabung I : Kunig pudar

 Tabung II : Bening

 Tabung III : Bening

 Tabung IV : Bening

larutan iodine dan bagian 2 diuji dengan larutan

benedict (perlu

pemanasan)

2. Uji Aktivitas Enzim Lipase Pankreatik

 Preparasi Emulsi Lemak

2ml minyak kelapa + 10ml alcohol

Penambahan 12ml

akuades, kocok dengan cepat

Penambahan 1ml

indicator fenol merah

Penambahan 2 tetes Na2CO3 0,1M hingga campuran emulsi lemak berwarna merah muda

 Reaksi Enzim Lipase dengan Emulsi Lemak

Tabung I : 2ml larutan pankreatik + 3ml emulsi lemak

Tabung II : 2ml larutan pankreatik (telah

 Minyak kelapa larut dalam alcohol.

 Setelah ditambahkan Na2CO3 larutan berwarna merh muda.

 Reaksi Enzim Lipase dengan Emulsi Lemak

Sebelum inkubasi :

 Tabung I : kuning pekat

 Tabung II : kuning pekat

 Tabung III : kuning sedikit kemerahan

 Tabung IV : kuning kemerahan

 Tabung V : hijau muda Setelah inkubasi :

 Tabung I : kuning memudar

dididihkan 5 menit ) + 3ml emulsi lemak

Tabung III : 2ml larutan pankreatik + 3ml emulsi lemak + larutan inhibitor

Tabung IV : 2ml larutan pankreatik + 3ml larutan inhibitor Tabung V : 2ml larutan pankreatik + 3 ml akuades  Kemudian masing – masing tabung diinkubasi pada suhu ruang 370C selama 30menit

pekat

 Tabung III : tetap kuning sedikit kemerahan

 Tabung IV : tetap kuning kemerahan

 Tabung V : kuning pekat +

-+

-V. HIPOTESIS

Judul dari percobaan ini adalah “Enzim : Pengaruh Pemanasan dan Inhibitor terhadap Aktivitas Enzim”. Tujuan dari percobaan ini yakni untuk mengetahui pengaruh pemanasan dan inhibitor terhadap aktivitas enzim. Prinsipnya adalah aktivitas enzimatis terhadap pengaruh eksternal dengan metode pemanasan dan penambahan inhibitor. Hasil yang didapatkan adalah temperatur yang tinggi (pemanasan) ataupun penambahan inhibitor akan mengakibatkan terhambatnya aktivitas suatu enzim.

VI. PEMBAHASAN

Pada percobaan yang berjudul “Enzim : Pengaruh Pemanasan dan Inhibitor Terhadap Aktivitas Enzim” bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemanasan dan inhibitor terhadap aktivitas enzim. Metode dari percobaaan ini adalah penambahan inhibitor dan penginkubasian. Inhibitor adalah suatu zat yang befungsi menghambat kerja enzim dengan mengubah atau menempati sisi aktif enzim sehingga substrat tak dapat bereaksi sempurna dengan enzim (Bahagiawati, 2005). Prinsip dari percobaan ini adalah pengaruh faktor eksternal pada aktivitas enzim. Untuk mengetahui pengaruh pemanasan dan inhibitor terhadap aktivitas enzim, dilakukan dua uji yaitu uji aktivitas enzim amilase dan enzim lipase pankreatik.

6.1 Uji Aktivitas Enzim Amilase Pankreatik

Pada uji aktivitas enzim amilase bertujuan untuk mengetahui aktivitas amilase pada larutan saliva dengan di pengaruhi oleh faktor eksternal, yaitu pemanasan dan penambahan inhibitor.

Pada percobaan ini enzim amilase yang digunakan adalah larutan saliva. Larutan saliva digunakan karena dalam larutan saliva mengandung enzim amilase. Percobaan ini dilakukan dengan 5 variasi tabung dengan perlakuan yang berbeda. Hal ini bertujuan untuk membandingkan aktivitas enzim amilase. Tabung I direaksikan antara larutan saliva dengan amilum 1%, Tabung II direaksikan larutan saliva yang sudah dididihkan dengan amilum 1%. Tujuan dari pemanasan (pendidihan) larutan saliva adalah untuk mengetahui perbandingan aktivitas enzim

amilase terhadap pengaruh eksternal yaitu pemanasan. Tabung III direaksikan larutan saliva ditambah dengan larutan inhibitor dan ditambah dengan amilum 1%. Tabung IV direaksikan larutan inhibitor dengan larutan amilum 1%. Tabung V direaksikan akuades dengan larutan amilum 1%. Penambahan amilum pada kelima tabung betujuan untuk memberikan agen substrat untuk dipecah oleh enzim karena enzim amilase hanya dapat bekerja dengan substrat amilum dengan cara memecahnya menjadi glukosa-glukosa.

Kemudian kelima tabung yang berisi larutan yang berbeda diinkubasi pada suhu 370C selama 30 menit. Penginkubasian pada suhu 370C bertujuan untuk mengoptimalkan kerja enzim amilase karena enzim amilase akan bekerja secara optimal dalam suhu tubuh yaitu sekitar 370C (Poedjiadi, 1994). Setelah dilakukan penginkubasian, membagi larutan menjadi dua bagian. Satu bagian dilakukan penambahan larutan iodine yang bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya enzim amilase dalam larutan tersebut. Uji positif dari uji ini adalah larutan saliva menunjukkan bahwa terdapat enzim amilase didalam larutan yang mampu mengubah amilum menjadi sakarida sederhana (Mayes, 1985). Jika negatif, ditandai perubahan warna pada larutan menjadi ungu.

Sementara itu, satu bagian yang lainnya dilakukan penambahan larutan benedict yang bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya gula pereduksi atau monosakarida dalam sampel. Pada perlakuan ini selain diberikan penambahan reagen benedict, juga diberikan perlakuan pemanasan yang bertujuan untuk menaikkan kecepatan reaksi, karena bila beberapa molekul dalam populasi mempunyai cukup energi untuk bereaksi maka kenaikkan temperature akan

meningkatkan tenaga kinetika yang akan menaikkan kecepatan reaksi (Mayes,1985). Uji positif dari uji ini adalah terbentuknya endapan merah bata pada dasar tabung.

Pada saat pemanasan dilakukan pada penangas air yang berisikan air, bukan dilakukan langsung pada api hal ini bertujuan agar kenaikkan temperature tidak terlalu tinggi karena apabila terlalu tinggi (>400C) kemungkinan enzim akan mengalami denaturasi, sehingga enzim tidak dapat bekerja secara optimum. Suhu optimum enzim bekerja dengan baik adalah 370C (Mayes,1985).

Reaksi hidrolisis amilum dengan iodine

(Abu,2009) Reaksi glukosa dengan benedict

C H OH HO H H OH H OH CH2OH O H C H OH HO H H OH H OH CH2OH O OH Cu2O Cu++ H2O toC 2 H+ glukosa (Sumardjo, 2009) 6.1.1 Tabung I (sampel : larutan pankreatik + amilum)

Berdasarkan hasil percobaan, tabung I yang berisi larutan pankreatik dan larutan amilum 1% memberikan hasil negatif berupa warna bening pada uji iodin Warna bening pada uji iodin menunjukkan bahwa seluruh amilum telah dihidrolisis menjadi glukosa oleh enzim amilase sehingga tidak terdapat amilum pada larutan. Pada hasil uji benedict dihasilkan larutan yang beerwarna kuning pudar setelah pemanasan. Hal tersebut menunjukkan hasil positif bahwa amilum telah teridrolisis menjadi glukosa dan bereaksi dengan pereaksi benedict.

6.1.2 Tabung II (sampel : larutan saliva (sudah dididihkan) + amilum)

Tabung II yang berisi larutan pankreatik yang sudah dididihkan dan larutan amilum 1% memberikan hasil positif berupa warna ungu pada uji iodin. Warna ungu yang dihasilkan pada uji iodin menunjukkan adanya amilum pada larutan. Amilum masih terdapat dalam larutan tersebut dikarenakan enzim amilase

yang telah dipanaskan mengalami perubahan struktur, sehingga tidak bekerja optimal untuk memecah amilum menjadi glukosa.

Hasil negatif berupa larutan bening pada uji benedict. Hal tersebut menunjukkan tidak adanya glukosa dalam larutan dikarenakan kerusakan struktur enzim amilase akibat pemanasan, sehingga tidak terhidrolisis menjadi glukosa. 6.1.3 Tabung III (sampel : larutan saliva + larutan detergen + amilum)

Tabung III yang berisi larutan pankreatik, larutan amilum 1% dan inhibitor memberikan hasil positif berupa warna ungu pada uji iodin. Hal ini yang menunjukkan adanya amilum karena penambahan inhibitor yang menempati sisi aktif enzim sehingga enzim tidak dapat bereaksi untuk memecah amilum menjadi glukosa.

Berdasarkan hasil uji benedict dihasilkan larutan bening. Hal tersebut menunjukkan tidak adanya glukosa dalam larutan dikarenakan penambahan inhibitor yang dapat menempati sisi aktif enzim, sehingga enzim tidak dapat memecah amilum menjadi glukosa.

6.1.4 Tabung IV (sampel : larutan inhibitor + amilum)

Pada larutan yang ditambahkan larutan iod, setelah penambahan reagen iod, larutan menjadi bewarna Ungu muda. Uji positif ini yang menunjukkan adanya amilum karena penambahan inhibitor tanpa adanya enzim tidak akan berpengaruh terhadap pemecahan amilum, sehingga glukosa tetap terdeteksi.

Masih terdapatnya amilum dalam larutan yang akan membentuk kompleks dengan iodin karena amilum merupakan indicator yang menunjukkan

perubahan warna pada reagen iod, yakni iodine dengan amilum akan membentuk kompleks biru.

Larutan yang diberi reagen benedict larutan berubah menjadi bewarna bening. Penambahan larutan benedict bertujuan untuk mengoksidasi glukosa. Dilakukan pemanasan yang bertujuan untuk mempercepat reaksi karena dengan adanya pemanasan maka energi kinetik molekul akan meningkat sehingga gerakan partikel semakin besar dan tumbukan yang terjadi antar molekul semakin banyak sehingga reaksi berlangsung lebih cepat. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa larutan bewarna bening tanpa adanya endapan merah bata pada dasar tabung. Hal ini menunjukkan bahwa glukosa tidak terbentuk. Hal ini dikarenakan tidak adanya enzim amilase dalam larutan tabung IV sehingga amilum tidak dapat terurai menjadi glukosa dan glukosa tidak terbentuk. Hasil ini menunjukkan uji negatif. 6.1.5 Tabung V (sampel : akuades + amilum)

Sebelum penginkubasian, larutan berwarna putih bening, setelah penginkubasian larutan menjadi sedikit keruh, karena tidak ada enzim yang membantu proses pemecahan amilum menjadi sakarida sederhana. Kemudian larutan dibagi menjadi dua bagian. Bagian yang satu di tambahkan reagen iod dan yang satu ditambahkan reagen benedict.

Pada larutan yang ditambahkan larutan iod, setelah penambahan reagen iod, larutan berwarna ungu kehitaman. Adanya warna ini menunjukkan bahwa terbentuk senyawa kompleks antara amilum dengan iodin sehingga hasil ini menunjukkan uji positif. Kompleks amilum-iodin yang menunjukkan masih

adanya amilum dalam larutan tabung V dikarenakan tidak adanya enzim amilase dalam larutan tabung V sehingga amilum tidak dapat terurai menjadi glukosa dan masih terdapat amilum dalam larutan yang akan membentuk kompleks dengan iodin karena amilum merupakan indicator yang menunjukkan perubahan warna pada reagen iod, yakni iodine dengan amilum akan membentuk kompleks biru.

Larutan yang diberi reagen benedict larutan berubah menjadi berwarna bening. Penambahan larutan benedict bertujuan untuk mengoksidasi glukosa. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa larutan berwarna bening tanpa adanya endapan merah bata pada dasar tabung. Hal ini menunjukkan bahwa glukosa tidak terbentuk. Hal ini dikarenakan tidak adanya enzim amilase dalam larutan tabung V sehingga amilum tidak dapat terurai menjadi glukosa dan glukosa tidak terbentuk. Hasil ini menunjukkan uji negatif.

6.2 Uji Aktivitas Enzim Lipase Pankreatik

Tujuan dilakukannya uji ini adalah untuk mengetahui aktivitas enzim lipase pankreatik dalam memecah lipid menjadi asam lemak dan gliserol dengan berbagai variasi kondisi larutan sampel (minyak kelapa). Prinsip dari percobaan ini yaitu pemecahan lipid oleh enzim lipase pankreatik dengan metode yang digunakan yaitu pemanasan, penambahan indikator eksternal (inhibitor) dan penginkubasian.

Perlakuan awal pada percobaan ini yaitu penyiapan emulsi lemak yang dibuat dari pencampuran minyak kelapa dan alkohol ke dalam tabung reaksi. Kemudian ditambahkan aquades, kocok dengan cepat. Minyak kelapa dan aquades tidak dapat saling melarutkan karena perbedaan kepolaran diantara keduanya, dimana minyak kelapa bersifat non polar sedangkan aquades bersifat polar, oleh karena itu sebelumnya ditambahkan alkohol yang memiliki sifat semi polar yang dapat mengikat minyak maupun air. Di sini dilakukan pengocokan dengan cepat agar gaya tumbukan yang dihasilkan lebih besar sehingga larutan dapat tercampur homogen. Selanjutnya ditambahkan indikator fenol merah yang berfungsi sebagai indikator, lalu ditambahkan Na2CO3 hingga campuran emulsi lemak berwarna merah muda.

Setelah penyiapan emulsi lemak, kemudian dilakukan preparasi larutan pankreas. Larutan saliva yang digunakan sebaiknya adalah larutan saliva yang tidak mengandung makanan apapun sehingga proses pengujian lebih akurat. Tahap awal perlakuan yaitu pemanasan saliva sebanyak 2 ml untuk tabung 2 sampai terbentuk embun atau uap di dinding gelas.

Selanjutnya dilakukan penyiapan 5 tabung reaksi untuk menguji aktivitas enzim lipase pada kondisi yang berbeda-beda pada masing- masing tabung reaksi, dimana tabung I berisi larutan pankreatik dan emulsi lemak; tabung II berisi larutan pankreatik (yang sudah didihkan selama 1menit) dan emulsi lemak; tabung III berisi larutan pankreatik, larutan inhibitor, dan emulsi lemak; tabung IV berisi larutan inhibitor dan emulsi lemak; terakhir tabung V berisi aquades dan larutan pankreatik. Pada perlakuan tersebut masing-masing dilakukan penambahan emulsi lemak yang berfungsi sebagai substrat lipid yang nantinya akan dipecah menjadi asam lemak dan gliserol dengan bantuan enzim lipase. Kemudian seluruh tabung reaksi tersebut di inkubasi selama 30 menit pada suhu 37oC. Tujuan penginkubasian yaitu untuk mengetahui aktivitas enzim pada suhu optimumnya yaitu 37oC

(Mayers, 1985). Reaksi pemecahan lipid oleh enzim lipase:

H2C OH HC OH H2C OH Trigliserida Gliserol (Poedjiadi, 1994) H2C O HC C O H2C O C C R1 R2 R3 O O O

Hasil yang didapat dari kelima tabung sebelum maupun setelah inkubasi : 6.2.1 Tabung I berisi larutan pankreatik dan emulsi lemak

Larutan campuran awal berwarna kuning pekat, hal tersebut menunjukkan bahwa enzim lipase membantu pemecahan lipid menjadi asam lemak dan gliserol. Setelah penginkubasian warna larutan berubah menjadi sedikit lebih muda dari warna kuning pekat sebelumnya yang merupakan hasil positif. Perubahan warna ini menunjukkan bahwa penginkubasian pada suhu 37oC menyebabkan aktivitas enzim lipase menjadi optimal sehingga mempercepat reaksi pemecahannya membentuk asam lemak dan gliserol.

6.2.2 Tabung II berisi larutan pankreatik (sudah didihkan) dan emulsi lemak Larutan awal berupa larutan yang terpisah menjadi 2 lapisan, lapisan atas berwarna kuning kemerahan dan bagian bawah berwarna kuning pekat, sama halnya dengan enzim lipase pada tabung I yakni enzim disini membantu memecah lipid menjadi asam lemak dan gliserol, namun aktivitas enzim lipase disini tidak seoptimal seperti enzm lipase pada tabung I, karena disini enzim mengalami pemanasan sehingga konformasi enzim berubah (dari yang sebelumnya melipat menjadi terbuka).

Selanjutnya dilakukan pengocokan agar 2 lapisan tersebut menjadi homogen berwarna kuning pekat sebelum dilakukan penginkubasian. Setelah penginkubasian larutan tidak mengalami perubahan warna yakni tetap kuning pekat. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas enzim terhambat atau berkurang

dalam memecah lipid menjadi asam lemak dan gliserol karena pengaruh pemanasan sebelumnya.

6.2.3 Tabung III berisi larutan pankreatik, larutan inhibitor, dan emulsi lemak Larutan awal berwarna kuning sedikit kemerahan namun pada saat telah dilakukan penginkubasian larutan tidak menunjukkan perubahan dan warnanya tetap kuning sedikit kemerahan serta tidak terbentuk 2 fasa yang menunjukkan hasil positif. Disini seharusnya enzim lipase sukar memecah lipid menjadi asam lemak dan gliserol dikarenakan adanya inhibitor (detergen) yang ditambahkan guna menghambat aktivitas dari enzim lipase untuk memecah lipid. Namun pada saat setelah penginkubasian hasil yang diperoleh yaitu tidak terbentuknya 2 fasa yang berarti asam lemak dan gliserol pada lipid telah dipecahkan oleh enzim lipase. Hal ini mungkin dikarenakan enzim telah bekerja terlebih dahulu sebelum ditambahkannya inhibitor (detergen) sehingga dapat memecah lipid menjadi asam lemak dan gliserol.

6.2.4 Tabung IV berisi larutan inhibitor dan emulsi lemak

Larutan awal berwarna kuning kemerahan dan setelah penginkubasian warna larutannya menjadi lebih merah dari sebelumnya serta terbentuk 2 fasa yang menunjukkan hasil negatif, dimana larutan atasnya merupakan gliserol dan yang bawah merupakan asam lemak yang memiliki berat molekul lebih besar. Hal tersebut dikarenakan pada larutan tidak terdapat enzim lipase pankreatik yang dapat memecah lipid menjadi asam lemak dan gliserol.

6.2.5 Tabung V berisi aquades dan emulsi lemak

Larutan awal berwarna kuning pekat setelah penginkubasian warnanya menjadi sedikit lebih pekat dan terbentuk 2 fasa yang menunjukkan hasil negatif, hal ini dikarenakan tidak adanya substrat (emulsi lemak) pada larutan tersebut yang dapat dipecah oleh enzim lipase.

VII. PENUTUP

Dalam dokumen Enzim Pengaruh Pemanasan dan Inhibtor te (Halaman 33-49)

Dokumen terkait