V. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.7 Data Suhu Lingkungan, Suhu Tanah, dan Kelembaban
Suhu tanah merupakan faktor yang mempengaruhi perkembangan akar. Kelembaban udara juga berpengaruh dalam pertumbuhan tanaman. Hasil pengukuran suhu tanah, suhu udara, dan kelembaban seperti tertera pada Tabel 9. Tabel 9 Rekapitulasi rataan kelembaban, suhu tanah, dan suhu lingkungan
Parameter Agf 1 Agf 2 Agf 3
RH (%) 86,00 86,00 90,00
Suhu udara (oC) 25,70 24,96 25,11
Suhu Tanah (oC) 25,55 24,69 24,56
Agf 1: gmelina+suren+mahoni+cabai+jagung+buncis; Agf 2: gmelina+jagung+singkong; Agf 3: gmelina+suren+kacang tanah+jagung+singkong
27
27 Ada tiga fungsi fisiologis yang sangat dipengaruhi oleh suhu, yaitu pertumbuhan dan perkembangan, asimilasi, dan pernafasan (Heddy 1987). Menurut Dewanti (2000), tanaman akan muncul lebih cepat ke permukaan tanah, kalau suhu tanah mendekati optimum (21oC). Suhu tanah di lokasi penelitian hampir mendekati suhu optimum, yang berarti optimum pula untuk pertumbuhan tanaman di lokasi penelitian. Suhu tanah yang rendah akan berakibat absorpsi air dan unsur hara terganggu, karena transpirasi meningkat. Apabila kekurangan air ini terus menerus tanaman akan rusak. Hubungan suhu tanah yang rendah dengan dehidrasi dalam jaringan tanaman adalah apabila suhu tanaman rendah viskositas air naik dalam membran sel, sehingga aktivitas fisiologis sel-sel akar menurun.
Suhu udara juga berpengaruh terhadap proses respirasi. respirasi rendah bahkan terhenti pada suhu 0oC dan maksimal pada suhu 30–40oC. Respon respirasi terhadap suhu tidak sama pada jenis tanaman dan pada setiap tahap perkembangan tanaman. Pada tanaman tropis respirasi maksimal terjadi pada suhu 40oC dan tanaman daerah sedang respirasi maksimal 30oC. Suhu tinggi (diatas optimum) akan merusak tanaman dengan mengacau arus respirasi dan absorpsi air. Bila suhu udara meningkat, laju transpirasi meningkat, karena penurunan defisit tekanan uap dari daya yang hangat dan suhu daun tinggi, yang mengakibatkan peningkatan tekanan uap air padanya (Dewanti 2000).
Dengan diketahuinya suhu di suatu tempat, dapat dijadikan pula sebagai faktor pemilihan jenis tanaman. Berdasarkan hasil data yang diperoleh di lokasi penelitian, maka jenis tanaman pertanian yang dapat direkomendasikan pada tempat tersebut seperti kopi robusta, jeruk besar, kapulaga, kunyit, temulawak, dan nanas.
Kopi robusta (Coffea canephora) dapat ditanam pada tanah pH 5–7. Jika pH tanah terlalu masam dapat ditambah pupuk Ca(PO)2 atau Ca(PO3)2 (kapur atau dolomit). Curah hujan untuk tanaman ini maksimum 2000 mm/tahun dengan ketinggian 400–1200 m dpl. Jenis ini juga dapat tumbuh dan beradaptasi pada suhu 20–28oC dan membutuhkan intensitas cahaya matahari yang lebih sedikit dari jenis kopi arabika (Panggabean 2011).
Jeruk besar (Citrus grandis) memiliki beberapa varietas seperti jeruk besar nambangan, bali, bali tanpa biji, delima, pandanwangi, pandan, cikoneng, khao
28
28 phuan, khao phan, dan gulung. Hampir seluruh wilayah Indonesia dapat ditanami jenis ini dan merupakan tanaman asli Indonesia. Tanaman ini tumbuh baik pada kisaran pH 5–6, penyinaran matahari 50–60%, dan kelembaban antara 50–85% (Setiawan 1993).
Kapulaga (Amomum cardamomum) tumbuh di hutan primer maupun hutan jati pada ketinggian 200–1000 m dpl. Tanaman kapulaga tergolong ke dalam herba dan membentuk rumpun, seperti tumbuhan jahe, dan dapat mencapai ketinggian 2–3 m dan tumbuh di hutan-hutan yang masih lebat pada ketinggian 200–1.000 m dpl. Tanaman ini tumbuh pada daerah dengan curah hujan 2.000– 4.000 mm/th dan suhu antara 20–30oC dengan kelembaban 70%. Jenis tanah yang cocok untuk tanaman ini adalah latosol, andosol, dan alluvial (Prasetyo 2004). Manfaat dari tanaman ini dapat digunakan sebagai pengencer dahak, pelancar pengeluaran gas dari perut, penambah aroma, obat encok, obat mulas, dan obat demam (Mursito 2002).
Selain kapulaga, jenis kunyit (Curcuma domestica) juga tahan terhadap naungan. Kunyit tumbuh pada daerah tropis dan subtropis dengan curah hujan tinggi. Jenis lain yang tahan naungan adalah temulawak (Curcuma xanthoriza). Temulawak dapat tumbuh hingga ketinggian 1500 m dpl pada tanah subur dan cukup air (Mursito 2002).
Nanas (Ananas comosus) banyak ditanam di Indonesia mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi 1200 m dpl. Tanaman ini senang dengan kondisi tanah subur, daerah beriklim basah, dengan curah hujan 1000–2500 mm/tahun. Selain itu, nanas juga tahan terhadap tanah masam yang memiliki pH 3–5, tetapi paling baik pH antara 5,0–6,5. Tanaman nanas dapat tumbuh di tempat terbuka, tetapi dapat pula di tempat yang ternaungi pohon besar. Akar tanaman ini berserabut, dangkal, dan tersebar luas (Sunarjono 2005).
Selain jenis tanaman tersebut, untuk pemanfaatan ruang dalam sistem agroforestri maka dapat diterapkan three dimentional agroforestry. Three
dimentional agroforestry merupakan sistem agroforestri yang memanfaatkan
ruang secara vertikal, yang berarti tanah tidak lagi menjadi faktor pembatas dalam kombinasi agroforestri. Jenis yang dapat diterapkan untuk sistem ini adalah anggrek, tanduk rusa, lebah madu, dan panili.
29
29 Salah satu jenis anggrek asli Indonesia yang dapat dibudidayakan adalah anggrek dendrobium. Anggrek ini merupakan jenis anggrek epifit (menempel pada pohon yang ditumpanginya) dan merupakan salah satu genus anggrek terbesar yang terdapat pada dunia ini. Anggrek ini diperkirakan terdiri dari 1600 spesies. Sinar matahari yang dibutuhkan sebanyak 50–65%, dengan kelembaban relatif (RH) sekitar 60–85%. Suhu udara 26–30oC pada siang hari, 21oC pada malam hari, dengan daerah ketinggian 0–650 m dpl (Sihotang 2010).
Tanduk Rusa (Paltycerium coronarium) termasuk jenis paku-pakuan. Tumbuhan ini memiliki persyaratan tumbuh seperti anggrek, butuh naungan dan epifit. Khasiat tumbuhan ini sebagai tanaman hias juga dapat digunakan sebagai obat demam, radang rahim luar, haid tidak teratur, bisul, abses (Wijai 2011).
Gmelina memiliki nektar yang melimpah. Oleh karena itu, pembudidayaan lebah madu cocok diterapkan di lokasi penelitian. Suhu udara yang cocok bagi lebah adalah sekitar 26oC dengan cahaya matahari sekitar 70–100% (Anonim 2000).
Jenis terakhir yang direkomendasikan adalah panili (Vanilla planifolia). Panili sangat sesuai tumbuh pada ketinggian 300–400 m dpl, temperatur 24–26oC, kelembaban 60–75%, radiasi matahari 30–50 %, tanah berdrainase baik, tekstur lempung berpasir, pH 6–7, KTK > 16 me/100g, KB 36–50%, N-total 0,51–0,75, Ca 6–10 me/100g, Mg 1,1–2 me/100g. Akan tetapi, panili dapat juga tumbuh baik pada 1–300 mdpl dan 400–700 mdpl, temperatur 23–24 oC, kelembaban 50–60% dan 76–80 % dan masih dapat tumbuh pada kelembaban lebih dari 80%, radiasi matahari 51–55%, tanah berdrainase agak baik atau sedikit terhambat, tekstur lempung berhumus, pH 5–6, KTK 5–16 me/100g, KB 20–35 %, N-total 0,2– 0,50%, Ca 2–5 me/100g dan 11–20 me/100g, Mg 0,4–1 me/100g dan 2,1–8 me/100g (Litbang Pertanian 1998).