BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
C. Data dan Sumber Data
Data yang dimaksud dalam penelitian ini adalah keterangan atau bahan nyata yang dapat dijadikan kajian (analisis atau kesimpulan). Data yang dimaksud menyangkut nilai-nilai religius yang terdapat dalam novel “Api
Tauhid” karya Habiburrahman El-Shirazhi.
2. Sumber Data
Sumber data adalah subjek dari mana data diperoleh yang menjadi dasar pengambilan atau tempat untuk memperoleh data yang diperlukan. Dengan demikian sumber data dalam penelitian ini adalah novel yang berjudul “Api
Tauhid” karya Habiburrahman El-Shirazy yang diterbitkan di Jakarta oleh
Penerbit Republika, cetakan XI Desember 2015. D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah cara yang dilakukan dalam mengumpulakan data yang berhubungan dengan penelitian ini. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik baca dan teknik pencatatan atau pengartuan.
1. Teknik baca
Teknik baca dilakukan dengan cara membaca literatur dan sumber data yaitu novel Api Tauhid karya Habiburrahman El-Shirazy.
2. Teknik pencatatan
Teknik pencatatan dilakukan dengan cara mencatat dalam kartu yang telah disiapkan tentang hasil penelitian dan pengamatan terhadap peristiwa penting dalam jalinan cerita beserta faktor yang menyebabkan munculnya hal tersebut baik yang tertuang dalam kata, frasa, kalimat, ataupun paragraf yang diguanakan pada novel Api Tauhid.
E. Teknik Analisis Data
Berdasarkan uraian di atas, maka data dianalisis berdasarkan pendekatan struktual. Nilai-nilai religius dapat digambarkan secara langsung maupun secara tidak langsung. Pendekatan secara struktural, memandang novel sebagai satu kesatuan yang otonom. Setelah data terkumpul peneliti mengolahnya dengan cara:
1. Memahami secara keseluruhan data penelitian.
2. Mengindentifikasi dan mengklasifikasi data tersebut berdasarkan butir-butir masalah dan tujuan penelitian.
3. Mengadakan pemeriksaan keapsahan data berupa nilai religius yang telah diamati sebagai hasil penelitian.
4. Bila hasil penelitian sudah dianggap sesuai, maka hasil tersebut dianggap sebagai hasil akhir.
26
Dalam penelitian ini di bahas mengenai nilai-nilai religius yang terdapat dalam Novel Api Tauhid Karya Habiburahman El Shirazy.
Adapun isi pembahasan skripsi ini, terbagi atas tiga aspek yaitu: Nilai Tauhid, Ibadah, dan Akhlak. Ketiga aspek tersebut diuraikan berdasarkan kategori yang termasuk dalam ketiga aspek tersebut.
1. Nilai tauhid
Adapun nilai Tauhid yang terkandung dalam novel Api Tauhid Karya
Habiburrahman El Shirazy adalah sebagai berikut:
a. Mengesakan Allah Swt.
Mirza pun larut dalam dzikir dalam aliran napas : Huwa Allah, Huwa Allah, Huwa Allah… Dialah Allah, Dialah Allah, Dialah Allah… Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia. Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melaikan Dia. Maharaja Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Menjaga keamanan, pemelihara keselamatan, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang memiliki Segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka sekutukan.
Dialah Allah, Yang menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk rupa, Dia memiliki nama-nama yang indah. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Mahaperkasa dan Mahabijaksana.
Seluruh syaraf-syarafnya terasa sejuk. Jiwanya hangat dan nyaman. Air matanya tampa tersa meleleh. Dzikir mengalir dalam nafasnya. (Api Tauhid, 2015: 130).
Kutipan di atas memaparkan bahwa Mirza begitu patuh untuk menjalankan segala perintah Allah Swt. Sehingga apapun kegiatan dan keluh kesah hatinya ia mengadu kepada-Nya. Dan ketika tertimpa masalah, Mirza berserah diri kepada Allah mengharapkan agar diampuni dosanya. Karena Mirza meyakini tiada yang patut ia cintai di dunia hanya Allah dan junjungan-Nya.
Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)? Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah Rusak binasa. Maka Maha suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.
“Hai Ahlil Kitab, marilah berpegang kepada suatu kalimat (ketetapan) yang sama diantara kita, bahwa kita tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah, dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan tidak pula sebagain kita menjadikan sebagian yang lain sebagai sesembahan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka; saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri kepada Allah.” (Api tahid, 2015: 84).
Kutipan di atas menjelaskan keEsaan Tuhan yang cuman satu-satunya yang pantas disembah dan ditaati oleh setiap orang di dunia ini. Walaupun kebanyakan agama lain bahwa Tuhan itu lebih dari satu Tuhan, namun
keyakinan umat islam Tuhan itu cuman satu (ahad) yang tiada duanya dan setara dengannya. Yaitu Tuhan yang Maha Esa.
Tiba-tiba, ia teringat kenapa membaca surat Al-Ikhlas, yang kedahsyatannya seumpama membaca sepertiga Al-Qur’an, ia menghayati, karena di dalam surat Al-Ikhlas ada penegasan Tauhid. Ada pelurusan akan ajaran keliru yang dianut meliaran umat manusia bahwa Tuhan memiliki anak. Kepada nabi pamungkas yaitu Nabi Muhammad Saw., Allah menegaskan, Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan dia’.”
Sebuah konsep ketuhanan yang yang sempurna. Konsep teologi yang tidak ada cacatnya. Tuhan adalah Tuhan yang tidak boleh ada sama dan setara dengannya. Dan tidak ada Tuhan kecuali Allah. Itulah ajaran tauhid seluruh nabi-nabi Allah. Ia jadi ingat Al-Maidah Ayat 116 dan 117, ah jelas sekali nabi Isa atau Yesus tidak pernah menyatakan dirinya atau ibunya sebagai Tuhan yang harus disembah selain Allah. Dia mengajak para pengikutnya untuk menyembah hanya kepada Allah Yang Esa, namun ajaran itu diubah. (Api Tauhid, 2015: 79-80).
Kutipan di atas kekaguman Fahmi dengan sejarah yang membuktikan bahwa banyak sejarah islam yang menganggung aggungkan kebesaran Allah dan keEsaan Allah yang tiada setara dengan-Nya, Dia tidak beranak dan tidak pula di peranakkan.
Allah berfirman dalam Al-Quran surah Al-ikhlas ayat 1-4 :
Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."
Sejarah mencatat dengan tinta emas puisi Abdullah bin Rawahah yang ia lantunkan dengan lantang dalam perang Mu’tah itu.
Wahai jiwa
Kalaulah tak terbunuh disini Kau
Niscaya mati jua
Di depanmu jalan kepatian paling sempurana Telah terhampar seperti yang kau harapkan Ayo lakukanlah
Seperti kedua kawannya Kau pasti bahagia
Tak tersa air mata mengalir deras membasahi pipinya. Fahmi menangis. ia malu pada dirinya sendiri. Berkaca pada sejarah syuhada itu, para lelaki sejati itu, ia menjadi sangat malu. Detik-detik gugurnya tiga panglima Islam itu dalam perang Mu’tah selalu membakar jiwa kasatriannya, Ja’far bin Abi Thalib memegang panji-panji islam dengan tangan kanannya. (Api Tauhid, 2015: 88).
Kutipan di atas menggambarkan luapan batin Fahmi tokoh utama ia merasa terharu dan malu dengan para terdahulu yang berjuang menegakkan kebenaran agama Allah dengan seluruh jiwa raga.
Sebagaimana Firman Allah dalam surah Al-baqarah, 2: 218
218. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Saat iktikaf tidak ada niat sedikit pun aku ingin bunuh diri. Tidak mungkin itu aku lakukan. Aku orang beriman. Tapi saat ini saat aku sakit, aku berharap sakitku ini menjadi sebab mati syahidku di tanah haram, madinah, ini. Bukankah orang mati saat menuntut ilmu karena Allah bias dinilai mati syahid?
Ali dan Subki tidak menjawab.
Bukankah dalam sebuah hadis baginda nabi Muhammad Saw, pernah mendorong umatnya, kalau bias memilih tempat untuk mati maka diminta memilih mati dimadinah ini?” lanjut Fahmi.
“Memang ada hadis seperti itu?”tukas Subki. Ali menjawab, “ada Sub.”
“Nabi bersabda, ‘Barang siapa dari kalian ada yang mampu untuk mati di madinah, maka lakukanlah, sesungguhnya aku akan bersaksi bagi orang yang mati di dalamnya. ‘Hadis ini dalam sunah Ibnu Majah, hadis nomor 3112.” (Api Tauhid, 2015: 19).
Kutipan di atas menggambarkan Fahmi tokoh utama dengan keteguhan iman dan kuatnya keyakinan kepada Allah untuk selalu beribadah. Fahmi melakukan iktikaf di mesjid agar selalu mengigat Allah, seluruh hidupnya diserahkan hanya untuk Allah semata .
b. Mengagumi kekuasaan Allah
“Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin mengerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendak, dan dijadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila Dia kehendaki tiba-tiba mereka bergembira.
Padahal walaupun sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa.
Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah telah menghidupkan bumi setelah mati (kering). Sungguh, itu berarti Dia
pasti (berkuasa) menghidupkan yang telah mati. Dan Dia Maha kuasa atas segala sesuatu”. (Api Tauhid, 2015: 147-148).
Kutipan di atas menggambarkan tokoh yang begitu mengagumi dan yakin terhadap tanda-tanda kebesaran Allah dan sesungguhnya Allah mencintai keindahan dengan membuktikan lewat fenomena-fenomena Alam yang begitu indah dan sebagai hambanya yang beriman kita harus selalu memunjinya lewat tasbih dan zikir yang dipanjatkan manusia sebagai sujud yakin kebesaran Allah.
“Apa dalil alam ini ada yang menciptakan?
“Apakah pakaian yang Anda pakai itu terjadi dengan sendirinya?” Badiuzzaman Said Nursi balik bertanya.
“pakaian ini ada yang menjahidnya. Kainnya dan yang menenunnya.” “Apakah kursi yang Anda duduki terjadi dengan sendirinya?”
“Ada yang membuatnya tukang kayu yang membuatnya.”
“Apakah gedung tempat kita diskusi ini juga terjadi dengan sendirinya? Tiba-tiba ada gedung begitu saja?”
“Tidak, gedung ini jelas ada yang merancang dan membangunnya dengan teliti dan detail.”
“Coba dipikir. Kalau hal-hal sederhana seperti pakaiaan, kursi dan gedung saja tidak bisa terjadi dengan sendirinya, terus bagaimana dengan alam semesta yang sedemikian luas dan sanagat rumit aturannya. Apakah bisa terjadi dengan sendirinya tampa ada yang merancang, menjadikan dan menjaganya?
Akal sehat akan menyatakan alam semesta ini pasti ada yang menciptakan dan menjaganya hanyalah Dzat yang Maha Kuasa, dialah Allah Saw”. (Api Tauhid, 2015: 288).
Kutipan di atas menjelaskan bahwa kekuasan Allah di bumi ini sangat besar dan maha luas. Juga kenikmatan yang diberikan kepada setiap pribadi manusia merupakan sebagian kecil dari kekuasan Allah yang diperlihatkan kepada manusia. Oleh karena itu, setiap manusia wajib menyembah dan memuji Allah
sebagai penguasa di atas segala-galanya, begitu pula dalam ayat-ayat Allah banyak dijelaskan bahwa Tuhan bukan hanya sebagai penguasa yang berkuasa atas segala sesuatu tetapi Tuhan juga memiliki makna mendidik.
Mendidik disini dimaksudkan bahwa Tuhan sebenarnya secara tidak langsung mendidik dan mengarahkan manusia dan makhluk lainnya untuk berbuat kebaikan hal ini di tunjukkan oleh Allah dengan menurunkan kitab-kitab (wahyu) kepada nabi dan rasul terdahulu untuk diamalkan dan diteladani oleh umat manusia, agar manusia senantiasa berbuat baik dan tidak membuat kekacauan di muka bumi. Dan yang paling utama adalah manusia disuruh menyembah Allah, mengagumi berbakti dan mengakui kebesaranya.
Firman Allah dalam Surah An Nur, 24: 1
1. (ini adalah) satu surat yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalam)nya, dan Kami turunkan di dalamnya ayat ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya.
c. Penyerahan diri kepada Allah
“Tapi aku tidak mau dibelenggu rasa benci. Tapi harus bagaiman? Apa yang harus aku lakukan? Akhirnya aku teringat kisah Nabi Ya’qub ketika ia berada dalam puncak kesedihannya melihat pakaian Yusuf berlumuran darah palsu. Nabi Ya’qub berkata, “…maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). ”dan setiap kali Nabi Ya’qub mengigat Yusuf, dengan sedih dia berkata, inna asyku batstsi wa khuzni ilallah.” (Qs. Yusuf: 86). Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku”. (Api tauhid, 2015: 68).
Kutipan di atas menggambarkan luapan batin tokoh utama untuk selalu mengigat Allah dan melupakan kesedihannya, karena hanya kepada Allah lah tempat mengadukan segala masalah.
“Fahmi terus berdzikir. Kepada Allah, Fahmi berdoa dalam hati sampai menangis,”Ya Allah, aku menghafal kitab sucimu semata-mata demi meraih ridha-Mu. Jangan kau izinkan daging dan darah yang digunakan untuk menghafal kitab suci-Mu ini dimakan ajing, ya Allah.”
Dengan air mata meleleh, Fahmi memandang mata anjing yang buas itu. Ajing pertama langsung diam tidak menyalak, demikian juga anjing yang kedua dan ketiga. Mata anjing itu juga berkaca-kaca seperti menagis. Anjing-anjing itu lalu seperti duduk di lantai itu dan diam tidak galak dan menyalak. Aysel takjub melihat itu.
“Allahu akbar!”lirih Aysel”. (Api Tauhid, 2015: 537).
Kutipan di atas menggambarkan bahwa Fahmi, memohon dan benar-benar berserah diri dengan kehendak Allah, agar diselamatkan dari cengkraman ajing buas yang siap melahapnya. Dengan izin dan kuasa Allah anjing-ajing itu pun jinak dihadapan Fahmi dan tidak menggigitnya. Sebagaiman firman Allah Swt dalam Qs.Al-Baqarah: 152
152. karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu[98], dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.
“Dari Leningrat, Said Nursi berjalan kaki menembus musim dingin yang luar biasa dingin menuju Warsawa.
Said Nursi merasa dirinya sangat lemah. Hanya Allah tempat berlindun. Terkadang ia merasa ajal sudah ada di depan mata. Hal itu semakin
membuat dirinya hanya bisa pasrah total kepada Allah. Tidak ada putus asa, yang ada adalah penyerahan diri kepada Allah dengan memohon pertolongan Allah”. (Api Tauhid, 2015: 399).
Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Baqarah 2: 218
218. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
“begitulah ulama sejati. Kedekatan mereka dengan Allah membuat suara mereka tidak bisa dihalangi apapun juga,”sahud Hamzah.
“saya teringat salah satu perkataan Ustadz Said Nursi, ’Siapa yang mengenal dan menaati Allah, maka ia akan bahagia walaupun berada di dalam penjara yang gelap gulita. Dan siapa yang lalai melupakan Allah, ia akan sengsara walaupun berada di dalam istana yang megah mempesona,”lirih Imel.
Mendengar petikan kalimat itu, semua mengucapkan tasbih. (Api Tauhid, 2015: 506).
Kutipan di atas menjelaskan bahwa Hamza mengigatkan pada teman-temannya keteguhan iman Ustadz Said Nursi dan murid-muridnya di dalam penjara yang gelap gulita. Dan mengutip kata-kata Ustadz Said Nursi bahwa siapa yang lalai melupakan Allah, ia akan sengsara walaupun berada di dalam istana yang megah mempesona. bertapa nikmat iman, nikmat islam sangatlah indah, dengan selalu mengigat Allah.
“aku pastikan kau akan tenggelan di Sungai Tigris dan tubuhmu dicabik-cabik buaya, “sahut Mustafa Pasya yakin.
“Nyawa ku ada dalam genggaman Allah, aku akan mati jika sampai ajalnya. (Api tauhid, 2015: 227).
Kutipan di atas memberikan gambaran bahwa setiap makhluk yang bernyawa pasti akan menghadapi kematian dan itu adalah salah satu takdir yang harus diyakini oleh setiap umat manusia yang ada di muka bumi ini, setiap yang dicintai itu akan kembali kepada yang menciptakan yakni Allah Swt. Akhirnya tempat tinggal manusia yang kekal dan abadi. Dunia ini adalah tempat persinggahan sementara. Disinilah manusia senantiasa meyakini dengan hati bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah milik Allah Swt. Kita sebagai makhluk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, dan meyakini tanda-tanda kebesaran Allah Swt.
2. Nilai Ibadah
a. Mengerjakan Shalat
“Subuh menyapa Istambul. Salju masih menumpuk dimana-mana. Kumandang azan dari menara-menara masjid yang bertebaran seantero kota hanya mampu menggerakkan mereka yang dalam keimanan akan perjumpaan dengan Tuhannya. Fahmi membangunkan Hamza dan Subki. Ketiganya lalu keluar dari vila itu menembus udara dingin yang menusuk untuk shalat shubuh bejama’ah di masjid”. (Api Tauhid, 2015: 116).
Kutipan di atas memberikan gambaran bahwa Fahmi, Hamza dan Subki, selalu melaksanakan shalat berjamaah di mesjid karena berjamaah di masjid lebih besar pahalanya.
Suara azan Ashar mengalun dari menara-menara masjid yang bertebaran diseluruh penjuru Madinah. Angin dingin berhembus kencang seolah memenuhi panggilan adzan. Pohon-pohon kurma bergoyang-goyang seumpama ribuan manusia yang mengangguk menjawab pangilan adzan. Fahmi dan teman-temannya bergegas mengambil air wudhu untuk bersegera sembahyang. (Api Tauhid, 2015: 71-72).
Kutipan di atas memberikan gambaran bahwa fahmi dan teman-temannya, selalu melaksanakan shalat dalam keadaan apapun, perilu kita ketahui bahwa setiap manusia wajib untuk melaksanakan shalat, karena shalat adalah tiang agama. Pondasi keimanan yang paling kokoh, dan salah satu pahalanya yang akan dihisab kelak adalah shalat.
Melihat binatang gembalanya aman, Mirza kembali menunaikan wirid paginya yaitu shalat dhuha. Di bawah sebuah pohonnan rindang, tampa alas apapun, Mirza bertakbir menghadap kiblat, dan larut dalam khusyuk untuk rukuk dan sujud kepada Allah. (Api tauhid, 2015: 129). Nilai ibadah pada kutipan di atas adalah membiasakan diri untuk melakukan shalat Dhuha sebagai bentuk kesyukuran atas nikmat jasmani kita dan juga dengan shalat Dhuha, Allah senantiasa melimpahkan rahmat kepada kita dalam segala usaha yang dilakukan.
Fahmi beranjak dari depan laptopnya untuk mengambil air wudhu. Tak lama kemudian, ia telah tersungkur dalam rukuk dan sujud panjangnya mengadu dan menyerahkan segalanya kepada Allah Swt.
Fahmi turun dari tempat tidurnya mengambil wudhu. Lalu ia tenggelam dalam shalat malam. Dalam rukuk dan sujudnya ia meminta kebaikan dunia akhirat untuk dirinya dan untuk seluruh umat Nabi Muhammad Saw.
Sementara di luar salju tipis terus turun. Alam bertasbih dalam gigil dingin yang mencekam. Pepohonan yang sekarat kedinginan bertasbih dengan tasbih Nabi Yunus, berharap agar musin dingin segera berlalu berhenti musim semi yang cerah dan segar.
“laa ilaaha illa Anta, subhaanaka inni kuntu minazh zhaalimin”. (Api Tauhid, 2015: 276).
Kutipan di atas memberikan gambaran bahwa Fahmi melaksanakan Shalat Thajud berdoa dan menyerahkan segalanya kepada Allah Swt karena dengan shalat merupakan sarana media komunikasi yang ambuh antara hamba dan Tuhannya di kala malam sunyi. Bergitu pula saat melakukan Shalat Thajud, malaikat akan turun kebumi untuk mengabulkan permintaan setiap orang dikala dia shalat. Menurut Al-Quran adalah alat mensucikan hati manusia agar dapat berhubungan dengan Allah Swt. (Q.s. Al-Israa’17:79)
79. dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji.
Fahmi menyempatkan shalat Tahiyatul Masjid di dalam Masjid Mevlid i-halil, diikuti yang lain. Setelah itu mereka melihat kolam Halil ur Rahman, tempat dimana dulu Nabi Ibrahim dibakar. Sebagian masyarakat memercayai bahwa setelah Nabi Ibrahim dibakar dan api menjadi dingin. Nabi Ibrahim selamat. Semua itu atas izin Allah Swt. Lalu api itu berubah jadi air dan sisa-sisa ranting kayunya menjadi ikan. Begitulah konon, asal usul kolam itu. (Api Tauhid, 2015: 281).
Kutipan di atas menggambarkan sosok Fahmi yang selalu bersyukur dengan melaksanakan shalat Tahiyatul Masjid.
Sebagaimana Firman Allah dalam surah Al-Ankabut, 29: 45.
24. Maka tidak adalah jawaban kaum Ibrahim, selain mengatakan: "Bunuhlah atau bakarlah dia", lalu Allah menyelamatkannya dari api. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman.
b. Zikir kepada Allah
Mirza lau mengigat pesan ayahnya, bahwa setiapa tarikan dan hembusan nafas adalah nikmat dari Allah yang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak. Maka setiap tarikan dan hembusan nafas harus selalu mengigat Allah. Ayahnya mengajarkan setiap menarik nafas disertai dzikir juaga setiap menghembuskan napas adalah dzikir. (Api Tauhid, 2015: 129).
Kutipan di atas menggambarkan seorang tokoh yang senantiasa mengigat Allah dengan berzikir, karena dengan mendekatkan diri kepada Allah hati menjedi tenang.
Kutipan yang senada dengan kutipan di atas adalah:
Selesai shalat magrib sambil berdzikir, Fahmi rebahan di kasur, perutnya mersa melilit. Di dapur ada roti tapi ia malas turun ke bawah. Ia khawatir kedua matanya tidak bisa ditahan untuk melihat tubuh gadis yang sedang tidur di sofa dengan pakaian tipis ketat. Apalagi gadis itu bangun terus mengajaknya bicara, ia akan seba salah tingkah. Maka ia memilih rebahan sanbil terus berzikir berharap Hamza dan Subki segera sampai di vila secepatnya. (Api Tauhid, 2015: 109).
Sebagaiman Firman Allah Swt dalam surah Ar-ra’ad, 13: 28
28. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.