BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
1. Data Tentang Pengakuan dan Pengukuran Pembiayaan Murabahah
pengakuan merupakan proses pembentukan pos yang memenuhi definisi unsur serta kriteria pengakuan dalam neraca atau laporan laba rugi. Sedangkan pengukuran adalah proses penetapan jumlah uang untuk mengakui dan memasukkan setiap unsur laporan keuangan dalam neraca dan laporan keuangan. Pengakuan memerlukan suatu konsep agar dapat menentukan kapan dan bagaimana unsur dalam akuntansi dapat diakui dalam laporan keuangan. ( Rizal Yaya, 2009: 23)
Berikut hasil pembahasan tentang pengakuan dan pengukuran pembiayaan murabahah pada PT.BPRS Haji Miskin:
a. Pengakuan dan Pengukuran Pada Piutang Murabahah Piutang merupakan klaim (hak untuk mendapatkan uang dari pihak lain atau nasabah. Piutang juga disebut sebagai tagihan atau receivable.
Menurut PSAK 102 piutang murabahah diakui sebesar biaya perolehan aset murabahah ditambah dengan keuntungan atau margin yang disepakati. Piutang murabahah dinilai sebesar nilai bersih yang dapat direalisasi, yaitu saldo piutang dikurangi dengan penyisihan kerugian piutang (PSAK 102.IAI.2007: 6). Berdasarkan hasil wawancara dengan direktur PT.BPRS Haji Miskin dengan Bapak Muhammad Nursal
pada hari Senin tanggal 5 Oktober 2020 menyatakan bahwa:
“Piutang murabahah di PT.BPRS Haji Miskin terjadi ketika nasabah memesan suatu barang yang disebut degan akad jual beli atau murabahah dengan sistim pembayaran cicilan dengan jangka waktu yang disepakati bersama, dan PT. BPRS mengakui adanya piutang murabahah tersebut setelah terjadinya akad dan penyerahan barang atau kendaraan kepada nasabah. Pengakuan piutang murabahah oleh PT.BPRS Haji Miskin ialah sebesar harga perolehan dan ditambah dengan margin yang telah disepakati pada saat terjadinya akad”
b. Pengakuan dan Pengukuran Pada Aktiva (Aset Murabahah) Berdasarkan PSAK 102 pada saat perolehan, aset murabahah diakui sebagai persediaan sebesar biaya perolehan, sedangkan pengukuran aset murabahah adalah sebagai berikut:
1) Jika murabahah pesanan mengikat maka: a) Dinilai sebesar biaya perolehan dan
b) Jika terjadi penurunan nilai aset karena usang, rusak atau kondisi lainnya sebelum diserahkan ke nasabah, penurunan nilai tersebut diakui sebagai beban dan mengurangi nilai aset.
2) Jika murabahah tanpa pesanan atau murabahah pesanan tidak mengikat maka:
a) Dinilai berdasarkan biaya perolehan atau nilai bersih yang dapat direalisasi mana yang lebih rendah dan
b) Jika nilai bersih yang dapat direalisasi lebih rendah dari biaya perolehan, maka selisihnya
diakui sebagai kerugian (PSAK 102.IAI. 2007:5).
Berdasarkan hasil wawancara dengan Buk Elda Ena Marrini kepala bagian operasional PT. BPRS Haji Miskin pada tanggal 5 Oktober 2020 menyatakan bahwa:
“ Jika adanya pembiayaan murabahah atau aktivitas akad jual beli kepada nasabah maka BPRS Haji Miskin mengakui persediaan aset murabahah sebesar harga perolehannya belum ditambahkan dengan margin dan juga belum dikurangi dengan urbun atau uang muka yang dibayarkan oleh nasabah, Pihak BPRS Haji Miskin tidak melakukan akad murabahah tanpa pesanan karna pihak BPRS Haji Miskin tidak mau menanggung resiko atas aset yang dibeli karna akan mengalami penurunan nilai dan juga akan menambah biaya seperti biaya perawatan dan juga beban penyusutan aset murabahah oleh sebab itu pihak BPRS Haji Miskin hanya melakukan pembiayaan murabah pesanan saja ”
Pengakuan persediaan tersebut secara praktiknya memang adanya pembelian barang dari pemasok kemudian adanya penjualan barang yang dilakukan oleh PT.BPRS Haji Miskin kepada nasabah sehingga nilai persediaannya menjadi impas.
c. Pengakuan dan Pengukuran pada Potongan Piutang Murabahah
Potongan piutang murabahah adalah potongan harga yang diberikan oleh pihak BPRS kepada nasabah jika melunasi utangnya sebelum jangka waktu yang telah disepakati di awal akad.
Menurut PSAK 102 pemberian potongan pelunasan piutang murabahah dapat dilakukan dengan menggunakan salah satu metode sebagai berikut:
1) Diberikan pada saat pelunasan, yaitu penjual mengurangi piutang murabahah dan keuntungan murabahah.
2) Diberikan setelah pelunasan, yaitu penjual menerima pelunasan piutang dari pembeli dan kemudian membayarkan potongan pelunasannya kepada pembeli (PSAK 102. IAI. 2007: 8).
Berdasarkan hasil wawancara dengan Buk Elda Ena Marrini kepala bagian operasional PT.BPRS Haji Miskin pada tanggal 5 Oktober 2020 menyatakan bahwa:
“Potongan pembelian dari pemasok diakui sebagai pengurang biaya perolehan aktiva atau aset murabahah. Pada saat akad, piutang murabahah itu diakui sebesar biaya perolehannya ditambah dengan margin atau keuntungan yang disepaki dengan nasabah pada saat terjadinya akad. Pada akhir periode pelaporan keuangan piutang murabahah dinilai sebesar nilai bersih yang dapat direalisasi, yaitu saldo piutang murabahah dikurangi dengan kontra akun piutang murabahah yaitu dengan penyisihan kerugian piutang murabahah.
Terkait dengan potongan pelunasan dini diakui dengan menggunakan salah satu metode berikut ini:
1) Jika potongan pelunasan diberikan pada saat penyelesaian maka pihak BPRS mengurangi piutang murabahah dan secara otomatis juga mengurangi keuntungan murabahah.
2) Jika potongan pelunasan diberikan setelah penyelesaian maka pihak BPRS terlebih dahulu menerima pelunasan piutang murabahah tersebut dari nasabah, kemudian baru pihak BPRS memberikan potongan pelunasan kepada nasabah dengan hanya mengurangi keuntungan murabahah” d. Pengakuan dan Pengukuran Pada Pendapatan Margin
Murabahah
Menurut PSAK 102 keuntungan murabahah diakui: 1) Pada saat terjadinya penyerahan barang jika
dilakukan secara tunai atau secara tangguh yang tidak melebihi satu tahun.
2) Selama periode akad sesuai dengan tingkat risiko dan upaya untuk merealisasikan keuntungan tersebut untuk transaksi tangguh lebih dari satu tahun. Metode – metode berikut ini digunakan, dan dipipih yang paling sesuai dengan karakteristik risiko dan upaya transaksi murabahahnya:
a) Keuntungan diakui saat penyerahan aset murabahah. Metode ini terapan untuk murabahah tangguh dimana risiko penagihan atas kas dari piutang murabahah dan beban pengelolaan piutang serta penagihannya relatif kecil. b) Keuntungan diakui proporsional dengan
besaran kas yang berhasil ditagih dari piutang murabahah. Metode ini terapan
untuk transaksi murabahah tangguh dimana risiko piutang tidak tertagih relatif besar dan beban untuk mengelola dan menagih piutang tersebut relatif besar. c) Keuntungan diakui saat seluruh piutang
murabahah berhasil ditagih. Metode ini terapan untuk transaksi murabahah tangguh di mana risiko piutang tak tertagih dan beban pengelolaan piutang serta penagihannya cukup besar, dalam praktiknya metode ini jarang dipakai, karena transaksi murabahah tangguh mungkin tidak terjadi bila tidak ada kepastian yang memadai akan penagihan kasnya (PSAK 102.IAI. 2007:6-7). Berdasarkan hasil wawancara dengan Buk Elda Ena Marrini kepala bagian operasional PT.BPRS Haji Miskin pada tanggal 5 Oktober 2020 menyatakan bahwa:
“BPRS Haji Miskin mengakui keuntungan tersebut secara proporsional, dengan artian jumlah keuntungan atau margin setiap periode ditentukan dengan mengalikan persentase margin atau keuntungan dengan jumlah harga perolehan aset murabahah. Margin yang di tetapkan BPRS Haji Miskin adalah 16 – 18 % untuk umum dan 12 – 14% untuk pegawai negeri sipil. Seperti contoh seorang nasabah umum bukan pegawai
negeri sipil melakukan akad pembiayaan murabahah dengan harga perolehan kendaraan RP. 10.000.000 maka marginnya ialah Rp. 10.000.000 dikalikan dengan margin 17% dari harga perolehan. Maka diperoleh margin yang disepakati sebesar Rp. 1.700.00 maka jumlah piutang murabahahnya adalah Rp. 10.000.000 ditambah dengan Rp. 1.700.000 sama dengan Rp.11.700.000”.
e. Pengakuan dan Pengukuran Pada Denda Atas Pembiayaan Murabahah
Menurut PSAK 102 denda dikenakan jika pembeli lalai dalam melakukan kewajibannya sesuai dengan akad, dan denda yang diterima diakui sebagai dana kebajikan (PSAK 102.IAI. 2007: 8).
Berdasarkan hasil wawancara dengan Pak Muhammad Nursal Direktur PT.BPRS Haji Miskin pada Senin 5 Oktober 2020 menyatakan bahwa:
“ Denda diberikan kepada nasabah jika nasabah lalai dalam pembayaran cicilan sesuai dengan kesepakatan di awal, dalam artian bahwa nasabah tidak membayar cicilan pada saat jatuh tempo piutangnya, menurutnya lalai dalam pembayaran dan menunda – nunda waktu pembayaran merupakan hal yang bertentangan dengan ajaran syariat Islam dan tidak menepati sesuai dengan kespakatan yang telah ditetapkan diawal akad. Denda yang diterapkan oleh BPRS Haji Miskin ialah sebesar 2,5% dari cicilan, dari 2,5% tersebut 1% untuk biaya penagihan dan 1,5% untuk dana kebajikan infak dan sedekah. Terkait dengan biaya penagihan di berikan kepada pegawai bank yang
melakukan penagihan kepada nasabah yang dikenakan denda.
f. Pengakuan dan Pengukuran Pada Uang Muka Atas Pembiayaan Murabahah
Menurut PSAK 102 pengakuan dan pengukuran uang muka adalah sebagai berikut:
Uang muka diakui sebagai uang muka pembelian sebesar jumlah yang diterima.
1) Uang muka diakui sebagai uang muka pembelian sebesar jumlah yang diterima.
2) Jika barang jadi dibeli oleh pembeli, maka uang muka diakui sebagai pembayaran piutang (merupakan bagian pokok).
3) Jika barang batal dibeli oleh pembeli maka uang muka dikembalikan kepada pembeli setelah diperhitungkan dengan biaya – biaya yang telah dikeluarkan oleh penjual
Berdasarkan hasil wawancara dengan Pak Muhammad Nursal Direktur PT.BPRS Haji Miskin pada Senin 5 Oktober 2020 menyatakan bahwa: “Pengakuan dan Pengukuran terhadap uang muka adalah sebagai berikut:
a) Uang muka yang di terima BPRS diakui sebesar jumlah uang yang diberikan nasabah kepada pihak BPRS
b) Jika barang jadi dibeli oleh nasabah maka uang muka tersebut diakui sebagai pengurang pokok pembelian barang. c) Jika barang itu batal dibeli oleh nasabah
maka uang muka tersebut dikembalikan kepada nasabah dengan catatan harus
dikurangi terlebih dahulu dengan biaya – biaya yang telah dikeluarkan oleh pihak BPRS dalam hal pembelian barang kepada pemasok”.
2. Data Tentang Penyajian Pembiayaan Murabahah