B. Daya tampung (volume) lingkungan pesisir
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.5. Kuantifikasi faktor yang berpengaruh pada daya dukung
4.5.1. Daya dukung kawasan berdasarkan ketersediaan volume air
Volume air yang tersedia di pantai tergantung kepada volume air laut yang masuk ke daerah pantai, dengan asumsi volume air laut yang masuk ke daerah pantai terjadi ketika pasang selalu berganti dari pasang satu ke pasang berikutnya.Volume air yang berganti inilah yang disebut air yang tersedia di pantai, dengan demikian volume total air yang ada di pantai dalam satu siklus pasang adalah volume air pada saat pasang naik dan saat surut.
Volume air yang tersedia di pantai dipengaruhi oleh panjang garis pantai, kisaran pasang, kemiringan dasar perairan dan jarak dari garis pantai pada air pasang
ke arah laut sampai mencapai titik dimana kedalaman air pada saat surut terendah yaitu satu meter sama dengan kedalaman dari pipa pengambilan (intake) air laut untuk tambak.
Volume air yang tersedia di pantai dihitung dengan pendekatan yang dilakukan oleh Widigdo dan pariwono (2003). Berdasarkan hasil pengamatan bahwa kondisi fisik perairan pesisir pantai Kecamatan Medang Deras Kabupaten Batubara dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Kondisi fisik perairan pesisir Kecamatan Medang Deras Kabupaten Batu Bara
Parameter Nilai Keterangan
Kisaran Pasang Surut (h) 190 cm -
Panjang garis pantai (y) 20,37 km -
Jangkauan pasang (x) 200 m -
Kemiringan dasar pantai (θ) 68,29˚ (tg 2,51) -
Pola pasang surut 2 kali pasang, 2 kali surut Semi diurnal
Berdasarkan data hasil perhitungan, volume air yang tersedia di pantai pada saat pasang naik (Vo) adalah 7.725.951 m3 atau 15.451.902 m3 (2 kali pasang) dan saat surut (Vs) adalah 7.719.013 m3 atau 15.438.026 m3 ( 2 kali surut). Dengan demikian volume air yang tersedia dalam satu hari sebesar 30.889.928 m3
Kuantitas volume air di pantai merupakan faktor penentu berapa banyak limbah yang dapat ditampung perairan pesisir sehingga kualitas perairan tersebut masih layak untuk keberlanjutan usaha budidaya, sehubungan dengan hal tersebut maka penentuan daya dukung perairan pesisir untuk kegiatan pertambakan udang menggunakan pendekatan beberapa pendapat ahli dalam budidaya maupun ahli
(2 kali pasang dan 2 kali surut).
lingkungan yang dapat dijadikan acuan. Untuk mempertahankan agar kualitas perairan umum masih tetap layak untuk budidaya, maka perairan sebagai penerima limbah dari usaha budidaya harus memiliki volume antara 60 – 100 kali lipat dari volume limbah yang dibuang ke perairan umum.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa rata rata pembuangan air harian adalah 12 % dari total volume air tambak dan rata-rata target produksi sekitar 5 ton /ha, berdasarkan asumsi tersebut maka luasan tambak yang layak untuk dioperasikan untuk budidaya udang secara intensif agar tetap lestari dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8. Luas tambak lestari berdasarkan volume pantai
Volume air pantai (VO) (m3 Frek. ) Pasang VO tersedia/hari (m3 Limbah tambak maksimum (m ) 3 Volume air tambak (m ) 3 Luas tambak lestari (ha) ) 7.725.951 2 15.451.902 154.519 1.287.658 128,8
Berdasarkan nilai tersebut didapatkan bahwa luasan tambak yang optimum yang dapat dioperasikan di daerah Kecamatan Medang Deras berdasarkan volume air di pantai yang dapat dilakukan secara intensif agar tetap lestari adalah seluas 128,8 ha, dengan target produksi di daerah Kecamatan Medang Deras yaitu 5 ton/ha.
Jumlah luas tambak yang ada di daerah Kecamatan Medang Deras 84,8 ha (Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Batu Bara, 2010), berdasarkan analisis daya dukung maka daerah Kecamatan Medang Deras masih mendukung untuk kegiatan perikanan budidaya secara intensif.
Sementara untuk mendukung kegiatan perikanan budidaya secara semi intensif berdasarkan volume air di pantai dari luasan yang dimiliki Kecamatan Medang Deras agar lestari adalah 322 ha dengan target produksi 1 – 2 ton/ha.
Menurut Deb (1998), target produksi untuk sistem teknologi semi intensif biasanya setengah dari target produksi intensif. Jika target produksi intensif 2 – 5 ton/ha maka target produksi untuk semi intensif adalah 1 – 2 ton/ha.
4.5.2 Daya dukung kawasan berdasarkan daya tampung beban limbah organik dari kegiatan budidaya (tambak)
a. Beban Limbah Organik Budidaya Intensif
Peningkatan pemberian pakan sejalan dengan pertumbuhan udang, semakin bertambahnya umur udang sisa pakan semakin banyak menumpuk didasar kolam pemeliharaan. Pakan yang tidak dimakan (sisa pakan) dan ekskresi udang akan menambah bahan organik dalam lingkungan tambak (Boyd, 1992). Sisa pakan dan feses udang yang menumpuk di dasar kolam dapat menurunkan kualitas air lingkungan tambak, karena itu sisa pakan dan feses harus dibuang agar kualitas air kolam mendukung pertumbuhan udang.
Menurut Boyd dan Weddig (1997), pakan digunakan di kolam tambak untuk meningkatkan produksi udang, namun pakan tidak semuanya dimanfaatkan oleh udang. Sisa pakan akan mengendap di dasar perairan selanjutnya dimanfaatkan oleh fitoplankton di kolam sehingga akan menambah kesuburan perairan kolam
(eutrofikasi). Tingginya kelimpahan fitoplanton akan berdampak terhadap organisme dibudidayakan terutama dalam hal pemanfaatan oksigen di dalam perairan (Maarif dan Somamiharja, 2000).
Perbaikan kualitas air tambak dilakukan dengan cara melakukan pergantian air (penyiponan) dengan tujuan agar pakan dan hasil ekresi udang terbuang bersamaan dengan keluarnya air. Air buangan ini selanjutnya dibuang ke perairan pesisir disekitar pertambakan. Beban limbah organik yang dibuang ke pesisir dinyatakan dalam bentuk TSS. Perhitungan beban limbah organik tambak hanya berdasarkan tingkat teknologi semi intensif dan intensif saja sedangkan budidaya udang secara ekstensif (tradisional) tidak dilakukan, hal ini karena sistem semi intensif dan intensif mengandalkan pakan buatan untuk menunjang kelangsungan hidup dan pertumbuhan udang secara optimal.
Beban limbah organik dalam bentuk TSS yang dibuang ke daerah pesisir dari hasil kegiatan budidaya udang secara intensif dengan luas areal 3900 m2
Pada akhir masa pemeliharaan (panen), dimana tambak udang dikeringkan dengan cara menggelontorkan seluruh volume air tambak (3900 m
dari mulai hari pertama sampai hari ke 125 selama satu siklus pemeliharaan adalah
sebagai berikut. Konsentrasi limbah tertinggi dari DOC 0 sampai DOC 125 adalah 70,20 mg/L yang ditemui pada hari ke 71, jika dilihat dari bobot (berat) limbah yang
dibuang ke perairan sekitar pertambakan pada hari ke 71 adalah sebesar 54,75 kg TSS (lampiran 2).
3
konsentrasi limbah tambak (TSS) sebesar 20,41 mg/L maka jumlah bobot limbah yang dibuang ke perairan pada saat penggelontoran sebesar 79,62 kg TSS.
Total bobot limbah harian TSS selama masa pemeliharaan 2278,68 kg TSS, dengan demikian total bobot keseluruhan limbah selama masa pemeliharaan ditambah jumlah limbah yang digelontorkan adalah 2358,30 kg TSS/0,39 ha atau 6046,923 kg/ha/siklus.
Konsentrasi beban limbah organik tertinggi dalam bentuk TSS dengan luas areal 4300 m2
Pada akhir pemeliharaan, tambak udang dikeringkan dengan cara penggelontoran seluruh volume air tambak (4300 m
yang dibuang ke daerah pesisir dari DOC 0 sampai DOC 120 selama satu siklus pemeliharaan adalah 64,80 mg/L yang ditemui pada hari ke 71. Bobot beban limbah TSS yang dibuang ke perairan di sekitar pertambakan adalah sebesar 55,73 kg TSS (lampiran 3).
3
). Konsentrasi limbah pada saat penggelontoran sebesar 20,30 mg/L maka bobot limbah yang dibuang pada saat pengelontoran tersebut sebesar 87,27 kg TSS. Total bobot limbah harian TSS selama masa pemeliharaan 4185,63 kg TSS, dengan demikian total bobot keseluruhan limbah selama masa pemeliharaan ditambah jumlah limbah yang digelontorkan adalah 4272,90 kg TSS/0,43 ha atau 9936,98 kg/ha/siklus.
b. Daya dukung berdasarkan limbah organik
Air buangan limbah tambak kaya akan nutrisi dan mengandung bahan organik yang terlarut dan tersuspensi, bahan-bahan ini keluar pada saat pertukaran air selanjutnya masuk ke perairan alami di dekat pertambakan. Pembuangan air buangan
tambak yang berlangsung terus menerus menyebabkan bahan organik dari air buangan terakumulasi dalam sedimen di perairan. Bahan organik ini akan diuraikan oleh bakteri di perairan sehingga dapat meningkatkan kadar nitrogen, hidrogen sulpida, penipisan oksigen dan meningkatkan populasi bakteri di perairan pesisir (Tobey et al , 1998). Limbah buangan yang dihasilkan dari 1 petakan tambak dengan luas areal 3900 m2 selama 125 hari pemeliharaan adalah sebesar 6046,923 kg/ha/siklus atau sekitar 48,38 kg limbah TSS yang dihasilkan dalam satu hari dari 1 ha luas tambak sedangkan limbah buangan dari petakan tambak dengan luas areal 4300 m2
Pengamatan dilakukan di dua lokasi budidaya yang memiliki lama pemeliharaan yang berbeda, namun kedua lokasi budidaya ini melakukan prinsip manajemen yang sama. Ada 4 kolam yang beroperasi dengan ukuran sekitar 3900 m
selama 120 hari pemeliharaan adalah sebesar 9936,98 kg/ha/siklus atau sekitar 82,8 kg limbah TSS yang dihasilkan dalam satu
hari dari 1 ha luas tambak.
2
dan 3 kolam dengan ukuran kolam sekitar 4300 m2
Dengan demikian, limbah TSS yang dihasilkan dari tambak ukuran 3900 m .
2
per harinya dari 1 ha adalah 193,52 kg sementara dari ukuran 4300 m2 adalah sekitar 248,4 kg. Walaupun volume pesisir masih dapat menampung limbah buangan dari tambak namun jumlah limbah buangan dari kegiatan pertambakan dapat menyebabkan penurunan kualitas air. Menurut Boyd (1992), daya tampung pakan maksimum untuk 1 ha tambak yang dikelola secara intensif agar perairan mampu mempertahankan kualitasnya adalah 100 – 150 kg/hari.
Menurut Barg (1992), volume air yang cukup diperlukan untuk mempertahankan kualitas air. Karakteristik hidrografi dan topografi lokasi budidaya sangat penting khususnya untuk budidaya di laut dan tanah yang mengandalkan gerakan air alami seperti arus dan pasang surut untuk pertukaran air dan penyebaran limbah. Apabila kondisi hidrogafi lingkungan rendah dan beban limbah yang luar biasa dari usaha budidaya maka dampak buruk terhadap lingkungan air akan terjadi.
Untuk menghilangkan tingginya TSS dan BOD5 dari kolam pembesaran perlu
adanya kolam penampungan di lokasi pertambakan sebelum air dari kolam di buang ke perairan sekitar, dari penelitian kasar diperoleh bahwa kadar TSS menurun 60-80% dan BOD5 sekitar 15-30% dapat hilang dalam kolam penampungan dengan