• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

N. Daya Dukung Lingkungan

Menurut UU No. 32/ 2009 tentang Pengendalian dan Pengelolaan Lingkungan Hidup RI bahwa daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia, makhluk hidup lain, dan keseimbangan antarkeduanya. Penentuan daya dukung lingkungan hidup dilakukan dengan cara mengetahui kapasitas lingkungan alam dan sumber daya untuk mendukung kegiatan manusia/penduduk yang menggunakan ruang bagi kelangsungan hidup. Besarnya kapasitas tersebut di suatu tempat dipengaruhi oleh keadaan dan karakteristik sumber daya yang ada di hamparan ruang yang bersangkutan. Kapasitas lingkungan hidup dan sumber daya akan menjadi faktor pembatas dalam penentuan pemanfaatan ruang yang sesuai.

Daya dukung lingkungan hidup terbagi menjadi 2 (dua) komponen, yaitu kapasitas penyediaan (supportive capacity) dan kapasitas tampung limbah (assimilative capacity). Dalam pedoman ini, telaahan daya dukung lingkungan hidup terbatas pada kapasitas penyediaan sumber daya alam, terutama berkaitan dengan kemampuan lahan serta ketersediaan dan kebutuhan akan lahan dan air dalam suatu ruang/wilayah. Oleh karena kapasitas sumber daya alam tergantung pada kemampuan, ketersediaan, dan kebutuhan akan lahan dan air, penentuan daya dukung lingkungan hidup dalam pedoman ini dilakukan berdasarkan 3 (tiga) pendekatan, yaitu:

a) Kemampuan lahan untuk alokasi pemanfaatan ruang. b) Perbandingan antara ketersediaan dan kebutuhan lahan. c) Perbandingan antara ketersediaan dan kebutuhan air.

Agar pemanfaatan ruang di suatu wilayah sesuai dengan kapasitas lingkungan hidup dan sumber daya, alokasi pemanfaatan ruang harus mengindahkan kemampuan lahan. Perbandingan antara ketersediaan dan kebutuhan akan lahan dan air di suatu wilayah menentukan keadaan surplus atau defisit dari lahan dan air untuk mendukung kegiatan pemanfaatan ruang. Hasil penentuan daya dukung lingkungan hidup dijadikan acuan dalam penyusunan rencana tata ruang wilayah. Mengingat daya dukung lingkungan hidup tidak dapat dibatasi berdasarkan batas wilayah administratif, penerapan rencana tata ruang harus memperhatikan aspek keterkaitan ekologis, efektivitas dan efisiensi pemanfaatan ruang, serta dalam pengelolaannya memperhatikan kerja sama antar daerah.

Status daya dukung lahan diperoleh dari pembandingan antara ketersediaan lahan (SL) dan kebutuhan lahan (DL).Penentuan daya dukung lahan dilakukan dengan membandingkan ketersediaan dan kebutuhan lahan.

i. Bila SL > DL , daya dukung lahan dinyatakan surplus.

ii. Bila SL < DL, daya dukung lahan dinyatakan defisit atau terlampaui.

Adapun daya dukung lingkungan yang ada di lokasi penelitian adalah sebagai berikut. 1. Potensi Andesit

Potensi batuan andesit yang dapat ditambang di lokasi penelitian adalah seluas 9.6 km2 . Kondisi geomorfologi yang berupa perbukitan berlereng agak curam juga berpengaruh dalam potensi barang tambang yang dapat diambil.

2. Kondisi Iklim

Kondisi iklim di Kabupaten Wonogiri termasuk tipe tropis atau memiliki dua musim, yaitu penghujan dan kemarau. Pergantian musim berlangsung sepanjang tahun dengan temperatur suhu udara rata-rata 24° –32°C. Curah hujan di Kabupaten Wonogiri rata-rata berkisar antara 1.557-2.476 mm/ tahun dengan hari hujan antara 107-153 hari/tahun.

Dari kajian yang telah dilakukan maka daya dukung dan daya tamping pada penambangan batu andesit untuk sementara tidak mengganggu kelestarian alam sekitar selama melakukan pendekatan pengelolaan lingkungan hidup.

92

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan berikut.

1. Daerah penelitian mempunyai litologi berupa batu andesit yang dimanfaatkan sebagai material tambang untuk digunakan sebagai pondasi bangunan.

2. Geomorfologi daerah penelitian merupakan perbukitan berlereng agak curam dengan kemiringan lereng 15-25% dengan indikasi apabila penambangan dilakukan terus menerus dengan teknik yang tidak tepat maka akan berbahaya berupa potensi gerakan tanah tinggi.

3. Kerentanan gerakan tanah di lokasi penelitian termasuk dalam daerah dengan tingkat kerentanan gerakan tanah menengah.

4. Daerah penelitian termasuk dalam zona kelayakan tambang bersyarat.

5. Peta peruntukan lahan merupakan hasil dari overlay peta geologi, geomorfologi, kerentanan gerakan tanah dan peta kelayakan tambang dengan hasil lokasi penelitian merupakan peruntukan lahan tegalan/ ladang dimana arahan pengembangan untuk lokasi tambang.

6. Identifikasi dampak meliputi dampak abiotik berupa parameter topografi, parameter proses longsor tanah dan parameter erosi tebing yang buruk dengan adanya kegiatan penambangan batu andesit, dampak biotik berupa parameter vegetasi penutup lahan yang buruk dengan adanya kegiatan penambangan dan dampak sosial budaya berupa parameter sumber mata pencaharian penduduk dan tingkat pendapatan penduduk sedang dengan adanya kegiatan penambangan sedangkan parameter tingkat kriminalitas dan kesehatan masyarakat baik dengan adanya penambangan batu andesit.

7. Prakiraan dampak di lokasi penelitian meliputi topografi, proses longsor, erosi tebing, sumber mata pencaharian penduduk, tingkat pendapatan penduduk dan tingkat kriminalitas berdampak penting sedangkan vegetasi penutup lahan dan kesehatan masyarakat berdampak tidak penting.

8. Evaluasi dampak di lokasi penelitian meliputi topografi, proses longsor, erosi tebing, vegetasi penutup lahan dengan evaluasi dampak negatif kecil dan penting,

sedangkan sumber mata pencaharian penduduk, tingkat pendapatan penduduk dan tingkat kriminalitas dengan evaluasi dampak positif kecil dan penting dan kesehatan masyarakat tidak berdampak penting.

9. Arahan pengelolaan lingkungan yaitu dengan menggunakan teknik penambangan bertingkat ( bench ), melakukan sosialisasi dan reklamasi lahan bekas tambang, membuka lahan dengan cara yang tepat untuk menambah lapangan kerja, menggunakan peralatan canggih untuk menambang agar produksi lebih banyak, mengajak masyarakat yang tidak mempunyai pekerjaan untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan menambang dan menggunakan APD (alat pelindung diri) dalam bekerja.

10. Analisis matrik SWOT menunjukkan di lokasi penelitian berada pada kuadran IV. 11. Analisis SWOT menunjukkan strategi dimana memanfaatkan kekuatan untuk

mengatasi ancaman.

12. Strategi pengelolaan penambangan batu andesit di lokasi penelitian antara lain: a. Pendekatan secara teknologi meliputi teknik menambang yang benar antara

lain dengan sistem bench, dan melakukan reklamasi lahan bekas tambang, penggunaan lahan secara terencana sehingga lahan yang ditambang dapat terencana tanpa merusak lingkungan, membuat saluran air sebagai jalan air hujan yang mengalir sehingga air hujan tidak meluber ke jalan raya

b. Pendekatan secara institusi meliputi mengadakan sosialisasi tentang tata cara menambang yang benar dan memberikan sosialisasi tentang tata cara mengurus ijin pertambangan yang benar sehingga ijin penambangan dapat segera diperoleh.

c. Pendekatan secara sosial dan ekonomi meliputi mengadakan pelatihan keterampilan selain menambang, sehingga dapat menambah lapangan kerja dan menggunakan APD (alat pelindung diri) dalam bekerja.

13. Penelitian ini termasuk dalam asas lingkungan yang ke-4 yaitu sumber daya berupa energi, ruang dan materi yang jika penggunaannya melebihi batas, ia akan menimbulkan dampak negatif.

14. Kegiatan pertambangan di Wonogiri khususnya di lokasi penelitian menimbulkan kerusakan berupa tingkat erosi lahan yang tinggi dan hilangnya tutupan lahan yang berakibat pada banjir di musim penghujan.

B. Saran

Berdasarkan hasil analisis data dan kesimpulan maka terdapat beberapa saran yang perlu diperhatikan baik bagi pemilik tambang maupun pemerintah:

1. Bagi pemerintah harus lebih tegas dapat menerapkan peraturan terhadap para pelaku tambang yang belum berijin.

2. Bagi pemilik tambang, dapat segera mengurus ijin dan lebih memperhatikan serta mengetahui tatacara pengelolaan tambang yang baik dan benar guna memperoleh hasil tambang yang maksimal dan dapat menghindari dampak negatif yang timbul dari proses tambang, baik kecelakaan kerja maupun kerusakan lingkungan.

3. Memperkecil frekuensi pertambangan dan melakukan teknik tambang yang benar agar dapat memperkecil dampak negatif yang ditimbulkan dari kegiatan tersebut. 4. Membuat saluran air hujan di lokasi yang dilakukan penambangan, sehingga air

95

Kebijakan. Bogor: CIFOR.

Anonimous. 2011. Kabupaten Wonogiri Dalam Angka Tahun 2012. Badan Pusat Statistik Kabupaten Wonogiri.

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi Jawa Barat. 2005.

StatusLingkungan Hidup Provisi Jawa Barat.

Barbosa P.M., M.A. Casterado, and J. Harrero. 1996. Thematic Mapper Image Classification Method for Crop Extent Estimates in an Irrigation District. International Journal of Remote Sensing, 1996, vol.17.no.18, pp:3665-3674. C.Long & R.Sweatman (Eds), 1979: The Indonesian Mining Industry, itspresent and

future; Indonesian Mining Association Symposium, p.387-407

Capricorn Indonesia Consult,1993; Studi Tentang Pertambangan Umum dan Mineral di Indonesia 1993; CIC Consultant Group, Jakarta

Cathy, J.Busby-Spera,1985: Depotional Features Of Rhyolitic and Andesitic Volcaniclastic Roks of The Mineral King Submarine Caldera Complex, Sierra Nevada, California; Journal of Volcanology and Geothermal Research, 27 (1986) 43-76

D.A. Wulandari, D. Legono, S. Darsono, 2015: Evaluation of Deposition Pattern of Wonogiri Reservoir Sedimentation; International Journal of Civil &

Environmental Engineering IJCEE-IJENS Vol: 15 No: 02.

Dyah Ari Wulandari, Djoko Legono, Suseno Darsono,2014: Reservoir Operation to Minimize Sedimentation, International Journal of Science and Engineering, Vol. 6(1)2014:16-23

Fakhar Khalid, Renee Babb,2008: Hazard and Risk Assessment from Hurricane Ivan (2004) in Grenada using Geographical Information Systems and Remote Sensing; Journal of Maps; p.4-10

Fandeli, C. 2010. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Prinsip Dasar Dalam

Pembangunan. Yogyakarta: Liberty Offset.

Glasman, J.R. 1982. Alteration Of Andesite In Wet, Unstable Soils Of Oregon's Western Cascades. International Journal Clays and Clay Minerals, vol. 30, no. 4, hlm. 253-263.

Hartono, H.M.S.,1979: Geological Mapping in Indonesia, The State of The Art ;

Bull.Geol.Res.and Dev.Centre, N.1

Haryono,S. 2008. Analisa Kebisingan Fasilitas Utility PT.Pertamina (persero) UP-VI Balongan Indramayu. Jurnal Presipitasi, vol. 5, no. 2, ISSN 1907-187X.

Ketergangguan Masyarakat Akibat Penambangan Batu Andesit Di Desa Jeladri, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan Jawa Timur. Jurnal Ilmu Lingkungan, vol. 2, no. 2, hlm. 95-99, ISNN: 1829-8907.

Hill. Gendoet Hartono, 2011: Geology of ancient volcano of Gajahmungkur in area Wonogiri, international journal of geology vol.4

Katili,J.A.,1992:’Ringkasan Geologi dan Potensi Mineral Indonesia; dalam Simatupang,M.& S.Sigit (Eds), Pengantar Pertambangan Indonesia, Asosiasi Pertambangan Indonesia, h.01-39

Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor: 1453K/29/MEM/2000 tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan Tugas Pemerintah di Bidang Pertambangan Umum Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Diperoleh 24 September 2014, dari http://prokum.esdm.go.id/kepmen/2000/kepmen-1453-2000.pdf

Kocal, A., Duzgun, H. S. and Karpuz, C. (2007); An accuracy assessment methodology for the remotely sensed discontinuities: a case study in Andesite Quarry area, Turkey', International Journal of Remote Sensing, 28:17, 3915 - 3936

Kricak, L., Kecojevic, V., Negovanovic, M., Jankovic, I., dan Zekovic, D. 2012.

Environmental And Safety Accidents Related To Blasting Operation. American Journal of Environmental Science, vol. 8, no. 4, hlm. 360-365.

Kunrat, T.S.,et.al...(eds),2000; Bahan Galian Industri; Bagian II, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral, Bandung

Laila, Hasbi. 2008. Analisis Lingkungan Dalam Memformulasikan Rencana Strategi Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin. Nasional Conference on Management Research.

Marganingru, D., dan Noviardi, R. 2010. Pencemaran Air Dan Tanah Di Kawasan Pertambangan Batubara di PT. BERAU COAL, Kalimantan Timur. Jurnal Riset Geologi dan Pertambangan, vol. 20, no. 1, hlm. 11-20. Diperoleh 3 Juli 2014, dari http://geotek.lipi.go.id/riset/index.php/jurnal/article/viewFile/67/28.

Mnsri, S. dan Sutriyono. 2012. Kajian Pertambangan Bahan Galian Golongan C Di Kabupaten Bengkulu Selatan. Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, vol. 1, no. 2, ISSN: 3302-6715.

Mudyazhezha, S dan Kanhukamwe, R, 2014, “Environemntal Monitoring of the Effects

of Conventional and Artisanal Cold Mining on Water Quality in Ngwabalozi

River, Southern Zimbabwe”, International Journal of Engineering and Applied Science. Vol 4. No. 10 hal. 13-18

Nancy, E.P. 2007. Kajian Pengelolaan Kawasan Wisata Danau Lido Kabupeten Bogor, Jawa Barat. Skripsi. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Szobolcs, I. (Ed). Soil Resilience and Sustainable Land Use. CAB International. 561 pp.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2010 tentang Reklamasi Dan Pasca Tambang Prinsip Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Pertambangan. Diperoleh 24 Maret 2014, dari

http://prokum.esdm.go.id/pp/2010/PP%2078%202010.pdf

Prahasta, E. 2001. Konsep-Konsep Dasar Sistem Informasi Geografis. Bandung: CV Informatika.

Prahasta, E. 2002. Sistem Informasi Geografi: Tutorial ArcView. Bandung: CV Informatika.

Pudjiwaskito, D.I. 2005. Kajian pengelolaan dan pengembangan ekowisata sumber air panas Ciater, Subang, Jawa Barat Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Purwanto, A.T. 2002. Analisa Pengaruh Implementasi ISO 14001 Terhadap Indikator Kinerja Lingkungan Kuantitatif dan Kualitatif Menggunakan Pengembangan Model EPE ISO 14031. Tesis, Institut Teknologi Bandung, Indonesia.

R. J. Bultitude, R. W. Johnson, & B. W. Chappell;1978;Andesites of Bagana volcano, Papua New Guinea:chemical stratigraphy, and a reference andesite composition; BMR Journal of Australian Geology & Geophysics, 3, 1978, 281-295

Rangkuti, A.C., Nugraha, A.L, Haniah. 2014. Aplikasi SIG Berbasis Desktop Untuk Sebaran Lokasi Usaha Pertambangan di Kabupaten Wonogiri. Jurnal Geodesi

UNDIP, vol. 3, no. 1, hlm. 90-102, ISSN:2337-845X.

Rangkuti, F. 2005. Analisis SWOT. Teknik membedah kasus bisnis: reorientasi konsep

perencanaan strategis untuk menghadapi abad 21. Jakarta: PT Gramedia

Pustaka Utama.

Reganold, J. P., and M. J. Singer, 1979. Defining Prime Farmland by Three Land Classification System. Journal of Soil and Water Conservation, 34, 172-176. Ritu, P. 2006. EIA practice in India and its evaluation using SWOT analysis.

Environmental Impact Assessment Review, no. 26, hlm. 492-510.

S.Bronto,S.Mulyaningsih,G.Hartono and B.Astuti;2009: Waduk Parangjoho dan Songputri: Alternatif Sumber Erupsi Formasi Semilir di daerah Eromoko, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, International Journal of Geology.Vol.4

Shofani, 2014. Analisa Strategi Sistem Informasi Pemasaran Produk Pada Home Industri Growth Semarang. Universitas Dian Nuswantoro.

Soedarso, B.P. 2009. Potret Hukum Pertambangan di Indonesia Dalam Era UU No.4 Tahun 2009, Lembaga Pengkajian Hukum Internasional Universitas Indonesia, Jakarta. Jurnal Hukum Internasional, vol. 6, no. 3, hlm. 411.

Jakarta: PT Buku Seru.

Surono, B.T. dan Sudarno,I. 1992. Peta Geologi skala 1:100.000 Lembar Surakarta – Giritontro, Jawa, Pusat Penyelidikan dan Pengembangan Geologi, Bandung. Syafri,A.Sudradjat,N.Sulaksana and G.Hartono;2010: The Evolution of Gajahmungkur

Paleovolcano, Wonogiri, Central Java, as A Reference to Revize the

Terminology of “Old Andesite Formation”; International Journal of

Geology.Vol.5.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Diperoleh 24 Maret 2014, dari www.hukumonline.com/pusatdata/downloadfile

Yudhistira, Hidayat, W.K., dan Hadiyarto, A. 2011. Kajian Dampak Kerusakan Lingkungan Akibat Kegiatan Penambangan Pasir Di Desa Keningar Daerah Kawasan Gunung Merapi. Jurnal Ilmu Lingkungan, vol. 9, no. 2, hlm. 76-84.

1 Strategi Pengelolaan Penambangan Batu Andesit di Kecamatan Wonogiri

Kabupaten Wonogiri UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2016

KUESIONER

STRATEGI PENGELOLAAN PENAMBANGAN

BATU ANDESIT DI KECAMATAN WONOGIRI

KABUPATEN WONOGIRI

A. IDENTITAS RESPONDEN : 1. Nama : ... 2. Alamat : ... RT ... / RW ... 3. Jenis Kelamin : ... 4. Umur : ... 5. Pendidikan : ... 6. Agama : ...

7. Suku / Identitas Adat : ...

8. Pekerjaan : ...

9. Status Perkawinan : ...

10. Jumlah Tanggungan Keluarga : ... B. Pilihlah Jawaban yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya (boleh lebih

dari 1)!

11. Apa tujuan Bapak bekerja ?

a. Sebagai pekerjaan utama

b. Sebagai pekerjaan sampingan

c. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari

d. Untuk menambah uang saku

12. Apa manfaat pekerjaan ini bagi kehidupan bapak?

a. Penghasilan utama

b. Pemasukan tambahan

c. Biaya hidup sehari-hari

d. Biaya sekolah anak

13. Apa manfaat pekerjaan ini bagi lingkungan bapak?

a. Mengurangi pengangguran

2 Strategi Pengelolaan Penambangan Batu Andesit di Kecamatan Wonogiri

Kabupaten Wonogiri

14. Apa manfaat pekerjaan ini bagi keluarga bapak?

a. Meningkatkan kesejahteraan

b. Menambah pemasukan keluarga

c. Membiayai sekolah anak

d. Memenuhi kebutuhan tersier

15. Apa manfaat pekerjaan ini bagi pemerintah daerah?

a. Menambah PAD

b. Mengurangi tingkat pengangguran

c. Mengurangi tingkat kriminalitas

d. Merusak lingkungan

16. Apa yang terjadi jika penambangan dilakukan terus menerus? a. Tingkat erosi tinggi

b. Menambah penghasilan

c. Lahan menjadi gundul

d. Terjadi kekeringan

17. Apa yang bapak takutkan ketika bekerja di sini? a. Potensi longsor tinggi

b. Sidak dari pemerintah daerah

c. Barang tambang kurang laku

d. Penghasilan rendah

18. Apa yang akan terjadi jika hujan turun terus menerus? a. Air hujan meluber ke jalan

b. Air hujan menggenang di bekas tambang

c. Longsor

19. Apa penyebab hal di atas terjadi?

a. Air hujan tidak dapat meresap ke tanah b. Curah hujan tinggi

c. Tanah terbuka

20. Apa yang terjadi jika hal tersebut (di atas) tidak segera ditangani?

a. Dapat menyebabkan kecelakaan

b. Dapat mempersulit dalam bekerja

c. Tidak terjadi apa-apa

21. Kira-kira hal penting apa yang harus bapak perhatikan dalam bekerja?

a. Keselamatan kerja

3 Strategi Pengelolaan Penambangan Batu Andesit di Kecamatan Wonogiri

Kabupaten Wonogiri

d. Tidak ada yang perlu diperhatikan

22. Seberapa jauh tempat bapak bekerja dengan pemukiman warga? a. <200 m

b. 200 m – 500 m c. 500 m – 1 km d. > 1 km

23. Apa manfaat dari lahan bekas tambang ini?

a. Untuk bangunan

b. Untuk lahan pertanian

c. Untuk lahan berdagang

d. Tidak bermanfaat

24. Apa alasan bapak menambang batu andesit?

a. Mudah diambil (hasil tambang)

b. Dekat dengan rumah

c. Diajak tetangga/kerabat

d. Tidak ada pekerjaan lain

25. Peralatan apa yang bapak gunakan untuk bekerja? a. Betel

b. Mesin pemecah batu

c. Cangkul

d. Palu

26. Mengapa bapak memilih lokasi ini sebagai tempat bekerja?

a. Potensi tambang besar

b. Dekat dengan rumah

c. Mudah dijangkau

d. Dekat dengan jalan raya

27. Apakah warga sekitar mengetahui lokasi tambang ini?

a. Ya

b. Tidak

28. Berapa m3 yang dapat bapak hasilkan tiap harinya? a. 1-2 m3

b. 2-3 m3

c. 3-4 m3

4 Strategi Pengelolaan Penambangan Batu Andesit di Kecamatan Wonogiri

Kabupaten Wonogiri

memiliki ijin?

a. Tidak pernah

b. Pernah, hanya sesekali c. Sering

d. Selalu

30. Apa tindakan pemerintah terhadap penambang yang tidak memiliki ijin? a. Diam saja

b. Bertindak tegas memberi denda

c. Menutup lokasi tambang

31. Menurut bapak, apa hambatan bapak dalam bekerja?

a. Surat ijin menambang dari pemerintah

b. Peralatan yang sederhana

c. Jarak yang jauh dari tempat tinggal

d. Susahnya mencari pembeli

32. Berapa kali terjadi longsor dalam setahun di tempat ini? a. > 10 kali

b. 9-6 kali c. 5-3 kali d. 2-0 kali

33. Berapa pendapatan bapak bekerja di sini tiap bulan? a. < Rp. 700.000,-

b. Rp. 700.000, - s.d. Rp. 1.000.000,- c. Rp. 1.000.000, - s.d. Rp. 1.300.000,- d. > Rp. 1.300.000,-

34. Berapa kali terjadi tindak kriminal di tempat bapak tinggal? a. Sering

b. Kadang-kadang

c. Jarang

d. Tidak pernah – aman

35. Penyakit apa yang bapak derita semenjak kerja di lokasi tambang ini? a. Keseluruhan penyakit infeksi

b. 30 % penyakit non infeksi c. 50% penyakit non infeksi

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 1 Pekerjaan sampingan 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 2Pemasukan/penghasilan

tambahan bagi penambang 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.5 0.75 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.5 0.5 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.29 3 Mengurangi tingkat kriminalitas 0.3 0.6 0.6 0.6 0.6 0.6 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.6 1 0.6 0.3 0.3 0.3 0.3 0.6 0.6 0.3 0.6 0.3 0.6 0.3 0.6 0.6 0.6 0.3 0.46 4 Meningkatkan kesejahteraan 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.5 0.25 0.25 0.25 0.25 0.5 0.75 0.25 0.5 0.25 0.25 0.25 0.5 0.5 0.25 0.25 0.25 0.25 0.5 0.25 0.25 0.5 0.33 5 Menambah PAD 0.5 0.5 0.75 0.75 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.25 0.5 0.5 0.75 0.5 0.5 0.75 0.25 0.25 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.25 0.5 0.75 0.75 0.52 6 Tingkat erosi/tebing tinggi 0.25 0.25 0.5 0.25 0.25 0.25 0.25 0.5 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.75 0.5 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.5 0.25 0.5 0.25 0.25 0.31 7 Potensi longsor tinggi 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.5 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.5 0.5 0.25 0.5 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.28 8Air tidak dapat/ susah meresap

ke tanah 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.6 0.6 0.3 0.6 1 0.6 0.6 0.3 0.3 0.3 0.3 0.6 0.3 0.6 0.3 0.6 0.3 0.6 0.3 0.3 0.41

9Air hujan meluber/banjir ke

jalan 0.6 0.6 0.6 0.6 0.6 0.6 0.6 0.6 0.3 0.6 0.3 0.3 0.3 0.6 0.6 0.3 0.3 0.3 0.6 0.6 0.3 0.3 0.6 0.3 0.6 0.6 0.6 0.6 0.6 0.6 0.5

10 Dapat menyebabkan kecelakaan 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.6 0.3 0.3 0.6 0.3 0.3 0.3 0.6 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.6 0.3 0.3 0.34 11 Kesehatan masyarakat 0.25 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.25 0.5 0.5 0.5 0.25 0.25 0.5 0.25 0.25 0.25 0.75 0.25 0.25 0.5 0.25 0.25 0.25 0.25 0.5 0.25 0.5 0.25 0.5 0.25 0.38 12 Jauh dari pemukiman warga 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 13 Bekas penambangan dapat 0.5 0.5 0.25 0.25 0.25 0.25 0.5 0.5 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.5 0.25 0.5 0.5 0.25 0.25 0.5 0.5 0.5 0.5 0.25 0.5 0.5 0.5 0.5 0.25 0.38 14 Mudah diambil (hasil tambang) 0.25 0.5 0.5 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.5 0.25 0.25 0.5 0.75 0.5 0.25 0.5 0.25 0.25 0.25 0.25 0.5 0.25 0.5 0.5 0.25 0.25 0.25 0.25 0.5 0.35 15 Peralatan yang sederhana 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 16 Potensi tambang yang besar 0.25 0.5 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.5 0.5 0.25 0.5 0.75 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.5 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.31 17Lokasi tambang diketahui oleh

warga sekitar/dekat 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 18 Ijin dikeluarkan (perusahaan) 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 19Lemahnya penanganan/ sanksi

pemerintah 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 20 Di luar otoritas pemerintah 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 0.3 21Surat ijin pemerintah untuk

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

1 Pekerjaan sampingan B B B B B B B B B B B B B B B A B B B B B A B B B B B B B B 5

2 Pemasukan/penghasilan

tambahan bagi penambang B B B B B B B B BC BD B B B B B ACD BD B B B B A B B B B B B B B 4

3 Mengurangi tingkat kriminalitas A AB AC AB A AB A AB A AC AB C A A A AC ABC AB A A A A A A AB AB AB AB AB A 2

4 Meningkatkan kesejahteraan AB AB B AC B A B A AB BC A B B AB A ABC BC A B B A AC A A A A A A A A 2

5 Menambah PAD ABC ABC AB A AB AB AB AB AB AB AC A A ABC AB AB ABC AB AB A AB AB AB AB AB AB ABC ABC AB AB 4

6 Tingkat erosi/tebing tinggi A A AC A AC A A A A A A A A A A AC ABC A A A A A AC A A A A AC A A 4

7 Potensi longsor tinggi A A A A A A A A A A A A A AB A AB AB A A A A A AD A A A A A A A 4

8 Air tidak dapat/ susah meresap

ke tanah A A AC A AC A AC A AB A A A A AB AB ABC AB A AB AC A A A A A A A A A A 5

9 Air hujan meluber/banjir ke

jalan AB AB AB AB AB AB A AB A A AB AB A A A AB AB A A A AB A AB AB AB AB AB AB AB AB 5

10 Dapat menyebabkan kecelakaan A A AB A A A A A A AB A A A AB A A AB A A A A A A A A A A A A A 5

11 Kesehatan masyarakat A AB A AB A AB A A A A AB A A ABC A A A AB A A AB AB AB A AB AB AB AB AB A 5

12 Jauh dari pemukiman warga C C C C C C C C C C C C C C C C C C C C C C C C C C C C C C 5

13 Bekas penambangan dapat

dimanfaatkan untuk bangunan B AB AB AB AB A AB AB AB AB A B AB AB A AB B A B A A A AB AB A A A A AB AB 4

14 Mudah diambil (hasil tambang) AC A A A A AC AC A AC A A A A AB A AC ABC AB A A AB A A A A A A AB AC A 5

15 Peralatan yang sederhana AD AD AD AD AD AD AD AD AD AD AD AD AD AD AD AD AD AD AD AD AD AD AD AD AD AD AD AD AD AD 5

16 Potensi tambang yang besar A A A A A AC A A A A A A A ABD AB A BC AC A A A A AC A A A A A AC A 5

17 Lokasi tambang diketahui oleh

warga sekitar/dekat A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A 5

18 Ijin dikeluarkan (perusahaan) A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A 5

19 Lemahnya penanganan/ sanksi

pemerintah A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A 5

20 Di luar otoritas pemerintah A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A 5

21 Surat ijin pemerintah untuk

penambangan A A AB A AB A AB A AB AB A AB AB A A AB AB A AB AB A A A A A A A A A A 5

Pertanyaan

Dokumen terkait