HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Parameter Fisik
4.1.3. Daya Hantar Listrik
terkena efek pencemar. Hal tersebut juga dipengaruhi akan kandungan oksigen untuk bernapas. Pada masa peralihan musim biasanya banyak ikan yang tidak dapat bertahan hidup sehingga banyak yang mati.
Ikan yang hidup di dalam air yang mempunyai suhu relatif tinggi akan mengalami kenaikan kecepatan respirasi, karena suhu yang tinggi maka kandungan oksigennya sedikit. Dengan oksigen yang sedikit ikan akan muncul ke permukaan air untuk mengambil oksigen (Anonim, 2007).
4.1.3. Daya Hantar Listrik
Daya Hantar Listrik (DHL) merupakan kemampuan air untuk menghantarkan listrik. Berdasarkan hasil pengukuran secara insitu diperoleh Daya Hantar Listrik air berbeda-beda pada setiap titik sampling. DHL dipengaruhi juga oleh kadar salinitas air, semakin besar salinitasnya semakin besar pula DHL air (Mulyadi, 2004).
Berdasarkan hasil yang diperoleh, DHL air dengan nilai rata-rata sebesar 202,4 µS/cm masih dibawah kadar yang normal sesuai dengan baku mutu sebesar 200-1500 µS/cm. Meskipun terdapat DHL terbesar pada titik sampling 4 yaitu sebesar 336 µS/cm. Kadar DHL air Situ Cileduk Pamulang dapat dikatakan baik untuk pembudidayaan perikanan air tawar. Dengan adanya salinitas yang tidak terlalu tinggi maka kehidupan mikroorganisme dan hewan air akan seimbang.
4.2. Parameter Logam
Penelitian ini mengukur kadar logam-logam yang terlarut dalam air Situ. Beberapa parameter logam yang diukur yaitu Pb, Fe dan Cd. Pengukuran dilakukan secara eksitu, yaitu pengukuran kadar logam dilakukan di laboratorium
43 Terpadu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sampel yang telah diambil dari Situ Cileduk ditambahkan sedikit HNO3 sebagai pengawet agar tidak terjadi degradasi atau perusakan unsur-unsur yang ada dalam sampel. Sedangkan penambahan HNO3 sebanyak 2,5 mL merupakan proses destruksi menghasilkan logam total karena parameter logam yang diukur adalah logam total yang terlarut dalam air. Pengukuran dilakukan pada tanggal 23 Juli dengan menggunakan SSA dengan merk Perkin Elmer 700. Sebelum sampel diukur terlebih dahulu dibuat larutan standar sebagai larutan pembanding dengan konsentrasi sampel yang bebeda-beda. Adapun alasan diambilnya 3 parameter logam yang diukur yaitu, pengukuran logam Pb dilakukan karena lokasi situ berada di pinggir jalan, sehingga memungkinkan masuknya logam Pb yang berasal dari asap knalpot kendaraan. Pengukuran logam Fe dilakukan karena logam ini berpengaruh terhadap perikanan, sedangkan pengukuran logam Cd dari limbah detergen yang berasal dari saluran pembuangan rumah tangga penduduk sekitar.
4.2.1. Timbal (Pb)
Tabel 2. Data hasil pengukuran logam Pb No Titik
sampling
Hasil Analisa Baku Mutu
1 Tidak Terdeteksi 0,03 ppm 2 Tidak Terdeteksi 0,03 ppm 3 Tidak Terdeteksi 0,03 ppm 4 Tidak Terdeteksi 0,03 ppm 5 Tidak Terdeteksi 0,03 ppm 6 Tidak Terdeteksi 0,03 ppm 7 Tidak Terdeteksi 0,03 ppm 8 Tidak Terdeteksi 0,03 ppm 9 Tidak Terdeteksi 0,03 ppm 10 Tidak Terdeteksi 0,03 ppm
44 Berdasarkan data yang terdapat dalam Tabel 2 hasil pengukuran logam Pb tidak terjadi penyerapan gelombang logam Pb oleh alat SSA. Kawasan Situ yang dekat dengan jalan raya hanya ± 2% dari bagian Situ dengan jarak ± 50 m mudah tercemar logam Pb (Kusnoputranto, 1995). Situ Cileduk dekat dengan jalan, akan tetapi daerah Situ Cileduk yang dekat dengan jalan raya merupakan jalur outlet, sehingga dapat dikatakan bahwa kadar logam Pb yang masuk ke badan air relatif kecil dan akan teralirkan keluar. Sehingga dapat dikatakan tidak ada logam Pb yang masuk ke badan air Situ dan kondisi air Situ masih aman dan tidak tercemar logam Pb.
Selain itu logam Pb juga terkandung di alam secara alamiah yang berasal dari pelapukan batuan kemudian terlarut dalam air dan mengalir sebagai air permukaan. Meskipun demikian pada pengukuran pada masing-masing titik sampling tidak terukur serapan panjang gelombangnya. Dengan batas limit deteksi alat SSA yang sangat kecil yaitu 0,05 ppm berarti kadar logam Pb di air Situ Cileduk masih dibawah ambang batas yang ditentukan pada PP no.82 tahun 2001. 4.2.2. Kadmium (Cd)
Berdasarkan data yang diperoleh dapat dilihat kadar logam Cd yang terkandung dalam air Situ Cileduk. Pada titik L1 sebesar 0,015 ppm, titik L2 0,003 ppm, titik L3 0,009 ppm, titik L4 0,008, titik L5 0,003 ppm, titik L6 0,003 ppm, titik L7 0,006 ppm, titik L8 0,008 ppm, titik L9 0,007 ppm dan titik L10 0,015 ppm. Setelah dibandingkan dengan baku mutu berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No.82 tahun 2001 yaitu dengan ambang batas sebesar 0,01 ppm, maka terlihatlah bahwa titik L1 dan L10 melebihi ambang batas yang
45 0 0.005 0.01 0.015 0.02 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 K a d a r L og a m C d ( p p m ) Titik Sampling
ditentukan. Sedangkan untuk titik sampling L2 sampai L9 masih dibawah ambang batas yang ditentukan. Data hasil analisa logam Cd dapat dilihat pada Gambar 9.
Gambar 9. Grafik Kadar Logam Cd
Titik L1 merupakan daerah aliran buangan mall, sehingga dapat dikatakan air buangan mall banyak mengandung logam Cd. Karena mall banyak menggunakan larutan disinfektan yang merupakan larutan pembersih dan mengandung logam Cd (Anonim, 2007). Titik L10 merupakan titik inlet atau aliran air masuk, maka dapat dikatakan air yang masuk mengandung logam Cd yang tinggi sehingga berpengaruh terhadap konsentrasi logam Cd yang ada di Situ Cileduk. Hal ini dapat disebabkan karena pada umumnya sumber cemaran logam Cd berasal dari limbah industri yang melibatkan Cd sebagai bahan produksinya. Selain itu cemaran Cd bersumber dari penggunaan sisa lumpur kotor sebagai pupuk tanaman yang kemudian terbawa oleh aliran air (Widowati et al., 2008). Kadar Cd terendah terdapat pada titik L2, L5, dan L6 yaitu sebesar 0,003 ppm. Menurut Mukono (2005), indikator adanya logam berat kadmium di dalam perairan ditunjukkan dengan adanya diversitas komunitas protozoa, densitas
46 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 K a d a r F e (pp m ) Titik Sampling
populasi protozoa, dan biomassa protozoa. Namun, dalam penelitian kami ini tidak dilakukan beberapa pengukuran tersebut, karena kami memfokuskan penelitian dengan pengukuran kadar logam menggunakan alat SSA.
Dengan demikian titik L1 dan L10 telah tercemar sehingga perlu adanya pemantauan lebih lanjut sehingga kualitas air Situ dapat terpantau dan pencemaran dapat dicegah.
4.2.3. Logam Fe
Kadar Fe yang terkandung pada air Situ Cileduk Pamulang dapat dilihat pada Gambar 10.
Gambar 10. Kadar Logam Fe Pada Situ Cileduk Pamulang
Dari Gambar 10 dapat dilihat bahwa kadar Fe terendah terdapat pada L1 yaitu sebesar 0,472 ppm, sedangkan kadar logam Fe tertinggi terdapat pada L10 yaitu sebesar 2,811 ppm. Apabila dibandingkan dengan baku mutu masih dibawah ambang batas. L1 merupakan aliran buangan mall yang melewati jaring penangkap ikan. Berdasarkan pengamatan saat sampling berlangsung, terlihat aliran bawah air cukup deras karena menuju aliran outlet. Dengan adanya arus
47 bawah air yang cukup deras tersebut dapat dikatakan air bergerak cepat sehingga kandungan Fe nya rendah. Sedangkan L10 merupakan arus pertemuan antara inlet dengan badan air Situ, maka dapat dikatakan bahwa arus inlet mengandung kadar Fe cukup tinggi. Selain itu, berdasarkan hasil pengamatan pada saat sampling dilakukan banyak terdapat sampah padat yang mengapung di air berupa kaleng dan sampah plastik. Sampah tersebut berasal dari penduduk sekitar yang membuang sampah ke dalam sungai sehingga sampah yang terbawa oleh arus inlet.
Berdasarkan data hasil pengukuran, apabila dibandingkan dengan PP No. 82 Tahun 2001 tidak ditentukan ambang batasnya namun pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 37 Tahun 2003 kadar Fe pada air permukaan sebesar 5 ppm. Hal tersebut menunjukkan bahwa kadar Fe dibawah 5 ppm tidak membahayakan karena Fe merupakan unsur logam utama penyusun kerak bumi, sehingga secara alami banyak terdapat di alam termasuk di perairan.
48 BAB V