TINJAUAN PUSTAKA
2.4. Daya Tarik Berdasarkan Ekowisata
Pada sub-bab ini peneliti akan melakukan kajian literatur yang mengaitkan antara landasan teori daya tarik wisata ekowisata pesisir dengan persepsi masyarakat. Melalui kajian literatur sebelumnya telah didapatkan aspek-aspek daya tarik ekowisata dan elemen-elemen yang membentuk ekowisata. Dalam pembahasan sub-bab ini akan dibagi menjadi dua bagian yaitu; Daya tarik alam wisata pesisir berdasarkan ekowisata; Serta daya tarik buatan pesisir berdasarkan ekowisata.
2.4.1. Daya Tarik Alam
Daya tarik alam adalah suatu pengembangan wisata yang lebih banyak di fokuskan pada keindahaan dan keunikan yang tersedia di alam (Sunaryo, 2013).
Indonesia sangat memiliki sumber daya alam beserta ekosistemnya dapat berupa keindahan alam dan keunikan flora dan fauna, kondisi lingkungan serta gejala alam yang merupakan kekayaan alam yang dapat dimanfaatkan sebagai daya tarik dari sebuah objek ekowisata. Selain itu, dalam instrumen pengembangan daya tarik alam ekowisata nilai tentang alam merupakan penilaian pertama yang dapat berupa nilai keindahan alam dan keunikan alam (Nafi, M., Supriyadi, B., & Roedjinandari, N., 2017).
Berdasarkan latar belakang diatas, dalam pembahasan daya tarik alam dalam sub-bab ini akan dibagi menjadi tiga bagian yaitu; Keindahan alam;
Kebersihan dan kenyamanan; Keunikan alam
2.4.1.1 Keindahan Alam
Dalam pengembangan ekowisata, destinasi wisata yang sangat diminati oleh ecotour adalah daya tarik daerah yang alami (Fandeli, 2005). Sedangkan itu ekowisata apabila dilihat sebagai produk merupakan suatu atraksi wisata yang berbasis pada sumber daya alam (Helmut, 2006). Maka dari itu daya tarik utama dari pengembangan keindahan alam ekowisata ini terletak pada lingkungan yang alami dan asri. Tujuan wisatawan jelas pada ekowisata ini karena wisatawan ingin mengalami langsung dan merasakan tentang kebenaran lingkungan yang alami tersebut (Kaltenbom & Bjerke, 2002).
35
Suatu persepsi masyarakat terhadap kualitas daya tarik wisata sangat berpengaruh dalam mengarahkan minat wisatawan untuk berkunjung (Sopyandi, 2015), dimana semakin indah kualitas keindahan alam suatu lingkungan wisata tentu akan menimbulkan gambaran yang indah dalam persepsi wisatawan yang akan berkunjung. Maka dari itu, suatu persepsi dapat diartikan suatu metode dalam menilai dan menandai suatu fenomena atau obejk suatu lingkungan, dimana faktor kekuatan visual (image) merupakan faktor utama, semakin kuat faktor visual maka akan semakinmudah dalam mengenal objek atau lingkungan itu untuk dipahami (lynch, 1981). Selain itu, persepsi dapat diketahui melalui hubungan pada suatu kejadian visual yang meliputi: tempat, warna, bentuk, dan ukuran, dimana suatu objek dapat dirasakan menonjol karena sifatnya dan keberadaanya yang menonjol diantara objek lainnya (Laurens, 2005). Tentu, dengan adanya keindahan alam yang alami akan menjadi pembedah dan menjadi daya tarik ekowisata dibanding dengan destinasi lainnya.
Kecerahan perairan merupakan syarat utama dalam kegiatan pariwisata pesisir. Semakin cerah suatu perairan, maka semakin mudah wisatawan merasakan keindahan dalam perairan yang dapat dinikmati (Yulius, 2018), sedangkan tentang mutu air laut, nilai kecerahan air laut untuk kegiatan wisata ada pada > 6 (enam) meter (Kepmen No 51, 2004). Tentu dengan perairan yang dangkal tentu dapat dijadikan sebagai kegiatan rekresi renang. Kedalam yang baik untuk berenang ada pada kedalam 0-5 meter. Lebar pantai juga sangat mempengaruhi terhadap aktivitas yang dilakukan wisatawan. Semakin lebar pantai yang dimiliki suatu objek wisata maka wisatawan akan merasakan nyaman dalam melakukan aktivitasnya (Rahmawati, 2009). ada beberapa jenis tipe pantai pada umumnya terbagi menjadi
empat yaitu, pantai datar, landau, curam, dan terjal, pantai landau memliki kemiringan <10°, landai 10–25° dan curam >25° (Yulianda, 2007).
Daerah yang alami merupakan daya tarik utama pada pengembangan ekowisata. Oleh sebab itu, dalam pengembangan ekowisata pesisir dan laut harus lebih dekat kepada aspek pelestarian. Dalam pengembangan ekowisata pesisir dan laut sesungguhnya tidak menjual objek dan tujuan, akan tetapi yang dijual berupa filosofi dan rasa (Tuwo, 2011). Rasa ini dapat menciptakan ketenangan, ketentraman dengan keaslian alam dan lingkungan, seni budaya, dan kebiasan hidup masyarakat pesisir sehingga menciptakan keseimbangan antara manusia dan alam sekitarnya. Rasa tersebut tercipta dari adanya suatu keunikan atau indetitas tempat yang menciptakan pengalaman yang tak terlupakan bagi wisatawan (Ginting
& Wahid, 2017).
Ekowisata merupakan jenis wisata yang paling murah, karena hanya menjual rasa kepada wisatawan, rasa tersebut dapat dieskpresikan dengan senang hati dengan berbagi rasa dengan orang lain (Tuwo, 2011). Dimana rasa tersebut dapat berbentuk kepuasan terhadap lokasi wisata tersebut. Di dalam suatu persepsi, kepuasan tersebut didapat dari hasil penilaian wisatawan terhadap produk wisata yang ditawarkan dan disediakan, di mana persepsi wisatawan akan menggambarkan kepuasan mereka (Tantrisna, 2006).dengan begitu produk yang ditawarkan harus memiliki kekhasan atau berbeda dengan lainnya. Kekhasan itu sendiri merupakan faktor yang menciptakan minat wisatawan untuk berkunjung kelokasi wista, salah satu faktor yang mempengaruhi kekhasan suatu tempat yaitu dengan keunikan destinasi itu sendiri. (Ginting, N., & Anggaly, 2021).
37
Dalam beberapa penelitian menunjukkan bahwa masyarakat lokal hanya memperoleh sedikit keuntungan dari kegiatan wisata, sedangkan sebagian besar keuntungan didapatkan oleh investor dan kaum elit (Ginting, 2016), maka dari itu dengan keindahan alam yang dimilikinya seharusnya masyarakat dapat menerima dampak secara ekonomi agar dapat taraf hidup yang lebih baik. Dimana Kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir saat ini sangat didominasi oleh kegiatan yang bergantung kepada laut penangkapan ikan, sedangkan kegiatan ekonomi lainnya seperti wisata pesisir dan laut belum berkembang dengan baik (Indarti, I., &
Wardana, D. S. 2013).
Salah satu penyebab belum terkelolahnya potensi wisata di wilayah pesisir dan laut belum maksimal dikarenakan tidak adanya sistem kelembagaan yang mendukung dalam sektor pengembangannya (Budiharsono, 2001) Salah satu masalah yang paling menonjol dalam pengelolahan wilayah pesisir adalah dengan penguasaan lahan atau tanah pantai oleh seseorang,dimana pembangunan daerah kawasan pesisir harus mampu mencegah timbulnya kecemburuan sosial di antara penduduk dengan kesenjangan sosial (Tuwo, 2011), oleh sebab itu di perlukan lembaga atau kelompok dalam mengelolah keindahan alam sebagai daya tarik wisata agar tidak terjadi kesenjangan di antara masyarakat pesisir dan selalu berpihak terhadap masyarakat pesisir. Pola pengelolahan sumber daya alam pesisir dan laut harus menjaga kepentingan secara ekonomi dan pemanfaatan secara generasi. (Diraputra, 2013), pembangunan diarahkan agar tidak menimbulkan gangguan bersama dan untuk kepentingan generasi yang medatang, maka dari itu diperlukan suatu kelembagaan.
Dalam proses pengelolahan lahan atau tempat wisata berdasarkan ekowisata dapat terbagi dalam beberapa kriteria yaitu; Non-apporption, wisatawan dapat menikmati bagian tertentu dari pantai sebagai tempat wisata dan sebagian tempat lainnya sebagai kegiatan yang dapat menambah sumber pendapatan; Open Access, dimana wisatawan dapat menikmati seluruh lingkungan pantai dimana pembangunan fisik dalam bentuk apaun tidak boleh karena akan menghambat akses wisatwan ke laut; Protection of local interest, dimana dapat memberikan perlindungan hukum kepada masyarakat lokal sebab bagian-bagian dari pantai tersebut telah digunakan sejak dahulu kala oleh masyarakat secara turun-temurun (Tuwo, 2011). Adapun keterkaitan antara keindahan alam ekowisata dengan persepsi masyarakat dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2.8
Tabel 2.8 Keterkaitan antara keindahan alam dan ekowisata No Daya Tarik
a. Kondisi lingkungan alam yang alami dan asri
b. Memberikan rasa pengalaman yang bernilai bagi wisatawan
c. Masyarakat menerima dampak ekonomi
d. Pengelolahan lahan pantai mayoritas dilakukan oleh masyarakat lokal e. Pengelolahan diarahkan terhadap
kelestarian lingkungan.
f. Adanya lembaga atau kelompok masyarakat yang mendukung sektor pariwisata
g. Adanya perangkat kebijakan dalam menata kegiatan pariwisata
39
2.4.1.2 Kebersihan Dan Kenyamanan
Dalam pengelolahan pariwisata pasti akan mendatangkan dampak positif berupa kegiatan ekonomi dan dampak negatif. Adapun Dampak negatif yang diakibatkan oleh wisatawan akan selalu terjadi dan tidak dihilangkan, akan tetapi hanya bisa diminimilasi, Adapun dampak tersebut selalu berhubungan dengan pariwisata seperti polusi akibat limbah padat, polusi akibat pembuangan kotoran, polusi akibat endapan hasil pembangunan penginapan yang tentu dapat mempengaruhi kondisi laut dan wisata pesisr pada akhirnya (Yulius, 2018; Yoeti 2008). Dengan begitu Kualitas kebersihan tentu sangat penting dalam menciptakan suasana yang nyaman sehingga dapat dinikmati oleh wisatawan. Kualitas kebersihan merupakan suatu kondisi yang nyaman bagi wisatawan tentu dapat diciptakan oleh pengelola itu sendiri (Violinaa, 2016). Selain dari pengelola wisata tentu baik masyarakat, wisatawan harus turut andil dalam menjaga kualitas kebersihan pada lokasi wisata. Didalam kriteria pemilihan daya tarik ekowisata berbentuk pantai ada beberapa yang berpengaruh terhadap kriteria kebersihan dan kenyamanan daya tarik alam berbentuk pantai pada lokasi wisata diantaranyaaTentu pencemaran daerah pesisir dapat disebabkan oleh daerah pertanian, permukiman, industri, tambang, limbah dari daerah tersebut masuk ke perairan pesisir dan laut melalui aliran sungai (Tuwo, 2011). Tentu pengaruh kondisi kualitas air sungai sangat berpengaruh terhadap kriteria kebersihan dan kenyamanan merupakan daya tarik alam berbentuk pantai.
Sedangkan dalam kriteria kenyamanan pada daya tarik alam berbentuk pantai pada lokasi wisata harus; Tidak ada sampah (bebas bau); Tidak adanya coret-coretan (vandal); Bebas dari kebisingan; Tidak adanya gangguan binatang; Serta
tidak adanya gangguan manusia (Dirjen PHKA, 2003). Pengelolaan sampah yang tidak baik tentunya dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, menimbulkan bau busuk yang tidak sedap, menimbulkan penyebaran penyakit, dan menyebabkan menurunnya nilai estetika atau nilai keindahan terhadap suatu lokasi wisata. Selain itu, kemampuan bahasa, keramahan, kesiapan, dan kesanggupan pengelola maupun masyrakat dalam mengarahkan wisatawan merupakan salah satu faktor kenyamanan bagi wisatawan yang berkunjung ke lokasi wisata tersebut (Haris Dkk, 2017).
Dalam suatu kegiatan pariwisata suatu persepsi wisatawan terhadap nilai kualitas daya tarik sangat menentukan pilihan wisatawan untuk berkunjung ke lokasi wisata (Sopyan, 2015), dalam artian persepsi merupakan suatu penilaian dalam pemahaman bagaimana seseorang dalam melihat dan menafsirkan suatu objek ataupun fenomena (Sobur, 2003). Tentu, kenyamanan wisatawan sangat berpengaruh terhadap jumlah wisatawan yang berkunjung, dimana pada suatu lokasi wisata dalam kunjungannya suatu wisatawan sangat memiliki motif yang berbeda untuk mendapatkan suasana baru yang dapat menciptakan perasaan tenang dan nyaman (Witarsana, 2017). dengan begitu suatu pengalaman wisatawan dapat dijadikan suatu standart atau acuan dalam menilai suatu destinasi wisata, dan membentuk citra total dari suatu destinasi tersebut (Gatner, 1993). Dimana, kualitas kebersihan suatu lingkungan sangat berpengaruh terhadap kondisi kenyamanan bagi wisatawan (Violinaa, 2016). Keterkaitan antara keindahan alam dengan ekowisata dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2.9
41
Tabel 2.9 Keterkaitan antara kebersihan, kenyamanan dan ekowisata No Daya Tarik kebisingan dan gangguan binatang pada lokasi wisata
b. Lokasi wisata terbebas dari pengaruh pelabuhan, permukiman, pabrik, dan sumber pencemaran lingkungan c. Pelayanan yang baik pada
lokasi wisata
Pada kawasan pesisir terdapat suatu ekosistem yang saling terkait, dan merupakan suatu ekosistem yang unik diantara lainnya yaitu, ekosistem terumbu karang, mangrove, estuaria, padang lamun, keempat ekosistem tersebut memiliki kenaekaragaman hayati dan tentu dapat memberi manfaat ekologi dan ekonomi yang besar (Tuwo, 2011). Tentu dengan keunikan alam tersebut akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang mengunjuginya. Suatu ekosistem apabila tidak di eksploitasi dan di perdayakan secara ekonomi tentu akan kurang menguntungkan dikarena akan terjadi kehilanagan energi, yaitu, kematian organisme secara alami (Tuwo, 2011). Tentu dengan begitu suatu ekosistem dapat di ambil keuntungan di dalamnya akan tetapi tetap memperhatikan faktor-faktor di dalamnya agar tidak merusak alam.
Sebagian besar penduduk pesisir, dengan alasan untuk bertahan hidup, terbiasa melakukan pemanfaatan sumber daya pesisir dan laut dengan cara yang bertentangan dengan kelestarian lingkungan (Tuwo, 2011). Maka dari itu dalam pengelolahan pesisir dan sumber daya alamnya harus memerlukan suatu pengendalian yang baik (Tuwo, 2011), dengan pengendalian yang baik tentu akan dapat menjaga kelestraian alam dan dapat mewarisinya untuk kepentingan bersama terhadap generasi yang mendatang.
Banyak kegiatan pemanfaatan cenderung bersifat oleh kepentingan ekonomi saja. Maka dari itu pengembangan wilayah pesisir harus mampu mengoptimalkan dua kepentingan yang berbeda, yaitu kepentingan mendapat manfaat ekonomi dari sumber daya pesisir untuk meningkatkan kesejahreraan masyarakat pesisir serta dapat menjaga pemanfaatan sumber daya alam pesisir dan laut yang dilakukan dengan secara rasioanl agar menghindari kerusakan alam dan kepunahan jenis.(Diraputra, 2003). Oleh sebab itu, dengan adanya kegiatan ekowisata dapat meningkatkan kemampuan sumber daya manusia melalui pelatihan yag berkaitan dengan pengelolahan dan teknik yang baik dalam mengelola sumber daya alam (Tuwo, 2011).
Suatu pengelolahan sumber daya hayati pada daerah pesisir adalah suatu kegiatan perlindungan terhadap hutan mangrove yang mana fungsinya sangat penting dalam menjaga ekosistem pantai, hal ini tertera dalam Keputusan Presiden Nomor 32 tahun 1990 tentang pengelolahan Kawasan Lindung, serta pegelolahan khususnya ikan, yang terdapat dalam Undang-undang nomor 9 tahun 1985 tentang Perikanan. Dan pengelolahan sumber daya Terumbu karang yang mana telah dilindungi menurut Undang-undang nomor 5 tahun 1190 tentang Perlindungan
43
Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistem. Dalam kegiatan ekowisata pemanfaatan sumber daya alam terhadap kriteria ekoligis terdiri atas, adanya keankeragaman yang mencakup flora dan fauna, adanya keunikan, perlindungan terhadap biota yang berbahaya, karakteristik kawaan yang mencakup kuaitas air, kedalaman, kecepatan arus dan lainya, konservasi, serta keaslian (Tuwo, 2011) . Dalam suatu kegiatan pariwisata dengan adanya keunikan alam tentu menjadi nilai tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung. Selain itu, dalam suatu proses persepsi dapat diketahui melalui dengan adanya hubungan pada suatu kejadian yang meliputi : tempat, warna, bentuk, dan ukuran (laurens, 2005). Dengan begitu, dengan adanya keunikan alam pada suatu lokasi wisata akan menjadi suatu daya tarik yang potensi dibanding lokasi wisata lainnya. Dengan begitu, seorang manusia sebagai seorang pengamat selalu melakukan penilaian pada sekitar objek maupun feomena di sekitarnya. Keterkaitan antara Keunikan Alam ekowisata dengan persepsi dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2.10
Tabel 2.10 Keterkaitan antara keunikan alam dan ekowisata No Daya Tarik
a. Adanya keunikan alam pada lokasi b. Adanya Keanekaragaman ekosistem
pada lokasi
c. Adanya Keanekaragaman flora dan fauna pada lokasi
d. Dapat memberikan manfaat ekonomi dari keunikan alam dan ekosistem pesisir
e. Adanya kegiatan perlindungan terhadap ekosistem pesisir f. Kegiatan pengelolahan yang baik
terhadap sumber daya alam
Adapun kesimpulan dari daya tarik alam ekowisata berbasiskan persepsi dapat dilihat pada tabel 2.11
Tabel 2.11 Keterkaitan antara Daya Tarik alam dan ekowisata No Daya Tarik
a. Kondisi lingkungan alam yang alami dan asri
b. Memberikan rasa pengalaman yang bernilai bagi wisatawan
c. Masyarakat menerima dampak ekonomi
d. Pengelolahan lahan pantai mayoritas dilakukan oleh masyarakat lokal e. Pengelolahan diarahkan terhadap
kelestarian lingkungan.
f. Adanya lembaga atau kelompok masyarakat yang mendukung sektor pariwisata
g. Adanya perangkat kebijakan dalam menata kegiatan pariwisata kebisingan dan gangguan binatang pada lokasi wisata
b. Lokasi wisata terbebas dari pengaruh pelabuhan, permukiman, pabrik, dan sumber pencemaran lingkungan
c. Pelayanan yang baik pada lokasi wisata d. Jenis kegiatan pengelolahan
45
Tabel 2.11 Keterkaitan antara Daya Tarik alam dan ekowisata (Lanjutan) No Daya Tarik
a. Adanya keunikan alam pada lokasi b. Adanya Keanekaragaman ekosistem
pada lokasi
c. Adanya Keanekaragaman flora dan fauna pada lokasi
d. Dapat memberikan manfaat ekonomi dari keunikan alam dan ekosistem pesisir
e. Adanya kegiatan perlindungan terhadap ekosistem pesisir f. Kegiatan pengelolahan yang baik
terhadap sumber daya alam
2.4.2 Daya Tarik Buatan
Daya tarik buatan adalah suatu pengembangan wisata dengan hasil buatan dan binaan manusia meliputi bangunan, dan infrastrukur pariwisata sehingga dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung (Middleton, 2001). Suatu objek wisata dapat meningkatkan daya tarik wisatanya dengan cara dapat mempromosikan potensi dari wilayahnya secara efektik, serta dapat bertanggung jawab dan melindungi lingkungan alam sekitarnya, serta dapat memberikan manfaat ekonomi terhadap masyarakat dan mempertahankan budaya masyarakat sekitar (Ginting, N.,
& Triska, E. 2020). Suatu pengembangan wisata yang baik adalah dapat membuka peluang ekonomi dengan meningkatkan lapangan pekerjaan pada partisipasi masyarakat dengan mengunakan sumber daya lokal seperti menjadi pengusaha, menciptakan pasar untuk produk lokal, transportasi, akomodasi, serta pemandu jasa (Ginting, N., & Siregar, C. R. 2020). Berdasarkan latar belakang diatas, dalam pembahasan daya tarik buatan dalam sub-bab ini akan dibagi menjadi tiga bagian yaitu; Aktivitas wisata; Keunikan masyarakat; Fasilitas wisata
2.4.2.1. Aktivitas Wisata
Dalam pengembangan ekowisata, banyak hal yang dapat dilakukan dalam pengembangan kegiatan ekowisata pesisir. Seperti pada bentang laut dapat dilakukan kegiatan berenang, memancing, menyelam,berlayar, sedangkan pada bentang darat pantai dapat dilakukan kegiatan seperti rekreasi, olahraga, berkemah, berjemur, sekedar melihat pemandangan, dan relaksasi diri (Yulius, 2018).
Suatu manusia memiliki kemampuan dalam memahami suatu ruang dalam memenuhi keinginanya, dalam memahami ruang tersebut sangat bergantung hubungan antara manusia dengan lingkungannya, dan pengaruh dari ruang tersebut terhadap sikap dan tingkah manusiat tersebut (Hall, 1996). Tentu dalam memahami suatu lingkungan sangat bergantung terhadap interaksi manusia dan lingkungan tersebut yang akan menghasilkan suatu persepsi lingkungan. Persepsi lingkungan adalah pemahaman dan penilaian seorang manusia yang didasarkan oleh latar belakang, fikiran dan pengalaman individu terhadap lingkungan tersebut (Setiawan, 2010). Tentu dengan adanya suatu aktivitas wisata pada suatu destinasi akan menghasilkan suatu pengalaman yang akan meninggalkan persepsi positif yang akan berdampak terhadap jumlah pengunjung dan daya tarik wisata pada destinasi tersebut. Peran Pengalaman dalam suatu persepsi sangat erat hubungannya antara manusia dengan lingkungan binaanya (Lang, 1987).
Dalam perencanaan suatu kawasan ekowisata ada beberapa hal yang perlu di perhatikan untuk kelangsungan pertumbuhan kawasan ekowisata diantara lainnya, jumlah wisatawan, karakteristik dan keinginan wisatawan untuk berwisata, tipe atau aktivitas ekowisata yang ditawarkan pada lokasi wisata, struktur masyarakat di lokasi, kondisi lingkungan sekitar lokasi, kemampuan
47
masyarakat untuk beradaptasi dengan suatu pariwisata (Tuwo, 2011). Dimana jumlah wisatawan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap daya dukung lingkungan wisata. Dalam pengertiannya daya dukung wisata adalah kapasitas jumlah wisatwasan dalam suatu lokasi wisata dalam menyentuh batas atau melampaui batas lokasi wisata tersebut sehingga tidak mengubah keadaan fisik serta dapat menurunkan kualitas lingkungan diakibtakan oleh aktivitas pariwisata (Hakim, 2004) mengingat pengembangan ekowisata tidak bersifat mass tourism dan ruang untuk pengunjung terbatas, maka perlu dilakukan perhitungan daya dukung kawasan. Daya dukung kawasan ini menurut konsep yang dikembangkan Yulianda (2007)
Didalam aktivitas wisata tentu perlu adanya pengelolahan zonasi peisisir.
Pengelolahan zonasi pesisir bertujuan untuk memperbaiki ekosistem yang sudah rusak, pada prinsipnya strategi pemulihan dapat dilakukan dengan pembagian zonasi pesisir yang dapat berupa zona pengangkapan ikan, zona konvervasi maupun zona lainnya yang sesuai dengan kebutuhan dan pemanfaatn zona tersebut (Kepmeneg LH no 04 Tahun 2001 tentang kriteria baku)
Dengan adanya pengelolahan zonasi terhadap aktivitas wisata tentu batas- batas pengelolahan perlu di tentukan, karena tidak sedikit konflik yang terjadi di daerah pesisir di sebabkan oleh kurang jelasnya batas wilayah dari suatu pengelolahan di wilayah pesisir (Tuwo, 2011). Kosep ekowisata pesisir tentu sangat menghargai potensi sumberdaya lokal dan mecegah terjadinya perubahan seperti dalam kepemilikan tanah, tatan sosial, serta budaya dalam masyarakat lokal, dikarenakan masyarakat disini berperan sebagai pelaku dan juga sebagai penerima (Yulius, 2018). Adapun keterkaitan antara aktivitas ekowisata terhadap
persepsi dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2.12
Tabel 2.12 Keterkaitan antara aktivitas wisata dan ekowisata No Daya Tarik
c. Jenis aktivitas wisata yang di tawarkan d. Pengelolahan zonasi terhadap aktivitas
wisata
e. Pengelolahan aktivitas wisata
mayoritas dilakukan oleh masyarakat lokal
2.4.2.2. Keunikan Masyarakat
Bangsa kita memiliki keindahan alam, kekayaan budaya nan beragam, serta penduduk yang watak dan moralitasnya mendukung kenyamanan wisatawan berkunjung (Yulius, 2018). Seperti pada masyarakat pesisir yang merupakan suatu kelompok masyarakat yang memiliki tingkah laku kehidupan yang khas, yang berkesinambungan sebagai adat istiadat (Tuwo, 2011). Tentu dengan keunikan tersebut dapat dijadikan daya tarik wisata pesisir sebagai keanekaragam aktivitas, akan tetapi tetap harus diperhatian dengan adanya pariwisata dikemudian hari keunikan tersebut akan berdampak terhadap lunturnya keunikan tersebut.
Keterlibatan masyarakat merupakan salah satu unsur dari ekowisata. Peran masyarakat dapat dilakukan secara aktif dan pasif (Yulius, 2018).
Dengan adanya kegiatan pariwisata tentu akan sangat berpengaruh terhadap struktur sosial dan aspek budaya dari masyarakat sekitar, di karenakan adanya pertemuan budaya antara wisatawan dan masyarakat lokal yang kemudian menghasilkan suatu “perkawinan budaya”, dimana kondisi dampak yang lebih
49
parah dapat terjadinya penjajahan budaya, dimana budaya pendatang lebih dominan dan masyarakat mulai melupakan budayanya (Tuwo, 2011). Tentu seharusnya dengan kegiatan pariwisata masyarakat seharusnya dapat mendapatkan dampak positif dengan memperkenalkan budaya yang ada di masyarakat, dan masyarakat mendapatkan keuntungan ekonomi dari budayanya tersebut. Dengan kegiatan ekowisata seharusnya dapat membina masyarakat untuk dapat melakukan kegiatan alternatif sebagai sumber pendapatan lainnya seperti budidaya, pemandu wisata, usaha kerajinan tangan yang akan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat lokal. (Kepmeneg LH no 04 Tahun 2001 tentang kriteria baku).
Pada kegiatan pariwisata suatu persepsi akan berpengaruh terhadap citra dari destinasi, dimana persepsi tersebut dapat sebagai promosi dan sebagai suatu media informasi bagi wisatawan baru yang ingin mengunjunginya (Suwena, 2017).
Tentu, dengan adanya dan ditonjolkan suatu keunikan masyarakat dapat menjadi media informasi dan promosi sehingga dapat menjadi daya tarik wisata. Dimana sutau objek semakin menerima persepsi yang baik dari suatu individu, maka akan dapat menarik wisatawan untuk berkunjung ke destinasi tersebut (Anggela, 2017).
Adapun keterkaitan antara aktivitas Ekowisata dengan persepsi dalam penelitian ini
Adapun keterkaitan antara aktivitas Ekowisata dengan persepsi dalam penelitian ini