• Tidak ada hasil yang ditemukan

DE\VAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

Gctlunv.. Nusantani I L:111tai 20 l{uang 2010, .JI .. lend. (;a tot Su bro tu, .Sc11ap11 - Jakarta 102711 Tclp. (021) 5755810 Faks. (021) 575581I,5755800

e-mail: [email protected] nikmat kekayaan alam yang melimpah kepada bangsa Indonesia. Salawat dan salam·

kepada pemimpin manusia, Nabi Muhammad SAW, yang telah berjuang mengangkat harkat manusia melalui penegakan kcbenaran dan keadilan.

Pada hari ini kita bersyukur bahwa Pembicaraan Tingkat II Pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Ketenagalistrikan dapat diselenggarakan, meski suasana politik Indonesia terasa semakin panas, termasuk politik kelistrikan dengan

,

rencana· kenaikan Tarif Dasar Listrik pada aw al Juli 2001 nan ti. Kami mengucapkan

.

terima kasih atas kesempatan untuk menyampaikan Pemandangan Umum terhadap Rancangan Undang Undang tentang Ketcnagalistrikan.

Sbudara Pimpi11a11 da11 Anggota Dewan serta Para Peserta Sidang yang kami ltormati

Rancatlgan Undang Undang Ketenagalistrikari ini adalah sebuah upaya untuk memperbaiki sistem ketenagalistrikan Indonesia yang sebelum ini diatur dalam

Undang Undang Nomor 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan. Undang Undang ini dianggap tidak dapat secara optimal merealisasikan Pasai 33 ayat 2 Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 karena sifat monopolistiknya.

Selain itu Undang Undang tersebut dianggap mengokohkan struktur mdustri yang terintegrasi secara vertikal dan lebih banyak mengandalkan kemampuan negara menggunakan APBN.

Pemerintah pada tanggal 6 J.uni 2001 telah menyampaikan· Rancangan Undang ··

Undang tentang Ketenagalistrikan tcrdiri atas 15 Bab dan 52 pasal yang berisi regulasi yang terkait dengan asas dan tujuan, rencana umum, usaha, hak dan kewajiban pemegang izin usaha kete~agalistrikan (IUK), harga jual, dana pembangunan sosial, penerimaan negara, Iingkungan hidup dan keselamatan, pembinaan dan pengawasan, badan pengatur, penyidikan, ketentuan pidana, ketentuan peralihan, dan penutup.

Sebagai sebuah upaya untuk melakukan perubahan-perubahan khususnya di bidang perundang-undangan yang bertujuan untuk mengangkat taraf hidup rakyat, Fraksi Reformasi, menyambut baik Rancangan Undang-Undang Ketenagalistrikan tersebut.

Oleh karena itu, sudah sepatutnyalah kita melakukan pembahasan-pembahasart secara seksama sehingga tujuan-tujuan yang diinginkan dalam RUU ini dapat tercapai.

Saudara Pimpinan dan Anggota Dewan serta Para Peserta Sida11g yang kami lzormati

Sebagai pengantar bagi pemandangan umum terhadap Rancangan Undang Undang tentang Ketenagalistrikan, perkenankanlah kami memberi beberapa catatan di sekitar pehgajuan Rancangan Undang Undang ini baik dari sisi filosofi dasar, arah dan tujuan kebijakan serta perangkat pengaturannya, yaitu :

Jtertama, kita sepakat bahwa secara konstitusional pengelolaan sektor ketenagalistrikan sebagai cabang produksi yang penting bagi negara harus mengacu kepada tujuan dan cita-cita bangsa dan negara sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 33 ayat 2 Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 bahwa cabang-cabang produksi yang penting hagi Negara dan menguasai ltajat llidup

2

orang banyak dik11asai olelz negara, dengan tujuan untuk dipergunakan bagi

sebesar-besa~ kemakmuran rakyat. Makna pasal ini hendaknya tidak diartikan sebagai usaha liberalisasi pasar dalam sektor ketenagalistrikan yang dapat menyebabkan penguasaan aset-aset vital dan strategis oleh pihak swasta. Penguasaan negara dengan pemberian peran kepada swasta hendaknya dilakukan pengaturan yang sebaik-baiknya sehingga tercapai tujuan yang dikehendaki dalam UUD 1945 yakni diperuntukkan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Keterlibatan. pihak swasta dalam pengelolaan listrik tidak boleh membebani keuangan negara dan merugikan rakyat. Dan agar sesuai dengan semangat kontitusi, maka pihak swasta dan PLN hendaknya mempunyai komitmen yang sama untuk memberikan fasilitas listrik kcpada rakyat melalui mekanismc yang saling menguntungkan. Managemen listrik swasta hendaknya tidak sekedar berorientasi kepentingan bisnisnya, akan tetapi harus tetap mempunyai orientasi kerakyatan dengan memperhatikan tingkat kemampuan ekonomi rakyat.

Kedua, perlu diakui bahwa memang terdapat kelemahan-kelemahan pada Undang Undang Nomor 15 Tahun 1985 terutama dikaitkan dengan kesiapan Indonesia untuk memasuki perdagangan be bas AFT A tahun 2003 dan APEC tahun 2010 dan perubahan lingkungan stratcgis lainnya seperti hak-hak asasi rnanusia, demokrasi, lingkungan hidup, perlindungan konsumen dan semangat reformasi.

Tetapi harus diingat bahwa undang-undang ini ciianggap baik pada zamannya dan

dapat menjawab secara komprehensip keinginan yang dikandung dalam Pasal 33

.

UUD 1945 baik dalam mensejahterakan rakyat maupun dalam memajukan bangsa dan negara. Oleh karena itu hendaknya pandangan tentang kelemahan ini jangan hanya ' dikaitkan dengan pelaksanaan substansi perangkat peraturan perundang-undangan saja, tetapi faktor-faktor manajemcn, transparansi, dan moralitas harus menjadi sorotan utama yang mendasar. Faktor-faktor inilah yang secara substansial menyebabkan hancurnya fondasi kehidupan bernegara bangsa Indonesia sehingga mengalami krisis yang berkepanjangan sejak tahun 1997 yang lalu. Harus dicatat bahwa pada saat ini umumnya masyarakat memiliki tingkat kepercayaan yang rendah

3

kepada pengelola sektor energi nasional. Hal ini disebabkan hampir sclama 30 tahun kebijakan yang keluar tidak transparan sehingga rakyat tidak memiliki informasi yang jelas dan utuh. Pada sisi lain, dalam rangka menghadapi era globalisasi

Undang-Undang Ketenagalistrikan hendaknya tetap menempatkan PLN sebagai asset nasional dengan fasilitas-fasilitas tertentu tanpa mengurangi substansi kemandirian PLN.

Dengan pengaturan ini, diharapkan PLN akan tetap mampu bersaing dalam era perdagangan bebas.

Ketiga, perhatian terhadap aspek-aspek ekonomi hendaknya tidak Illengabaikan pertimbangan politis dan sosial terutama dalam kondisi keterpurukan yang dialami sebagian besar masyarakat Indonesia. Usaha melepaskan diri dari monopoli negara hendaknya tidak kemudian menycbabkan monopoli oleh pihak-pihak swasta melalui pengendalian tarif baik di tingkat negara, propinsi ataupun kabupaten. Kemelut PLN terkait dengan kontrak listrik perusahaan swasta menyebabkan rakyat merasa trauma terhadap sepak terjang pihak-pihak swasta yang dapat mengorbankan nasib kesejahteraan rakyat. Pada kenyataannya pengalaman partisipasi swasta dalam sektqr listrik tidaklah tneningkatkan efesicnsi bahkan justru menimbulkan kerugian cukup besar sebagaimana terjadi pada 26 buah kontrak yang telah dilakukan. Dengan total kapasitas yang besar, yakni sekitar 11.000 MW, PLN mengalami kerugian negara/masyarakat yang sangat besar, nomor dua setelah masalah perbankan. Total komulatif sampai tahun 2002 saja mencapai hampir 10 milyar USD. Padahal itu semua' adalah kontrak jangka panjang yang mencapai 20 - 30 tahun. Jika hal tersebut terjadi di bawah keberlakuan Undang Undang Nomor 15 Tahun 1985 yang posisi negara begitu "monopolistis" bagaimana jadinya jika Rancangan Undang Undang yang lebih liberal nanti diterapkan? Untuk mencegah terulangnya praktek monopoli, Undang;.Undang ini harus mendorong terciptanya efesiensi, meningkatnya kinerja

;

PLN dan Iistrik swasta , dan mcningkatnya mutu pelayanan kepada konsumen.

Adanya ketentuan yang mengarahkan pada kompetisi yang sehat maka perusahaan-perusahaan tersebut akan tertutup pcluangnya untuk melakukan monopoli.

4

Keempat, konsumen yang sebagian besar adalah masyarakr.t yang sedang dihantam krisis ekonomi harus mendapatkan jaminan perlindungan yang baik dalam pembentukan struktur pasar baru berupa mutu pelayanan yang lebih baik serta harga yang wajar dan terjangkau. Ketidaksiapan masyarakat dalam menerirr.a berbagai

"harga penyesuaian" baik dalam persoalan listrik, BBM dan tarif telepon dapat menyebabkan terjadinya keputus-asaan sosial yang mungkin saja meledak menjadi pemberontakan sosial. Harus dihindari adanya perasaan ditinggalkan atau disisihkan pada masyarakat atau pemberian kesempatan khusus kepada kelompok konglomerat dapat menambah keresahan mereka. Oleh karenanya mekanisme subsidi harus lebih transparan baik dalam sumber perolehan dana maupun siapa yang berhak menerimanya.

Kelimll, restrukturisasi yang mengarah kepada sistem Iiberalisai dalam bidang ketenagalistrikan dapat berjalan lancar apabila sejumlah prasyarat telah terpenuhi diantaranya proses rasionalisasi kontrak Iistrik swasta, peningkatan efesiensi dan penyehatan keuangan PLN khususnya sektor ketenagalistrikan umumnya, terdapaf mekanisme kontrol publik atas kebijakan pemerintah dan tingkahlaku pihak swasta, terdapatnya keseimbangan antara tingkat tarif dengan kemampuan daya beli masyarakat, tersedianya jaringan kerja perundang-undangan yang kondusif bagi pola kompetisi yang diharapkan dan wujudnya pemerintahan yang bersih dari KKN.

Tanpa dipenuhinya unsur-unsur tersebut maka pengalaman kegaga.lan privatisasi ketenagalistrikan yang dialami beberapa negara yang telah menerapkannya akan terulang di Indonesia. Dengan restrukturisasi diharapkan mampu dicegah adanya managemen kelisrikan yang sentralistik dan mengarah pada mekanisme yang ._desentralistik. Managemen listrik yang terpusat pada pemerintah baik pada sektor hulu da~ hilir harus dirubah dengan membuka peluang terlibatnya pihak investor.

Pada sektor hulu, pihak investor dapat turut serta dalam usaha pembangkit listrik dengan catatan tidak melanggar aturan dan merugikan rakyat. Sedangkan pada sektor ...

hilir, penentuan Tarif Dasar Listrik hendaknya serahkan pada mekanisme pasar didasarkan pada kompetisi yang wajar dan· sehat.

5

Keel'lam, krisis keuangan PLN harus segera diselesaikan dengan melakukan efesiensi managemen keuangan dan membuat pemisahan antara orientasi bisnis dan sosial PLN. Penggabungan orientasi bisnis dan sosial yang dilakukan Pl.N selama ini telah menyebabkan terjadinya krisis keuangan. Untuk orientasi bi~nis harus ada alokasi khusus dengan harga yang ditentukan mekanisme pasar, sedangkan untuk kepentingan sosial ditentukan melalui kebijakan pemerintah. Dengan pemisahan yang jelas, maka beban keuangan pada sektor sosial tidak perlu dibebankan pada sektor

bisnis.

Ketuju/1, Penyusunan Undang-Undang Ketenagalistrikan hendaknya diselaraskan dengan Otonomi Daerah yang melibatkan partisipasi Pemerintah Daerah dan rakyat setempat. Keterlibatan rakyat dan pemerintah tersebut dap'at dilakukan dalam hal pemilikan saham, managemen perusahaan, dan pelaksanaan operasional perusahan listrik tersebut. Dengan pengaturan ini maka dapat diantispasi munculnya konflik vertikal antara pemerintah pusat dan daerah, dan akan meningkatkan kesejateraan rakyat setempat.

Kedelapan, praktek-praktek pcnyimpangan dalam kelistrikan setama ini terjadi karena tidak adanya tindakan hukum (law enforcement) secara tegas. Dalam Undang-Undang Ketenagalistrikan ini, perlu dimasukkan ketentuan yang mengatur secara spesifiI< dalam hal menyelesaikan berbagai praktek penyimpangan masalah listrik.

Aturan lni harus dilengkapi dengan mekanisme penindakan dan jenis-jenis sanksi yang proporsional. Dengan aturan yang jelas, maka pihak-pihak yang mempunyai ... potensi melakukan penyimpangan tidak akan gegabah melakukan praktek-praktek yang ilrgal dan para aparat hukum mempunyai landasan hukum yang jelas untuk melakukan penyidikan dan penyeldikan untuk diproses dipengadilan.

6

Saudara Pimpinan dan Anggota Dewan serta Para Peserta Sidang yang kami hormati.

Demikianlah pemandangan umum dari Fraksi Reformasi terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Ketenagalistrikan. Guna memenuhi aspirasi rakyat dan untuk melaksanakan tugas-tugas konstitusional, Fraksi Reformasi menyetujui Rancangan Undang-Undang Ketenagalistrikan untuk dibahas pada tingkat III. Atas segala perhatiannya, kami mengucapkan b~myak terimakasih.

Billahittaujiq wa/ ltidayah, Wassti/amu'alaikum Wr. Wb.

1

.1~

Ir. M. Hatta Rajasa

,:

"

Jakarta, 21 Juni 2001

PIMPINAN FRAKSI REFORMASI

mad Farhan Hamid, MS.

7

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT R.I.

FRAKSI TNl/POLRI

PEMANDANGAN UMUM FRAKSI TNl/POLRI

Dokumen terkait