• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kampanye dengan Pesan Verbal

B. Debat Publik

Penayangan di televisi yang diasumsikan memiliki pengaruh kuat terhadap rakyat pemilihan dalam kampanye adalah penggunaan pesan verbal lisan dalam bentuk debat publik. Biasanya debat publik diselenggarakan sebagai kegiatan terakhir pada masa kampanye; menjelang memasuki minggu tenang. Namun, ada juga beberapa Pilkada menyelenggarakan debat publik sering karena sebagai sarana sosialisasi sebagaimana yang dilakukan oleh KPU Kabupaten Bandung dalam Pilkada 2010.

Kendati secara umum, debat publik dalam Pilkada di Indonesia tidak terjadi secara ideal, tetapi sebagai langkah awal pemenuhan hajat demokrasi di Indonesia merupakan kegiatan yang menyita perhatian publik. Debat yang ideal sejatinya mempertandingkan dua pandangan yang berseberangan, yakni pandangan dari pihak yang mendukung (pro) dan padangan dari pihak yang menentang (kontra). Sebagaimana debat calon Presiden Amerika Serikat yang selalu mempertemukan dua kandidat dari Partai Demokrat dan Partai Republik. Oleh karena itu, debat dengan tiga pasangan, atau bahkan 8 pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah sulit untuk dipertemukan.

Dalam debat, setiap pasangan akan memiliki peran ganda: suatu waktu masuk pada pihak yang pro dengan sejumlah gagasan pembangunan dan pihak lain sebagai yang kontra sehingga berperan meng-counter paparan-paparan program pihak yang pro. Kemudian, pada waktu lainnya, yang kontra bertindak sebagai yang pro dengan mengungkapkan visi, misi, dan program kerjanya untuk mendapatkan counter dari calon lainya yang tadinya pro menjadi kontra. Dengan seperti itu, masing-masing calon akan kelihatan kelebihan sekaligus kelemahan visi, misi, dan program kerja yang mereka sodorkan. Dalam konteks inilah, rakyat pemilih dapat memberikan penilaian sekaligus akan mendapatkan referen yang memadai untuk menentukan pilihan. Hal ini sejalan

100

dengan tujuan utama diselenggarakannya debat yakni dapat mempengaruhi, bahkan mengubah

swing voter; orang-orang yang belum memiliki keputusan siapa calon yang akan mereka pilih.

Deddy Mulyana (2008:143) menilai bahwa dalam debat publik antara ketiga pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Barat dalam Pilgub Jabar 2008, misalnya, pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf yang paling baik karena berbicara kalem dan tanpa beban, sedangkan Danny Setiawan tampil grogi dan Agum Gumelar emosional. Hal itu mendorong massa mengambang untuk menjatuhkan pilihan kepada Ahmad Heryawan-Dede Yusuf.

Realitas debat tiga pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Barat juga makin menguatkan bahwa “perang” sebenarnya dalam pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Barat Tahun 2008 adalah “perang” antara Danny Setiawan-Iwan Sulanjana dengan Agum Gumelar-Nu‟man Abdul Hakim. Dalam beberapa pase, tampak sekali bahwa Danny-Iwan menempatkan diri sebagai pihak yang pro, sedangkan Agum-Nu‟man yang kontra atau sebaliknya, sehingga “pertempuran” dalam debat tersebut hanya di antara mereka. Sementara itu, pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf dibiarkan melenggang memaparkan visi, misi, dan program kerjanya tanpa rintangan dari kedua pasangan calon lainnya.

Dalam konteks budaya “debat” yang sebenarnya, sejatinya yang mendapatkan kontribusi simpati dalam debat publik calon Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Barat Tahun 2008 itu adalah Danny Setiawan-Iwan Sulanjana atau Agum Gumelar-Nu‟man Abdul Hakim karena merekalah yang betul-betul berdebat. Pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf hanya memaparkan visi, misi, dan program kerja dengan “tidak memiliki” lawan debat.

Takaran penilaian publik terhadap prosesi debat di negara demokrasi, seperti Amerika Serikat, berada pada kekuatan pemarapan ide atau gagasan, argumentasi yang akurat dalam menerima sanggahan, serta kekritisan dan ketajaman sanggahan yang disampaikan terhadap lawan. Oleh karena itu, debat merupakan “peperangan mulut” yang sangat mungkin mengurai emosi, baik peserta debat, para pendukung, bahkan publik penonton. Bukan hal yang tidak mungkin kata-kata menghina, memojokkan, bahkan menghancurkan lawan diungkapkan secara eksplisit. Bukan hal yang tidak mungkin juga, kandidat seperti itu pula yang akan mendapatkan simpati dari publik. Hal itu terjadi karena publik di Amerika Serikat, termasuk sejumlah negara demokrasi di Barat memiliki latar belakang budaya konteks rendah (Low Context Culture).

Dalam masyarakat yang memiliki budaya konteks rendah sebagaimana diungkapkan Edward T. Hall akan melahirkan low context communication (komunikasi konteks rendah). Deddy Mulyana (2010:56) mengkategorikan masyarakat yang menggunakan komunikasi konteks rendah sebagai masyarakat individualis. Manusia individualis menggunakan pola pikir linier, berbicara

101

langsung, lugas, dan eksplisit. Ia begitu mudah memasuki percakapan dengan orang yang tidak mereka kenal sekalipun. Mereka tidak begitu peduli dengan perbedaan status atau sengaja mengabaikannya. Berondongan pertanyaan mereka dan keterbukaan mereka mungkin tampak berlebihan. Kegemaran mereka untuk membantah, berargumen tajam, mengganggu harmoni yang harus dijaga.

Namun, realitas debat yang biasanya terjadi pada masyarakat berbudaya konteks rendah tersebut tidak sinergis dengan masyarakat Indonesia yang memiliki budaya konteks tinggi. Menurut Edward T. Hall, orang yang dibesarkan dalam budaya komunikasi konteks tinggi, lebih mengharapkan orang lain dapat membaca pikiran mereka atau mengetahui kemauan mereka, meskipun tidak mengucapkan secara spesifik. Akibatnya, orang tersebut berbicara berputar-putar; mengatakan apa saja, kecuali inti masalahnya. Banyak peristiwa yang dibiarkan untuk dimengerti dengan tanpa kata-kata. Tugas lawan bicaranyalah untuk mengetahui apa yang dimaksudkannya. Budaya lokal tempat peristiwa itu berlangsung yang menjelaskannya.

Dalam istilah Deddy Mulyana (2010), masyarakat berbudaya konteks tinggi itu adalah masyarakat kolektivis. Dalam masyarakat kolektivis, seperti masyarakat Indonesia, diri (self) tidak bersifat unik atau otonom, melainkan lebur dalam kelompok. Kolektivisme ditandai dengan pandangan bahwa tujuan kelompok lebih penting daripada tujuan pribadi. Para anggota kelompok percaya bahwa untuk bertahan hidup, mereka bergantung pada kelompok. Perilaku sosial cenderung seragam mengikuti norma kelompok. Manusia kolektivis menganggap percakapan sebagai ritual alih-alih sarana untuk mengatasi persoalan. Ketika pertanyaan diajukan kepada mereka, jawabannya samar, sehingga sulit memahami pandangan mereka. Mereka seolah-olah takut mengungkapkan pendapat yang berbeda, apalagi bertentangan. Mereka bukannya mencari kelemahan anggumen lawan, melainkan saling menambahkan atau meneguhkan, bahkan mereka pun saling mendukung.

Oleh karena itu, debat dalam konteks yang sebenarnya bukan pada budaya masyarakat Indonesia sebagai masyarakat kolektivis. Debat adalah cara komunikasi khas masyarakat berkomunikasi konteks rendah yang individualis, liberal, lugas, berbicara apa adanya. Kendati pun muncul istilah debat dalam kehidupan masyarakat Indonesia, hal itu sebagai tindaklanjut dari import ideologi demokrasi karena di negara asalnya, Amerika, salah satu aspek demokrasi adalah debat. Namun, ketika debat yang menyerupai Amerika menjadi tidak sinergis dengan budaya kolektivitas yang berkembang di masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, debat dalam konteks demokrasi hanya sebagai bagian dari pase seremonial saja. Kendati, ada calon yang mempraktikan

102

debat yang mendekati debat di Amerika, mereka akan mendapatkan resepsi negatif dari masyarakat.

Hal itu terjadi dalam debat calon Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Barat Tahun 2008. Pasangan calon Danny Setiawan-Iwan Sulanjana dengan Agum Gumelar-Nu‟man Abdul Hakim memainkan debat hampir menyerupai debat ala Amerika, penuh emosi, bahkan nyaris saling memojokkan. Kendati tidak setajam debat seperti di Amerika, tetapi perilaku tersebut telah memberikan kesan yang negatif dalam takaran nilai-nilai budaya masyarakat Jawa Barat. Oleh karena itu, mereka cenderung memilih Ahmad Heryawan-Dede Yusuf yang cenderung kalem dan “tidak berdebat”.

Apalagi kalau dikaitkan dengan budaya Jawa Barat yang notabene masih kental dengan budaya Sunda. Salah satu karakteristik orang Sunda adalah lembut, tidak ngotot dan tidak keras. Mereka bersikap baik terhadap kaum pendatang atau dalam bahasa Sunda „someah hade ka

semah’. Karakter ini pun tercermin dalam setiap persaingan seperti halnya debat publik. Orang

Sunda selalu tetap bersikap baik, walaupun terhadap lawan atau pesaing mereka. Pesaing dapat dikategorikan sebagai semah yang harus tetap someah. Kendati pun kesal, orang Sunda tidak akan mengatakan kekesalannya secara langsung; paling menggerutu atau hanya di dalam hati, sehingga muncul istilah meureup dina saku, artinya walaupun kesal, hanya dilakukan diam-diam saja. Karena karakternya yang lembut banyak orang berasumsi bahwa orang Sunda kurang fight, kurang berambisi dalam menggapai jabatan. Mereka mempunyai sifat „mengalah‟ daripada harus bersaing dalam memperebutkan suatu jabatan. Tidak heran kalau dalam sejarah Indonesia, kurang sekali tokoh-tokoh Sunda yang menjadi pemimpin di tingkat Nasional dibandingkan dengan orang Jawa. Contohnya, tidak ada satupun presiden Indonesia yang berasal dari suku Sunda, bahkan dari sembilan orang wakil presiden yang pernah menjabat sejak zaman Presiden pertama Soekarno sampai sekarang Presiden Joko Widodo hanya seorang yang berasal dari suku Sunda yaitu Umar Wirahadikusuma yang pernah menjabat sebagai wakil presiden di zaman Presiden Soeharto.

Oleh karena itu, wajar jika Deddy Mulyana (2010) memberikan penilaian bahwa dalam Debat Publik Pasangan Calon Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Barat Tahun 2008 yang baik adalah Ahmad Heryawan-Dede Yusuf. Pandangannya dapat merupakan representasi masyarakat Jawa Barat alih-alih masyarakat Sunda yang memang memiliki latar belakang budaya konteks tinggi. ***

103

7

Kampanye dengan Media Massa