• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Literatur

1. Defenisi Akuntansi Konservatif

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Literatur

1. Defenisi Akuntansi Konservatif

Peneliti sebelumnya telah memperkenalkan berbagai definisi dari konservatima akuntansi. Akuntansi secara tradisional mengekspresikan konservatisma dengan aturan mengantisipasi tidak ada profit akan tetapi mengantisipasi seluruh kerugian (Bliss, 1924 dalam Watts, 2003). Hal ini dapat diartikan sebagai kecenderungan akuntansi mensyaratkan derajat lebih tinggi dari verifikasi untuk mengakui kabar baik sebagai keuntungan daripada untuk mengakui kabar buruk sebagai kerugian.

Basu (1997) mendefinisikan konservatisma sebagai praktik menurunkan laba (dan menurunkan aset bersih) dalam merespon kabar buruk, tetapi tidak menaikkan laba (dan menaikkan aset bersih) dalam merespon kabar baik.

Konservatisma merupakan sikap dalam menghadapi ketidakpastian atau keputusan atas dasar munculan (outcome) yang terjelek dari ketidakpastian tersebut. Konservatisma dapat diartikan berjaga-jaga akan kondisi terburuk yang akan terjadi dengan melakukan tindakan dengan tujuan mengurangi atau menghilangkan kondisi terburuk tersebut.

13

Dalam literatur penilaian berdasarkan akuntansi, para peneliti sering merujuk pada karakterisasi Feltham dan Ohlson (1995) dari akuntansi konservatif atau bias sebagai ekspektasi bahwa aset bersih dilaporkan lebih kecil dibandingkan nilai pasar dalam jangka panjang. Beaver dan Ryan (2000) demikian pula menggolongkan konservatisma (atau bias) sebagai perbedaan persisten antara nilai pasar dan nilai buku, dibedakan dengan perbedaan temporari seperti keuntungan dan kerugian ekonomi yang diakui dalam nilai buku secara berangsur-angsur sepanjang waktu.

Konservatisma dalam akuntansi dapat diterapkan berupa metoda ataupun estimasi di dalam laporan keuangan. Karena prinsip konservatisma lebih condong ke arti berjaga-jaga maka biaya atau rugi yang terjadi pasti diakui lebih dahulu dibandingkan keuntungan atau pendapatan di masa yang akan datang (walau kemungkinan pendapatan ataupun keuntungan ini ada di tingkat “probable”), hal ini akan berakibat pada menurunnya laba dan aset perusahaan.

Konservatisma merupakan kaidah penting dalam laporan keuangan. Meskipun prinsip konservatisma telah diakui sebagai dasar utama dari pelaporan keuangan. Konservatisma adalah reaksi yang hati-hati (prudent reaction) dalam menghadapi ketidakpastian yang melekat pada perusahaan untuk mencoba memastikan bahwa ketidakpastian dan risiko yang inherent dalam lingkungan bisnis sudah cukup di

14

pertimbangkan. Konservatisma merupakan praktik akuntansi dengan mengurangi laba dan menurunkan nilai aktiva bersih ketika menghadapi

bad news akan tetapi tidak meningkatkan laba dan menaikkan nilai aktiva bersih ketika menghadapi good news.

Definisi konservatisma yang lebih deskriptif adalah memilih prinsip akuntansi yang mengarah pada minimalisasi laba kumulatif yang di laporkan yaitu mengakui pendapatan lebih lambat, mengakui biaya lebih cepat, menilai asset dengan nilai terendah, dan menilai kewajiban dengan nilai yang lebih tinggi. Konservatisma sebagai kecenderungan akuntan untuk menggunakan tingkat verifikasi yang lebih tinggi untuk mengakui kabar baik sebagai keuntungan dibanding kabar buruk sebagai kerugian. Kritik terhadap konservatisma menyatakan bahwa pada prinsip ini memang akan menyebabkan laba dan asset menjadi rendah, namun akhimya akan membuat laba dan asset menjadi tinggi dimasa datang, dengan kata lain laba dan asset menjadi tidak konservatif dimasa datang.

Panman dan Zhang (2002) menemukan bahwa perusahaan yang menerapkan konservatisma akuntansi dan pertumbuhan investasi temporer akan menghasilkan tingkat pengembalian yang temporer atau laba yang berfluktuasi. Penjelasannya adalah praktik akuntansi konservatif akan membebankan biaya mengakui rugi pada periode terjadinya, sebaliknya mengakui pendapatan dan keuantungan apabila benar-benar telah

15

terealisasi, sehingga laba yang dihasilkan akan lebih rendah pada periode bersangkutan dibandingkan apabila perusahaan yang menganut prinsip yang lebih optimis. Apabila periode berikutnya tidak terjadi atau terjadi penurunan biaya, atau pendapatan telah terealisasi maka laba periode berikutnya akan dilaporkan lebih tinggi untuk perusahaan yang menganut prinsip konservatima. Sehingga laba yang dilaporkan untuk perusahaan yang menganut prinsip konservatisma cenderung lebih berfluktuatif dari pada perusahaan yang menganut prinsip akuntansi yang lebih optimis.

Sebagai contoh dari konservatisma akuntansi adalah memilih antara kos atau harga pasar yang lebih rendah untuk akuntansi persediaan; atau segera mengakui perubahan dalam estimasi kos jika diperkirakan menghasilkan kerugian di masa yang akan datang pada kontrak jangka panjang, tetapi tidak melakukan revisi jika menghasilkan peningkatan laba di masa yang akan datang; atau penurunan nilai fisik aset karena keusangan (impairments), tetapi tidak menaikkan untuk nilai aset lebih tinggi. Jadi, konservatisma menghasilkan probabilitas lebih besar dari pengakuan akuntansi tepat waktu untuk kabar buruk daripada kabar baik.

Dalam dunia ketidakpastian berkaitan dengan profit mendatang, manajemen sebagai pengelola perusahaan (agensi) memiliki pengetahuan privat tentang operasi dan nilai aset perusahaan dibandingkan prinsipal (investor dan kreditor). Jika kompensasi manajerial terkait dengan laba dilaporkan, manajer mempunyai insentif bersembunyi dibalik setiap

16

informasi laba dilaporkan. Konservatisma memainkan peran efisien ex ante

dalam kontrakting antar pihak yang terlibat. Jika konsiderasi kontrakting menjelaskan asal konservatisma, maka berkaitan dengan pajak, litigasi, tekanan politik dan regulatori telah mempengaruhi derajat konservatisma, khususnya selama abad ini (Watt and Zimmerman, 1986).

Konservatisma ini diatribusi untuk penggunaan laporan keuangan dalam kontrak utang dan/atau kompensasi, litigasi, proses regulatori dan politik, dan pajak (Watts,2003). Dalam penjelasan kontrakting, konservatisma terjadi karena dapat mengurangi kos agensi berasosiasi dengan (1) asimetri informasi dan fungsi kerugian antar contracting parties; dan (2) ketidakmampuan untuk memverifikasi pihak-pihak yang lebih mengetahui informasi privat. Dalam hal ini kos agensi disebabkan oleh informasi privat manajer dan fungsi kerugian asimetrik yang tidak terbatas pada kontrak utang dan kompensasi.

Secara ringkas, konservatisma akuntansi merupakan prinsip kehati-hatian yang tidak mengakui keuntungan sampai diperoleh bukti yang kredibel, sebaliknya kerugian harus segera diakui pada saat terdapat kemungkinan akan terjadi, tidak perlu menunggu sampai terdapat bukti riil. Akuntansi konservatif menyebabkan angka-angka yang tersaji dalam Neraca dan Laporan Laba Rugi adalah ditetapkan lebih rendah. Aset bersih ditetapkan lebih rendah dan laba kumulatif juga ditetapkan lebih rendah, sebaliknya utang dan biaya ditetapkan pada nilai yang tertinggi. Sebagai

17

konsekuensi penting dari perlakuan asimetrik konservatima atas keuntungan dan kerugian adalah understatement persisten dari nilai aset bersih. Regulator pasar modal, penyusun standar, dan akademisi mengkritisi konservatisma karena understatement pada periode berjalan dapat mengarahkan pada overstatement laba di periode mendatang dengan penyebab understatement biaya mendatang (Watts, 2003).

Variabel - variabel yang diduga mempengaruhi kecenderungan terjadinya sengeta pajak penghasilan seperti penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Ahmed et al (2002) terdiri dari return on asset (ROA), ukuran perusahaan (SIZE) dan tingkat penjualan (Sales Grow).

a. Tingkat Profitabilitas (ROA)

Tingkat Profitabiltas (ROA) berasosiasi dengan motivasi untuk mempratikkan akuntansi lebih konservatif. Semakin rendah tingkat profitabilitas, maka akuntansi perusahaan semakin konservatif.

Menurut Hanafi dan Halim (2003), Return on Asset merupakan rasio keuangan perusahaan yang berhubungan dengan profitabilitas mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan atas laba pada tingkat pendapatan, aset dan modal saham tertentu. Dengan mengetahui ROA kita dapat menilai apakah perusahaan telah efesien dalam menggunakan asetnya dalam kegiatan operasi untuk menghasilkan keuntungan.

18

Menurut Lestari danSugiharto (2007), semakin tinggi rasio ROA maka semakin baik produktifitas aset dalam memperoleh keuntungan bersih. Hali ini selanjutnya akan meningkatkan daya tarik perusahaan kepada investor.

Laba bersih (net income) merupakan ukuran pokok keseluruhan keberhasilan perusahaan. Laba dapat mempengaruhi kemampuan purusahaan untuk dapat pinjaman dan pendanaan ekuitas, posisi likuiditas perusahaan dan kemampuan perusahaan untuk berubah. Jumlah keuntungan (laba) yang diperoleh secara teratur serta kecenderungan atau trend keuntungan yang meningkat merupakan suatu faktor yang sangat penting yang perlu mendapat perhatian penganalisa di dalam menilai profotabilitas suatu perusahaan (Munawir, 2001).

b. Ukuran Perusahaan (SIZE)

Watts dan Zimmerman (1986) berpendapat jika perusahaan menghadapi kos politik tinggi, maka cenderung untuk menerapkan akuntansi lebih konservatif, sehingga digunakan log natural dari asset ke dalam model pengukuran untuk mengontrol SIZE.

Menurut Tunggal (1995), ukuran perusahaan mempunyai dampak signifikan terhadap kelemahan pengendalian internal. Kenyataannya lebih sukar untuk menyusun pemisahan tugas kecil. Tidaklah layak mengharapkan perusahaan kecil untuk mempunyai auditor internal.

19

Perusahaan dengan ukuran yang lebih besar memiliki akses yang lebih besar untuk mendapat sumber pendanaan dari berbagai sumber, sehingga untuk memperoleh pinjaman dari krediturpun akan lebih mudah karena perusahaan dengan ukuran besar memiliki profitabilitas lebih besar untuk memenangkan persaingan atau bertahan dalam industri.

c. Pertumbuhan penjualan (Sales Grow)

Menggunakan variabel pertumbuhan penjualan (sales grow) mempunyai tiga alasan yakni,

1. mempengaruhi pengakuan akrual, seperti: perubahan dalam piutang usaha dan sediaan.

2. Meningkatkan konservatisma akuntansi, pertumbuhan penjualan negatif mengindikasikan penurunan dalam operasi, sehingga menurunkan kecenderungan konservatisma akuntansi.

3. Dapat mempengaruhi ekspetasi pasar untuk memprediksi pertumbuhan dimasa yang akan datang.

Dokumen terkait