• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Tentang RSUD Daya Makassar

1. Sejarah

a. Sejarah Rumah Sakit Umum Daerah Daya dimulai dari berdirinya puskesmas daya pada tahun 1975 – 1978

b. Pada tahun 1978 – 2002 puskesmas daya berubah menjadi puskesmas plus daya

c. Pada tahun 2002 dengan adanya surat izin rumah sakit dari dirjen yanmedik nomor : HK .01.021.2.4474 tanggal 28 0ktober 2002.SK Walikota Makassar no 50 pada tanggal 6 nopember 2002 dan surat keputusan mentri kesehatan RI Nomor 967/MENKES/SK/X/2008,maka statusnya berubah menjadi rumah sakit tipe C dengan nama Rumah Sakit Umum Daerah Daya.

d. SK wali kota no 5 Tahun 2007 tentang struktur organisasi dan tata kerja RSUD Kota Makassar

e. Peraturan walikota makassar No 1 tahun 2008 Tentang Tarif dan jasa pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah Daya Kota Makassar.

2. Letak Geografis

Secara geografis lokasi rumah sakit umum daerah kota makassar berada pada bagian utara kota maakssar yang merupakan kawasan pengembangan rencana induk kota pada kecamatan biringkanaya dengan luas wilaya 80,06 km dengan jumlah penduduk 168.848 jiwa dibandingkan luas wilaya kota makassar 175.77 km dengan jumlah penduduk 1,6 juta dengan batas wilayah sbb :

1. Sebelah utara berbatasn dengan kab.Maros

2. Sebelah selatan berbatasan dengan Kec.Tamalanrea 3. Sumber Daya Manusia

Jumlah tenaga yang dimiliki oleh RSUD Daya Makassar cukup banyak dengan berbagai kompetensi. Adapun uraian tenaga yang dimiliki adalah sebagai berikut:

Tabel 3

Distribusi Tenaga Berdasarkan Kualifikasi diRSUD Daya Makassar Tahun 2012

No Kualifikasi Jumlah

1 Tenaga medis 50 orang

2 Tenaga keperawatan 192 orang

3 Tenaga keformasian 15 orang

4 Tenaga kesmas 39 orang

5 Tenaga Gizi 14 orang

6 Tenaga keterapian fisik 7 orang

7 Tenaga keteknisan medis 18 orang

8 Tenaga Non kesehatan 55 orang

Jumlah 390 orang

Sumber: Data Bagian SDM dan Pendidikan

4. Analis Hasil Penelitian

Setelah melakukan penelitian terhadap 71 perawat di unit rawat inap RSUD Daya makassar yang dijadikan sebagai responden penelitian, penelitian ini dilakukan di unit rawat inap, (perawatan anak,perawat interna dan perawatan bedah) Kemudian hasil penelitian ini dianalisis secara deskriptif.

Analisis deskriptif dilakukan dengan cara mendeskripsikan variable, yang bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai variabel – variabel yang diteliti.

a. Variabel penelitian

Untuk menghubungkan suatu kriteria atau variabel maka dapat digunakandeskripsi non variabel yang bersumber dari data, namun

tidaktermasuk dalam variabel yang diteliti.data-data non variabel tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.

1. Umur

Hasil Penelitian memberikan gambaran tentang umur 71 perawat di instalasi rawat Inap RSUD Daya Makassar. Umur responden distratifikasikan dalam empat kelompok umur, yaitu umur antara < 25 tahun, 26-30 tahun, 31-35 tahun dan kelompok umur diatas 36 tahun.

Distribusi responden berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel di bawah ini

Tabel 4

Distribusi Responden Berdasarkan umur Perawat Di Unit Rawat Inap RSUD Daya Makassar

Tahun 2012

Umur (Tahun)

Frekuensi

n %

< 25 26-30 31-35

>36

26 37 4 4

36.6 52.1 5.6 5.6

Jumlah 71 100.0

Sumber : Data Primer

Dari tabel di atas dapat menunjukan bahwa respoden yang berumur dari 21-25 atau < 25 sebanyak 26 perawat (36.6%) dan umur

dari 26-30 sebanyak 37 perawat (52.1%), responden yang berumur 31-35 dan > 36 sebanyak 4 orang yaitu (5.6%).jadi kesimpulannya responden yang berumur 21 -39 orang yang bekerja di instalasi tersebut.

2. Jenis kelamin

Hasil Penelitian memberikan gambaran tentang Jenis Kelamin 71 perawat di Unit Rawat Inap RSUD Daya Makassar.Jenis kelamin responden distratifikasikan berdasarkan jenis kelamin laki-laki dan perempuan.Distribusi responden berdasarkan Jenis kelamin dapat dilihat pada tabel di bawah ini

Tabel 5

Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Perawat Di Unit Rawat Inap RSUD Daya Makassar

Tahun 2012

Jenis Kelamin Frekuensi

n %

Laki – laki Perempuan

3 68

4,2 95,8

Jumlah 71 100,0

Sumber : Data Primer

Dari tabel diatas, diketahui bahwa dari 71 responden perawatdi unit rawat inap RSUD Daya Makassar, sebagian besar responden didominasi oleh Perawat perempuan sebesar 68 orang (95,8%) sedangkan pasien laki – lakihanya sebesar 3 orang (4,2 %).

3. Tingkat Pendidikan

Hasil Penelitian memberikan gambaran tentang tingkat pendidikan 71 perawat di Unit rawat Inap RSUD Daya Makassar. Tingkat pendidikan responden distratifikasikan dalam tiga kelompok yaituSPK,DIII Keperawatan,S1 Distribusi responden berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 6

Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Perawat Di Unit Rawat InapRSUD Daya Makassar

Makassar Tahun 2012

Pendidikan

Frekuensi

n %

SPK DIII Keperawatan

S1

14 30 27

19,7 42,3 38,0

Jumlah 71 100,0

Sumber : Data Primer

Dari tabel diatas, diketahui bahwa dari 71 responden perawat di unit rawat inap RSUD Daya Makassar, sebagian besar responden dalam penelitian ini memiliki tingkat pendidikan SPK 14 orang ( 19,7%) sedangkan DIII Keperawatan sebanyak 30 orang (42,3%) dan S1 sebanyak 27 orang ( 38,0%)

4. Instrumen yang digunakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan perawat pelaksana adalah kuesioner yang terdiri dari 10 pertanyaan terkait konsep Patient Safety. Distribusi jawaban responden setiap pertanyaan dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 7

Distribusi Jawaban Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Responden di Instalasi rawat inap RSUD Daya Makassar Tahun 2012

No Pertanyaan

Tidak tahu Kurang

benar Benar Total

N % n % n % n %

1 Program patien safety adalah untuk menjamin keselamatan pasien yang dirawat di rumah sakit

9 12,7 0 0,0 62 87,3 71 100,0

2 cara pelaporan “kejadian tak diharapkan “bersifat rahasia

8 11,3 12 16,9 51 71,8 71 100,0

3 Formulir laporan “sudah di sediakan di seluruh ruang perawatan

9 12,7 9 12,7 53 74,6 71 100,0

4 Rumah sakit wajib

menyelenggarakan pendidikan untuk meningkatkan kompetensi staf dalam rangka pelayanan asuhan kepada pasien yang aman

1 1,4 5 7,0 65 91,5 71 100,0

5 Sebelum melakukan pemasangan infus daerah yang akan di infus harus di desinfeksi dengan alcohol

3 4,2 1 1,4 67 94,4 71 100,0

6 Perawat harus menjelaskan manfaat resiko kepada pasien sebelum melakukan tindakan

1 1,4 5 7,0 65 91,5 71 100,0

7 Seorang perawat harus selalu meneliti kembali jenis obat waktu pemberian daan nama pasien sebelum menyuntik pasien

1 1,4 1 1,4 69 97,2 71 100,0

8 Saat perawat mau memasang infus perlu mencuci tangan terlebih dahulu meskipun akan menggunakan sarung tangan

2 2,8 2 2,8 67 94,4 71 100,0

9 Untuk mencegah pasien jatuh saya selalu memasang pengaman tempat tidur sebelum pasien saya tinggalkan

9 12,7 0 0,0 62 87,3 71 100,0

10 Saya mengganti infus set setiap 3 hari sekali untuk mencegah plebitus

4 5,6 6 8,5 61 85,9 71 100,0

Sumber : Data Primer

Tabel 8, menunjukkan distribusi jawaban responden yang sangat bervariasi, Pada umumnya, sebagian besar responden dapat menjawab dengan benar konsep patient safety. Walaupun demikian, masih terdapat beberapa item pertanyaan penting seperti defenisi, tujuan, dan sasaran patient safetyyang tidak dapat dijawab dengan benar.Berdasarkan tabel di atas juga terlihat bahwa, presentase

jawaban benar yang terendah yaitu pada item pertanyaan cara pelaporan “kejadian tak diharapkan “bersifat rahasia (71,8 ) dan Formulir laporan “sudah di sediakan di seluruh ruang perawatan (74,6)

hal sesuai dengan keadaan yang terjadi di instalasi tersebut

5. Gambaran distribusi mengetahui pengetahuan perawat dalam melaksanakan program Patient Safety di Instalasi rawat inap RSUD Daya Makassar berdasarkan kategorinya dideskripsikan sebagai berikut.

Tabel 8

Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden di Instalasi Rawat Inap RSUD Daya MakassarTahun 2012

Pengetahuan Frekuensi

n %

Kurang 0 0,0

Cukup 2 2,8

Baik 69 97,2

Jumlah 100 10,00

Sumber : Data primer

Dari tabel di atas dapat di simpulkan bahwa jumlah keseluruan perawat di instalasi rawat inap dengan pengetahuan baik 69 orang (97,2%) dan pengetahuan yang cukup 2 orang (2,8%)

Tabel 9

Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden di Instalasi rawat inap ruang perawatan anak RSUD Daya Makassar

Tahun 2012

Pengetahuan

Frekuensi

n %

Kurang 0 0,0

Cukup 0 0,0

Baik 21 100,0

Jumlah 21 100,0

Sumber : Data primer

Di lihat dari tabel di atas dapat di simpulkan bahwa perawat yang berada di ruang perawatan anak memiliki pengetahuan yang baik dengan berjumlah 21 orang (100,0)

Tabel 10

Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden di Instalasi rawat inap ruang perawatan interna RSUD Daya Makassar

Tahun 2012

Pengetahuan

Frekuensi

n %

Kurang 0 0,0

Cukup 2 6,9

Baik 27 93,1

Jumlah 29 100,0

Sumber : Data primer

Dari tabel 10 di atas dapat di simpulkan bahwa perawat yang berada d ruang interna mempunyai pengetahuan yang baik berjumlah 27 orang (93,1%) dan cukup 2 orang (6,9%)

Tabel 11

Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden di Instalasi Rawat Inap Ruang Perawatan Bedah

RSUD Daya MakassarTahun 2012

Pengetahuan

Frekuensi

n %

Kurang 0 0,0

Cukup 0 0,0

Baik 21 100,0

Jumlah 21 100,0

Sumber : Data Primer

Dari tabel 11 di atas dapat di simpulakan bahwa perawat yangberada di ruang bedah mempunyai pengetahuan yang baik yaitu berjumlah 21 orang (100,0)

6. Instrumen yang digunakan untuk mengetahui tingkat motivasi perawat pelaksana adalah kuesioner yang terdiri dari 10 pertanyaan. Distribusi jawaban responden setiap pertanyaan dapat dilihat pada tabel berikut

Tabel 12

Distribusi Jawaban Berdasarkan Tingkat Motivasi Responden di Instalasi rawat inap RSUD Daya Makassar Tahun 2012

No Pertanyaan

STS TS RG S SS Total

n % N % n % N % n % n %

1 Dengan menerapkan patient safety saat memberikan asuhan keperawatan agar terhindar dari tuntutan

0 0,0 3 4,2 6 8,5 25 35,2 37 52,1 71 10,00

2 Saya akan memonitor tanda infeksi nosokomial sebagai salah satu bentuk mendukung penerapan program patient safety.

1 1,4 1 1,4 11 15,5 22 31,0 36 50,7 71 10,00

3 Saya akan mendukung penerapan program patien safety agar masyarakat lebih percaya dengan Rumah sakit tempat saya bekerja.

0 0,0 2 2,8 9 12,7 23 32,4 37 52,1 71 10,00

4 Saya termotivasi menerapkan program patien safety karena ada komplain dari pelanggan

4 5,6 14 19,7 10 14,1 14 19,7 29 40,8 71 10,00 5 Saya akan mendukung

penerapan program patien safety karna akan menigatkan kesejahteraan saya

0 0,0 13 18,3 11 15,5 17 23,9 30 42,3 71 10,00

6 Saya terdororng mendukung penerapan patient safety karena patient safety mengubah status saya sebagai perawat yang lebih baik.

1 1,4 5 7,0 14 19,7 29 40,8 22 31,0 71 10,0

7 Menurut saya patien safety penting dalam menigkatkan pendapatan RS dan kesejahteaan karyawan RS.

2 2,8 9 12,7 12 16,9 24 33,8 24 33,8 71 10,00

8 Saya mempercayakan keluarga pasien untuk mengawasi

kelancaran tetesan infus. 4 5.6 17 23,9 6 8,5 18 25,4 26 36,6 71

10,00

9 Supaya hemat saya

menggunakan satu jarum suntik untuk beberapa kali injeksi

17 23, 9

17 23,9 10 14,1 7 9,9 20 28,2 71 10,00

10 Jasa pelayanan yang saya terima tidak ada hubungannya dengan patient safety.

3 4,2 13 18,3 7 9,9 18 25,4 29 40,8 71 10,00

Sumber : Data primer

Dari tabel 12 menunjukkan bahwa motivasi perawat mempercayakan keluarga pasien untuk mengawasi kelancaran tetesan infus dan Supaya hemat saya menggunakan satu jarum suntik untuk beberapa kali injeksi sebagian besar berada pada rentang tidak setuju.dan Motivasi perawat terdororng untuk mendukung penerapan patient safety karena patient safety mengubah status saya sebagai perawat yang lebih baik sebagian besar berada pada rentang cukup setuju sedangkan Motivasi perawat untuk mendukung penerapan patient safety karena patient safety mengubah status saya sebagai perawat yang lebih baik sebagaian besar berada pada rentang setuju.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa faktor yang paling berpengaruh memberikan motivasi kepada perawat untuk melaksanakan program Patient Safetyadalah faktor kesadaran individu untuk menigkatkan pendapatan rumah sakit dan kesejahteaan karyawan Rumah sakit.

7. Gambaran distribusi mengetahui motivasi perawat dalam melaksanakan program Patient Safety di Instalasi rawat inap RSUD

Dacya Makassar berdasarkan kategorinya dideskripsikan sebagai berikut:

Tabel 13

Distribusi Frekuensi Motivasi Responden di Instalasi rawat inap RSUD Daya MakassarTahun 2012

Motivasi Frekuensi

n %

Rendah 0 0,0

Sedang 17 23,9

Tinggi 54 76,1

Jumlah 71 100,0

Sumber : Data primer

Tabel 13 diatas dapat disimpulkan bahwa responden menyatakan bahwa tingkat motivasi perawat di intalasi rawat inap RSUD Daya Makassar umumnya menjabaw tingkat motivasi sedang 17 orang (23,9) sedangkan responden yang menyatakan bahwa tingkat motivasi perawat yang tinggi 54 orang ( 76,1)

Tabel 14

Distribusi Frekuensi Motivasi Responden di Runag Perawatan Anak Instalasi rawat inap

RSUD Daya MakassarTahun 2012

Motivasi Frekuensi

n %

Rendah 9 40,9

Sedang 12 54,5

Tinggi 0 0,0

Jumlah 21 100,0

Sumber : Data primer

Dari tabel 14 di atas dapat di simpulkan bahwa perawat ruang perawatan anak memiliki motivasi yang rendah 9 orang (40,9%) dan motivasi yang sedang 12 orang (54,5%) tidak ada perawat yang memiliki motivasi yangtinggi.

Tabel 15

Distribusi Frekuensi Motivasi Responden di Runag PerawatanInterna Instalasi rawat inap

RSUD Daya MakassarTahun 2012 Motivasi

Frekuensi

n %

Rendah 0 0,0

Sedang 8 27,6

Tinggi 21 72,4

Jumlah 29 100,0

Sumber : Data primer

Dari tabel 15 di atas dapat di simpulkan bahwa perwat yang berada di ruang perwatan interna yang memiliki motivasi sedang 8 orang (27,6%) dan motivasi yang tinggi 21 orang (72,4%)

Tabel 16

Distribusi Frekuensi Motivasi Responden di Ruang Perawatan Bedah Instalasi Rawat Inap

RSUD Daya MakassarTahun 2012

Motivasi

Frekuensi

n %

Rendah 0 0,0

Sedang 5 23,8

Tinggi 16 76,2

Jumlah 21 100,0

Sumber : Data primer

Dari tabel 16 di atas dapat di simpulkan bahwa perawat yang berada di ruang perawatan bedah dengan memiliki motivasi sedang 5 orang (23,8%) dan motivasi yang tinggi 16 orang (76,2%)

Dokumen terkait