BAB II : LANDASAN TEORI
B. Defenisi Operasional Variabel
Menurut Fahmi (2012) dalam Rizki Fitri Amalia (2019) Financial Distress merupakan tahapan penurunan kondisi keuangan suatu perusahaan sebelum terjadinya kesulitan keuangan. Analisis financial distress dilakukan untuk memperoleh peringatan awal tentang kesehatan suatu perusahaan, sehingga perusahaan dapat menemukan indikasi adanya kesulitan keuangan dalam suatu perusahaan. Semakin awal tanda-tanda kesulitan keuangan diketahui maka semakin baik pula perusahaan untuk melakukan tindakan perbaikan agar dapat memperbaiki kesehatan perusahaan dan dapat membuat strategi atau kebijakan
untuk dapat memperbaiki dan menghadapi kemungkinan terburuknya Wulandari (2014) dalam Rizki Fitri Amalia (2019). Dalam hal ini yang digunakan adalah metode Altman dan Springate.
1. Metode Altman
Metode Altman adalah salah satu metode yang dapat digunakan untuk memprediksi tingkat keamanan perusahaan dari ancaman kebangkrutan. Analisa Altman ini ditemukan oleh Edward I. Altman, yakni melakukan peramalan kondisi perusahaan dengan menggunakan seperangkat rasio yang dihitung dengan persamaan yang dihasilkan dari uji coba yang telah dilakukan oleh penemunya. Terdapat lima rasio yang digunakan Altman dimasukkan kedalam MDA dan menghasilkan model sebagai berikut:
Dimana :
X1 = Working Capital to Total Assets X2 = Retained Earning to Total Assets
X3 = Earning Before Interest & Taxes to Total Assets X4 = Market Value of Equity to Book Value of Debt X5 = Sales to Total Assets
1) Working Capital to Total Assets (X1)
Rasio pertama ini dihitung dengan perbandingan rasio modal kerja terhadap total aktiva, rasio ini merupakan ukuran bersih
yang digunakan adalah modal kerja bersih yakni selisih antara aktiva lancar dikurangi hutang lancar.
X1 = Aktiva Lancar – Hutang LAncarTotal Aktiva
2) Retained Earning to Total Assets (X2)
Merupakan ukuran profitabilitas, rasio ini menunjukkan perbandingan laba ditahan dengan total aktiva. Rasio ini digunakan untuk melihat seberapa besar kontribusi saldo laba terhadap total asset, karena saldo laba adalah cerminan cadangan laba yang disimpan untuk dapat menambah modal sehingga dapat meningkatkan produktivitas perusahaan.
X2 = Laba ditahan (Saldo Laba)Total Aktiva
3) Earning Before Interest and Taxes to Total Assets (X3)
Rasio ini dihitung dengan membagi total aktiva perusahaan dengan penghasilan sebelum bunga dan potongan pajak dibagi dengan total aktiva. Rasio ini merupakan ukuran produktivitas yakni mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan menghasilkan laba sebelum bungan dan pajak dilihat dari aktiva perusahaan yang sesungguhnya. Sejak keberadaan pokok perusahaan didasarkan pada kemampuan menghasilkan laba dari aktiva-aktivanya, rasio ini muncul menjadi yang paling utama sesuai untuk studi yang berhubungan dengan kegagalan perusahaan.
4) Market Value of Equity to Book Value of Debt (X4)
Modal diukur melalui gabungan nilai pasar dan keseluruhan lembar saham preferen dan biasa, sedangkan utang meliputi utang lancar dan utang jangka panjang. Rasio ini dihitung dengan membandingkan ekuitas yang dinilai sebesar nilai pasar dengan total keseluruhan utang jangka pendek ditambah utang jangka panjang. Perhitungan dengan menggunakan nilai pasar dalam menilai ekuitas ini merupakan salah satu keunggulan dari model Altman yang tidak digunakan model prediksi lainnya.
X4 = Nilai Pasar EkuitasNilai Buku Hutang
5) Sales to Total Assets (X5)
Rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan dalam meningkatkan penjualan dari aktiva yang dimilikinya. Selain itu juga dapat digunakan untuk mengukur seberapa besar kemampuan manajemen dalam menghadapi kondisi yang kompetitif. Rasio ini digunakan dengan cara membandingkan penjualan dengan total aktiva.
X5 = Total AktivaPenjualan
Altman menggunakan titik cut off 1,80 dan 3,00. Jika nilai Z < 1,80 berarti perusahaan beresiko tinggi terhadap financial distress. Jika nilai Z berada diantara 1,81 sampai dengan 3,00 berarti dalam kondisi rawan
dari angka 3,00 berarti perusahaan berada dalam kondisi yang sehat atau non- financial distress.
2. Metode Springate
Menurut Syafrida Hani (2015:147), Metode Springate adalah model rasio yang digunakan untuk mengukur kondisi keuangan dan perusahaan. Hampir sama dengan metode Altman, metode ini juga menggunakan lebih dari satu rasio keuangan yang dianggap berkaitan dengan kondisi yang dapat mengukur tingkat kesulitan suatu perusahaan. Untuk menentukan rasio-rasio yang mana saja yang dapat mendeteksi kemungkinan kebangkrutan, Springate menggunakan model discriminant Analisys (MDA) untuk memilih 4 rasio dari 19 rasio keuangan yang populer dalam literatur-literatur, yang mampu membedakan perusahaan yang akan mengalami kebangkrutan dengan yang dalam kondisi baik. Model Springate adalah:
Dimana :
X1 = Working Capital to Total Assets
X2 = Net Profit Before Interst and Taxes to Total Assets X3 = Net Profit Before Taxes to Current Liabilities X4 = Sales to Total Assets
1) Working Capital to Total Assets (X1)
Rasio pertama ini dihitung dengan perbandingan rasio modal kerja terhadap total aktiva, rasio ini merupakan ukuran bersih aktiva lancar perusahaan terhadap modal perusahaan. Modal kerja yang digunakan adalah modal kerja bersih yakni selisih antara aktiva lancar dikurangi hutang lancar.
X1 = Aktiva Lancar − Hutang LancarTotal Aktiva
2) Net Profit Before Interst and Taxes to Total Assets (X2)
Rasio laba sebelum bunga dan pajak terhadap total aktiva digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba. Tingkat pengembalian dari aktiva yang dihitung dengan membagi laba sebelum bunga dan pajak dengan total aktiva pada neraca perusahaan.
X2 = Laba Sebelum Bunga &Total Aktiva
3) Net Profit Before Taxes to Current Liabilities (X3)
Rasio laba sebelum pajak terhadap total liabilitas lancar digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam melunasi hutang jangka pendeknya. Cara menghitungnya dengan mengukur perbandingan antara laba sebelum pajak terhadap hutang lancar. Rasio laba sebelum pajak terhadap liabilitas lancar digunakan agar manajemen perusahaan dapat mengetahui berapa laba yang telah dipotong dengan beban pajak dapat menutupi hutang lancar yang ada.
4) Sales to Total Assets (X4)
Rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan dalam meningkatkan penjualan dari aktiva yang dimilikinya. Selain itu juga dapat digunakan untuk mengukur seberapa besar kemampuan manajemen dalam menghadapi kondisi yang kompetitif. Rasio ini digunakan dengan cara membandingkan penjualan dengan total aktiva.
X5 = Total AssetSales
Jika skor yang didapat S > 0,862 maka perusahaan diklasifikasikan sehat atau non- financial distress dan jika skor S < 0,862 maka perusahaan diklasifikasikan mengalami financial distress.
C. Tempat dan Waktu Penelitian