• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Pendekatan Penelitian

3.7 Defenisi Operasional Variabel

Defenisi operasional adalah penentuan construct sehingga menjadi variabel yang dapat diukur (Indriantoro & Supomo, 1999). Jogiyanto (2007) menyatakan bahwa operasional variabel berupa cara untuk mengukur variable supaya dapat dioperasikan. Sehingga memungkinkan bila peneliti yang lainn untuk melakukan replikasi pengukuran dengan cara yang sama atau mengembangkan cara pengukuran construct yang lebih baik.

1. Variabel Bebas (Independent Variable)

Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perusahaan atau timbulnya variabel terikat (Sugiyono, 2009). Pada penelitian ini peneliti menggunakan Intellectual Capital dan Struktur Modal sebagai variabel bebasnya.

a. Intellectual Capital; Metode value added intellectual coeficient (VAIC) dikembangan oleh Pulic pada tahun 1997 yang didesain untuk menyajikan informasi tentang value creation efficiency dari aset berwujud (tangible asset) dan aset tidka berwujud (intangible asset) yang dimiliki perusahaan. VAIC merupakan instrumen untuk mengukur kinerja Intellectual Capital perusahaan. Berikut tiga rumus yang digunakan dalam VAIC (Pulic, 1998), yaitu:

1) Tahap pertama dengan menghitung Value Added (IVA). VA dihitung dengan menggunakan cara yaitu sebagai berikut:

VA=OUT – IN

OUT (output): Total penjualan dan pendapatan

IN (input): beban penjualan dan biaya-biaya lain (selain beban karyawan)

2) Tahap kedua dengan menghitung Value Added Capital Employed (VACA). VACA adalah indikator untuk VA yang diciptakan oleh satu unit dari physical capital. Rasio ini menunjukkan kontribusi

yang dibuat oleh setiap unit dari CE terhadap value added perusahaan.

VACA = VA/CE

Keterangan:

VACA : Value Added Capital Employed; rasio dari VA terhadap CE

VA : Value Added

CE : Capital Employed; dana yang tersedia (ekuitas, laba bersih)

3) Tahap ketiga dengan menghitung Value Added Human Capital (VAHU). VAHU menunjukkan berapa banyak VA dapat dihasilkan dengan dana yang dikeluarkan untuk tenaga kerja. Rasio ini menunjukkan kontribusi yang dibuat oleh setiap rupiah yang diinvestasikan dalam HC terhadap value added organisasi.

VAHU = VA/HC

Keterangan

VAHU : Value Added Human Capital; rasio VA terhadap HC

VA : Value Added

HC : Human Capital; beban karyawan

4) Tahap keempat dengan menghitung Structural Capital Value Added (STVA). Rasio ini mengukur jumlah SC yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 rupiah dari VA dan merupakan indikasi keberhasilan SC dalam penciptaan nilai.

STVA = SC/VA

Keterangan:

STVA : Structural Capital Value Added; rasio dari SC terhadap VA SC : Structural Capital; VA – HC

VA : Value Added

5) Tahap kelima menghitung Value Added Intellectual Capital Coefficient (VAIC). VAIC mengindikasikan kemampuan intelektual organisasi yang dapat juga dianggap sebagai BPI (Business Performance Indicator). merupakan penjumlahan dari tiga komponen sebelumnya.

VAICTM = VACA + VAHU + STVA

b. Struktur Modal;dalam penelitian ini, untuk melihat struktur modal perusahaan dapat dilihat dari Debt to Equity to Ratio (DER). Menurut Sartono (1996) Debt to Equity to Ratio (DER) menekankan persentase penyediaan dana oleh pemegang saham terhadap permberi jaminan. Semakin tinggi rasio DER, maka semakin rendah pendanaan perusahaan yang disediakan oleh pemegang saham. Debt to Equity to Ratio (DER) merupakan rasio yang menggambarkan utang dengan ekuitas dalam pendanaan perusahaan dan menunjukkan kemampuan modal sendiri perusahaan tersebut untuk memenuhi kewajibannya. Debt to Equity to Ratio (DER) merupakan salah satu rasio leverage yang bertujuan untuk mengukur kemampuan dari modal sendiri yang dijadikan jaminan untuk keseluruhan hutang perusahaan. Kasmir (2010) menjelaskan rumus antara total hutang dengan total ekuitas sebagai berikut:

DER = Total Hutang (debt) Ekuitas

2. Variabel Terikat (Dependent Variable)

Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi karena adanya variabel bebas. Variabel dependen adalah tiper variabel yang dijelaskan atau diperngaruhi variabel independen (Indriantoro dan Suporno, 2002).Variabel terikat dalam penelitian ini berupa return saham. Ross, et al. (2003) dalam Muna (2014), menyatakan bahwa mengukur return saham perusahaan maka digunakan nilai dari clossing price pada tahun terkait. Return saham pada periode t merupakan selisih antara clossing price i pada periode t dengan periode sebelumnya (t-1), dibagi dengan closing price pada (t-1). Return saham disajikan dalam prosentase.

Rit= Pit – Pit-1 Pit-1 Keterangan:

Rit = Return saham

Pit = Harga saham periode ke-t

Pit-1 = Harga saham periode sebelumnya

3. Variabel Perantara (Intervening Variable)

Variabel intervening merupakan variabel yang mempengaruhi hubungan antara variable independent dengan variable dependen sehingga menjadi berhubungan secara tidak langsung dan dapat diamati atau diukur. Trucman (1988) dalam Sugiyono (2009). Pada penelitian ini peneliti menggunakan kinerja keuangan sebagai variabel perantara. Variabel tersebut didefenisikan sebagai berikut:

a. Return on Equity (ROE)

Return on Equity (ROE) menunjukkan tingkat pengembalian (return) yang dihasilkan manajemen atas modal yang ditanam oleh pemegang saham, sesudah dipotong kewajiban kepada kreditor. Rasio ini termasuk dalam jenis rasio profitabilitas. Rasio ini juga menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih perusahaan

berdasarkan modal tertentu. Rasio ini adalah rasio yang mengukur pengembalian nilai buku kepada pemilik perusahaan (Ross et al. 2003 dalam Muna 2014). ROE mengukur seberapa banyak keuntungan sebuah perusahaan dapat menghasilkan setiap rupiah dari modal pemegang saham. Rasio ini mengindikasikan kekuatan laba dari investasi nilai buku pemegang saham dan digunakan ketika membandingkan dua atau lebih perusahaan dalam sebuah industri secara kontinu (Van Horne, 1989 dalam Wijayanti 2013).

Persamaan dari rasio ini adalah (Kasmir, 2008): Return on Equity = Earning After Interest and Tax

Equity b. Earning Per Share (EPS)

Earning Per Share (EPS) yaitu menggambarkan laba bersih setelah pajak pada satu tahun buku yang dihasilkan untuk setiap lembar saham, menurut PSAK 56 revisi 2010 menyatakan bahwa entitas menghitumg jumlah laba per saham dasar atas laba atau rugi yang dapat diatribusikan kepada pemengang saham biasa entitas induk dan jika disajikan laba atau rugi dari operasi normal berkekelanjutan yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham biasa tersebut. Tujuan informasi laba per saham adalah menyediakan ukuran mengenai hak setiap saham biasa entitas induk atas kinerja entitas selama periode pelaporan. Semakin tinggi EPS yang dihasilkan maka menunjukkan bahwa laba yang ada pada per lembar saham tinggi yang menyebabkan adanya kemungkinan peningkatan jumlah deviden yang diterima pemegang saham, sedangkan semakin rendah EPS yang dihasilkan maka menunjukkan bahwa laba yang didapat perusahaan per lembar sahamnyasemakin rendah dan kemungkinan terjadinya penurunan terhadap jumlah deviden yang akan diterima oleh pemegang saham (Wijayanti, 2013). Persamaan dari rasio ini adalah (Ross, et al. 2003 dalam Muna, 2014):

Jumlah saham yang beredar

Dokumen terkait