A. Kesiapan sekolah
1. Definisi Kesiapan Sekolah
Kesiapan (readiness) merupakan konsep yang sudah dikenalkan sejak abad 19, meskipun sudah dikenal sejak lama konsep kesiapan belum banyak ditemukan dalam artikel hingga tahun 1920 (May &
Campbell, 1981 ; Kagan, 1992). Sebagai usaha untuk memahami konsep kesiapan lebih baik lagi, Persatuan Taman Kanak-Kanak Internasional kemudian mengenalkan konsep kesiapan membaca (Reading Readiness) yang membuat literatur tentang kesiapan mulai berkembang dalam dunia psikologi dan pendidikan (Kagan, 1992).
Terlepas dari hal tersebut, sampai saat ini konsep kesiapan ternyata masih belum dapat didefinisikan dengan baik dan memiliki tafsiran yang berbeda-beda (Lewit & Baker, 1995)
Secara historis kesiapan telah dibahas dalam dua macam konstruk yang berbeda, yaitu kesiapan untuk belajar (readiness for learning) dan kesiapan sekolah (readiness for school) (Lewit & Baker, 1995). (Kagan, 1992) menjelaskan bahwa kesiapan belajar (Readiness for Learning) dipahami sebagai tingkat perkembangan individu untuk menerima dan melakukan materi pembelajaran tertentu. Sedangkan kesiapan untuk sekolah (readiness for school) merupakan kesiapan anak untuk memenuhi persyaratan sekolah seperti perkembangan fisik,
intelektual dan sosial (UNESCO, 1973 ; Kagan, 1992). School Readiness atau kesiapan sekolah merupakan kombinasi kedua konsep tersebut, yakni kesiapan anak untuk belajar dan kesiapan anak untuk menjalankan kegiatan di ruang kelas (Carlton & Winsler, 1999).
Janus dan Offord (2007) mennggunakan lima aspek untuk melihat kesiapan sekolah anak yaitu (1) kesehatan fisik dan kesejahteraan, (2) Pengetahuan dan kemampuan sosial, (3) Perkembangan emosional, (4) Bahasa dan perkembangan kognitif, (5) Kemampuan berkomunikasi dan pengetahuan umum. The National Education Goals Report merupakan sebuah organisasi yang dibentuk oleh pemerintah Amerika Serikat pada tahun 1990 untuk kemajuan pendidikan anak dengan tujuan pertamanya “Pada tahun 2000, semua anak di Amerika akan mulai bersekolah dan siap untuk belajar”.
Organisasi ini menyorot lima aspek kesiapan sekolah anak yaitu (1) Kesejahterahan fisik dan perkembangan motorik, (2) Perkembangan sosial dan emosional, (3) Pemahaman pembelajaran, (4) Perkembangan bahasa dan (5) Kognitif dan pengetahuan umum.
Bronfenbrenner dengan teori ekologinya menyatakan bahwa kesiapan anak untuk sekolah akan dipengaruhi oleh anak itu sendiri, keluarga dan komunitas (Dockett, Perry, & Kearney, 2010). Teori ekologi Bronfenbrenner membahas tentang proses pembelajaran anak yang dipengaruhi oleh interaksi orang tua dan guru, interaksi guru
dengan murid dan beberapa struktur lain yang memiliki keterkaitan satu dengan yang lainnya (Cohen & Friedman, 2015)
Berdasarkan pemaparan definisi kesiapan sekolah anak oleh beberapa tokoh di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat domain-domain untuk menilai kesiapan sekolah anak yaitu kesehatan fisik dan kesejahterahan, perngetahuan dan kemampuan sosial, perkembangan emosional, bahasa dan perkembangan kognitif, kemampuan berkomunikasi dan pengetahuan umum dan pemahaman pembelajaran.
Bronfenbrenner mengemukakan bahwa kesiapan sekolah anak dapat dicapai lewat perilaku individu dan interaksi-interaksi antar struktur di lingkungan anak.
2. Karakteristik anak yang akan masuk Sekolah Dasar
Berdasarkan Permendikbud nomor 1 tahun 2021 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru anak-anak yang akan mendaftar sebagai siswa kelas 1 Sekolah Dasar adalah anak-anak yang berusia 7 tahun atau paling rendah 6 tahun saat mendaftar. Merujuk pada pembagian tahap perkembangan Berk (2012), pada usia tersebut anak-anak yang akan masuk Sekolah Dasar adalah anak-anak yang berada dalam periode kanak-kanak pertengahan. Pada tahap perkembangan ini aspek-aspek perkembangan anak mengalami perkembangan sebagai berikut:
a) Perkembangan motorik
Berk (2012) menyatakan bahwa anak-anak pertengahan mengalamai peningkatan motorik kasar yaitu fleksibilias
seperti mampu mengayunkan pemukul, menendang bola dan melakukan aktivitas rutin jungkir balik. Keseimbangan anak-anak pertengahan juga mengalami peningkatan seperti berlari, melompat dan melakukan perubahan arah yang cepat. Kelincahan anak-anak pertengahan juga mengalami peningkatan yang lebih baik seperti mampu melakukan gerak yang lebih cepat dan akurat layaknya anak-anak yang mampu menghindar dari lawan dalam permainan sepakbola.
Anak-anak pertengahan juga mengalami peningkatan motorik halus seperti mampu menuliskan abjad, nama mereka sendiri, angka 1-10 dengan cukup jelas, mampu menyalin bentuk dua dimensi dengan lebih akurat, dan memadukan bentuk-bentuk ke dalam gambar mereka.
b) Perkembangan kognitif
Perkembangan kognitif berhubungan dengan kemampuan anak untuk berpikir dan memecahkan masalah. Dalam teori Piaget, perkembangan kognitif anak-anak pertengahan berada dalam tahap operasional konkret. Pada tahap ini anak-anak sudah mampu memberikan alasan yang logis tentang informasi konkret yang didapatnya. Anak-anak pertengahan juga memiliki kemampuan yang lebih baik dalam hal mengklasifikasikan benda-benda. Slavin (2001) mengatakan bahwa anak akan mulai belajar membentuk
sebuah konsep, melihat sebuah hubungan, dan dapat memecahkan masalah terhadap situasi yang bersifat konkret.
c) Perkembangan bahasa
Perkembangan bahasa anak-anak pertengahan semakin baik.
Kosakata yang dimiliki anak-anak pertengahan semakin bertambah, memiliki pemahaman yang lebih tepat tentang makna kata. Narasi-narasi yang dimiliki anak-anak pertengahan semakin rapi, detail dan ekspresif. Pada tahap ini anak-anak sudah mulai mampu menyimak dan mendengarkan cerita-cerita serta mampu mengungkapkan kembali isi ceirta dengan runtut dan logis. Selain itu, anak-anak sudah mampu mengungkapkan perasaan dan pikirannya melalui media puisi (Khaulani, Neviyarni &
Murni, 2019).
d) Perkembangan sosial emosional
Perkembangan sosial dan emosional merujuk pada keterampilan untuk mengekspresikan dan mengatur emosi serta mengelola hubungan sosial dalam keluarga, sekolah dan kelompok sebaya (Carr, 2011). Pada anak-anak pertengahan, partisipasi dalam kegiatan kelompok teman sebaya akan megalami peningkatan. Anak-anak merasa senang berada dalam lingkup teman-teman sebaya (Carr, 2011). Hal tersebut membuat anak membentuk konsep diri
sebagai bagian dari sebuah kelompok sosial. Tidak hanya dengan teman sebaya, hubugan sosial anak dengan orang dewasa selain keluarga dapat memberikan pengaruh yang penting dalam pengembangan kepercayan diri (Khaulani, Neviyarni & Murni, 2019).
3. Komponen Kesiapan sekolah
Britto dan Limlingan (2012) menyebutkan bahwa kesiapan sekolah saat ini ditentukan oleh tiga komponen yang saling terkait yaitu:
a) Ready children
Ready children berfokus pada perkembangan dan pembelajaran anak yang mengacu pada berbagai hal yang perlu diketahui anak sebelum masuk sekolah. Ready children memiliki karakteristik yang dapat dijadikan panduan untuk melihat anak yang siap untuk sekolah , yaitu:
1. Kesejahterahan fisik
2. Perkembangan sosial dan emosional 3. Perkembangan bahasa
4. Kognisi dan pengetahuan umum b) Ready schools
Ready schools merupakan komponen yang berfokus pada keseluruhan kualitas sekolah yang mendukung proses
pembelajaran anak seperti pengajar yang berkompeten, pengajaran yang efektif dan materi pembelajaran (Britto &
Limlingan, 2012) Sekolah yang siap untuk mendampingi murid memiliki karakteristik sebagai berikut
1. Memberikan dukungan yang diperlukan oleh anak 2. Kualitas pengajaran dan pembelajaran yang baik c) Ready family
Hubungan yang mendukung dan responsif dalam keluarga akan membantu anak untuk mengembangkan kemampuan sosial dan emosional yang dibutuhkan dalam keberhasilan di sekolah. Ready family memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Memberikan akses ke program prasekolah yang berkualitas dan sesuai dengan perkembangan 2. Kesadaran diri akan pentingnya orang tua sebagai
“guru” dan mendukung sesama orang tua untuk memenuhi peran ini.
3. Memberikan nutrisi yang memadai, aktivitas fisik dan memberikan akses perawatan kesehatan.
4. Teori Ekologi Bronfenbrenner
Teori ekologi oleh Bronfenbrenner menyatakan bahwa konseptualiasasi kesiapan sekolah anak dipengaruhi oleh anak itu sendiri, keluarga, sekolah dan komunitas (Bronfenbrenner & Morris,
1998; Dockett, Perry, & Kearney, 2010). Model teori ini membahas tentang perilaku-perilaku individu, seperti interaksi orang tua dan guru, interaksi orang tua dan anak, interaksi guru dengan murid di lingkungan dalam konteks perkembangan (Cohen & Friedman, 2015)
Teori ekologi ini melihat lingkungan perkembangan dan pembelajaran anak terdiri dari beberapa struktur yang memiliki keterkaitan satu dengan yang lain (Bronfenbrenner 1994 ; Cohen &
Friedman, 2015), yaitu : a) Mikrosistem
Di dalam lingkungan mikrosistem terdapat hubungan interpersonal yang dialami anak dengan orang tua atau pengasuh, sekolah dan teman sebaya. Keluarga, sekolah dan teman sebaya akan memberikan dampaknya masing-masing terhadap perkembangan anak seperti, sekolah akan memberikan pengalaman sosial, teman sebaya akan mendorong keterampilan bekerja sama dan pengambilan peran yang penting bagi kesiapan sekolah.
b) Mesosistem
Interrelasi antar dua konteks atau lebih terjadi dalam lingkungan mesosistem seperti hubungan antara sekolah dan orang tua, hubungan orang tua dengan teman sebaya dan hubungan orang tua dengan lingkungan tempat tinggal.
Sebagai contoh, orang tua yang terlibat dalam pendidikan
anaknya di sekolah akan memiliki dampak yang baik dalam perkembangan anaknya.
c) Eksosistem
Eksosistem memungkinkan satu atau dua konteks lingkungan tertentu yang tidak secara langsung terlibat dalam perkembangan anak, akan tetapi akan memberikan dampak yang tertentu bagi anak. Sebagai contoh, ketika orang tua kehilangan pekerjaannya maka ada kemungkinan orang tua tidak dapat membiayai pendidikan anak yang kemudian yang berdampak pada perkembangan anak itu sendiri.
d) Makrosistem
Makrosistem mencakup pola dan nilai budaya, keyakinan, ideologi serta sistem politik ekonomi yang dianut di lingkungan anak. Anak yang menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa utama akan kesulitan ketika harus bersekolah di lingkungan yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama.
5. Faktor yang mempengaruhi kesiapan sekolah
Boethel (2014) serta Bhise dan Sonawat (2015) merangkum faktor-faktor yang dapat memengaruhi kesiapan sekolah, yaitu
a) Status sosial ekonomi
Keluarga dengan status ekonomi sosial yang tinggi memiliki kemampuan yang lebih untuk mendukung aktivitas-aktivitas anak dalam mempersiapkan anak masuk sekolah dibandingkan keluarga dengan status ekonomi sosial yang rendah. (Cohen & Friedman, 2015)
b) Kesehatan anak
Fiscella & Kitzman (2009 dalam Dockett, Perry, & Kearney 2010) menemukan bahwa terdapat hubungan timbal balik antara kesehatan dan pendidikan. Hal tersebut di kutip dari beberapa penelitian yang membahas tentang rendahnya tingkat pendidikan dan perkembangan awal penyakit kronis.
c) Latar belakang dan karakteristik keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama dan terdekat yang dimiliki oleh anak. Sebuah penelitian menunjukan bahwa orang tua yang terlibat secara aktif dalam kegiatan sosial dan budaya memiliki pengaruh yang baik terhadap kesiapan sekolah anak dan kemampuan akademik (Beasley, 2002; Farkas &
Hibel, 2008) Selain itu, beberapa penelitian juga menghubungkan kesiapan sekolah dengan kondisi keluarga seperti Orang tua utuh dan orang tua tidak utuh (Febriyanti &
Tairas, 2014) dan Status orang tua remaja, pendidikan ibu dan pola asuh oleh remaja (Briceno, Feyter, & Winsler, 2013)
d) Lingkungan tempat tinggal dan komunitas
Kondisi lingkungan tempat tinggal yang positif akan berkontribusi sebagai prediktor kesiapan sekolah (Rimm-Kaufman & Sandilos, 2017). Lingkungan masyarakat merupakan ekosistem yang penting di mana terdapat banyak aspek kekeluargaan yang terjadi dan dapat memberikan pengaruh pada pengembangan literasi awal dan kesiapan sekolah anak (Fridani, 2014)
e) Kurikulum dan pengalaman guru
Dengan perencanaan kurikulum yang tepat, anak anak akan diperkenalkan secara bertahap pada kegiatan-kegiatan yang akan membantu transisi pembelajaran formal di sekolah dasar, selain itu guru yang berkualitas dan terlatih dengan baik adalah kunci keberhasilan dalam situasi apapun.
f) Partisipasi dalam program prasekolah
Program ini akan memberikan kesempatan bagi anak dan orang tua untuk mengenal lingkungan sekolah, teman serta guru yang akan mengajar, sehingga anak tidak akan merasa stres dan takut ketika harus berpisah dengan orang tua (Peters, 2010) B. Transisi Taman Kanak-Kanak menuju Sekolah Dasar
Transisi ke sekolah dan kesiapan sekolah merupakan dua konsep yang saling berkaitan dan tidak terpisahkan. Pengalaman persiapan sekolah di taman kanak-kanak yang efektif akan menciptakan masa transisi yang
lancar dan akan memberikan dampak yang baik bagi anak-anak dalam jangka yang pendek maupun panjang (Tansey, 2008). Bagi anak, masuk sekolah dasar berarti bertemu dengan teman dan guru baru, anak akan beradaptasi dengan lingkungan yang lebih besar dan berbeda, serta akan mendapatkan tuntutan baru dari lingkungan sekitar (Caspe, Lopez, &
Chattarabhuti, 2015).
Dalam proses transisi, setiap anak tentu memiliki cara masing-masing untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dan proses tersebut merupakan proses yang dinamis, terus berkembang dan akan mendukung keberhasilan akademik anak di masa datang (Nurhayati, 2018).
Bronfenbrenner dengan teori ekologinya menyatakan bahwa transisi sekolah merupakan peristiwa berkelanjutan yang melibatkan perubahan lingkungan serta membutuhkan penyesuaian secara kognitif, emosional dan sosial (Vogler, Crivello, & Woodhead, 2008)
C. Peran orangtua dan guru dalam Kesiapan Sekolah anak
Ready family dan ready school merupakan komponen dalam kesiapan sekolah anak yang akan mendukung anak untuk melewati masa transisi sekolah anak. Transisi anak menuju sekolah dan kesiapan sekolah anak merupakan hasil interaksi di lingkungan anak yang terdiri dari keluarga, sekolah dan komunitas. Jika orangtua dan guru dapat bekerja sama dengan baik dalam pendidikan anak, maka anak akan memiliki kesempatan yang baik pula untuk meraih keberhasilan akademik (Epstein & Sanders, 2000 ; Seefeldt & Wasik, 2008)
Meengetahui sudut pandang orang tua tentang kesiapan sekolah anak itu penting, mengingat orang tua adalah “guru” pertama bagi (Barbarin, et al., 2008). Selain itu, sudut pandang orang tua tentang kesiapan sekolah tidak akan hanya memengaruhi praktik orang tua dalam mempersiapkan anaknya, tetapi akan menentukan tingkat keterlibatan orang tua dengan anak-anaknya untuk tujuan pengembangan keterampilan anak (Barbarin, et al., 2008). Hubungan orang tua, anak dan kualitas pengasuhan akan memberikan pengaruh kuat pada pembelajaran dan pengembangan anak termasuk kesiapan sekolahnya (Centre for Community Child Health 2008a; Weiss & Stephen 2009; Dockett, Pery & Kearney, 2010).
Begitu pula dengan guru, guru yang siap akan mendukung adanya karakteristik sekolah yang siap (Dockett, Pery & Kearney, 2010). Penelitian sebelumnya juga menemukan bahwa hubungan guru dan anak merupakan korelasi penting bagi kesiapan sekolah, semakin dekat hubungan guru dan anak maka anak akan memiliki kesiapan sekolah yang lebih baik dan akan meningkatkan kemampuan anak untuk menyesuaikan diri di sekolah (Palermo, Hanish, Martin, Fabes, & Reiser, 2007)
Penting bagi orang tua dan guru untuk memahami konsep kesiapan sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang sukses bagi anak di sekolah dasar. Oleh sebab itu, peneliti ingin melihat gambaran kesiapan sekolah dalam perspektif orang tua dan guru sebagai lingkungan yang terdekat dengan anak.
D. Peran Pancasila sebagai Dasar Pendidikan Nasional dalam Kesiapan Sekolah di Indonesia
UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan Pendidikan Nasional adalah pendidikan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan zaman. Pendidikan di Indonesia merupakan sebuah proses pembelajaran yang memiliki tujuan untuk pengembangan potensi diri dan karakter bagi peserta didik yang dihayati dan diamalkan menurut dila-sila Pancasila (Semadi, 2019).
Pemaknaan nilai Pancasila sebagai dasar pendidikan sudah dikenalkan kepada anak-anak sedini mungkin di sekolah. Secara garis besar kelima poin Pancasila mengandung makna bahwa setiap anak-anak dapat menanamkan nilai keagamaan, nilai sosial, nilai budaya, nilai bermusyawarah dan nilai keadilan (Putri & Anggraeni, 2021). Hal tesebut kemudian sejalan dengan tujuan pendidikan nasional untuk mengembangan potensi diri dan karakter bagi anak peserta didik yang dikenal sebagai pendidikan karakter yang tercantum dalam 11 nilai karakter yang dirumuskan oleh depdiknas yang terdiri dari beberapa aspek karakter seperti ketaqwaan, kejujuran, kedisplinan, demokratis, adil, bertanggungjawab, cinta tanah air, orientasi pada keunggulan, gotong royong, menghargai dan rela berkorban. Octavia (2017) menyatakan bahwa karakter individu yang didasari oleh nilai Pancasila bersumber dari olah hati dan olah pikir.
Karakter yang bersumber dari olah hati seperti jujur, beriman dan betakwa, adil, tertib, amanah, taat aturan, bertanggung jawab, berempati, berani mengambil resiko, pantang menyerah, rela berkorban, dan berjiwa pariotik.
Karakter yang bersumber dari olah pikir yaitu cerdas, kritis, inovatif, ingin tahu, produktif dan reflektif (Octavia, 2017).
Standar Pendidikan Anak Usia Dini mampu menggambarkan lingkup pengembangan karakter anak sebelum masuk Sekolah Dasar sesuai dengan nilai Pancasila. Salah satunya adalah lingkup pengembangan nilai agama dan moral memiliki pemaknaan nilai pancasila yang ditunjukan sebagai kemampuan mengenal nilai agama yang dianut, mengerjakan ibadah, berperilaku jujur, penolong, sopan, hormat, sportif, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, mengetahui hari besar agama, menghormati, dan toleran terhadap agama orang lain. Pancasila sebagai dasar pendidikan nasional di Indonesia memberikan kekhasan tersendiri terhadap memberikan gambaran terhadap kesiapan sekolah anak.
E. Kerangka berpikir
Perbedaan karakteristik antara Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar memiliki potensi bagi orang tua dan anak untuk mengalami kesulitan dalam menghadapi hari pertama masuk sekolah dasar. Untuk meminimalisir kesulitan tersebut, hal yang perlu diperhatikan bagi anak untuk memasuki sekolah adalah kesiapannya untuk bersekolah (Rahmawati, Tairas, &
Nawangsari, 2018). Mempersiapkan anak sebelum masuk sekolah dasar akan membantu anak untuk beradaptasi dan menghadapi berbagai macam
masalah di sekolah. Kesiapan anak untuk bersekolah (Readiness for school) seringkali dikaitkan dengan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh calon siswa sebelum memasuki sekolah dasar. Selain itu, konsep kesiapan juga dibahas sebagai kesiapan belajar (Readiness for learning) yang dilihat sebagai tingkat perkembangan individu untuk melaksanakan dan menerima materi pembelajaran tertentu. Konsep kesiapan sekolah (school readiness) merupakan kombinasi antar dua kesiapan di atas yaitu kesiapan anak untuk belajar dan kesiapan anak untuk menjalankan kegiatan di ruang kelas (Carlton & Winsler, 1999). Britto dan Limlingan (2012) menyebutkan bahwa kesiapan sekolah saat ini ditentukan oleh tiga komponen yang saling terkait yaitu ready children, ready schools, ready family. Ready children merupakan komponen yang berfokus pada perkembangan anak dan hal-hal apa saja yang perlu diketahui oleh anak sebelum masuk sekolah. Selain itu, Ready schools merupakan keseluruhan kualitas sekolah yang akan mendukung proses pembelajaran anak seperti pengajar yang berkompeten, pengajaran yang efektif dan materi pembelajaran. Kemudian, Ready family merupakan komponen yang menghadirkan dukungan dan respon yang positif dalam keluarga untukmembantu anak mengembangkan kemampuan sosial dan emosional yang dibutuhkan dalam keberhasilan di sekolah.
Merangkum dari Janus dan Offord (2007) dan The National Education Goals Panel (1991), terdapat beberapa domain kesiapan sekolah yang dapat digunakan untuk mengukur kesiapan sekolah anak. Kelima domain itu yaitu (1) Kesejahterahan fisik dan perkembangan motorik, (2) Kompetensi sosial,
(3) Kematangan emosional, (4) Perkembangan bahasa dan kemampuan berkomunikasi dan (5) Kognitif dan pengetahuan umum.
Kesiapan sekolah anak tidak tercapai dengan sendirinya. Teori ekologi Bronfenbrenner mengkonseptualisasikan konsep kesiapan sebagai konsep yang dipengaruhi oleh interaksi orang tua dan guru, interaksi orang tua dan anak, interaksi guru dengan murid di lingkungan dalam konteks perkembangan (Cohen & Friedman, 2015). Model teori ini melihat lingkungan perkembangan dan pembelajaran anak terdiri dari beberapa struktur yang memiliki keterkaitan satu dengan yang lain, yaitu mikrosistem, mesosistem, eksosistem dan makrosistem. Hubungan interpersonal yang dialami oleh anak dengan lingkungan terdekatnya seperti orang tua, pengasuh, guru dan teman sebayanya terjadi pada struktur mikrosistem. Relasi antar dua konteks atau lebih yang masih memiliki keterlibatan dengan anak seperti, hubungan sekolah dengan orang tua dan hubungan orang tua dengan teman sebaya anak terjadi dalam struktur mesosistem. Struktur eksosistem memungkinkan satu atau dua konteks lingkungan tertentu yang tidak secara langsung terlibat dalam perkembangan anak tetapi akan memberikan dampak yang tertentu bagi anak seperti, hubungan orang tua dengan pekerjaannya. Struktur makrosistem merupakan pola dan nilai budaya, keyakinan, ideologi serta sistem politik ekonomi yang dianut di lingkungan anak.
Perbedaan nilai budaya dan keyakinan tentu akan berpengaruh pada gambaran kesiapan sekolah anak. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya
bahwa terdapat perbedaan tolok ukur kesiapan sekolah di Indonesia dan di luar Indonesia. Perbedaan budaya dan keyakinan tersebut memungkinkan gambaran kesiapan sekolah anak di Indonesia menjadi lebih luas dibandingkan dengan gambaran kesiapan sekolah yang dikemukakan oleh Janus dan Offord (2007) dan The National Education Goals Panel (1991).
Tidak hanya budaya dan keyakinan, fenomena sekolah-sekolah di Indonesia yang memberikan tes masuk baca, tulis dan hitung sebagai bukti anak siap sekolah memberikan dampak pemahaman orang tua bahwa kesiapan sekolah hanya diukur dari kemampuan anak untuk membaca, menulis dan berhitung. Maka penting untuk mengetahui gambaran kesiapan sekolah anak dan faktor-faktor yang mempengaruhinya agar dapat disesuaikan dengan budaya pendidikan Indonesia.
Masyarakat Indonesia menjadikan Pancasila sebagai pedoman dasar dalam menjalankan kehidupan. Pancasila memiliki peran yang penting dalam pendidikan di Indonesia. Menurut UU Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Kebijakan Kementerian Pendidikan Tahun 2014 No 137 Tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini mengatur lingkup pengembangan sesuai tingkat usia anak yaitu meliputi aspek nilai agama
dan moral, fisik-motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional dan seni.
Lingkup pengembangan tersebut mengharapkan anak-anak memiliki bekal untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi yaitu Sekolah Dasar.
Hal ini kemudian membuat standar Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia memperhitungkan aspek nilai agama dan moral pada lingkup pengembangan anak untuk siap di Sekolah Dasar.
Berdasarkan pemaparan di atas, peneliti berasumsi bahwa dasar pendidikan Indonesia yaitu Pancasila dan berbagai pandangan guru dan orang tua terhadap kesiapan sekolah anak memberikan pengaruh terhadap gambaran kesiapan sekolah anak dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Berangkat dari asumsi tersebut, peneliti ingin memperoleh gambaran
Berangkat dari asumsi tersebut, peneliti ingin memperoleh gambaran