BAB X Kepemimpinan dalam Pendidikan
A. Definisi Koordinasi
Menurut E.F.L. Brech, koordinasi adalah mengimbangi dan menggerakkan tim dengan memberikan lokasi kegiatan pekerjaan yang cocok dengan masing-masing dan menjaga agar kegiatan itu dilaksanakan dengan keselarasan yang semestinya di antara para anggota itu sendiri (Hasibuan, 2007). Menurut Mc. Farland koordinasi adalah suatu proses di mana pimpinan mengembangkan pola usaha kelompok secara teratur di antara bawahannya dan menjamin kesatuan tindakan di dalam mencapai tujuan bersama (Handayaningrat, 1983).
Sementara itu, Handoko (2011) mendefinisikan koordinasi (coordination) sebagai proses pengintegrasian tujuan-tujuan dan kegiatan-kegiatan pada satuan-satuan yang terpisah (departemen atau bidang-bidang fungsional) suatu organisasi untuk mencapai tujuan organisasi secara efisien. Menurut Handoko (2011) kebutuhan akan koordinasi tergantung pada sifat dan kebutuhan komunikasi dalam pelaksanaan tugas dan derajat saling ketergantungan bermacam-macam satuan pelaksananya. Hal ini juga ditegaskan oleh Handayaningrat bahwa koordinasi dan komunikasi adalah sesuatu hal yang tidak dapat dipisahkan (Handayaningrat, 1983). Selain itu, Handayaningrat juga mengatakan bahwa koordinasi dan kepemimpinan (leadership) adalah tidak bisa dipisahkan satu sama lain, karena satu sama lain saling mempengaruhi.
Menurut James D. Thompson dalam Handoko (2011) terdapat tiga macam saling ketergantungan di antara satuan-satuan organisasi, yaitu:
1. Saling ketergantungan yang menyatu (pooled interdependence), bila satuan-satuan organisasi tidak saling tergantung satu dengan yang lain dalam
72
melaksanakan kegiatan harian tetapi tergantung pada pelaksanaan kerja setiap satuan yang memuaskan untuk suatu hasil akhir.
2. Saling ketergantungan yang berurutan (sequential interdependece), di mana suatu satuan organisasi harus melakukan pekerjaannya terlebih dulu sebelum satuan yang lain dapat bekerja.
3. Saling ketergantungan timbal balik (reciprocal interdependence), merupakan hubungan memberi dan menerima antar satuan organisasi.
Lebih lanjut Handoko (2011) juga menyebutkan bahwa derajat koordinasi yang tinggi sangat bermanfaat untuk pekerjaan yang tidak rutin dan tidak dapat diperkirakan, faktor-faktor lingkungan selalu berubah-ubah serta saling ketergantungan adalah tinggi. Koordinasi juga sangat dibutuhkan bagi organisasi-organisasi yang menetapkan tujuan yang tinggi.
Berdasarkan pendapat para pakar dapat Disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan koordinasi ialah proses mengintegrasikan (memadukan), menyinkronisasikan, dan menyederhanakan pelaksanaan tugas yang terpisah-pisah secara terus-menerus untuk mencapai tujuan secara efektif dan efesien. Dengan koordinasi terjadi keseimbangan sejumlah bagian yang berlainan dengan menyelaraskan interaksinya sehingga keseluruhan organisasi bergerak ke suatu tujuan yang sudah di tentukan secara efektif dan efesien sebagai suatu sistem.
Koordinasi adalah bagian penting di antara anggota-anggota atau unit-unit organisasi yang pekerjaannya saling bergantung. Orang-orang yang berkoordinasi di lingkungan sekolah adalah mereka yang termasuk dalam sumber daya pendidikan.
Sumber daya pendidikan meliputi:
1. Sumber daya manusia (kepala sekolah, guru, pegawai TU, siswa, pengawas termasuk aparat Dinas Pendidikan, lainnya).
2. Sumber daya lain. Seperti peralatan, perlengkapan, uang dan bahan, perangkat lunak (struktur organisasi, peraturan perundang-undangan, deskripsi tugas, rencana, program), dan harapan-harapan (visi, misi, tujuan, dan sasaran yang ingin dicapai pendidikan).
Kepala sekolah dalam mengelola sekolahnya menggunakan sejumlah input manajemen, yaitu:
1. kebijakan,
2. rencana kerja yang rinci dan sistematis, 3. prosedur kerja,
4. rapat, 5. taklimat,
6. surat keputusan bersama / surat edaran bersama, 7. tim, satuan tugas, kelompok kerja, gugus tugas, 8. komite sekolah
73
9. teknik pengendalian mutu
Hakikat pekerjaan seorang manajer menurut Gibson, et al (2003) adalah mengoordinasikan tugas individu, kelompok dan organisai dengan empat fungsi manajemen, yaitu planning, organizing, leading, dan contolling untuk mencapai tujuan secara efektif.
Asas koordinasi dalam suatu organisasi sangat penting terutama untuk menjaga keselarasan, keseimbangan tugas dari masing-masing bagian, dan ketepatan distribusi para pekerja dalam suatu organisasi. Hal ini dapat menghindari adanya bagian yang kelebihan tenaga sedangkan di pihak lain ada bagian yang tidak mencukupi petugasnya.
Koordinasi itu sendiri merupakan salah satu komponen dari manajemen pendidikan, berbagai upaya telah diusahakan untuk menganalisa proses manajemen salah satunya yaitu dilakukan oleh Henry Fayol atau lebih dikenal dengan sebutan unsur - unsur Fayol, yaitu:
1. Merencana: mempelajari masa yang akan dating dan menyusun rencana kerja;
2. Mengorganisasi: membuat organisasi usaha bahan dan manusia, pengorganisasian tenaga kerja dan bahan;
3. Memerintah: menjuruskan para pegawai untuk melaksanakan pekerjaan mereka 4. Mengkoordinasi: menyatukan dan mengkorelasi semua kegiatan;
5. Mengawasi: memeriksa bahwa segala sesuatu dikerjakan sesuai dengan peraturan-peraturan yang telah ditetapkan dan instruksi-instruksi yang telah diberikan.
Dalam fungsi pengarahan, Pengkoordinasian diartikan sebagai usaha untuk menyatu padukan kegiatan dari berbagai individu agar kegiatan mereka berjalan selaras dengan anggota dalam usaha mencapai tujuan. Usaha pengkoordinasian dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti:
1. melaksanakan penjelasan singkat (briefing).
2. mengadakan rapat kerja.
3. memberikan unjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis.
4. memberikan balikan tentang hasil sutu kegiatan.
Adanya bermacam-macam tugas/pekerjaan yang dilakukan oleh banyak orang, memerlukan adanya koordinasi dari seorang pemimpin. Adanya koordinasi yang baik dapat menghindarkan kemungkinan terjadinya persaingan yang tidak sehat dan atau kesimpangsiuran dalam tindakan. Dengan adanya koordinasi yang baik, semua bagian dcan personel dapat bekerja sama menuju ke satu arah tujuan yang telah ditetapkan.
Rencana atau program-program pendidikan yang harus dilaksanakan di sekolah-sekolah sifatnya sangat kompleks dan mengandung banyak segi yang saling
74
bersangkut paut antara yang satu dengan yang lain. Sifat kompleks yang dimiliki oleh program pendidikan di sekolah menunjukkan sangat perlunya tindakan-tindakan yang dikoordinasikan.
Winardi berpendapat bahwa koordinasi dibagi dua jenis, yaitu koordinasi vertical dan koordinasi horizontal. Koordinasi vertical yaitu mengkoordinasikan aktiviatas-aktivitas para individu dan kelompok-kelompok ke atas dan kebawah para hirarki otoritas organisasi. Sedangkan koordinasi horizontal proses mengkoordinasikan aktivitas melintas melalui organisai yang bersangkutan dalm tindakan individu-individu dan kelompok yang bekerja atau dekat satu sama lain dalam hirarki yang ada. Di dalam sebuah organisasi yang kompleks, setiap bagiannya harus bekerja secara terkoordinir agar masing-masing dapat menghasilkan apa yang diharapkan. Bahkan, koordinasi jelas bergantung pada pemahaman masing-masing anggota organisasi sekolah tentang tujuan-tujuan dan rencana-rencana system sekolah secara keseluruhan, penerimaannya oleh mereka akan kesediaan mereka untuk menyumbang kepadanya.
Menurut Sondang P. Siagiaan, koordinasi memiliki beberapa fungsi, yaitu:
a. Pencegahan konflik dan kontradiksi b. Pencegahan persaingan yang tidak sehat c. Pencegahan pemborosan
d. Pencegahan kekosongan ruang dan waktu, dan pencegahan terjdinya perbedaan pendekatan dari pelaksanaan.
Untuk melakukan koordinasi yang efektif diperlukan adanya komunikasi. Proses komunikasi itu akan menentukan efektif tidaknya koordinasi dalam organisasi pendidikan. Untuk itu, melalui komunikasi yang efektif akan tercipta koordinasi pelaksanaan yang memuaskan. Menurut Engkoswara, Koordinasi dipandang penting karena memberikan beberapa manfaat bagi organisasi itu (dalam hal ini pendidikan) antara lain:
a. Dapat menghindari perasaan saling lepas antara bagian dan petugas dan suatu organisasi.
b. Dapat menghindari saling mengandalkan posisi dan pertengkaran antara sesama pejabat dari antar bagian dalam organisasi.
c. Dapat menghindari terjadinya kekembaran tugas dan kekosongan pelaksanaan bagian tertentu dalam organisasi
d. Mendorong pejabat untuk saling membantu dan memberitahukan masalah yang dihadapi kepada bagian-bagian lain dalam suatu organisasi.