BAB II MALPRAKTIK DALAM DUNIA KEDOKTERAN ................ 19-35
1. Definisi Malpraktik
A. Malpraktik
1. Definisi Malpraktik.
Malpraktik merupakan istilah yang sangat umum sifatnya dan tidak selalu berkonotasi yuridis. Secara harfiah istilah malpraktik atau malpractice, atau malapraxis artinya praktik yang buruk (bad practice) atau praktik yang jelek.1“The term malpractice has a broad connotation and is employed generally to designate bad practice, sometimes called malapraxis is the treatment of patient”.2Dikatakan buruk, karena salah dan menyimpang dari yang seharusnya. Jika kata “malpraktik” dihubungkan dengan kata “Dokter” menjadi malpraktik dokter, atau malpraktik kedokteran.
Istilah malpraktik kedokteran (medical malpractice) pertama kali digunakan oleh Sir William Blacktone ketika beliau menulis tahun 1768, dan menyatakan bahwa “... that malpraxis is great misdemeanour and offence at common law, whether it be for curiousity or experiment, or by neglect; because it breaks the trust which the party bad placed in his physicians, and tends to the patient’s destruction”.3
1
Hermin Hadiati Koeswadji, Hukum Kedokteran, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1998), h. 123.
2
Emanuel Hayt, Legal Aspects of Medical Record, (Illinois: Physicians’ Record Company, 1964) h. 329
3
John Healy, Medical Negligence Common Law Perspectives, (London: Sweet & Maxwell, 1999), h. 39
Sedangkan definisi malpraktik profesi kesehatan adalah kelalaian dari seorang dokter atau perawat untuk mempergunakan tingkat kepandaian dan ilmu pengetahuan dalam mengobati dan merawat pasien, yang lazim dipergunakan terhadap pasien atau orang yang terluka menurut ukuran dilingkungan yang sama.
Malpraktik juga dapat diartikan sebagai tidak terpenuhinya perwujudan hak-hak masyarakat untuk mendapatkan pelayanan yang baik, yang biasa terjadi dan dilakukan oleh oknum yang tidak mau mematuhi aturan yang ada karena tidak memberlakukan prinsip-prinsip transparansi atau keterbukaan,dalam arti, harus menceritakan secara jelas tentang pelayanan yang diberikan kepada konsumen, baik pelayanan kesehatan maupun pelayanan jasa lainnya yang diberikan.
Dalam memberikan pelayanan wajib bagi pemberi jasa untuk menginformasikan kepada konsumen secara lengkap dan komprehensif semaksimal mungkin. Namun, penyalah artian malpraktik biasanya terjadi karena ketidaksamaan persepsi tentang malpraktik.
Ada beberapa pendapat dari kalangan para ahli atau doktrin yang memberikan batasan pengertian serta makna dari istilah malpraktik medik atau medical malpracticeseperti berikut:
1. Malpraktek berasal dari kata "malpractice" yang pada hakekatnya adalah kesalahan dalam menjalankan profesi yang timbul sebagai akibat adanya kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan dokter. Dengan demikian medical malpracticeatau kesalahan dalam menjalankan profesi medik yang tidak sesuai dengan standar profesi medik dalam menjalankan profesinya.4
4
Veronika Komalasari, Hukum dan Etika Dalam Praktek Dokter, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1998), h. 87
2. Malpraktek adalah, setiap sikap tindak yang salah, kekurangan keterampilan dalam ukuran tingkat yang tidak wajar.Istilah ini umumnya dipergunakan terhadap sikap tindak dari para dokter, pengacara dan akuntan.Kegagalan untuk memberikan pelayanan profesional dan melakukan pada ukuran tingkat keterampilan dan kepandaian yang wajar di dalam masyarakatnya oleh teman sejawat rata-rata dari profesi itu, sehingga mengakibatkan luka, kehilangan atau kerugian pada penerima pelayanan tersebut yang cenderung menaruh kepercayaan terhadap mereka itu.Termasuk di dalamnya setiap sikap tindak profesional yang salah, kekurangan keterampilan yang tidak wajar atau kurang kehati-hatian atau kewajiban hukum, praktek buruk atau ilegal atau sikap immoral.5
3. Malpractice secara harfiah berarti bad practice atau praktek buruk yang berkaitan dengan praktek penerapan ilmu dan teknologi medik dalam menjalankan profesi medik yang mengandung ciri-ciri khusus. Karena malpraktek berkaitan dengan "how to practice the medical science and technology", yang sangat erat hubungannya dengan sarana kesehatan atau tempat melakukan praktek dan orang yang melaksanakan.6
4. John D Blum memberikan rumusan tentang medical malpractice sebagai "a form of professional negligence in which measrable injury occurs to a plaintiff patient as the direct result of an act or ommission by the defendant practitioner" (malpraktek medik merupakan bentuk kelalaian profesi dalam
5
Syahrul Machmud,Penegakan Hukum dan Perlindungan Hukum Bagi Dokter yang Diduga Melakukan Medikal Malpraktek,(Bandung: Mandar Maju, 2008), h. 23.
6
Hermien Hadiati Koeswadji, Hukum Kedokteran (Studi Tentang Hubungan Hukum Dalam Mana Dokter Sebagai Salah Satu Pihak,(Bandung: Citra Aditya bakti, 1996), h. 124
bentuk luka atau cacat yang dapat diukur yang terjadinya pada pasien yang mengajukan gugatan sebagai akibat langsung dari tindakan dokter).7
5. Malpraktik medis menurut pendapat Vorstman dan Hector Trueb adalah “Seorang Dokter melakukan kesalahan profesi jika ia tidak melakukan pemeriksaan, tidak mendiagnosis, tidak melakukan sesuatu atau tidak membiarkan sesuatu yang oleh Dokter yang baik dan pada umumnya dan pada situasi kondisi yang akan melakukan pemeriksaan dan mendiagnosis serta melakukan atau membiarkan sesuatu tersebut”.8
6. Malpraktek Medis adalah, kelalaian seorang dokter untuk mempergunakan tingkat keterampilan dan ilmu pengetahuan yang lazim dipergunakan dalam mengobati pasien atau orang yang terluka menurut ukuran dilingkungan yang sama.9
Setelah mencermati pengertian dan unsur-unsur pengertian malpraktik medik dari para ahli (doktrin) diatas, maka secara definitif tidak kita dapati pengertian malpraktek ini dalam Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran, demikian pula dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Akan tetapi makna atau pengertian malpraktek10 justru kita dapati dalam
7
Hermien Hadiati Koeswadji, Hukum Kedokteran (Studi Tentang Hubungan Hukum Dalam Mana Dokter Sebagai Salah Satu Pihak,h. 122-123
8
Veronika Komalasari, Hukum dan Etika Dalam Praktek Dokter, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1998), h. 130.
9
M. Yusuf Hanafiah & Amri Amir, Etika Kedokteran dan Hukum Kesehtan, (Jakarta: EGC, 1999), h. 87
10
Republik Indonesia,Undang-Undang No. 6 tahun 1963tentang Tenaga Kesehatan Pasal 11 ayat 1 huruf b. Melakukan sesuatu hal yang seharusnya tidak boleh diperbuat oleh tenaga kesehatan, baik mengingat sumpah jabatannya maupun mengingat sumpah sebagai tenaga kesehatan.
Pasal 11b dari Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1963 tentang Tenaga Kesehatan yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tersebut.
Mengacu dari berbagai pendapat diatas maka dapat dikatakan bahwa, seorang dokter telah melakukan praktek yang buruk manakala dia karena dengan sengaja atau akibat kelalaian tidak memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan baik dalam kode etik kedokteran, standar profesi, maupun standar pelayanan medik, yang berakibat pasien mengalami kerugian.