• Tidak ada hasil yang ditemukan

Definisi Operasional

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang (Halaman 30-33)

Penelitian ini hendak mencari jawaban atas beberapa variabel yang berpengaruh terhadap pilihan politik buruh pada pemilu presiden 2014.

Variabel dependen (tak bebas) yang digunakan dalam studi ini adalah pilihan politik buruh dalam pemilu presiden 2014, sedangkan yang menjadi variabel independen (bebas) adalah ketokohan calon presiden, identitas kepartaian buruh, peran media massa, dan program kerja calon presiden. Untuk itu, agar diperoleh gambaran yang jelas tentang tulisan ini, sehingga tidak menimbulkan persepsi yang berbeda dengan maksud penelitian, maka perlu saya jelaskan beberapa definisi oeprasional dari beberapa variabel yang digunakan dalam penelitian ini. Pendefinisian ini sangat penting karena akan berkaitan dengan mekanisme pengolahan data, sekaligus analisis atas hasil yang didapatkan.

Perilaku memilih (voting behavior) adalah kecenderungan sikap atau tindakan (respon) untuk menentukan pilihan pada suatu keputusan politik tertentu dalam pemilihan umum presiden 2014, yang diukur dari keikutsertaannya pada pemilu, yaitu memilih atau tidak memilih. Perilaku memilih ini dibagi menjadi dua kategori, yaitu ikut serta dalam pemilu presiden 2014 dan tidak ikut serta dalam pemilu presiden 2014 (golput).

Dari mereka yang menjawab ikut serta (memilih) dalam pemilu presiden 2014, selanjutnya akan ditanyakan pilihan politiknya, apakah memilih pasangan Prabowo-Hatta atau pasangan Jokowi-JK. Pilihan politik ini

31 selanjutnya akan dikaitkan dan di analisa dengan beberapa variabel penjelas lainnya.

Ketokohan (figuritas) adalah kualitas tokoh calon presiden yang diukur dari dimensi kompetensi atau kemampuan dalam mengatasi sejumlah masalah public yang dinilai mendesak. Teori Ben-ur dan Newman (2000) menyatakan bahwa variabel kepribadian kandidat bertujuan untuk mengukur keyakinan mengenai pribadi kandidat di mata pemilih, misalnya jujur, dapat dipercaya, dapat mengambil keputusan, terpelajar, pandai, berpengalaman, kuat, ramah, dan memenuhi kualifikasi. Ben-ur dan Newman (2000) juga menyatakan bahwa ciri-ciri terseut merupakan hal yang penting dalam mengevaluasi seorang pemimpin politik. Sejalan dengan itu, kualitas calon presiden juga dapat diukur dari dimensi integritas (jujur) dan empati (perhatian terhadap rakyat).

Untuk keperluan studi ini, kualitas ketokohan calon presiden akan diukur dari penilaian atas dimensi kompetesi, integritas, empati, dan kesukaan. Dimensi kompetensi akan digunakan untuk mengukur sejauh mana penilaian pemilih (buruh) terhadap kemampuan calon presiden dalam mengatasi berbagai persoalan publik, khususnya yang berkaitan dengan persoalan perburuhan. Sedangkan dimensi integritas akan digunakan untuk mengukur sejauh mana kejujuran calon presiden di mata pemilih buruh, apakah termasuk orang yang jujur ataukah tidak jujur. Sementara itu, dimensi empati akan digunakan untuk menilai sejauh mana persepsi buruh atas kepedulian calon presiden terhadap berbagai persoalan buruh, termasuk sejauh mana kepeduliannya terhadap nasib buruh di Indonesia. Sedangkan dimensi kesukaan akan digunakan untuk mengevaluasi kualitas ketokohan calon presiden dari persepsi pemilih buruh, apakah calon presiden dan wakil presiden tersebut disukai atau tidak disukai.

Identitas kepartaian atau partisanship (party-ID) adalah kondisi psikologis yang menggambarkan kedekatan seorang terhadap suatu partai politik tertentu. Dalam penelitian ini, party ID yang dimaksud adalah bagaimana seorang buruh mengidentikkan dirinya dengan sebuah partai politik tertentu. Konsep identitas kepartaian merupakan konsep yang

32 mempunyai dimensi sikap, bukan perilaku, sehingga pengukuran atas variabel ini juga tidak terlepas dari penilaian persepsi responden. Sejumlah studi memperlihatkan bagaimana operasionalisasi konsep identitas kepartaian ini ke dalam sebuah pertanyaan penelitian.

Pada awalnya, pengukuran konsep identitas kepartaian yang dilakukan di Amerika Serikat bersifat unidimensional, yaitu apakah seorang pemilih menganggap dirinya sebagai seorang Republikan atau seorang Demokrat. Kemudian, dari perasaaan dirinya menjadi bagian dari partai ini, ditanyakan kembali seberapa kuat perasaan mereka terhadap partai Republik atau Demokrat tersebut. Gabungan skor dua pertanyaan ini kemudian menghasilkan satu dimensi identitas partai berskala 7 yang kemudian dikonversikan ke dalam ukuran berskala 100. Nilai mendekati 0 menunjukkan identifikasi yang semakin kuat dengan partai Republik dan nilai mendekati 100 menunjukkan identifikasi yang semakin kuat dengan partai Demokrat.

Demi mengakomodasi studi di negara lain yang sistem kepartaian yang multipartai, maka ilmuwan politik melakukan modifikasi terhadap pengukuran konsep identitas kepartaian. Modifikasi serta operasionalisasi ini kemudian mengerucut ke dalam tiga rangkaian pertanyaan penting, yaitu; “apakah merasa dekat dengan partai politik tertentu?”, “partai apakah itu?”, dan seberapa dekat dengan partai politik tertentu?”. Selanjutnya dari ketiga pertanyaan ini, dikonstruksi menjadi sejumlah skala identitas partai sedemikian sehingga mewakili sejumlah partai yang menjadi identitas partai seseorang. Pengukuran identitas kepartaian yang digunakan dalam penelitian ini juga merujuk pada tiga pertanyaan sebagaimana penjelasan di atas, namun dengan pilihan jawaban skala nominal, yaitu jawaban iya berkode (1) dan tidak berkode (2).

Media Massa adalah media yang digunakan oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi yang terkait dengan pelaksanaan pemilu presiden 2014. Pengukuran variabel media massa dilakukan dengan melihat seberapa sering pemilih buruh berinteraksi dengan media massa, baik televisi, koran, radio, maupun internet. Selanjutnya dari interaksi ini, akan dilihat seberapa

33 sering pemilih buruh melihat, membaca, atau mendengarkan berita politik, dan seberapa seringpula pemilih buruh melihat/membaca/mendengarkan iklan kampanye calon presiden pada pemilu 2014. Intensitas buruh dalam mengikuti berita atau infromasi politik inilah yang nantinya akan menjadi bahan analisis lebih lanjut pada pembahasan efek media massa terhadap pilihan calon presiden di bab 5.

Sedangkan variabel program kerja calon presiden adalah kebijakan-kebijakan calon presiden yang akan dilakukan apabila dia terpilih dalam pemilu presiden 2014. Progam calon presiden ini adalah program resmi masing-masing calon presiden yang sudah diserahkan kepada KPU dan apa yang dijanjikan dalam kampanye pemilu presiden 2014. Pengukuran variabel program kerja dilakukan dengan menanyakan pengetahuan pemilih buruh atas berbagai program calon presiden yang berkaitan dengan nasib buruh, apakah buruh mengetahui program kerja calon presiden ataukah tidak.

Pengetahuan ini tidak terbatas pada program kerja calon presiden atas isu buruh saja, akan tetapi juga program kerja yang terkait dengan kontrak politik calon presiden terhadap buruh. Sebagaimana kita ketahui, calon presiden Prabowo menjanjikan spultura (sepuluh tuntutan rakyat) sementara calon presiden Jokowi menjanjikan tri layak kepada para buruh.

Selanjutnya, terhadap buruh yang mengetahui program kerja dan atau kontrak politik dari kedua calon presiden, akan ditanyakan pula penilaian mereka terhadap program kerja dan atau kontrak politik yang ditawarkan oleh kedua calon presiden tersebut. Penilaian ini diukur dengan menggunakan skala 1-5, dimana angka 1 menunjukkan penilaian yang tidak baik, angka 2 cukup baik, angka 3 baik, angka 4 cukup baik, dan angka 5 menunjukkan penilaian yang sangat baik.

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang (Halaman 30-33)

Dokumen terkait