• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………………. 1-22

C. Definisi Operasional dan Ruang Lingkup Penelitian

1. Definisi Operasional

Penelitian ini berjudul Komunikasi Antarumat beragama sebagai Resolusi Konflik di Kota Palu (Analisis Sosiologi Hukum Islam). Untuk memberikan ketegasan dalam penelitian ini, sehingga memperoleh maksud yang jelas, maka penulis menjelaskan definisi secara operasional yaitu sebagai berikut :

1) Komunikasi Antarumat Beragama

Komunikasi (communication) pada hakikatnya selalu mengandaikan minimal dua orang yang berinteraksi. Dari hakikat komunikasi ini, menurut

Habermas, tindakan komunikatif terarah pada “saling pengertian” (verstandigung) dan “koordinasi hidup bersama”, di mana setiap orang melaksanakan kebebasannya dengan mengakui dan menerima orang lain sebagai subyek yang bebas. Tindakan komunikatif seperti ini berada dalam situasi tindakan yang bersifat sosial sehingga tindakannya strategis, bukan tindakan yang instrumental dan berada dalam situasi yang bersifat non sosial.23

Dalam dialog antarumat beragama, komunikasi sesungguhnya juga merupakan suatu bentuk komunikasi dari “pengalaman iman”. Jika iman dipahami sebagai dasar tindakan komunikatif. Ini berarti bahwa hanya pada pengalaman imanlah tindakan komunikatif dalam konteks dialog antar umat beragama sungguh menjadi mungkin, karena pengalaman iman yang sejati merupakan puncak pemenuhan hidup pribadi manusia.

2) Resolusi Konflik

Resolusi konflik dalam penelitian ini, penulis maksudkan adalah suatu cara mengelola konflik yang bertujuan membantu orang-orang yang sedang berkonflik untuk mengatasi emosinya, sehingga mereka lebih siap untuk menyelesaikan persoalan-persoalan di dalam konflik. Pengelolaan konflik juga dimaksudkan untuk membantu orang mengetahui cara-cara mengatur tingkah laku mereka yang membantu mereka untuk dapat menyelesaikan apa yang dianggap sebagai perbedaan-perbedaan. Dalam konflik antarumat beragama, mengelola konflik berarti memberikan seperangkat prinsip dan alat untuk

23

Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, vol. I, trans. Thomas McCarthy (Boston: Beacon Press, 1985), h. 285.

mentransformasikan konflik menjadi suatu kekuatan yang mempromosikan penghidupan berkelanjutan.

Melalui penelitian ini penulis berusaha mencermati, menganalisis dan mendeskripsikan kemudian menafsirkan fakta di lapangan tentang komunikasi yang telah terjalin antarumat beragama di tengah kemajemukan masyarakat Kota Palu yang seringkali diperhadapkan dengan kondisi yang mengarah pada konflik antarumat beragama. Komunikasi antarumat beragama adalah langkah yang tepat untuk meredam situasi yang terkadang memanas dan menimbulkan riak-riak konflik, komunikasi dilakukan dengan intensif oleh Tokoh Agama bisa membuat Kota Palu tetap kodusif dan terhindar dari ancaman konflik antarumat beragama.

Dalam kontes relasi antarumat beragama di Kota Palu, penelitian ini dimaksudkan untuk mengarahkan masyarakat agar menjadikan Agama sebagai media pemersatu umat melalui peran elit Agama dan selalu membudayakan komunikasi antarumat beragama sehingga muncul kesadaran bersama untuk mewujudkan persaudaraan sejati berdasarkan spirit kebenaran universal Agama.

Komunikasi antarumat beragama di Kota Palu memiliki ciri tersendiri yakni terlihat dengan adanya komunikasi yang sudah terjalin sejak lama antara elit Agama yaitu: Kiyai, Pendeta, Pastor dan lainnya serta kalangan intelektual seperti Dosen dan Mahasiswa, juga dikalangan profesional, pengusaha dan lainnya. Relasi tersebut termanifestasi dalam keterlibatan mereka secara aktif dalam dialog-dialog dan kerjasama sosial maupun akademik.

Konflik antaragama adalah fenomena yang muncul sejak agama-agama itu berinteraksi dengan yang lain, meskipun demikian cita-cita akan adanya komunikasi antarumat beragama yang harmonis tidak pernah pupus, karena penyelamatan umat manusia terdapat pada setiap umat beragama dalam menyikapi setiap masalah kehidupan. Komunikasi antarumat beragama yang harmonis menjadi tugas kita semua untuk mewuudkannya, dengan kata lain materi komunikasi antarumat beragama yang bisa menjadi resolusi konflik hendaknya tercermin dalam sikap, prilaku dan tindakan sesuai dengan nilai-nilai agama yang menekankan persaudaraan, toleransi dan penghargaan atas pluralitas agama serta tidak menyalahgunakan agama untuk kepentingan individu dan kelompok.

2. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini untuk menjelaskan komunikasi antara umat beragama (Islam dan Kristen) yang ada di kota Palu. Demi mensukseskan komunikasi antar agama ataupun antar iman tersebut, maka pemahaman terhadap agama-agama lain tidak hanya diperlukan oleh para elit agama, tetapi harus merambah kepada masyarakat lapisan terbawah atau masyarakat awam yang bergesekan secara langsung dengan para pemeluk agama-agama lain dalam kehidupan sehari-hari.

Ilmu perbandingan agama dan pemahaman terhadap agama orang lain merupakan prasyarat untuk melakukan komunikasi antar agama, karena tanpa ini komunikasi mustahil dilaksanakan dan memang ilmu perbandingan agama

dipergunakan untuk memperlancar komunikasi ini dan komunikasi antar agama sendiri merupakan media untuk memahami agama lain secara benar dan komprehensif.

Dalam kasus komunikasi antara Islam dan Kristen, menurut Hassan Hanafi keduanya mempunyai dua “karakteristik ideal” (ideal types) yang kaya untuk dikomparasikan dan selanjutnya bisa mengantarakan kepada suatu

common platform. Komunikasi dengan mengedepankan prinsip humanisme,

karena antara Islam dan Kristen mempunyai pandangan yang kosmopolit mengenai manusia yang lebih memudahkan untuk melakukan komparasi antara dua dimensi: antropologis dan teologis. Tuhan dan manusia, menurut Hanafi, merupakan kata kunci bagi timbulnya persatuan dan perpecahan antara kultur modernitas dan kultur tradisional atau antara Kristen dan muslim di Timur.

Ilmu perbandingan agama dan pemahaman terhadap agama orang lain merupakan prasyarat untuk melakukan komunikasi antar agama, karena tanpa ini komunikasi mustahil dilaksanakan dan memang ilmu perbandingan agama dipergunakan untuk memperlancar komunikasi ini dan komunikasi antar agama sendiri merupakan media untuk memahami agama lain secara benar dan komprehensif.

Dengan demikian, sepanjang sikap di atas belum tercairkan, maka komunikasi menuju cita-cita agama yang luhur sulit dicapai. Maka jangan khawatir dengan komunikasi, karena yang ingin dicapai dalam komunikasi, kata Victor I. Tanja24 bukan soal kompromi akidah, melainkan bagaimana akhlak

24

keagamaan kita dapat disumbangkan kepada orang lain. Dan seperti tegas Shihab25 . bahwa kita tidak ingin mengatasnamakan ajaran agama, dan kemudian mengorbankan kerukunan beragama. Dan pada saat yang sama, kita tidak ingin menegakkan kerukunan agama dengan mengorbankan agama. Islam mendambakan kerukunan, tetapi jangan lantas demi kerukunan, agama kita terlecehkan.

Dokumen terkait