BAB I PENDAHULUAN
G. Definisi Operasional
Tingkat kesehatan bank adalah penilaian suatu kesehatan bank dilihat dari berbagai segi. Penilaian ini bertujuan untuk menentukan apakah bank tersebut dalam kondisi sehat, cukup sehat, kurang sehat atau tidak sehat (Kasmir, 2011:41). Bank yang sehat adalah bank yang dapat menjaga dan memelihara kepercayaan masyarakat dan pihak yang berkaitan dalam transaksi bank. Bank yang tidak sehat, bukan hanyamembahayakan perbankan itu saja, namun juga pihak lain yang terkait, yaitu pemilik dan pengelola bank, masyarakat pengguna jasa bank dan pemerintah(Bank Indonesia) selaku pengawas dan pembina perbankan.
Metode RGEC merupakan suatu peraturan dalam penilaian kesehatan bank umum berdasarkan prinsip syariah. Penilaian tingkat kesehatan bank sangat penting, karena hal ini sekaligus menunjukkan bagaimana kondisi kinerja keuangan dan prestasi bank dalam menjalankan usahanya dan dalam meraih kepercayaan masyarakat (10/SEOJK.03/2014). Dalam metode RGEC mencakup penilaian terhadap faktor profil risiko (risk profile) risiko yang wajib dinilai terdiri atas 10 (sepuluh) jenis risiko namun yang akan dinilai hanya pada
risiko pembiayaan dan likuiditas, good corporate governance (GCG) pada penilaian ini penulis tidak melibatkan GCG dikarenakan penilaian yang dilakukan pada GCG merupakan penilaian yang dilakukan sendiri (self assesment) oleh bank yang bersangkutan, rentabilitas (earning) penilaian yang akan dilakukan hanya pada rasio ROA dan ROE dikarenakan penulis hanya ingin melihat bagaimana pergerakan laba dalam lingkup perkembangan aset dan modal bank. Dan faktor permodalan (capital) dapat dinilai dengan menggunakan rasio keuangan yakni capital adequecy ratio (CAR).
12 BAB II KAJIAN TEORI
A. Landasan Teori
1. Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Syariah
Sebagaimana layaknya manusia, bank sebagai perusahaan perlu juga dinilai kesehatannya. Tujuannya adalah untuk mengetahui kondisi bank tersebut yang sesungguhnya apakah dalam keadaan sehat, kurang sehat atau mungkin sakit. Apabila ternyata kondisi bank tersebut dalam kondisi sehat, maka ini perlu dipertahankan kesehatannya. Akan tetapi jika kondisinya dalam keadaan tidak sehat maka segera perlu diambil tindakan untuk mengobatinya. Dari penilaian kesehatan bank ini pada akhirnya akan ketahuan kinerja bank tersebut. (kasmir, 2004:261)
Untuk melakukan penilaian kesehatan dapat dilihat dari berbagai aspek. Penilaian yang dilakukan ini bertujuan untuk menentukan apakah bank tersebut dalam kondisi sehat, cukup sehat, kurang sehat dan tidak sehat. Sehingga Bank Indonesia sebagai pengawas dan pembina bank-bank dapat memberikan arahan bagaimana bank tersebut harus dijalankan dengan baik atau bahkan dihentikan operasinya.
Tingkat kesehatan bank merupakan salah satu hal yang diatur oleh Bank Indonesia. Tata cara penilaian kesehatan bank adalah salah satu peraturan perbankan yang paling penting dan menjadi hasil dari aspek pengaturan dan pengawasan perbankan yang menunjukan kinerja perbankan nasional. Penilaian kesehatan bank ini secara umum telah mengalami perubahan sejak pertama kali diberlakukan pada tahun 1999 yaitu CAMEL (Capital, Assets, Management, Earning, dan Likuidity), kemudian di ubah pada tahun 2004 menjeadi CAMELS (Capital, Assets, Management, Earning, Likuidity dan Sensitivy to market) melalui Peraturan Bank Indonesia No.6/10/PBI/2004.
Bank Indonesia menginginkan agar bank mampu mengidentifikasi permasalahan lebih dini dan meningkatkan kewaspadaan melakukan
manajemen risiko yag baik. Bank Indonesia kemudian mengubah sistem penilaian CAMELS menjadi RGEC yang tercantum dalam PBI Nomor 13/1/PBI/2011 tentang penilaian kinerja bank umum dan Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan No.10/SEOJK.03/2014 tentang sistem penilaian tingkat kesehatan bank umum syariah dan unit usaha syariah.
Dengan kata lain Peraturan Bank Indonesia No.6/10/PBI/2004 dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi sejak tanggal 1 Januari 2012. Adapun
penjelasan mengenai motede CAMEL dan RGEC adalah sebagai berikut:
a. CAMEL
Tingkat kesehatan bank pada dasarnya dinilai dengan pendekatan kualitatif dengan mengadakan penilaian atas faktor-faktor: Permodalan (capital), Kualitas Aktiva Produktif, Manajemen, Rentabilitas (earning) dan Likuiditas atau disebut juga dengan CAMEL.
Faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam penilaian kesehatan bank pada umumnya dan Bank Syariah khususnya dapat dilihat sebagai berikut:
1) Capital (Permodalan)
Besarnya permodalan dipengaruhi atas kemampuan dan kepatuhan suatu bank terhadap KPMM (Kewajiban Pemenuhan Modal Minimum) yang saat ini berlaku sebesar 8%.
Fungsi penilain capital menurut Harmono (2011:115) adalah sebagai berikut:
a) Ukuran kemampuan bank untuk menyerap kerugian-kerugian yang tidak dapat dihindarkan.
b) Alat pengukur besar kecilnya kekayaan bank atau kekayaan yang dimiliki oleh para pemegang saham.
c) Untuk memungkinkan manajemen bank bekerja dengan efisien sesuai dengan yang dikehendaki pemilik modal.
Dalam menilai capital suatu bank dapat digunakan capital adequacy ratio (CAR) dengan rumus:
Berdasarkan ketentuan Bank Indonesia, bank dinyatakan sehat harus memiliki CAR paling sedikit sebesar 8% dengan bobotnya 25%.
2) Asset (Aspek Kualitas Aset)
Penilaian terhadap aktiva produktif yang dikualifikasikan berdasarkan dua rasio yaitu:
a) Rasio aktiva produktif yang diklasifikasikan terhadap aktiva produktif.
b) Rasio penyisihan penghapusan aktiva produktif yang telah dibentuk terhadap penyisihan penghapusan aktifa produktif yang wajib dibentuk.
3) Manajemen
Ketentuan mengenai penilaian manajemen sebagai berikut:
a) Penilaian kuantitatif terhadap manajemen mencakup dua komponen yaitu manajemen umum dan manajemen resiko. Setiap komponen manajemen diberikan bobot. Manajemen bank dapat dikatakan sehat apabila sekurang-kurangnya telah memenuhi 81% dari seluruh aspek tersebut.
b) Perhitungan nilai kredit didasarkan pada hasil penilaian jawaban pertanyaan mengenai manajemen bank yang secara keseluruhan berjumlah 100.
4) Earning (Rentabilitas)
Pada aspek rentabilitas ini yang dilihat adalah kemampuan bank dalam meningkatkan laba dan efisiensi usaha yang dicapai. Bank yang sehat adalah bank yang diukur secara rentabilitas yang terus meningkat. Metode penilaiannya dapat dilakukan dengan (Martono, 2002:89-91):
a) Perbandingan laba dengan total aset (Return On Asset/ ROA) b) Perbandingan laba dengan total equitas (Return On Equity/ ROE) c) Perbandingan biaya operasi dengan pendapatan operasi (BOPO)
Rasio rentabilitas sering disebut profitabilitas usaha. Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai bank yang bersangkutan. Laba yang diraih dari kegiatan yang dilakukan merupakan cerminan kinerja sebuah perusahaan dalam menjalankan usahanya. Dengan kata lain, rasio rentabilitas selain bertujuan untuk mengetahui kemampuan bank dalam menghasilkan laba selama periode tertentu, juga bertujuan untuk mengukur tingkat efektifitas manajemen dalam menjalankan operasional perusahaannya.
5) Liquidity (Likuiditas)
Pada aspek likuiditas ini penilaian didasarkan atas kemampuan bank dalam membayar semua hutang-hutangnya terutama simpanan tabungan, giro, dan deposito pada saat ditagih dan dapat memenuhi semua permohonan kredit yang layak untuk disetujui (Martono, 2002:89).
Rasio yang digunakan untuk menilai risiko ini adalah dengan menggunakan rasio Financing to Debt Ratio (FDR). FDR adalah rasio antara seluruh jumlah kredit yang diberikan dengan dana yang diterima bank. Kebutuhan likuiditas setiap bank berbeda-beda tergantung antara lain pada kekhususan usaha bank, besarnya bank dan sebagiannya (Meliyani, 2017:16).
b. RGEC
Berdasarkan peraturan Bank Indonesia No 13/1/PBI/2011, metodepenilaian kesehatan bank dengan pendekatan berdasarkan risiko (Risk-BasedBank Rating) merupakan metode penilaian tingkat kesehatan bank menggantikan metode penilaian yang sebelumnya yaitu metode yang berdasarkan Capital, Asset, Management, Earning, Liquidity dan Sensitivity to Market Risk (CAMELS). Bank indonesia menginginkan agar bank mampu mengidentifikasi permasalahan dini dan meningkatkan kewaspadaan dengan melakukan manajemen risiko yang baik.
Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan efektivitas penilaian tingkat kesehatan bank untuk menghadapi perubahan kompleksitas usaha dan profil risiko yang dapat berasal dari bank maupun dari perusahaan anak bank serta perubahan pendekatan penilaian kondisi bank yang diterapkan secara internasional mempengaruhi pendekatan penilaian tingkat kesehatan Bank, sehingga diperlukan penyempurnaan penilaian tingkat kesehatan Bank dengan pendekatan berdasarkan risiko (Risk Based Bank Rating). Metode penilaian kesehatan bank ini masih berlaku walaupun sejak 31 Desember 2013 fungsi, tugas dan wewenang pengaturan dan pengawasan kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan beralih dari BI ke OJK.
Menurut Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan (SEOJK) Nomor 10/SEOJK.03/2014 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah, bahwa Faktor yang menjadi penilaian Tingkat Kesehatan Bank untuk Bank Umum Syariah adalah profil risiko (risk profile), Good Corporate Governance, rentabilitas (earnings), dan permodalan (capital).
1) Risk Profile (Profil Risiko)
Risk profile (profil risiko) menjadi dasar penilaian tingkat bank pada saat ini dikarenakan setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh bank sangat memungkinkan akan timbulnya risiko. Otoritas Jasa Keuangan menjelaskan risiko-risiko yang diperhitungkan dalam menilai tingkat kesehatan bank dengan metode Risk-Based Bank Rating dalam Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan No 10/SEOJK.03/2014 pada tanggal terdiri dari:
a) Risiko Pembiayaan
Risiko Pembiayaan adalah risiko akibat kegagalan debitur dan/atau pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada bank sesuai dengan perjanjian yang disepakati. Risiko pembiayaan pada umumnya terdapat pada seluruh aktivitas bank yang kinerjanya bergantung pada kinerja pihak lawan (counterparty), penerbit
(issuer), atau kinerja peminjam dana (borrower). Risiko pembiayaan juga dapat diakibatkan oleh terkonsentrasinya penyediaan dana pada debitur, wilayah geografis, produk, jenis pembiayaan, atau lapangan usaha tertentu.
Rasio yang digunakan untuk menilai risiko ini adalah menggunakan rasio Non Performing Financing (NPF). NPF merupakan rasio yang mengukur tingkat permasalahan pembiayaan yang dihadapi oleh bank syariah (Meliyani, 2017:14). Maksud dari NPF ialah pembiayaan yang telah tertunggak, melampaui masa akad perjanjian dalam pengembalian sesuai dengan jenis pembiayaan. Jika besar rasio ini berarti kemungkinan kegagalan pengembaliannya besar, tetapi jika rasio NPF kecil maka semakin baik kualitas kekayaan produktif bank dalam menghasilkan pendapatan (Iqbal, 2016:26). Rasio ini dirumuskan dengan:
Jumlah pembiayaan bermasalah yang dimasukkan adalah pembiayaan yang tergolong dalam kolektitabilitas kurang lancar, diragukan dan macet. Setelah dilakukan perhitungan, maka hasilnya berdasarkan kriteria penilaian peringkat, dari peringkat satu sampai lima.
Tabel 2. 1
Matriks Kriteria Penetapan Peringkat Profil Risiko (NPF)
Peringkat Keterangan Kriteria
1 Sangat Sehat NPF < 2%
2 Sehat 2% ≤ NPF< 5%
3 Cukup Sehat 5%≤ NPF< 8%
4 Kurang Sehat 8%≤ NPF< 12%
5 Tidak Sehat NPF ≥ 12%
Sumber:Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan No.10/SEOJK.03/2014 b) Risiko Pasar
Risiko pasar adalah risiko pada posisi neraca dan rekening administratif termasuk transaksi derivatif, akibat perubahan dari kondisi pasar, termasuk risiko perubahan harga option. Risiko pasar
meliputi antara lain risiko suku bunga, risiko nilai tukar, risiko ekuitas, dan risiko komoditas.
Rasio untuk mengukur risiko pasar adalah Interest Rate Risk.
IRR adalah rasio yang dialami akibat dari perubahan suku bunga yang terjadi di pasaran yang mampu memberi pengaruh negatif bagi pendapatan perusahaan. Rasio ini memperlihatkan risiko yang mengukur besaran bunga yang diterima oleh bank dibandingkan dengan bunga yang dibayar. Semakin tinggi rasio ini maka kemungkinan bank mengalami kerugian semakin rendah secara otomatis laba akan meningkat (positif) (Siska, 2017:41):
c) Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas adalah risiko akibat ketidakmampuan bank untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas, dan/atau dari aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan, tanpa mengganggu aktivitas dan kondisi keuangan Bank. Risiko ini disebut juga risiko likuiditas pendanaan (funding liquidity risk).
Rasio yang digunakan untuk menilai risiko ini adalah dengan menggunakan rasio Financing to Debt Ratio (FDR). FDR adalah rasio antara seluruh jumlah pembiayaan yang diberikan dengan dana yang diterima bank. Kebutuhan likuiditas setiap bank berbeda-beda tergantung antara lain pada kekhususan usaha bank, besarnya bank dan sebagiannya (Meliyani, 2017:16). Tetapi akan ada risiko likuiditas yang tinggi, ini sangat berbahaya jika perbankan syariah tidak bisa mengelolanya dengan baik. Sebab, pemicu utama kebangkrutan sebuah bank, baik besar atau kecil, bukanlah karena kerugiannya tetapi lebih kepada ketidakmampuan bank dalam memenuhi kebutuhan likuiditasnya (Iqbal, 2016:28).
Rasio ini dirumuskan dengan menghitung rasio (FDR):
Tabel 2. 2
Matriks Kriteria Penetapan Peringkat Profil Risiko (FDR)
Peringkat Keterangan Kriteria 1 Sangat Sehat FDR < 75%
2 Sehat 75% ≤FDR< 85%
3 Cukup Sehat 85%≤ FDR< 100%
4 Kurang Sehat 100%≤ FDR< 120%
5 Tidak Sehat FDR ≥ 120%
Sumber:Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan No.10/SEOJK.03/2014 Tingkat kesehatan perbankan yang buruk dapatdisebabkan oleh beragam faktor. Salah satu faktor yang sering dihadapi setiap perbankan diIndonesia adalah risiko pembiayaan. Risiko pembiayaan dalam sistem perbankan dapatdiartikan sebagai pembayaran angsuran pembiayaan yang tertunda atau tidak terbayar samasekali, hal ini tentu dapat mempengaruhi likuiditas hingga memicu permasalahan kas padaperbankan, oleh sebab inilah risiko pembiayaan menjadi penyebab utama kegagalan bank (Akramunnas, 2019:64).
d) Risiko Operasional
Risiko operasional adalah risiko akibat proses internal yang kurang memadai, kegagalan proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, dan/atau adanya kejadian eksternal yang mempengaruhi operasional bank. Sumber risiko operasional dapat disebabkan antara lain oleh sumber daya manusia, proses, sistem, dan kejadian eksternal.
e) Risiko Hukum
Risiko hukum adalah risiko yang timbul akibat tuntutan hukum dan/atau kelemahan aspek yuridis. Risiko ini juga dapat timbul antara lain karena ketiadaan peraturan perundang-undangan yang mendasari atau kelemahan perikatan, seperti tidak
dipenuhinya syarat sahnya kontrak atau agunan yang tidak memadai.
f) Risiko Stratejik
Risiko stratejik adalah risiko akibat ketidaktepatan bank dalam mengambil keputusan dan/atau pelaksanaan suatu keputusan stratejik serta kegagalan dalam mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis. Sumber risiko stratejik antara lain ditimbulkan dari kelemahan dalam proses formulasi strategi dan ketidaktepatan dalam perumusan strategi, ketidaktepatan dalam implementasi strategi, dan kegagalan mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis.
g) Risiko Kepatuhan
Risiko kepatuhan adalah risiko yang timbul akibat bank tidak mematuhi dan/atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku, serta prinsip syariah.
Sumber risiko kepatuhan antara lain timbul karena kurangnya pemahaman atau kesadaran hukum terhadap ketentuan, prinsip syariah, maupun standar bisnis yang berlaku umum.
h) Risiko Reputasi
Risiko reputasi adalah risiko akibat menurunnya tingkat kepercayaan stakeholder yang bersumber dari persepsi negatif terhadap bank. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam mengkategorikan sumber Risiko reputasi bersifat tidak langsung (below the line) dan bersifat langsung (above the line).
i) Risiko Imbal Hasil
Risiko Imbal Hasil (Rate of Return Risk) adalah risiko akibat perubahan tingkat imbal hasil yang dibayarkan bank kepada nasabah, karena terjadi perubahan tingkat imbal hasil yang diterima bank dari penyaluran dana, yang dapat mempengaruhi perilaku nasabah dana pihak ketiga bank.
j) Risiko Investasi
Risiko Investasi (Equity Investment Risk) adalah risiko akibat bank ikut menanggung kerugian usaha nasabah yang dibiayai dalam pembiayaan berbasis bagi hasil baik yang menggunakan metode net revenue sharing maupun yang menggunakan metode profit and loss sharing.
2) Good Corporate Governance (GCG)
Secara umum good corporate governance (GCG) bisa didfinisikan sebagai seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta pemegang kepentingan intern dan ekstern lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka atau dengan kata lain suatu sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan dengan tujuan untuk meningkatkan nilai tambah bagi semua pihak yang berkepentingan (10/SEOJK.03/2014:13).
Penilаiаn fаktor GCG merupаkаn penilаiаn terhаdаp kuаlitаs mаnаjemen bаnk аtаs pelаksаnааn prinsip-prinsip GCG. Bаnk melаkukаn self аssesment untuk memperoleh hаsil predikаt аtаs pelаksаnааn GCG yаng mencаkup tigа аspek utаmа yаitu governаnce structure, governаnce process, governаnce output. Governance stucture mencakup pelaksanaan tugas dan tanggung jawab dewan komisaris dan dewan direksi serta kelengkapan dan pelaksanaan tugas komite. Governance process mencakup fungsi kepatuhan bank, penanganan benturan kepentingan, penerapan fungsi audit intern dan ekstern, penerapan manajemen risiko termasuk sistem pengendalian intern, penyediaan dana kepada pihak terkait dan dana besar, serta rencana strategis bank. Aspek terakhir govenance output mencakup transparansi kondisi keuangan dan non keuangan, laporan pelaksanaan GCG yang memenuhi prinsip Transparancy, Accountability, Responsibility, Indepedency, dan Fairness (TARIF).
Penetapan peringkat faktor Good Corporate Governance dikategorikan dalam 5 (lima) peringkat yaitu peringkat 1-5. Urutan peringkat faktor GCG yang lebih kecil mencerminkan penerapan GCG yang lebih baik (10/SEOJK.03/2014:13)
Faktor Good Corporate Governance berkaitan erat dengan Sharia compliance. Adapun Sharia compliance adalah ketaatan bank syariah terhadap prinsip-prinsip syariah. Bank syariah telah memenuhi kepatuhan pada prinsip-prinsip syariah apabila dalam semua transaksi dan kegiatan usahanya tidak mengandung unsur riba, gharar, dan maisir, menjalankan bisnis yang berbasis pada keuntungan yang halal, menjalankan amanah yang dipercayakan nasabah kepada bank dan mengelola zakat, infaq dan shadaqah dengan amanah (Wardayanti, 2011:8).
3) Earning (Rentabilitas)
Earning atau yang biasa disebut sebagai rentabilitas merupakan ukuran kemampuan bank untuk meningkatkan labanya atau mengukur tingkat efisiensi dan efektivitas manajemen dalam menjalankan usahanya. Faktor earning atau rentabilitas ini juga mencerminkan kemampuan bank untuk mendukung operasi saat ini dan juga di masa yang akan datang.
Earning bisa memberikan informasi pada pengguna laporan keuangan berapa besar pertumbuhan laba dari sebuah aktivitas usaha sebuah perusahaan. Selain itu juga digunakan oleh manajemen untuk sebagai evaluasi.
Penilaian terhadap faktor rentabilitas (earnings) meliputi penilaian terhadap kinerja rentabilitas, sumber-sumber rentabilitas, sustainability rentabilitas bank dan manajemen rentabilitas. Tindakan pengawasan yang dilakukan, antara lain meminta bank agar meningkatkan kemampuan menghasilkan laba seperti melalui peningkatan efisiensi dan volume usaha dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian. Tujuan faktor ini untuk mengevaluasi
kemampuan rentabilitas bank untuk mendukung kegiatan operasional dan permodalan bank. Rasio ini dirumuskan dengan:
a) ROA (Return On Asset)
ROA merupakan rasio yang membandingkan antara laba sebelum pajak dengan total asset. Rasio ini mengukur kemampuan bank dalam memperoleh keuntungan secara keseluruhan (Rivai, 2007:107). Analisis komponen ini bertujuan untuk mengukur keberhasilan manajemen dalam menghasilkan laba. Semakin kecil rasio ini mengindikasikan kurangnya kemampuan manajemen bank dalam hal mengelola aktiva untuk meningkatkan pendapatan dan atau menekan biaya (Prasetiyo, 2012:9).
Rasio ini dirumuskan dengan:
Tabel 2. 3
Matriks Kriteria Penetapan Peringkat Rentabilitas (ROA)
Peringkat Keterangan Kriteria
1 Sangat Sehat ROA > 1,5%
2 Sehat 1,25% ≤ROA<1,5%
3 Cukup Sehat 0,5% ≤ROA< 1,25%
4 Kurang Sehat 0% ≤ROA< 0,5%
5 Tidak Sehat ROA≤0%
Sumber:Surat Edaran Otoritas Jasa KeuanganNo.10/SEOJK.03/2014 b) ROE (Return On Equity)
Rasio ini mengambarkan jumlah laba bersih yang diperoleh untuk setiap pengunaan modal sendiri. Dikatakan juga untuk melihat tingkat keuntungan bagi modal sendiri. Semakin besar rasio ini menunjukkan kemampuan bank dalam menghasilkan laba semakin besar. Rasio ini dirumuskan dengan:
Tabel 2. 4
Matriks Kriteria Penetapan Peringkat Rentabilitas (ROE)
Peringkat Keterangan Kriteria 1 Sangat Sehat ROE > 20%
2 Sehat 12,5% <ROE≤ 20%
3 Cukup Sehat 5% <ROE≤12,5%
4 Kurang Sehat 0% <ROE ≤ 5%
5 Tidak Sehat ROE ≤ 0%
Sumber: Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan No.10/SEOJK.03/2014 Menurut Kasmir (2011:204) Semakin tinggi rasio ini, maka semakin baik. Artinya, posisi pemilik perusahaan semakin kuat.
Sebaliknya apabila rasio ini rendah, maka semakin buruk. Artinya, posisi pemilik perusahaan lemah.
ROE merupakan rasio pengamatan (observed). Analisis komponen ini bertujuan untuk mengukur kemampuan modal disetor bank dalam menghasilkan laba. Semakin besar rasio ini menunjukkan kemampuan modal disetor bank dalam menghasilkan laba bagi pemegang saham semakin besar (Prasetiyo, 2012:9).
c) REO (Rasio Efisiensi Operasional)/BOPO
REO/BOPO merupakan salah satu rasio penunjang dalam menilai aspek earning. Rasio ini bertujuan untuk mengukur efisiensi kegiatan operasional bank syariah.
REO/BOPOmenggunakan cara membandingkan antara biaya operasional dengan pendapatan operasional. Analisis komponen ini bertujuan untuk mengukur efisiensi kegiatan operasional bank syariah (Prasetiyo, 2012:9). Rasio ini dirumuskan dengan:
4) Capital (Permodalan)
Penilaian faktor permodalan meliputi evaluasi terhadap kecukupan modal dan kecukupan pengelolaan permodalan. Dalam melakukan perhitungan permodalan, bank umum syariah mengacu pada ketentuan yang berlaku mengenai kewajiban penyediaan modal
minimum bagi bank umum syariah. Selain itu, dalam melakukan penilaian kecukupan modal, bank umum syariah juga harus mengaitkan kecukupan modal dengan profil risiko. Semakin tinggi risiko, semakin besar modal yang harus disediakan untuk mengantisipasi risiko tersebut (10/SEOJK.03/2014:21).
Jika CARbank rendah maka kemampuan bank untuk survive saat mengalami kerugianjuga rendah. Kondisi ini memicu bank syariah akan menggunakan sumber dana internal yangberasal dari modal sendiri untuk menutup kerugian yang dialami. Penyebab CARbank rendahdikarenakan dua hal yaitu terkikisnya modal perbankan akibat negative spread dan terjadipeningkatan asset yang tidak didukung dengan peningkatan modal. CAR yang cukup akan digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur dan mengawasi risiko-risiko yang timbul.Perhitungan CARdidasarkan pada prinsip bahwa setiap penanaman modal yang mengandungrisiko harus disediakan sejumlah modal sebesar persentase tertentu (risk margin) terhadapjumlah penanamannya (Akramunnas, 2019:60).
Tujuan faktor permodalan ini untuk mengevaluasi kecukupan modal bank dalam mengcover eksposur risiko saat ini dan mengantisipasi eksposur risiko yang akan datang. Penilaian terhadap faktor permodalan meliputi penilaian terhadap komponen-komponen sebagai berikut:
a) Kecukupan pemenuhan KPMM, komposisi permodalan, dan proyeksi (tren ke depan) permodalan serta kemampuan permodalan Bank dalam menutupi aset bermasalah.
b) Kemampuan Bank memelihara kebutuhan penambahan modal yang berasal dari keuntungan, rencana permodalan permodalan Bank untuk mendukung pertumbuhan usaha, akses kepada sumber permodalan, dan kinerja keuangan pemegang saham untuk meningkatkan permodalan bank.
Faktor permodalan (capital) dapat dinilai dengan menggunakan rasio keuangan yakni capital adequecy ratio (CAR). Penilaian terhadap faktor permodalan meliputi kecukupan modal dan pengelolaan modal tersebut dibandingkan dengan jumlah aktiva tertimbang menurut risiko (13/1/PBI/2011).
Dengan rumus sebagai berikut:
Tabel 2. 5
Matriks Kriteria Penetapan Peringkat Permodalan (CAR) Peringkat Keterangan Kriteria
1 Sangat Sehat CAR > 11%
2 Sehat 9,5% ≤ CAR < 11%
3 Cukup Sehat 8% ≤CAR < 9,5%
4 Kurang Sehat 6,5% ≤ CAR < 8%
5 Tidak Sehat CAR≤6,5%
Sumber: Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan No.10/SEOJK.03/2014
c. Penilaian Tingkat Kesehatan Bank
Peringkat komposit dikategorikan sebagai berikut (10/SEOJK.03/2014):
1) Peringkat Komposit 1 (PK-1), mencerminkan kondisi bank yang secara umum sangat sehat sehingga dinilai sangat mampu menghadapi pengaruh negatif yang signifikan dari perubahan kondisi
1) Peringkat Komposit 1 (PK-1), mencerminkan kondisi bank yang secara umum sangat sehat sehingga dinilai sangat mampu menghadapi pengaruh negatif yang signifikan dari perubahan kondisi