1. Pengembangan wilayah Kabupaten Gunungkidul adalah proses perubahan menuju kearah pembangunan secara multidimensional yang mencakup segala aspek kehidupan baik aspek sosial, ekomoni, politik, budaya serta hukum dan pertahanan.
2. Pertumbuhan ekonomi adalah nilai tambah output yang diterima setiap tahunnya oleh Kabupaten Gunungkidul atas penggunaan faktor-faktor produksi yang dimiliki daerah tersebut. Pertumbuhan ekonomi sering digunakan sebagai tujuan akhir yang dicanangkan kebanyakan daerah otonomi.
3. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Gunungkidul adalah output yang dihasilkan oleh Kabupaten Gunungkidul dalam kurun waktu tertentu dengan menggunakan faktor-faktor produksi yang dimiliki oleh daerah tersebut. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berdasarkan Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) 2010 tersusun atas 17 sektor ekonomi
diantaranya sektor tersebut meliputi sektor pertanian ketuhanan dan perikanan, sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pengelolaan, sektor listrik gas dan air bersih, sektor pengadaan air pengolahan sampah limbah dan daur ulang, sektor bangunan, sektor perdagangan besar eceran reparasi mobil dan sepeda motor, sektor transportasi dan pergudangan, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum, sektor komunikasi dan informasi, sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor real estate, sektor jasa perusahaan, sektor jasa administrasi pemerintahan dan pertahanan, sektor jasa pendidikan, sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial serta sektor jasa lainnya.
4. PDRB per kapita adalah gambaran nilai tambah yang bisa diciptakan oleh masing-masing penduduk akibat dari adanya aktivitas produksi. PDRB per kapita dapat dihitung dengan membagi jumlah PDRB total Kabupaten Gunungkidul dengan jumlah penduduk Kabupaten Gunungkidul.
5. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan adalah sektor ekonomi yang melakukan kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya. Kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang termasuk dalam pertanian yaitu bercocok tanam, pembesaran hewan ternak, budidaya ikan dan budidaya tanaman tahunan.
6. Subsektor pertanian adalah pengelompokan komoditas agribisnis berdasarkan karakteristik masing-masing komoditas. Subsektor pertanian ini terdiri dari subsektor tanaman pangan, subsektor tanaman hortikultura, subsektor tanaman perkebunan, subsektor peternakan, subsektor jasa pertanian dan perburuan, subsektor kehutanan dan penebangan kayu, serta subsektor perikanan.
7. Distribusi pendapatan adalah pembagian penghasilan di dalam masyarakat.
Distribusi pendapatan mencerminkan ketimpangan atau meratanya hasil pembangunan Kabupaten Gunungkidul baik yang diterima masing-masing orang atau masing-masing daerah itu sendiri.
8. Indeks Williamson adalah alat analisis yang digunakan untuk mengukur ketimpangan pendapatan antar wilayah dengan menggunakan data PDRB per kapita sebagai data dasar.
9. Teori basis adalah suatu teori yang menyatakan bahwa daerah akan mempunyai sektor unggulan apabila daerah tersebut dapat memenangkan persaingan pada sektor yang sama dengan daerah lain sehingga dapat menghasilkan ekspor.
10. Sektor basis adalah sektor yang mampu menghasilkan surplus output untuk kegiatan ekspor ke daerah lain setelah ekspor tersebut mampu mencukupi kebutuhan Kabupaten Gunungkidul. Sektor non basis adalah sektor yang belum atau tidak mampu menghasilkan surplus output untuk kegiatan ekspor ke daerah lain, dikarenakan sektor tersebut masih defisit dalam menghasilkan output.
11. Location Quotient (LQ) adalah merupakan suatu metode analisis yang dimaksudkan untuk menentukan basis atau tidaknya suatu sektor ekonomi.
Apabila dalam nilai analisis LQ sektor pertanian (> 1) maka sektor pertanian merupakan sektor basis, sebaliknya apabila dalam nilai analisis LQ sektor pertanian (< 1) maka sektor pertanian merupakan sektor non basis.
12. Nilai LQ (βπΏπ) adalah metode yang menyediakan informasi yang bernilai apakah suatu sektor ekonomi di Kabupaten Gunungkidul meningkat atau menurun konsentrasinya secara relatif terhadap daerah lain.
13. Star (unggulan) adalah sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang saat ini lebih terkonsentrasi di kecamatan dibandingkan dengan Kabupaten Gunungkidul dan akan semakin terkonsentrasi di masa mendatang.
14. Mature (matang) adalah sektor pertanian pertanian, kehutanan, dan perikanan yang saat ini lebih terkonsentrasi di kecamatan dibandingkan dengan Kabupaten Gunungkidul, akan tetapi menjadi kurang terkonsentrasi di masa mendatang.
15. Transforming (perubahan) adalah sektor pertanian pertanian, kehutanan, dan perikanan yang saat ini kurang terkonsentrasi di kecamatan dibandingkan
dengan Kabupaten Gunungkidul dan bahkan kurang terkonsentrasi di masa mendatang.
16. Emerging (muncul) sektor pertanian pertanian, kehutanan, dan perikanan yang saat ini kurang terkonsentrasi di kecamatan dibandingkan dengan Kabupaten Gunungkidul, akan tetapi semakin terkonsentrasi di masa mendatang.
BAB III
METODE PENELITIAN A. Metode Dasar Penelitian
Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status kelompok suatu objek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki (Budiman et al., 2014). Data-data dikumpulkan kemudian disusun, dijelaskan dan kemudian dianalisis sehingga dapat digunakan untuk membuat kesimpulan yang berlaku umum. Penelitian ini menganalisis dan mendeskripsikan sejauh mana peran sektor pertanian di Kabupaten Gunungkidul dalam kaitannya dengan distribusi pendapatan.
B. Metode Penentuan Objek Penelitian
Metode pengambilan sampel dilakukan secara sengaja (purposive), yang mana objek penelitian ditetapkan secara sengaja oleh peneliti. Penetapan ini lazimnya didasarkan atas kriteria atau pertimbangan tertentu (Wiranatha, 2016).
Penentuan objek penelitian dilakukan atas potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia pada tempat tersebut.
Lokasi penelitian dilakukan di Kabupaten Gunungkidul dengan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebagai sektor utama dengan nilai kontribusi pendapatan hampir sebesar 25% dari jumlah PDRB total. Nilai tersebut tidak terlepas dari kinerja pembangunan sektor ekonomi di Kabupaten Gunungkidul. Selain itu kinerja perekonomian di tingkat kecamatan juga berpengaruh dalam menentukan ketimpangan distribusi pendapatan di Kabupaten Gunungkidul. Perlu dilakukannya analisis seberapa besar peran sektor pertanian berpengaruh dalam mengurangi ketimpangan distribusi pendapatan khususnya di wilayah kecamatan-kecamatan di Kabupaten Gunungkidul.
29
C. Jenis dan Sumber Data
Data-data yang digunakan dalam menunjang penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Data Primer
Data primer adalah data yang didapatkan dan diolah sendiri oleh peneliti melalui pengamatan secara langsung di lapangan (Ahmad, 2016).
Pada penelitian ini, data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan menggunakan daftar pertanyaan atau kuisioner. Kuisioner merupakan alat bantu yang digunakan untuk memperoleh informasi dengan memberikan suatu daftar pertanyaan kepada responden. Sumber data primer dalam penelitian ini yaitu perwakilan kelompok tani, petugas penyuluh pertanian, kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Gunungkidul, dan kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Gunungkidul.
2. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang telah tersedia dalam berbagai bentuk. Biasanya data ini lebih banyak sebagai data statistik atau data yang telah diolah sedemikian rupa sehingga siap untuk digunakan (Daniel, 2012).
Data-data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) tahun 2010 menurut lapangan usaha kurun waktu 2014-2017 masing-masing kecamatan serta PDRB Kabupaten Gunungkidul.
b. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) tahun 2010 kurun waktu tahun 2014-2017 masing-masing kecamatan serta PDRB per kapita Kabupaten Gunungkidul.
c. Kontribusi sektor ekonomi masing-masing kecamatan di Kabupaten Gunungkidul tahun 2014-2017.
d. Jumlah penduduk masing-masing kecamatan di Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2014-2017.
Data-data yang dibutuhkan diatas dapat diperoleh pada instansi terkait seperti :
a. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Gunungkidul.
b. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Gunungkidul.
c. Dinas Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Kabupaten Gunungkidul.
D. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dan informasi dalam penelitian ini dilakukan dengan cara, antara lain :
1. Wawancara
Wawancara merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mencari data. Wawancara merupakan kegiatan atau metode pengumpulan data yang dilakukan dengan bertatapan langsung dengan responden, sama seperti penggunaan daftar pertanyaan (Daniel, 2012). Wawancara dilakukan dengan pihak atau instansi terkait seperti perwakilan kelompok tani, perwakilan petugas penyuluh pertanian, pegawai Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), dan Dinas Pertanian Kehutanan dan Perikanan Kabupaten Gunungkidul. Tujuan dilakukannya wawancara untuk mengetahui kondisi Kabupaten Gunungkidul sehingga dapat memperkaya informasi sebagai pendukung dalam penelitian.
Adapun poin pertanyaan yang diajukan yaitu bagaimana upaya pemerintah dalam pemerataan distribusi pendapatan yang ada, apa saja program yang mendukung dalam pembangunan ekonomi khususnya di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, serta apa saja faktor-faktor yang mengakibatkan terjadinya ketimpangan pendapatan di Kabupaten Gunungkidul.
2. Observasi
Teknik observasi merupakan teknik pengumpulan data yang bersifat non verbal. Sekalipun dasar utama dari pada metode observasi adalah penggunaan indera visual, tetapi juga dapat melibatkan indera-indera lainnya seperti pendengaran, rabaan dan penciuman (Slamet, 2016). Teknik ini dilakukan dalam rangka untuk mengetahui kondisi pertanian yang sebenarnya
di Kabupaten Gunungkidul. Dengan kegiatan observasi ini diharapkan peneliti dapat melihat bagaimana kondisi yang sebenarnya sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan di Kabupaten Gunungkidul, melihat bagaimana infrastruktur pendukung dalam proses pemasaran hasil produksi serta apa saja peran dari sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tersebut dalam menanggulangi terjadinya ketimpangan pendapatan.
3. Pencatatan
Teknik pencatatan merupakan kelanjutan dari teknik wawancara dan observasi, dimana teknik ini mencatat atau mendokumentasikan dalam bentuk tulisan, grafik, gambar, dan suara dari data-data yang telah didapatkan setelah melakukan wawancara dan observasi. Pencatatan yang dilakukan yaitu dengan mengumpulkan informasi-informasi penting lain yang disampaikan oleh narasumber diluar pertanyaan yang sudah diberikan serta mendokumentasikan keadaan di lokasi penelitian.
E. Metode Analisis Data
1. Peran Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan dalam Mengurangi Ketimpangan Pendapatan
Ketimpangan pendapatan di Kabupaten Gunungkidul dapat dianalisis dengan menggunakan Indeks Williamson. Analisis Indeks Williamson menggunakan indikator PDRB per kapita dan data jumlah penduduk. Data tersebut dibandingkan antara daerah kecamatan dan kabupaten sehingga akan diketahui seberapa tingkat ketimpangan yang terjadi. Secara sistematis menurut Iswanto (2015) Indeks Williamson dapat dirumuskan sebagai berikut:
IW = ββni=1(YiβY)Β²(fi nβ )
Y yaitu 0 < IW < 1 Dimana :
IW = Indeks Ketimpangan Williamson Yi = PDRB per kapita kecamatan i
Y = PDRB per kapita Kabupaten Gunungkidul fi = Jumlah penduduk kecamatan i
n = Jumlah penduduk seluruh Kabupaten Gunungkidul
Untuk mengukur ketimpangan ekonomi (pendapatan) antar wilayah Indeks Williamson, IW berkisar antar 0β1
a. Bila IW < 0,3 artinya ketimpangan ekonomi wilayah rendah b. Bila IW 0,3β0,5 artinya ketimpangan ekonomi wilayah sedang c. Bila IW > 0,5 artinya ketimpangan ekonomi wilayah tinggi
2. Menentukan Kecamatan Sasaran yang akan digunakan sebagai Acuan dalam Meningkatkan Subsektor dengan Kategori Star
Kaitannya untuk menentukan kecamatan sasaran guna meningkatkan subsektor yang berkategori Star di kecamatan tersebut untuk mengurangi ketimpangan pendapatan di Kabupaten Gunungkidul juga dilakukan dengan analisis Indeks Williamson. Perbedaannya dalam perhitungan ini hanya menggunakan PDRB perkapita sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan di Kabupaten Gunungkidul. PDRB perkapita sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masing-masing kecamatan dikurangi dengan PDRB perkapita Kabupaten Gunungkidul hasilnya negatif (-) maka kecamatan itulah yang terpilih menjadi kecamatan sasaran yang selanjutnya akan dianalisis subsektor yang berkategori Star di kecamatan tersebut. Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut :
IW = ββni=1(YiβY)Β²(fi nβ )
Y yaitu 0 < IW < 1 Dimana :
IW = Indeks Ketimpangan Williamson
Yi = PDRB per kapita kecamatan i hanya sektor pertanian
Y = PDRB per kapita Kabupaten Gunungkidul hanya sektor pertanian fi = Jumlah penduduk kecamatan i
n = Jumlah penduduk seluruh Kabupaten Gunungkidul
3. Identifikasi Subsektor Pertanian berdasarkan Pendekatan Location Quotient (LQ) dan βLQ
Teknik LQ merupakan salah satu pendekatan yang umum digunakan dalam model ekonomi basis sebagai langkah awal untuk memahami sektor
kegiatan yang menjadi pemicu pertumbuhan. LQ mengukur konsentrasi relatif atau derajat spesialisasi kegiatan ekonomi melalui pendekatan perbandingan. Teknik LQ banyak digunakan untuk membahas kondisi perekonomian, mengarah pada identifikasi spesialisasi kegiatan perekonomian atau mengukur konsentrasi relatif kegiatan ekonomi untuk mendapatkan gambaran dalam penetapan sektor unggulan sebagai leading sektor suatu kegiatan ekonomi industri. Dasar pembahasannya sering difokuskan pada aspek tenaga kerja dan pendapatan.
Menurut Sambidi (2008), secara matematis metode Location Quotient (LQ) dapat dirumuskan sebagai berikut :
LQ =
πΈπ πΈ ππ
π
β Keterangan :
Ei = nilai PDRB subsektor pertanian, kehutanan, dan perikanan di kecamatan x
E = total PDRB di kecamatan x
Ni = nilai PDRB subsektor pertanian, kehutanan, dan perikanan di Kabupaten Gunungkidul
N = total PDRB Kabupaten Gunungkidul
Jika hasil perhitungan di formulasi di atas menghasilkan:
a. LQ > 1 artinya, subsektor itu menjadi basis atau menjadi sumber pertumbuhan. Suatu subsektor memiliki keunggulan komparatif, hasilnya tidak saja dapat memenuhi kebutuhan di wialyah bersangkutan akan tetapi juga dapat diekspor ke luar wilayah.
b. LQ = 1 artinya subsektor itu tergolong non basis, tidak memiliki keunggulan komparatif. Produksinya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan wilayah sendiri dan tidak mampu untuk diekspor.
c. LQ < 1 artinya subsektor ini juga termasuk non basis. Produksi subsektor pertanian, kehutanan, dan perikanan di wilayah tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan sendiri sehingga perlu pasokan atau impor dari luar.
Metode Perubahan Nilai LQ (βπΏπ) adalah metode yang menyediakan informasi yang bernilai apakah suatu subsektor pertanian pada suatu daerah meningkat atau menurun konsentrasinya secara relatif terhadap daerah lain.
Untuk menghasilkan nilai perubahan LQ (βπΏπ) tersebut, menurut Sambidi (2008) dapat dicari dengan rumus sebagai berikut :
βLQ = πΏππ‘+1βπΏππ‘
πΏππ‘
β βLQ
Keterangan
βLQ : Perubahan nilai LQ
LQt+1 : Nilai LQ tahun berikutnya (tahun t + 1) LQt : Nilai LQ tahun t
β βLQ : penjumlahan βπΏπ untuk menentukan kategori subsektor
Sambidi (2008) mengatakan bahwa dari hasil (βπΏπ) tersebut, sektor ekonomi dapat dikategorikan menjadi 4 kategori. Kategori β kategori tersebut diklasifikasikan dangan tabel berikut ini :
Tabel 4. Kategori-Kategori Menurut βπΏπ Mature
Nilai LQ > 1 dan nilai βπΏπ negatif
Star
Nilai LQ > 1 dan nilai βπΏπ positif Transforming
Nilai LQ < 1 dan nilai βπΏπ negatif
Emerging
Nilai LQ < 1 dan nilai βπΏπ positif a. Star (unggulan) : (jika LQ > 1 dan ΞLQ positif) maka subsektor pertanian,
kehutanan, dan perikanan di kecamatan tersebut lebih terkonsentrasi saat ini dibandingkan dengan Kabupaten Gunungkidul dan semakin terkonsentrasi di masa mendatang.
b. Mature (matang) : (jika LQ > 1 dan ΞLQ negatif) maka subsektor pertanian, kehutanan, dan perikanan di kecamatan tersebut lebih terkonsentrasi saat ini dibandingkan dengan Kabupaten Gunungkidul, tetapi menjadi kurang terkonsentrasi di masa mendatang.
c. Transforming (perubahan) : (jika LQ < 1 dan ΞLQ negatif) maka subsektor pertanian, kehutanan, dan perikanan di kecamatan tersebut
kurang terkonsentrasi saat ini dibandingkan dengan Kabupaten Gunungkidul dan bahkan kurang terkonsentrasi di masa mendatang.
d. Emerging (muncul) : (jika LQ < 1 dan ΞLQ positif) maka subsektor pertanian, kehutanan, dan perikanan di kecamatan tersebut kurang terkonsentrasi saat ini dibandingkan dengan Kabupaten Gunungkidul, akan tetapi semakin terkonsentrasi di masa mendatang.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Kabupaten Gunungkidul
1. Kondisi Geografis a. Keadaan Alam
Luas wilayah Kabupaten Gunungkidul adalah 1.485,36 km2 atau sekitar 46,63% dari luas wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ibukota Kabupaten Gunungkidul yaitu Kota Wonosari. Kota Wonosari terletak di sebelah tenggara Kota Yogyakarta dengan jarak Β± 39 km.
Kabupaten Gunungkidul terdiri dari 18 kecamatan, 144 desa, 1416 dusun, 1583 RW, dan 6844 RT. Kecamatan yang ada di Kabupaten Gunungkidul antara lain Kecamatan Panggang, Purwosari, Paliyan, Saptosari, Tepus, Tanjungsari, Rongkop, Girisubo, Semanu, Ponjong, Karangmojo, Wonosari, Playen, Patuk, Gedangsari, Nglipar, Ngawen, dan Semin.Kecamatan Semanu merupakan kecamatan terluas dengan luas sekitar 108,39 km2 atau sekitar 7,30 persen luas Kabupaten Gunungkidul.
Kabupaten Gunungkidul merupakan kabupaten di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak paling ujung timur, yang mana secara administratif berbatasan dengan :
Sebelah Utara : Kabupaten Klaten dan Kabupaten Sukoharjo Provinsi Jawa Tengah
Sebelah Timur : Kabupaten Wonogiri Provinsi Jawa Tengah Sebelah Selatan : Samudera Indonesia
Sebelah Barat : Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Berdasarkan tipologinya, Kabupaten Gunungkidul terbagi menjadi tiga zona dengan arah pengembangan yang berbeda-beda, yaitu:
1) Zona Utara (Zona Batur Agung) memiliki ketinggian 200-700 mdpal. Bentang alamnya berbukit-bukit dan terdapat sungai di atas
37
permukaan tanah. Arah pengembangan zona utara yaitu ke bidang pertanian serta sebagai daerah konservasi sumber daya air. Zona utara terdiri dari Kecamatan Patuk, Nglipar, Gedangsari, Ngawen, Semin, dan Ponjong Utara.
2) Zona Tengah (Zona Ledoksari) memiliki ketinggian 150-200 mdpal.
Terdapat sungai di atas tanah meskipun airnya kering saat musim kemarau, namun masih terdapat sumber mata air dan terdapat air tanah yang dapat digali pada kedalaman 60-120 meter dari permukaan tanah. Zona tengah diarahkan untuk pengembangan pertanian, ekowisata, industri rumah tangga dan manufaktur, taman hutan rakyat, serta wisata pra sejarah. Zona tengah terdiri dari Kecamatan Playen Selatan, Paliyan Utara, Wonosari, Karangmojo, Semanu Utara, dan Ponjong Selatan.
3) Zona Selatan (Zona Karst Gunungsewu) dengan ketinggian 100-300 mdpal. Keadannya berbukit-bukit kapur serta banyak telaga genangan air hujan, tidak terdapat sungai di atas tanah namun banyak ditemukan sungai bawah tanah. Arah pengembangan zona selatan adalah untuk budidaya pertanian lahan kering, perikanan laut, ekowisata karst, serta akomodasi wisata seperti penginapan, hotel, dan restoran. Zona selatan terdiri dari Kecamatan Purwosari, Rongkop, Panggang, Paliyan Selatan, Saptosari, Semanu Selatan, Tanjungsari, Tepus, dan Girisubo.
Pada Kabupaten Gunungkidul terdapat 5 macam jenis tanah, antara lain : (1) Mediteran yaitu tanahnya tidak subur, terbentuk dari pelapukan batu kapur, terdapat masalah dalam ketersediaan air. (2) Regosol yaitu Tanah berbukit kasar berasal dari material gunung api.
Tanah ini sangat cocok untuk ditanami padi, tebu, palawija, tembakau dan sayuran. (3) Latosol yaitu Berwarna merah hingga kuning, Tanah ini cocok untuk tanaman palawija, padi, kelapa, karet, kopi, dll. (4) Grumosol yaitu Terbentuk dari material halus berlempung. Berwarna kelabu hitam dan bersifat subur. (5) Rendzina yaitu Tanah ini merupakan
hasil pelapukan batuan kapur di daerah dengan curah hujan tinggi. Ciri tanah ini yaitu berwarna hitam dan miskin zat hara.
Penggunaan lahan di Kabupaten Gunungkidul terdiri dari lahan sawah sebesar 7.865 Ha, lahan pekarangan/bangunan sebesar 25.419 Ha, lahan tegalan/ladang/kebun sebesar 67.199 Ha, lahan kolam/tambak sebesar 103 Ha, lahan hutan rakyat sebesar 24.968 Ha, lahan hutan negara sebesar 13.717 Ha dan lahan yang belum difungsikan sebesar 9.265 Ha. Penggunaan lahan yang paling mendominasi di Kabupaten Gunungkidul adalah lahan tegalan/ladang/kebun. Penggunaan lahan sebagai tegalan/ladang/kebun tersebut dikarenakan mayoritas penduduk Kabupaten Gunungkidul bekerja di bidang pertanian. Hal itu menunjukkan bahwa lahan terbangun yang ada di Kabupaten Gunungkidul lebih sedikit dibandingkan dengan lahan non terbangun.
b. Keadaan Iklim
Keadaan iklim di Kabupaten Gunungkidul sama dengan kabupaten-kabupaten lainnya di Indonesia yang pada umunya memiliki dua musim yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Musim penghujan terjadi ada bulan Oktober sampai Mei, sedangkan musim kemarau terjadi pada bulan Juni sampai September. Musim yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh pergerakan angin, dimana angin yang terjadi pada bulan Oktober sampai Mei berasal dari barat. Pergerakan angin tersebut melewati lautan sehingga membawa butiran-butiran air yang nantinya akan menjadi hujan. Sedangkan pada bulan Juni sampai September angin berasal dari timur yang mana pergerakan angin melewati daratan. Hal tersebut yang menyebabkan terjadinya musim kemarau.
Berdasarkan klimatologi, curah hujan rata-rata Kabupaten Gunungkidul sebesar 1720,86 mm/tahun dengan jumlah hari hujan rata-rata 115 hari per tahun. Bulan basah 4β6 bulan, sedangkan bulan kering berkisar antara 4β5 bulan. Musim hujan dimulai pada bulan Oktoberβ
November dan berakhir pada bulan Mei-Juni setiap tahunnya. Puncak
curah hujan dicapai pada bulan DesemberβFebruari. Wilayah Kabupaten Gunungkidul bagian utara merupakan wilayah yang memiliki curah hujan paling tinggi dibanding wilayah tengah dan selatan, sedangkan wilayah Gunungkidul selatan mempunyai awal hujan paling akhir.
c. Sumber Daya Alam
Kabupaten Gunungkidul memiliki sumber daya alam yang melimpah. Sumber daya alam tersebut terbagi menjadi sumber daya pertanian dan non pertanian. Pada Tahun 2017, sebagian besar produksi padi di Kabupaten Gunungkidul dihasilkan dari jenis padi ladang. Luas panen padi ladang mencapai 43.850 hektar atau sekitar 74,07 persen dari luas panen keseluruhan, sedangkan sebesar 15.347,20 hektar atau 25,93 persen merupakan padi sawah. Sumber daya alam yang dimiliki oleh setiap daerah dapat dijadikan oleh pemerintah sebagai pendorong kegiatan ekonomi di daerah tersebut. Berikut adalah potensi sumber daya alam yang dimiliki Kabupaten Gunungkidul.
Tabel 5. Luas Penggunaan Lahan Masing-masing Kecamatan di Kabupaten Gunungkidul tahun 2017 (hektar)
No Kecamatan
Sumber : BPS Kabupaten Gunungkidul, 2018
Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui sumber daya alam yang dimiliki Kabupaten Gunungkidul, dimana sumber daya tersebut terbagi atas lahan sawah irigasi, lahan sawah non irigasi, lahan tegal/kebun, dan lahan yang sementara tidak diusahakan. Luasan lahan sawah irigasi di Kabupaten Gunungkidul sebesar 2.189 hektar, lahan sawah non irigasi sebesar 5.674 hektar, lahan tegal/kebun sebesar 65.713 hektar, dan lahan yang sementara tidak diusahakan sebesar 1.728 hektar. Sumber daya alam yang dimanfaatkan paling besar yaitu lahan tegal/kebun. Hal tersebut dikarenakan kandungan unsur hara pada lahan tegal/kebun dinilai sangat banyak dan umumnya mudah untuk perawatan budidaya sehingga cocok untuk ditanami berbagai komoditas pertanian.
Sumber daya alam di Kabupaten Gunungkidul terbagi atas kecamatan-kecamatan yang ada pada wilayahnya. Wilayah dengan penggunaan lahan sawah irigasi tertinggi terdapat pada Kecamatan
Sumber daya alam di Kabupaten Gunungkidul terbagi atas kecamatan-kecamatan yang ada pada wilayahnya. Wilayah dengan penggunaan lahan sawah irigasi tertinggi terdapat pada Kecamatan