BAGIAN III METODE PENELITIAN
3.4 Definisi Operasional Variabel
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu X dan Y, yang terdiri dari: Variabrl X : Teknik Assertive training
Variabel Y : Pemahaman Perilaku Seksual Sehat Remaja Putri
Sebagai upaya menghindari terjadinya kesalahpahaman dalam menafsirkan, maka definisi operasional masing-masing variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
3.4.1 Teknik Assertive training
Teknik assertive training pada penelitian ini didefinisikan sebagai upaya konselor dalam membantu siswi kelas XI SMA Laboratorium (Percontohan) UPI Bandung untuk meningkatkan pemahaman perilaku seksual sehat siswi untuk dapat bersikap tegas dalam menghadapi faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual tidak sehat dan dapat menolak ajakan pasangannya untuk melakukan hubungan perilaku seksual tidak sehat, seperti: berpegangan tangan, berpelukan, berangkulan, berciuman, bercumbuan, berhubungan badan. Dengan teknik ini siswi dilatih untuk dapat berkata tidak, agar siswi mampu bersikap tegas dan teguh terhadap pendiriannya untuk mengendalikan diri dan menolak rayuan pasangan yang mengajak untuk melakukan perilaku seksual tidak sehat.
Berikut ini dijelaskan langkah-langkah dalam melakukan teknik assertive
training menurut Joyce & Weil (1980, hlm. 429) yang merumuskan lima tahapan
latihan asertif yaitu sebagai berikut:
1) Mengidentifikasi perilaku target
Mengidentifikasikan perilaku target terjadi pada saat mendiskusikan situasi dimana mereka memiliki beberapa kesulitan mengekspresikan perasaan
dan mengidentifikasi jenis perasaan yang bermasalah. Pengidentifikasian bertujuan agar siswa mengetahui perilaku dan perasaan yang bermasalah dan perlu diperbaiki.
2) Menetapkan prioritas untuk situasi dan perilaku
Setelah pengidentifikasian perilaku yang akan dirubah maka perlu ditetapkan prioritas dalam pemilihan situasi. Prioritas ini perlu mencakup dua hal yang situasi dan jenis perasaan bahwa mereka memiliki kesulitan dalam mengekspresikan perasaannya dalam situasi yang tepat. prioritas ini memberikan dasar untuk memilih situasi dan perasaan yang akan dilakukan untuk berkonsentrasi pada langkah pertama. Dalam langkah kedua ini target dilatih untuk mengungkapkan perasaannya dalam bentuk ucapan atau kata-kata yang berisi hal logis dan tidak bertele-tele.
3) Memerankan situasi
Peserta didik akan terlibat dalam perilaku latihan atau bermain peran. Pemeranan situasi atau bermain peran ini perlu diakukan agar peserta didik mempelajari perilaku mana yang perlu diubah. Setelah diskusi tentang bermain peran mungkin dimodifikasi sehingga ekspresi perasaan akan menjadi baik memadai dan dapat diterima secara sosial, pemeran memberlakukan situasi kembali, kali ini dengan beberapa ekspresi perasaan. Diberlakukannya ini diikuti oleh beberapa orang lain dimana peserta didik (dan mungkin guru) dapat mengungkapkan secara memadai dalam situasi tersebut. Terutama ketika perasaan bertentangan yang akan diungkapkan atau ketika salah satu kebutuhan untuk mengganggu perilaku orang lain, guru dapat memimpin diskusi tentang berbagai macam tanggapan yang relatif tidak agresif tetapi efektif yang dapat dibuat dalam situasi sosial.
4) Pengulangan
Pada fase empat, pengulangan lebih lanjut dilakukan. Pengulangan perlu dilakukan agar siswa terbiasa dengan perilaku baru yang telah dipelajari pada fase sebelumnya. Peserta didik mempraktekkan perilaku baru dan mengamati berbagai gaya asertif. Mereka saling memberikan umpan balik lain pada cara untuk menjadi lebih efektif, dan secara bertahap unsur-unsur ekspresi yang jelas dari perasaan dan ketegasan dibuat eksplisit.
Asumsi dari model ini adalah peserta didik akan belajar perilaku baru dan mulai mentransfernya atau mengaplikasikan ke situasi kehidupan nyata mereka. Dalam tahap keempat ini, akan diberlakukan umpan balik antara target dan kelompok pengamat. Umpan balik ini terkait dengan komitmen dalam berekspresi.
5) Memindahkan pada situasi nyata
Konselor perlu menyadari tidak semua konsekuensi akan positif. Beberapa peserta didik akan menemukan mereka bisa lebih nyaman meminta pergi dari situasi ini. Orang lain akan mengekspresikan perasaan mereka dengan seseorang dan kemungkinan akan ditolak.
3.4.2 Pemahaman Perilaku Seksual Sehat Remaja
Perilaku seksual remaja merupakan bagian dari tahapan perkembangan manusia dari anak-anak menuju remaja, pengaruh internal dan eksternal berupa kurangnya pengarahan dan informasi mengenai perilaku seksual memiliki dampak pada remaja untuk melakukan perilaku seksual tidak sehat yang merupakan salah satu perilaku menyimpang yang dilakukan sebelum menikah. Perilaku ini berdampak negatif untuk remaja yang melakukannya sehingga remaja harus memiliki pemahaman mengenai perilaku seksual sehat agar tidak terjerumus untuk melakukan perilaku seksual tidak sehat. Untuk dapat mencapai tahap pemahaman terhadap perilaku seksual sehat siswi harus mempunyai pengetahuan terhadap konsep perilaku seksual tersebut.
Dalam penelitian ini pemahaman perilaku seksual sehat yang dimaksud adalah mengerti dengan tepat serta mampu mempertahankan pemahamannya yang tepat mengenai perilaku seksual sehat yang dilakukan siswi kelas XI SMA Laboratorium (Percontohan) UPI Bandung untuk memenuhi dorongan seksual yang dilakukan berdasarkan pertimbangan sehat menurut aspek fisik, psikologis, sosial. Dorongan seksual tersebut dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal yang merupakan faktor penyebab munculnya perilaku seksual.
Perilaku seksual sehat secara fisik, psikologis, dan sosial yang di maksud adalah: Sehat secara fisik, artinya tidak tertular dari penyakit, tidak menyebabkan kehamilan sebelum menikah, tidak menyakiti dan merusak kesehatan diri sendiri dan orang lain. Sehat secara psikologis, artinya mempunyai integrasi yang kuat
(kesesuaian antara nilai, sikap dan perilaku), percaya diri, menguasai informasi yang benar tentang seksualitas manusia. Selain itu, sehat secara sosial artinya mampu mempertimbangkan nilai-nilai sosial dan norma-norma agama yang ada di sekitarnya dalam menampilkan perilaku tertentu, menunjukan adanya penghargaan baik terhadap diri sendiri ataupun orang lain, mampu mengendalikan dan mengontrol diri, mempertahankan diri dari tekanan teman sebaya atau pacar dari hal-hal negatif dan memahami konsekuensi tingkah laku dan siap menerima resiko tingkah lakunya (bertanggung jawab). Adapun indikator pemahaman perilaku seksual adalah sebagai berikut:
1) Sehat secara fisik
a. Memelihara kondisi fisik untuk menarik lawan jenis. b. Memelihara kesehatan fisik dan organ reproduksi.
c. Bagaimana menjaga fisik saat libido seksualitas meningkat. 2) Sehat secara Psikologis
a. Merasakan perubahan psikologis berkaitan dengan perkembangan seksual remaja.
b. Memiliki pengetahuan berkaitan dengan perkembangan seksual remaja. c. Memiliki integrasi yang kuat antara sikap yang dikembangkan dengan
perilaku yang dimunculkan berdasarkan nilai yang benar tentang seks. d. Menerima kondisi fisik.
e. Memiliki pengendalian diri terhadap dorongan seksual. f. Menghindari diri dari perilaku seksual yang menyimpang. g. Memiliki kemampuan sosial kognitif
3) Sehat secara sosial
a. Menghargai diri sendiri. b. Menghargai orang lain.
c. Menerima segala resiko sosial yang ditimbulkan akibat dari keputusan seksual yang diambil.
d. Penundaan usia perkawinan
e. Menghindari pembicaraan tentang seks f. Mempelajari informasi tentang seksual sehat g. Menjaga diri dari pergaulan bebas
h. Membatasi diri dari pengaruh negatif media
3.5 Pengembangan Instrumen Penelitian dan Program Bimbingan