BAB I PENDAHULUAN
F. Definisi Operasional Variabel
Angka Partisipasi Murni adalah proporsi jumlah anak yang menempuh pendidikan SMA pada usia 16-18 tahun yang sedang bersekolah pada jenjang pendidikan SMA terhadap jumlah seluruh anak pada kelompok usia 16-18 tahun.
Rumus perhitungan APM
APM = x 100%
Keterangan :
Tingkat SMA: Kelompok usia 16-18 tahun 2. Jumlah Perpustakaan (X1)
Jumlah perpustakaan adalah banyak sedikitnya perpustakaan yang dimiliki untuk setiap jenjang pendidikan. Variabel ini diukur dengan melihat persentase perpustakaan tingkat SMA tahun 2018.
3. Kondisi Ruang Kelas (X2)
Kondisi ruang kelas adalah keadaan ruang kelas yang digunakan siswa selama proses belajar mengajar di kelas. Variabel ini diukur dengan melihat persentase ruang kelas yang termasuk kondisi baik untuk jenjang SMA tahun 2018. Indikator kondisi ruang kelas yang baik adalah ruang kelas yang memiliki fasilitas pencahayaan yang cukup baik untuk membaca, memiliki pintu yang
tahun
memadai, terdapat meja kursi siswa dan guru, rak buku, alat peraga, papan tulis, tempat samah, tempat cuci tangan, jam dinding dan soket listrik (Wiyani, 2013).
Selain itu, jumlah siswa dalam setiap kelasnya. Permendikbud No. 17 Tahun 2017 mengatur bahwa pada atas 20-36 siswa. (BPS, 2018).
4. Rasio Murid-Guru (X3)
Rasio murid-guru merupakan perbandingan antara jumlah murid dengan jumlah guru yang mengajar pada tiap jenjang pendidikan. Variabel diukur dengan melihat rasio murid-guru untuk jenjang SMA tahun 2018. Rasio murid-guru untuk jenjang pendidikan SD, SMP dan SMA menurut PP No. 24 Tahun 2008 Pasal 17 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah adalah 20:1. Artinya 1 guru bertanggung jawab terhadap 20 murid.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kualitas Sumber Daya Manusiasebagai Kunci Keberhasilan Pembangunan
Sumber daya manusia mempunyai dua pengertian. Pertama, sumber daya manusia sebagai usaha kerja atau jasa yang bisa diberikan dalam suatu proses produksi. Hal ini mencerminkan kualitas usaha yang diberikan oleh seseorang dalam periode tertentu untuk menghasilkan barang dan jasa. Kedua, sumber daya manusia terkait kemampuan manusia dalam bekerja untuk memberikan jasa atau usaha kerja tersebut. Mampu bekerja menunjukkan bahwa seseorang dapat melakukan kegiatan yang memiliki nilai ekonomis, yaitu menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia (Sumarsono, 2009).
Hasiani (2015) menyebutkan bahwa kualitas sumber daya manusia berkaitan dengan mutu sumber daya manusia dan kemampuannya, baik kemampuan fisik ataupun kemampuan non fisik.Kualitas sumber daya manusia ini meliputi aspek fisik (kualitas fisik) dan aspek non fisik (kualitas non fisik) yang meliputi kemampuan bekerja, berfikir dan berketerampilan. Oleh karena itu, usaha untuk meningkatkan kualitas fisik bisa dilakukan dengan program kesehatan dan gizi. Adapun untuk meningkatkan kualitas non fisik dapat dilakukan dengan meningkatkan pendidikan dan pelatihan (Notoatmodjo, 2003).
Sumber daya manusia yang berkualitas bagi setiap negara, terutama bagi negara-negara berkembang adalah faktor yang memegang peranan penting dalam usaha untuk mengejar ketertinggalan pembangunan dari negara lainnya. Sumber
10
daya manusia yang berkualitas sangat dibutuhkan untuk menunjang keberhasilan dalam pembangunan. Hal ini dikarenakan pada era informasi dan teknologi seperti saat ini, sumber daya manusia yang mampu menguasai teknologi dengan baik, akan berdampak pada berhasilnya pembangunan itu sendiri. Dengan penguasaan teknologi, maka akan mendorong terjadinya inovasi teknologi, sehingga akan tercipta produk-produk baru dan cara produksi yang lebih efisien. Hal ini akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, sebagai indikator dari keberhasilan pembangunan yang dilihat dari meningkatnya kesejahteraan, kesempatan kerja yang luas, produktivitas dan distribusi pendapatan (Hasiani, 2015).
B. Kebijakan Pendidikan untuk Peningkatan Kualitas SDM
Menurut The New Growth Theory, kecepatan perkembangan teknologi bisa dilihat dari akumulasi modal manusia yang diukur dari pendidikan, keterampilan dan pengalaman yang didapat selama manusia itu bekerja. Negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi pesat umumnya diawali dengan kualitas SDM yang tinggi yang diukur dengan rasio pendidikan terhadap pendapatan nasional. Pendidikan berperan pada pertumbuhan ekonomi, berdasarkan asumsi bahwa pendidikan akan melahirkan tenaga kerja yang produktif, karena mempunyai kompetensi, pengetahuan dan keterampilan yang cukup. Dengan demikian peran pendidikan adalah menyediakan tenaga kerja yang terdidik, terampil, berpengetahuan dan mempunyai kompetensi tinggi, sehingga lebih produktif. Tenaga kerja yang produktif akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi merupakan indikator keberhasilan
pembangunan nasional (Dariah, 2004). Di lain pihak, tenaga kerja yang produktif dihasilkan oleh pendidikan yang berkualitas.
Pendidikan berperan penting dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu perlu disusun paradigma yang baik dalam pembangunan pendidikan. Hal ini tertuang dalam Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2015-2019 yang terdapat dalam Permendikbud RI No. 12 tahun 2018, yaitu:
1. Pendidikan untuk semua
Menurut amanat konstitusi, setiap masyarakat berhak untuk mengakses pendidikan dan tidak dibatasi oleh usia, tempat dan waktu. Pemerintah juga harus tetap berpihak kepada peserta didik yang mempunyai hambatan fisik, mental, ekonomi, sosial atau geografis.
2. Pendidikan sepanjang hayat
Pendidikan adalah proses yang terjadi seumur hidup, sejak lahir sampai akhir hayat. Penyelenggaraan pendidikan harus terbuka dan fleksibel terhadap pilihan serta waktu untuk menyelesaikan program pendidikan melalui lintas satuan dan jalur pendidikan.
3. Pendidikan sebagai suatu gerakan
Pendidikan memang tanggung jawab pemerintah. Namun, semua pihak bisa ikut berperan dalam penyelenggaraan pendidikan sehingga hasilnya menjadi optimal. Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu gerakan yang mempersatukan semua potensi yang dimiliki dan peran aktif dari semua lapisan masyarakat.
4. Pendidikan menghasilkan pembelajar
Pendidikan diselenggarakan dengan perlakuan, fasilitas dan memberi dorongan kepada siswa untuk menjadi subjek pembelajar yang mandiri, penuh tanggung jawab, kreatif dan inovatif. Pendidikan diusahakan menghasilkan insan yang menyukai belajar dan mampu belajar yang tinggi. Pembelajar juga dapat menyesuaikan dan memberikan respon yang baik terhadap tantangan baru.
5. Pendidikan membentuk karakter
Pendidikan harus mempunyai orientasi pada pembudayaan, pemberdayaan dan membentuk kepribadian. Seorang siswa dikatakan mempunyai kepribadian yang unggul bila mempunyai ciri jujur, mempunyai akhlak yang mulia, mandiri, dan cakap dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
6. Sekolah yang menyenangkan
Sekolah merupakan suatu ekosistem, dimana di dalamnya terjalin hubungan yang saling tergantung antara manusia dengan lingkungannya. Sekolah harus menjadi tempat yang membuat seseorang merasa senang untuk melakukan interaksi di dalamnya, baik antar siswa, dengan guru, ataupun orang tua siswa.
7. Pendidikan membangun kebudayaan
Pendidikan berhubungan erat dengan kebudayaan. Pendidikan pada dasarnya adalah proses membangun kebudayaan. Di lain pihak, pelestarian dan pengelolaan kebudayaan adalah untuk menegaskan jati diri dan karakter bangsa Indonesia.
Tingkat pendidikan yang tinggi mencerminkan pola pikir dan peradaban masyarakat yang juga tinggi. Sebaliknya bila tingkat pendidikan rendah, maka
diasumsikan pola pikir dan peradaban masyarakatnya juga rendah, sehingga akan menghambat pembangunan (Sugiharto, 2013). Oleh karena itu, kebijakan pendidikan yang berkualitas sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Salah satuindikator dari pendidikan yang berkualitas adalah tingginya Angka Partisipasi Sekolah (APS). APS merupakan persentase penduduk yang sekolah sesuai kelompok usia. BPS membagi kategori menjadi usia 7 — 12 tahun, 13 — 15 tahun, 16 — 18 tahun dan 19 — 24 tahun. APS meliputi Angka Partisipasi Kasar dan Angka Partisipasi Murni (BPS, 2016). Penelitian ini memfokuskan pada Angka Partisipasi Murni (APM).
C. Angka Partisipasi Murni sebagai Indikator Pendidikan
Angka Partisipasi Murni (APM) adalah proporsi penduduk yang sekolah menurut usia dan jenjang pendidikannya (BPS, 2016). Sesuai dengan tujuan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan, maka diperlukan suatu indikator yang menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di suatu daerah sudah baik, misalnya dengan melihat peningkatan jumlah peserta didik. Peningkatan jumlah peserta didik bisa dimaknai sebagai peningkatan partisipasi sekolah.
Indikator yang digunakan untuk melihat partisipasi masyarakat terhadap pendidikan adalah Angka Partisipasi Murni (APM). Hal ini dikarenakan, APM memperlihatkan seberapa besar daya serap penduduk usia sekolah pada setiap tingkat pendidikan. Selain itu, APM juga sebagai daya serap yang lebih baik, karena melihat partisipasi masyarakat kelompok usia standar pada tingkat pendidikan yang sesuai dengan standar yang ditetapkan (Elfarabi, 2018).
Rumus perhitungan APM
APM = x 100%
D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Angka Partisipasi Murni (APM) Pujianto dam Listyaningsih (2015) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi APM antara lain:
1. Faktor keberadaan sekolah
Keberadaan sekolah merupakan akses penduduk usia sekolah menuju sekolah.
2. Faktor kesadaran masyarakat
Masyarakat suatu daerah mengerti akan pentingnya pendidikan 3. Faktor kondisi ekonomi (kemiskinan)
Akses dan pemerataan pendidikan dipengaruhi oleh kemiskinan. Hal ini sesuai dengan definisi dari United Nations Development Program (UNDP) yang mendefinisikan kemiskinan sebagai kelaparan, ketidakadaan tempat berlindung, tidak memiliki akses ke sekolah dan buta huruf
Rahmatin dan Soejoto (2017) menyebutkan bahwa tingkat kemiskinan dan jumlah sekolah mempengaruhi Angka Partisipasi Sekolah. Aulia dan Yulhendri (2020) menyebutkan bahwa partisipasi pendidikan dipengaruhi oleh jumlah guru, dan jumlah kelas.
Berdasarkan uraian di atas, maka faktor-faktor yang mempengaruhi APM adalah pendapatan per kapita, tingkat melek huruf, jumlah sekolah, tingkat urbanisasi penduduk, rasio guru-murud, biaya pendidikan, pengeluaran
tahun
pemerintah di bidang pendidikan, tingkat kemiskinan, jumlah guru dan jumlah kelas. Penelitian ini memfokuskan pada faktor jumlah perpustakaan, kondisi ruang kelas dan rasio murid-guru (Yulhendri, 2020; Rahmatin dan Soejoto, 2017;
Elfarabi, 2018).
1. Jumlah Perpustakaan
Perpustakaan merupakan suatu ruangan yang berisi berbagai jenis buku yang disusun dan diatur sedemikian rupa, sehingga pembaca mudah mencarinya saat ingin membaca (Sutarno, 2006). Undang-Undang No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, menyebutkan bahwa dalam rangka meningkatkan kecerdasan kehidupan bangsa, perlu dituumbuhkan budaya gemar membaca melalui pengembangan dan pendayagunaan perpustakaan sebagai sumber informasi. Oleh karena itu, dalam Permendiknas No. 24 Tahun 2007 disebutkan bahwa salah satu standar sarana dan prasarana sekolah adalah adanya perpustakaan. Perpustakaan diharapkan dapat menjadi sarana dan prasarana yang bisa menunjang proses belajar mengajar di sekolah demi terwujudnya pendidikan Indonesia yang berkualitas sehingga dapat mencerdaskan kehidupan bangsa (BPS, 2018).
2. Kondisi Ruang Kelas
Fasilitas belajar yang aman menjadi satu pilar untuk memastikan sekolah yang aman bagi siswa. Penyediaan sarana prasarana sekolah yang sesuai standar mutu pendidikan akan mendukung proses pembelajaran yang kondusif (BPS, 2018). Kelas dalam arti sempit adalah ruangan yang dibatasi oleh empat dinding, terdapat sejumlah siswa yang berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar. Ruang kelas dalam arti luas berarti ruang yang terdapat di dalam
bangunan dan menjadi tempat berlangsungnya proses belajar mengajar, sedangkan dalam arti sempit ruang kelas berarti ruang yang terdapat di kelas dengan fungsi sebagai sarana dalam proses belajar mengajar antara guru dengan siswa (Karwati dan Priansa, 2014). Ruang kelas yang baik harus mempunyai fasilitas yang memungkinkan cahaya dapat masuk sehingga siswa dapat membaca buku dan memberikan pandangan ke luar ruangan. Selain itu, ruang kelas juga harus mempunyai pintu yang memadai agar siswa dan guru dapat segera keluar kelas apabila terjadi bahaya dan ruang kelas bisa dikunci bila tidak digunakan. Sarana kelas meliputi kursi dan meja untuk siswa, kursi dan meja untuk guru, lemari, rak buku, alat peraga, papan tulis, tempat sampah, tempat cuci tangan, jam dinding dan soket listrik (Wiyani, 2013).Kondisi ruang kelas yang baik, juga berkaitan dengan rasio rombongan belajar.
Permendikbud No. 17 Tahun 2017 mengatur bahwa pada jenjang SD, satu rombel idealnya terdiri dari 20-28 siswa, jenjang SMP satu rombel idealnya terdiri atas 20-32 siswa, jenjang SMA terdiri atas 20-36 siswa, sedangkan SMK 15-36 siswa.
3. Rasio Murid-Guru
Rasio murid-guru menunjukkan gambaran supply side penentu Angka Partisipasi Sekolah, semakin rendah rasio murid-guru menunjukkan semakin banyak guru yang tersedia. Apabila jumlah guru semakin banyak maka akan memudahkan masyarakat untuk mengikuti program pendidikan dan akhirnya akan berdampak pada meningkatnya kesejahteraan (Elfarabi, 2018). Rasio murid-guru untuk jenjang pendidikan SD, SMP dan SMA menurut PP No. 24 Tahun 2008
Pasal 17 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah adalah 20:1.
Artinya 1 guru bertanggung jawab terhadap 20 murid.
E. Penelitian Sebelumnya
Elfarabi (2018) yang meneliti tentang analisis faktor-faktor yang mempengaruhi Angka Partisipasi Sekolah di Indonesia, menunjukkan hasil bahwa derajat desentralisasi fiskal dan pengeluaran pemerintah tidak berpengaruh signifikan, sedangkan tingkat kemiskinan, rasio guru per siswa dan PDRB per kapita berpengaruh signifikan terhadap APS.
Rondong (2017) yang meneliti tentang faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi sekolah pada jenjang pendidikan dasar: SD/MI dan SMP/MTs di Indonesia, menunjukkan hasil bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi sekolah pada jenjang SD/MI adalah pendidikan orang dewasa, ekonomi (pengeluaran untuk pendidikan) dan faktor kesehatan anak. Faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi sekolah pada jenjang SMP/MTs adlaah pendidikan orang dewasa, ekonomi, rasio murid terhadap guru, dan jumlah sekolah.
Maharani (2019) yang meneliti tentang faktor yang mempengaruhi tingkat ketercapaian angka partisipasi sekolah di Papua, menunjukkan hasil bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya angka partisipasi sekolah di Papua adalah akses pendidikan yang sulit dijangkau, jumlah tenaga guru yang terbatas, kurangnya kesejahteraan guru, fasilitas pendidikan belum memadai dan lambannya perhatian dari pemerintah.
Rahmatin dan Soejoto (2017) yang meneliti tentang pengaruh tingkat kemiskinan dan jumlah sekolah terhadap angka partisipasi sekolah di Surabaya, menunjukkan hasil bahwa tingkat kemiskinan dan jumlah sekolah berpengaruh signifikan terhadap angka partisipasi sekolah di Surabaya.
F. Kerangka Berpikir Teoritis dan Hipotesis 1. Pengaruh Jumlah Perpustakaan terhadap APM
Perpustakaan merupakan salah satu sarana yang harus dimiliki oleh sekolah dalam menyediakan berbagai jenis buku untuk mendukung proses belajar mengajar. Perpustakaan sebagai tempat siswa dalam mencari atau memperoleh informasi dari berbagai jenis buku yang sesuai dengan kebutuhannya. Dengan adanya perpustakaan, siswa dapat mengerjakan tugas dengan baik. Selain itu, sekolah yang mempunyai perpustakaan lengkap dapat menjadi pilihan bagi siswa untuk memilih sekolah tersebut. Dengan demikian semakin banyak persentase jumlah perpustakaan maka akan semakin tinggi juga APM. Berdasarkan penjelasan di atas dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H1 : Jumlah perpustakaan berpengaruh signifikan terhadap APM di jenjang SMA di Indonesia tahun 2018
2. Pengaruh Kondisi Ruang Kelas terhadap APM
Ruang kelas juga merupakan salah satu sarana prasarana dari sekolah.
Siswa dapat belajar dengan baik apabila berada dalam ruang kelas yang memiliki kondisi baik. Selain itu, ruang kelas yang nyaman dan didukung oleh tersedianya perlengkapan dan peralatan di kelas, akan membuat siswa menjadi lebih
bersemangat dalam belajar. Kondisi ruang kelas yang baik dan nyaman juga menjadi salah satu faktor yang menarik siswa untuk bersekolah, sehingga meningkatkan jumlah siswa. Dengan demikian, semakin baik kondisi ruang kelas maka akan meningkatkan persentase APM. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disusun hipotesis sebagai berikut:
H2 : Kondisi ruang kelas berpengaruh terhadap APM di jenjang SMA tahun 2018
3. Pengaruh Rasio Murid-Guru terhadap APM
Salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam pendidikan adalah seorang guru. Guru merupakan seseorang yang bertugas untuk menyampaikan ilmu kepada peserta didik. Jumlah guru yang mengajar, saat ini jumlahnya belum seimbang dengan jumlah peserta didik, terutama di daerah terpencil. Hal ini menyebabkan siswa tidak bisa menyerap ilmu yang disampaikan guru dengan baik, sehingga mendorong peserta didik malas untuk berangkat sekolah. Oleh karena itu, seharusnya rasio antara jumlah guru dengan murid harus seimbang, sehingga guru dapat mengajar dan siswa dapat belajar dengan baik.
Dengan demikian, semakin baik rasio Murid-Guru maka akan meningkatkan APM. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disusun hipotesis sebagai berikut:
H3 : Rasio murid-guru berpengaruh terhadap APM di jenjang SMA di Indonesia tahun 2018
Kerangka berpikir dalam penelitian ini adalah sebagai berikut,
H1
H2
H3 H3
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir Jumlah
Perpustakaan
Kondisi Ruang Kelas
Rasio Murid-Guru
APM
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah metode untuk menguji teori tertentu dengan cara meneliti hubungan antar variabelnya (Creswell, 2012). Variabel-variabel dalam penelitian ini diukur sehingga data yang meliputi angka-angka bisa dianalisis sesuai prosedur statistik.
B. Jenis dan Sumber Data 1. Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder.
Penulis tidak mengambil data secara langsung di lapangan tetapi data yang diperoleh dari sumber dokumen yang relevan dan dapat dipercaya. Karakteristik data berupa data kuantitatif yakni data berupa angka.
2. Sumber Data
Sumber data berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang relevan dengan variabel yang diteliti. Data yang digunakan adalah data mengenai presentase jumlah perpustakaan, presentase ruang kelas dan kondisi kelas, serta rasio murid-guru tahun 2018.
C. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu variabel independen dan variabel dependen. Variabel independen adalah variabel yang
22
mempunyai sifat mempengaruhi variabel dependen. Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel independen. Penelitian ini menggunakan tiga variabel independen dan satu variabel dependen.
1. Variabel Independen
Variabel independen dalam penelitian ini adalah jumlah perpustakaan, kondisi ruang kelas dan rasio Murid-Guru.
2. Variabel Dependen
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah APM.
D. Operasionalisasi Variabel Penelitian 1. Angka Partisipasi Murni (APM) (Y)
Angka Partisipasi Murni adalah proporsi jumlah anak yang menempuh pendidikan SMA pada usia 16-18 tahun yang sedang bersekolah pada jenjang pendidikan SMA terhadap jumlah seluruh anak pada kelompok usia 16-18 tahun.
Rumus perhitungan APM
APM = x 100%
Keterangan :
Tingkat SMA : Kelompok usia 16-18 tahun
2. Jumlah Perpustakaan (X1)
Jumlah perpustakaan adalah banyak sedikitnya perpustakaan yang dimiliki untuk setiap jenjang pendidikan. Variabel ini diukur dengan melihat persentase perpustakaan tingkat SMA tahun 2018.
tahun
3. Kondisi Ruang Kelas (X2)
Kondisi ruang kelas adalah keadaan ruang kelas yang digunakan siswa selama proses belajar mengajar di kelas. Variabel ini diukur dengan melihat persentase ruang kelas yang termasuk kondisi baik untuk jenjang SMA tahun 2018. Indikator kondisi ruang kelas yang baik adalah ruang kelas yang memiliki fasilitas pencahayaan yang cukup baik untuk membaca, memiliki pintu yang memadai, terdapat meja kursi siswa dan guru, rak buku, alat peraga, papan tulis, tempat samah, tempat cuci tangan, jam dinding dan soket listrik (Wiyani, 2013).Selain itu, jumlah siswa dalam setiap kelasnya. Permendikbud No. 17 Tahun 2017 menyebutkan bahwa pada jenjang SMA setiap rombongan belajar terdiri atas 20-36 siswa.
4. Rasio Murid-Guru (X3)
Rasio murid-guru merupakan perbandingan antara jumlah murid dengan jumlah guru yang mengajar pada tiap jenjang pendidikan. Variabel diukur dengan melihat rasio murid-guru untuk jenjang SMA tahun 2018. Rasio murid-guru untuk jenjang pendidikan SD, SMP dan SMA menurut PP No. 24 Tahun 2008 Pasal 17 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah adalah 20:1. Artinya 1 guru bertanggung jawab terhadap 20 murid.
E. Teknik Pengumpulan Data
Pada penelitian ini penelitian memilih menggunakan data sekunder dari Badan Pusat Statistik (BPS) karena dalam penelitian ini peneliti hanya memerlukan data sekunder yaitu data tentang presentase jumlah perpustakaan,
presentase kondisi ruang kelas, dan rasio murid-guru serta angka partisipasi murni tingkat SMA di Indonesia tahun 2018. Dalam penelitian ini menggunakan data sekunder yang di peroleh dari Badan Pusat Statistik (BPS).
F. Teknik Analisis Data 1.Statistika Deskriptif
Penelitian ini menggunakan teknik analisis Kuantitatif, yaitu analisis regresi berganda (Multiple Regresion Analisys). Analisis data dilakukan dengan menguji secara statistik variabel-variabel dengan bantuan perangkat lunak. Dari analisis ini diharapkan dapat digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel bebas (independent) terhadap variabel terikat (dependent).
Menurut Gujarati, 1999 (dalam Noor 2014), analisis regresi berkenaan dengan studi ketergantungan satu variabel, variabel tak bebas pada satu atau lebih variabel lain, variabel yang menjelaskan (explanatory variabels), dengan maksud menaksir dan atau meramalkan nilai rata-rata hitung (mean) atau rata-rata (populasi) variabel tak bebas, dipandang dari segi nilai yang diketahui atau tetap.
Menurut Noor (2014), analisis regresi bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh secara kuantitatif dari perubahan nilai X terhadap perubahan nilai Y.
Dengan kata lain, nilai variabel X dapat memperkirakan/memprediksi nilai variabel Y. Dalam penelitian ini, peneliti memilih statistika uji analisis regresi linier berganda. Model regresi dalam penelitian ini adalah:
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e
Keterangan:
Y : Angka Partisipasi Murni Tingkat SLTA di Indonesia Tahun 2018 X1 : Jumlah Perpustakaan
X2 : Kondisi Ruang Kelas X3 : Rasio Murid-Guru
Teknik analisis data regresi linear berganda dapat dilakukan dengan uji prasyarat, dan uji asumsi klasik, serta pengujian hipotesis.
2. Uji Hipotesis
Dalam regresi berganda perlu dilakukan uji prasyarat, untuk mengetahui persamaan regresi yang diperoleh benar-benar dapat digunakan untuk memprediksi variabel dependen. Di dalam uji prasyarat terdapat 2 yaitu: uji normalitas dan uji linearitas.
(1) Uji Normalitas
Tujuan dari uji normalitas adalah ingin mengetahui apakah distribusi sebuah data mengikuti atau mendeteksi distribusi normal, yaakni distribusi data bentuk lonceng (bell shaped). Data yang baik adalah data yang mempunyai pola seperti distribusi normal, yakni data tersebut tidak menceng kiri atau menceng kanan (Santoso, 2017).
Uji normalitas data dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa data sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal (Noor, 2014). Penggunaan uji normalitas bertujuan untuk melihat kenormalaan distribusi data dalam model
regresi. Metode yang digunakan adalah metode uji Kolmogorov-Smirnov. Kriteria Pengujiannya:
a. Angka signifikansi uji Kolmogorov-Smirnov Sig > 0,05; maka data berdistribusi normal.
b. Angka signifikansi uji Kolmogorov-Smirnov Sig < 0,05; maka data tidak
b. Angka signifikansi uji Kolmogorov-Smirnov Sig < 0,05; maka data tidak