• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. OVERVIEW MENGENAI KEBERADAAN DAN STRATEGI

2.3. Tentang Pemetaaan Partisipatif Menunjang Pembangunan Kawasan

2.3.1. Definisi Pemetaaan Partisipatif Dan Implemetasinya

Pemetaan partisipatif merupakan bagian atau salah satu alat dalam proses PRA (participatory rural apprasial). Proses PRA sendiri dipahami sebagai suatu proses pengkajian desa yang dilakukan secara partisipatif, dimana warga terlibat langsung dalam, memberikan informasi, menverifikasi dan sekaligus menganalisa. Dalam pemetaan partisipatif, informasi hasil diskusi dan kesepakatan warga desa kemudian dituangkan atau digambarkan dalam media dua dimensi atau bahkan tiga dimensi. Informasi yang dihasilkan sendiri sangat beragam, mulai dari informasi sosial, sumber daya alam dan wilayah, kepemilikan bahkan sampai informasi tempat-tempat yang dikeramatkan oleh warga. pada intinya informasi yang dituangkan dalam pemetaan partisipatif haruslah berdasarkan kepada kesepakatan warga. jelas sudah bahwa pemetaan partisipatif selain merupakan alat (tools), juga merupakan proses pemberdayaan warga desa. Pemetaan partisipatif adalah suatu alat dan tidak berdiri sendiri. Harus ada awalnya dan akhirnya, contohnya adalah pemetaan partisipatif untuk penataan produksi desa, pemetaan partisipatif untuk pengelolaan hutan bersama masyarakat. Saat ini penggunaan pemetaan partisipatif meluas sebagai alat untuk melakukan proses perencanaan tata ruang, baik tingkat desa maupun kecamatan (IFAD, 2009)

Konsep dasar dari pada Pemetaan Partisipatif adalah informasi yang dituangkan kedalam pemetaan yang didasari oleh penguatan masyarakat dalam spatial dan pengambilan keputusan ditingkat masyarakat/desa. Informasi merupakan salah satu unsur penting yang sangat diperlukan dalam memecahkan berbagai permasalahan. Pola-pola hubungan yang terjadi antara unsur fisik dan sosial dalam pengelolaan sumber daya alam (hutan) merupakan informasi yang sangat penting untuk dipertimbangkan dalam memecahkan berbagai permasalahan seperti misalnya konflik yang terjadi atau dalam pembuatan perencanaan dan perbaikan hutan atau lahan budidaya pertanian (CIFOR, 2001)

Pada prinsipnya Pemetaan Partisipatif adalah adalah sebuah proses penyadaran masyarakat dalam memahami dan mengkomukasikan keadaan dan kapasitas spasial wilayah mereka, yang dituangkan dalam suatu sketsa yang selanjutnya secara teknis bisa bisa dapat ditranspos ke dalam suatu peta yang bergeo-reference sehingga menjadi sebuah

produk peta yang terstandart. Data dan informasi yang sudah dikomunikasi melalui peta dapat bersifat dinamis atau mengalami perubahan maupun bersifat statis. Data dan Informasi ini dapat dijadikan sebagai salah satu sumberdaya wilayah tersebut dalam rangka mendukung aktivitas yang bersifat eksplorasi maupun eksploitasi wilayah yang dimaksud. Dalam proses pemetaan secara partisipatif dapat disusun dan dirancang mulai dari persiapan sampai pengesahan atau pengakuan komunitas lokal terhadap peta yang mengandung data dan informasi (JKPP. 2005)

Cara mendapatkan dan mengambil informasi sangat menentukan informasi yang didapat. Pemetaan merupakan salah satu cara atau metode pengambilan informasi langsung dari lapangan, khususnya yang berhubungandengan hal-hal yang bersifat fisik, sejalan dengan itu pemetaan juga bisa mencakup aspek sosial, budaya, dan ekonomi. Peta-peta yang menggambarkan kondisi-kondisi tersebut secara benar akan turut mempengaruhi pengambilan keputusan yang berhubungan dengan pengelolaan sumber daya alam yang menyeluruh (Heist. M,. 2000)

Dalam melakukan pengambilan data dan pembuatan peta dalam pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat, juga mutlak diperlukan keterlibatan yang menyeluruh dari berbagai pihak seperti masyarakat yang langsung berhubungan dengan sumber daya alam, pemerintah di berbagai tingkatan, organisasi-organisasi atau individu-individu di luar keduanya seperti misalnya LSM, pihak swasta, tokoh masyarakat. Saat ini penggunaan pemetaan partisipatif meluas sebagai alat untuk melakukan proses perencanaan tata ruang, baik tingkat desa maupun kecamatan. Pengalaman penyelesaian konflik batas seperti yang pernah dibuat di 27 desa di hulu Sungai Malinau (CIFOR, 2001)

Kandungan informasi yang benar dan akurat akan dalam peta yang dihasilkan turut menentukan berhasil tidaknya suatu tindakan atau keputusan, terutama dalam memecahkan suatu persoalan. Selain itu informasi juga merupakan satu hal yang sangat berpengaruh dalam menentukan pandangan dan pemikiran terhadap suatu hal, yang pada akhirnya menentukan juga tindakan yang akan diambil. Dalam memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat khususnya hutan, juga sangat diperlukan informasi yang akurat mengenai karakter sumber daya alam itu sendiri. Baik secara fisik maupun dari segi hubungannya dengan manusia (sosial). Pola-pola hubungan yang terjadi antara unsur fisik dan sosial dalam pengelolaan

sumber daya alam (hutan) merupakan informasi yang sangat penting untuk dipertimbangkan dalam memecahkan berbagai permasalahan seperti misalnya konflik yang terjadi atau dalam pembuatan perencanaan dan perbaikan hutan atau lahan budidaya pertanian (USAID, 2006)

Masyarakat dapat membuat peta dengan melakukan pemetaan partisipatif. Pemetaan partisipatif adalah satu metode pemetaan yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku pemetaan wilayahnya sekaligus juga akan menjadi penentu perencanaan pengembangan wilayah mereka sendiri. Pemetaan secara partisipatif dilakukan untuk meningkatkan kemampuan dan percaya diri masyarakat dalam mengidentifikasi serta menganalisa situasinya, baik potensi maupun permasalahannya. Secara partisipatif, justru masyarakat memanfaatkan informasi dan hasil analisa sendiri untuk mengembangkan rencana kerja mereka agar lebih maju dan mandiri. Masyarakat yang hidup dan bekerja di wilayahnya lebih memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai wilayahnya sendiri, ini menjadi dasar mengapa masyarakat setempat harus melakukan dan dilibatkan dalam pemetaan wilayahnya ( Anonim. 2010)

Di Indonesia, aktifis konservasi sebagai bagian dari perencanaan pengelolaan Taman Nasional Kayan Mentarang di Kalimantan Timur mengklaim bahwa pemetaan partisipatif pertama kali tahun 1992. Nilai nilai dasar dalam mengembangkan pendekatan pemetaan partisipatif didasarkan pada prinsip: (1) Menjunjung tinggi nilai-nilai HAM; (2) Mengutamakan kepentingan, inisiatif dan keterlibatan masyarakat; (3) Menjunjung tinggi kehidupan bersama yang berkeadilan sosial; (4) Berpihak pada pengelolaan lingkungan yang mempertimbangkan manusia sebagai kesatuan ekosistem dan (5) menempatkan pemetaan sebagai ruang belajar bersama (JKPP. 2005)

Pemetaaan partisipatif sudah cukup luas digunakan dalam banyak bidang misalnya dalam hal. Contoh kasus proses pemetaan partisipatif yang pernah dilakukan di Indonesia adalah di kawasan hutan Borisallo dalam rangka mendukung mewujudkan adanya pengelolaan sumberdaya alam yang lebih menjamin pengembangan social

forestry. (3 Priyo Kusumedi); pemetaaan Evaluasi Kesesuaian Lahan Pekarangan Untuk

Tanaman Kakao (Theobroma cacao) Di Desa Braja Yekti Kecamatan Braja Selebah Lampung Timur yang merupakan desa yang berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Permasalahan yang terjadi saat ini adalah tingkat konservasi di TNWK relatif rendah. (Juwita Y, et al., 2010)

Dalam proses pemetaan partisipatif baik itu dalam introduksi kepada masyarakat maupun dalam pelaksanaannya oleh masyarakat diperlukan seorang fasilitator. Fasilitator adalah orang yang memfasilitasi atau memandu dan membantu untuk mempermudah berbagai proses pertemuan dalam kegiatan pemetaan partisipatif. Seorang fasilitator tidak harus dari luar desa. Akan jauh lebih jika fasilitatator berasal dari komunitas wilayah itu sendiri. Beberapa hal yang sebaiknya dimiliki oleh seorang fasilitator adalah mengenal dengan baik masyarakat yang difasilitasi, memiliki kemampuan untuk memfasilitasi, mengerti tentang peta dan pemetaan, serta menegetahui pentingnya peta dan kegunaannya.

Dengan demikian tujuan dari Pemetaan Partisipatif ini adalah menggambarkan peta lahan desa, agar masyarakat desa secara partisipatif dapat menggambarkan tata letak unsurunsur yang terdapat pada lahan yang ditempati dan digarapnya di atas media kertas agar secara transparan dapat diketahui oleh masyarakat luas tentang kondisi dan situasi aktual lahan desa, lebih lanjut peta tersebut dapat dipergunakan sebagai alat bantu dalam perencanaan dan pengembangan pemanfaatan lahan desa.

Dalam menyusun kegiatan pemetaan yang partisipatif, metodologi yang dianut bersifat relatif, namun dalam pelaksanaan teknisnya maka prosedur dasar yang harus dikerjakan adalah yang berkaitan dengan : (i) lokasi atau tempat pemetaaan; (ii) data dan informasi yang berhubungan dengan tematik utama tujuan dari pemetaan partisipatif. Contoh basis tematik dalam kegiatan ini adalah informasi dan data yang mempunyai relevansi dan relasi yang kuat dengan potensi kelautan; (iii) tahapan kegiatan pemetaaan partisipatif (proses); (iv) output dari pemetaan partisipatif (luaran); dan (v) pengesahan hasil peta (asas formal)

Dokumen terkait