• Tidak ada hasil yang ditemukan

Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

Prosedur Penelitian

HASIL PENELITIAN

A. Latar Belakang Diberlakukannya Kebijakan Moneter Pada Masa Pemerintahan Soeharto Tahun 1966-1972

4. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

Pada dasawarsa 1960-an kebutuhan anggaran pemerintah semakin membengkah antara lain untuk membiayai pengeluaran militer, impor beras, subsidi, proyek mercusuar, dan dana bebas (Radius Prawiro, 1998: 6-8).

a. Pengeluaran militer

Pada Desember 1961 pemerintah meluncurkan kampanye untuk membebaskan Irian Barat. Program Trikora tersebut pada tahun 1962 telah menelan biaya Rp 11.751 juta sendiri atau 24% dari anggaran belanja. Pada tahun 1963 timbul sengketa regional di Asia Tenggara dengan dibentuknya Negara

lxxxvi

Federasi Malaysia yang kemudian berlanjut dengan Politik Konfrontasi. (Tim Penulis LP3ES, 1995: 146-147) Pemberontakan tahun 1957 di Sumatra dan Sulawesi menyebabkan peningkatan pengeluaran pemerintah untuk pertahanan dan keamanan. Karena kerawanan keamanan di dua daerah ini maka barter ilegal barang-barang ekspor Indonesia meningkat, sehingga menurunkan volume ekspor Indonesia secara keseluruhan.

b. Proyek mercusuar

Tanpa menghiraukan besarnya defisit anggaran pada awal 1960 pemerintah melakukan program besar membangun monumen publik dan proyek-proyek mercusuar. Pada tahun 1961 diadakan pembangunan gedung besar untuk penyelenggaraan CONEFO (Conference of the New emerging Forces). Pada tahun 1962 diadakan Asian Games yang menimbulkan defisit. Pada tahun 1963 diadakan Pekan Olah Raga GANEFO (Games of the New Emerging Forces), selain itu pembangunan Monumen Nasional, pendirian Masjid Istiqal, juga pendirian Toko Serba Ada Sarinah atau Hotel Banteng. (Tim Penulis LP3ES, 1995: 146-147)

c. Impor beras

Selama periode 1957-1965 Indonesia mengalami kekurangan pasokan beras secara besar- besaran. Untuk mencukupi kebutuhan beras pemerintah mengimpor beras secara besar-besaran. Hal ini menyebabkan pengurasan besar-besaran cadangan devisa negara. Walaupun begitu harga beras impor tetap mengalami kenaikkan dari Rp 3,75 sampai rata-rata Rp,- per kg (Rp 5,50 untuk Jabar, Rp 5,- untuk Jateng,- Rp 4,75 untuk Jatim, dan 5,50 di luar Jawa). Jadi kenaikan rata-rata 33%-40%). (Daniel Dhakidea & Frans M. Parera, 1992: 55). Untuk memecahkan masalah tersebut pemerintah melakukan larangan impor beras, tapi larangan ini justru menimbulkan kepanikan dan pembelian beras besar-berasan sehingga memperparah inflasi. Pada akhirnya pemerintah menarik larangannya, namun tingkat impor beras dibuat menjadi jauh di bawah jumlah yang diperlukan oleh konsumen. Hal ini melunturkan kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan perkonomian negara. (Radius Prawiro, 1998: 7)

lxxxvii d. Subsidi

Sebagai pelindung nilai terhadap inflasi, pemerintah menyediakan subsidi besar terhadap banyak barang konsumsi, khususunya produk-produk minyak dan beras. Pada tahun 1965, lebih dari seperlima penghasilan pemerintah dialokasikan untuk mensubsidi produk-produk minyak (pada tahun 1965 subsidi terhadap produk-produk minyak berjumlah Rp. 150 milyar sementara total penghasilan pemerintah tahun itu sekitar 671 milyar).. Pemerintah mencoba menurunkan subsidi terhadap produk minyak, namun mendapatkan protes dari masyarakat, akhirnya pemerintah mengalah dan membatalkan pemotongan subsidi tersebut. (Radius Prawiro, 1998: 7)

e. Dana bebas

Dana bebas adalah dana khusus yang disebut dana revolusi. Dana ini sengaja diciptakan untuk membiayai proyek-proyek serba-serbi dan untuk membalas jasa teman-teman dari rezim yang berkuasa. Dana ini digunakan oleh presiden dan penasehat-penasehat dekatnya, yang dengan sewenang-wenang menguncurkan banyak devisa kepada lembaga pemerintah dan individu yang biasanya besarnya tergantung kebijakan presiden. Dana ini berada diluar anggaran namun diambil dari dana negara. (Radius Prawiro, 1998: 8) Berikut ini adalah tabel Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 1959-1966.

Tabel 10 : Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 1959-1966 Tahun Pendapatan Belanja Defisit/surplus Defisit sebagai %

terhadap pendapatan 1959 30 44 -14 47% 1960 50 58 -8 16% 1961 62 88 -26 42% 1962 75 122 -47 60% 1963 162 330 -168 104% 1964 283 681 -398 141% 1965 923 2.526 -1.603 174% 1966 13.142 29.433 -16.291 124%

lxxxviii

Dari tabel dapat diketahui bahwa defisit yang dilakukan pemerintah untuk membiayai proyek-proyek pemerintah di atas telah mencapai jumlah yang mengkhawatirkan yaitu pada tahun 1966 telah mencapai 174%.

5. Demoralisasi

Defisit yang disebabkan tidak adanya perimbangan antara pengeluaran dan penerimaan negara, merosotnya angka ekspor, serta terus membengkaknya utang luar negeri dan akumulasi permasalahan tersebut menyebabkan inflasi yang kian hari kian menghebat. Angka inflasi yang mencapai angka 650% pada 1966 merupakan kondisi yang sudah tidak dapat ditoleransi oleh siapapun. Harga pangan kebutuhan pokok tidak terjangkau lagi oleh rakyat. Tan Goan Tiang memberikan gambaran inflasi yang menyebabkan orang tidak suka menabung. Hal ini karena nilai mata uang terus merosot, sebagai berikut. (Patmnono SK, 1998: 62):

“Seorang temannya mengadakan polis studi verzekering untuk anaknya yang berumur 3 tahun pada 1951. Menurutnya penghitungannya, pada tahun 1966 anaknya sudah masuk universitas dan berdasarkan tingkat harga pada 1951 biaya perguruan tinggi itu Rp 2.500; per tahunnya. Kalau anaknya itu kuliah 6 tahun berarti dibutuhkan biaya Rp 15.000; karena itu ia mengambil tanggungan sebesar Rp 15.000; dengan premi sebesar Rp 100; per bulan. Gaji orang itu Rp 1.000; sebulan sehingga ia masih dapat membayar premi dengan setia, pada tahun 1966 ia menutup premi polisnya. Ia menerima uang sebesar Rp 2,50 uang baru, sedangkan untuk mengambilnya ia memerlukan biaya untuk naik becak sebesar Rp 10;”.

Dari gambaran tersebut menunjukkan bahwa dalam situasi ekonomi yang penuh inflasi, dalam Pemerintahan yang korup, menabung merupakan pekerjaan mulia yang menjadi cemoohan orang. Kejujuran dalam bekerja menjadi tidak populer karean penghasilan tetap yang diperoleh pekerja atau pegawai negeri tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Inflasi telah membuat orang yang jujur menjadi hancur, sedang orang yang pandai bermanipulasi, korupsi dan bersilat lidah, justru memperoleh lisensi-lisensi istimewa. Artinya orang yang tidak jujur menjadi makmur.

lxxxix

Kerugian akibat inflasi memang dapat diukur dengan angka-angka, tetapi sebenarnya kerugian itu sebenarnya jauh lebih besar, karena akhlak dan mentalitas manusia yang merosot tidak dapat dihitung dengan uang. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Radius Prawiro, sebagai berikut: (1) meluas dan mendalamnya intervensi pemerintah dalam proses perekonomian menyebabkan seluruh bidang usaha harus melalui prosedur yang panjang dan berbelit-belit. Walaupun begitu meningkatnya aktivitas-aktivitas dan intervensi Pemerintah di segala bidang tidak seimbang dengan kemampuan administrasi nasional. Akibatnya, bahwa satu pihak Pemerintah kini dibebani dengan aparatur yang amat sarat, sedangkan lain pihak birokratisme yang timbul karenanya mengakibatkan kemacetan dan kesulitan-kesulitan dimana-mana; (2) inflasi yang semakin meningkat mengakibatkan berbagai ketegangan dan wanverhoudingen dengan masyarakat. Pendapatan riil dari golongan-golongan yang dikenal sebagai berpendapatan tetap makin lama makin merosot sampai tingkat yang tidak cukup lagi untuk mencukupi kebutuhan minimal, sedangkan golongna-golongan yang termasuk pejabat-pejabat pemerintah yang wewenangannya menentukan di bidang ekonomi. Hal ini yang kemudian menyebabkan goyahnya disiplin dan kejujuran. Kalau kemudian hal seperti itu meluas, maka masyarakat akan menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar dan biasa; (3) usaha-usaha penguasaan harga yang dilakukan telah menimbulkan ketidakseimbangan dan perbedaan harga yang membuka kesempatan terjadinya manipulasi. Sebuah contoh pada tahun 1962 ketika dilancarkan Operasi Budi di Bandung, ternyata dalam pemeriksaan salah satu pegawai yang bertidak sebagai penyalur benang tenun bahwa suatu waktu untuk semacam benang tenun harga resminya Rp 60.000; per bal, sedang di pasaran berharga 200.00;. Dengan wewenangnya sebagai seorang pejabat yang mungkin hanya bergaji Rp 15.000; dalam keadaan inflasi dia dapat mendapatkan untung ± Rp 140.000; per bal dari pengusaha atas lisensi yang diberikannya; (4) pemberian economic privelege sebagai alat publik telah menimbulkan sorotan masyarakat karena merupakan penyalahgunaan wewenang. Sebuah contoh pembentukan dana revolusi dan cara-cara yang digunakan untuk memupuk dana itu serta pemberian

xc

kredit khusus, dilakukan dengan pemberian privilese ekonomi. (Patmnono SK, 1998: 63-64)

Secara sederhana inflasi berasal dari dua sumber yaitu kekurangan pasokan barang atau surplus permintaan barang yang sering kali terjadi akibat pertumbuhan pasokan uang yang terlalu cepat. Menjelang pertengahan 1960-an, Indonesia mengalami dua jenis penyebab yang eksterm. Laju inflasi negara pada tahun 1966 lebih dari 650%. Hiperinflasi mengelabuhi semua konsumen: dalam tempo singkat, secepat waktu orang meletakkan uang ke dalam suku dan mengambilnya kembali, sebagian besar dari nilai mata uang lenyap. (Radius Prawiro, 1998: 11)