• Tidak ada hasil yang ditemukan

Deiksis Spasial

PERCAKAPAN : PRINSIP DAN STRUKTUR

2. Deiksis Spasial

Deiksis spasial, seperti disebutkan di depan, mengindikasikan lokasi yang berubah-ubah. Deiksis spasial dalam hal ini ditandai oleh ekspresi deiktis yang menunjukkan lokasi. Menurut Yule (1996), ekspresi deiktis penanda deiksis spasial terdiri atas “sini” dan “sana”. “Sini” merupakan ekspresi deiktis yang dekat dengan penutur sehingga disebut ekspresi deiktis proksimal (proximal terms). Kebalikannya, “sana”

merupakan ekspresi deiktis distal (distal terms). Dalam bahasa

Indonesia, dua ekspresi deiktis tersebut dapat ditambah dengan

“situ” yang mengindikasikan tidak jauh dan tidak dekat.

Ekspresi deiktis “sini” berciri membentuk sudut tajam. Hal itu berarti bahwa jarak penutur dengan benda/hal/orang dan sejenisnya, seperti yang tampak dalam tuturan A pada unit percakapan (26) dan (27), dekat atau sangat dekat. A pada unit percakapan (26) merupakan guru yang dalam kegiatan pembelajaran di kelas mengarahkan B agar menuju tempat yang dekat dengannya, sedangkan Dita, teman B, diminta bergeser ke tempat yang jauh darinya. Dengan kata lain, ekspresi deiktis

“sini” mengacu satu titik di dekat guru. Hal itu berbed dengan acuan “sini” dalam tuturan A pada unit percakapan (27). Pada saat itu B bertamu di rumah A. Pak Pala merupakan tetangga A yang sebelumnya memberi tahu A untuk juga bertamu di rumah A dan bertemu B. Akan tetapi, hal itu tidak terealisasi karena besi yang dipesannya dari kota datang. Jarak desa A dengan kota sekitar 20 km. Hal itu mengisyaratkan bahwa acuan ekspresi deiktis “sini” dalam tuturan A pada unit percakapan (27) adalah rumah A.

(26)A : Kamu di sini, Dita geser sedikit agak ke sana.

B : Baik, Bu.

(27) A : Pak Pala mau ke sini ternyata besinya datang.

B : Tidak apa-apa, Pak. Kapan-kapan saja.

Area acuan “sini” dapat lebih luas, misalnya desa, seperti yang tampak dalam tuturan A pada unit percakapan (28).

(28)A : Kok mbangun di sini dia, kok nggak di dekat kota.

B : Dekat kota dia punya. Tapi mau dijual. Katanya ditawar delapan puluh.

A : Ooo.

B : Tapi sawahnya di sini. Istrinya itu bagus Pak kalau nolong melahirkan. Kemarin nyungsang ya tanpa operasi.

Percakapan (28) terjadi di jalan di dekat rumah “dia”. “Dia”

membangun rumah di dekat rumah B. Dia pengusaha kaya yang kalau pun membangun rumah di kota juga mampu. Akan tetapi, ia membangun pula rumah di desa yang sedesa dengan B karena rezeki (B menyebunya “sawah”) istrinya di desa tersebut besar.

Area acuan ekspresi deiktis dapat seluas kecamatan, seperti tampak dalam tuturan A pada unit percakapan (29);

kotamadya, seperti yang tampak dalam tuturan pada unit percakapan (30; atau bahkan negara, seperti yang tampak dalam tuturan A pada unit percakapan (31). Dalam tuturan A pada unit percakapan (29), ekspresi deiktis “sini” mengacu Kecamatan Gondang, tempat A dan B berkomunikasi. Dalam tuturan B pada unit percakapan (30), ekspresi deiktis “sini” mengacu Kota Surabaya, sedangkan dalam tuturan A pada unit percakapan (31) mengacu Indonesia. A pada unit percakapan (30) tinggal di Jakarta, sedangkan B pada unit percakapan (31) tinggal di Thailand. Kalau Kamis dan Jumat dia tinggal di Indonesia karena sedang menyelesaikan studi di Surabaya.

(29) A : Kolam pancing di sini laris, Pak. Orang sampai sore.

B : Tapi modalnya banyak he, Pak.

A : Ya ndak. Kita buat taman, kolam, gitu saja sementara.

Nanti kita buat gubuk-gubukan.

A : Padahal ya nggak luas ya kolam itu. Paling 200 m2.

B : Ya. Cuma 10x20 saja. Yang penting fasilitasnya.

(30) A : Kabarnya Surabaya zona hitam ya, Pak.

B : Di sini gang-gang ditutup, Bu.

(31) A : Apa aktivitas di sini, Mas.

B : Tidak ada waktu istirahat, Pak. Ke mana-mana, berbagi ilmu. Kalau di Thailand, saya hanya bisa di kampus.

Ada kalanya ekspresi deiktis “sini” mengacu institusi tertentu, bukan area, seperti yang tampak dalam tuturan A pada unit percakapan (32).

(32) A : Untuk mengajar di sini per dosen per mata kuliah berapa, Pak?

B : Nggak tahu saya. Tapi banyak yang belum bayaran, Pak.

A : O, gitu ya.

B : Kawan-kawan biasaya ya membantu mengingatkan.

Ekspresi deiktis yang merupakan titik tengah antara “sini”

dengan”sana” adalah “situ”. Sebagaimana halnya “sini”, “situ”

juga membentuk sudut, tetapi tidak tajam. Seperti yang contohnya dapat diamati dalam tuturan B pada unit percakapan (33) dan tuturan B pada unit percakapan (34), acuan ekspresi deiktis “situ” juga tidak bersifat tetap. Keberadaannya bergantung pada pemahaman penutur dan petutur tentang konteks percakapan. Dalam tuturan B pada unit percakapan (33), ekspresi deiktis “sini” mengacu meja makan di dalam ruang makan. Pada saat itu A dan B dan dua orang lain berada di ruang tamu. “Acara” dalam hal ini dimaksudkan sebagai makan siang.

Ekspresi deiktis “situ” dalam tuturan B pada unit percakapan (34), seperti halnya dalam tuturan B pada unit percakapan (33),

juga tidak jauh, tetapi juga tidak “sejangkauan tangan”. Dalam hal ini, acuan “situ” dalam tuturan B pada unit perccakapan (34) adalah sudut meja makan.

(33) A : Ndak tahu ini, acaranya sudah atau belum.

B : Itu nasinya masih di situ.

(34) A : Zian, HP ayah di mana ya?

B : Di situ lho, ayah. Kelihatan gitu, kok.

Setelah “sini” dan “situ”, kini giliran “sana”. Berbeda dengan “sini” dan “situ”, “sana” tidak membentuk sudut dan area “sana” di luar area penutur. Dalam tuturan A pada unit percakapan (35), misalnya, ekspresi deiktis “sana” mengacu rumah mertua B. Dalam unit percakapan (35) A dan B berada di kampus yang jauh dari rumah mertua B. A bermaksud mengumpulkan tugas kepada B.

(35) A : Hari Minggu nanti Pak Har ke sana?

B : Kalau saya nggak ada titipkan istri atau mertua saya, ya.

Acuan ekspresi deiktis “sana” dapat sangat jauh, bahkan lintas negara, seperti yang tampak dalam tuturan B pada unit percakapan (36). Ekspresi deiktis “sana” dalam tuturan B mengacu Arab Saudi.

(36) A : Saya sudah dengar kabar, Pak Har. Saya dan semua jamaah haji tahun ini dimundurkan tahun depan.

B : Tidak apa-apa, Pak. Sabar ya. Urusan ke sana sudah ada yang mengatur. Kita tinggal ikut bagaimana skenario

“tuan rumah”.

Di samping “sini”, “situ”, dan “sana”, dalam bahasa Indonesia juga terdapat banyak ekspresi deiktis alternatif untuk deiksis spasial. Beberapa contohnya adalah “ke depan” dalam tuturan misalnya “Bu, izin buang sampah ke depan, ya.”; “ke belakang” dalam “Izin ke belakang sebentar, Bapak.”, “di kota”

dalam “Sejak tahun kemarin ia tinggal di kota”, “di dekat jalan raya” dalam “ Ia membeli rumah di dekat jalan raya.”, dan “ke toko sebelah” dalam “ Tunggu sebentar ya, ia masih berbelanja di toko sebelah.” Ciri pokok ekspresi deiktis alternative tersebut adalah tidak ada spesifikasi tempat atau ruang.