DELIK ATAU TINDAK PIDANA
TERHADAP HARTA BENDA
A. PENDAHULUAN
1. Sasaran Pembelajaran
Setelah selesai membahas pokok bahasan Delik atau Tindak Pidana ter-hadap Harta Benda, mahasiswa dapat menganalisis dan menjelaskan secara sistematis yang termasuk dalam delik atau tindak pidana terhadap harta benda dan menguraikan masing-masing unsur-unsurnya dan menerapkan dalam contoh kasus atau kasus nyata.
2. Kemampuan Mahasiswa yang Menjadi Prasyarat
Mahasiswa mempunyai pengetahuan dasar tentang :
- Delik atau tindak pidana yakni pengetahuan tentang pengertian delik atau tindak pidana, unsur-unsur tindak pidana yang terdiri dari unsur subyektif/pembuat (unsur yang terdapat dalam diri si pelaku yakni unsur kesalahan) dan unsur obyektif/perbuatan (unsur yang terdapat di luar diri si pelaku yakni unsur perbuatan), jenis-jenis tindak pidana;
- Mempunyai pengetahuan tentang penafsiran yakni pengertian penafsi-ran, urutan penafsiran dan jenis-jenis penafsiran.
3.Keterkaitan Bahan Pembelajaran dengan Pokok Bahasan Lainnya
Pada mata kuliah Delik-Delik di Dalam Kodifikasi setiap pokok bahasan yang terdiri dari delik atau tindak pidana yang masing-masing berdiri sendiri, mem-punyai unsur-unsur yang berbeda, pembahasannya tidak harus berurutan berda-sarkan GBRP, sehingga tidak dijelaskan keterkaitan antara pokok bahasan yang satu dengan pokok bahasan yang lainnya. Kecuali antara pokok bahasan pembu-nuhan dengan pokok bahasan penganiayaan khususnya jenis penganiayaan yang berakibat kematian, dan antara pokok bahasan delik harta benda khususnya pen-curian dengan kekerasan yang mengakibatkan kematian dengan pokok bahasan
pembunuhan khususnya pembunuhan yang didahului, disertai atau diikuti dengan tindak pidana lain.
4. Manfaat Bahan Pembelajaran
Bahan pembelajaran ini bermanfaat/penting bagi setiap pembelajar yakni mahasiswa dan dosen. Bagi mahasiswa bermanfaat sebagai bahan dasar untuk mempelajari lebih lanjut materi yang akan dibahas, sedangkan bagi dosen penting sebagai batasan-batasan materi yang akan dibahas di dalam kelas.
5. Petunjuk Belajar Mahasiswa
Mahasiswa yang mengambil mata kuliah Delik-Delik dalam Kodifikasi sebe-lum mengikuti setiap pembelajaran, terlebih dahulu harus mempunyai pengeta-huan dasar tentang delik atau tindak pidana beserta unsur-unsurnya, karena se-tiap pokok bahasan akan diuraikan sese-tiap unsur dari delik atau tindak pidana yang dibahas.
B. PENYAJIAN MATERI BAHASAN
DELIK ATAU TINDAK PIDANA TERHADAP HARTA BENDA
1. Pencurian
Delik pencurian diatur dalam Bab XXII KUHP yakni Pasal 362 sampai de-ngan Pasal 367. Adapun jenis-jenis atau bentuk-bentuk delik pencurian adalah :
a. Pencurian dalam bentuk pokok atau pencurian biasa; b. Pencurian dengan pemberatan;
c. Pencurian ringan;
d. Pencurian dengan kekerasan;
e. Pencurian dalam lingkungan keluarga;
1.1 Pencurian dalam Bentuk Pokok atau Pencurian Biasa
Delik atau tindak pidana pencurian pertama yang diatur dalam Bab XXII
Buku II KUHP ialah tindak pidana pencurian dalam bentuk pokok, yang memuat semua unsur dari tindak pidana pencurian.
Tindak pidana pencurian dalam bentuk pokok diatur Pasal 362 KUHP, yang rumusan adalah :
Barangsiapa mengambil sesuatu benda yang sebagian atau seluruhnya merupakan kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk memiliki benda tersebut secara melawan hukum, karena bersalah melakukan pencurian, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 5 (lima) tahun atau de-ngan pidana denda setinggi-tingginya Rp. 900 (sembilan ratus rupiah).
Tindak pidana pencurian dalam bentuk pokok seperti yang diatur Pasal 362 KUHP terdiri atas unsur subjektif dan unsur-unsur objektif sebagai berikut :
a. Unsur subjektif : Dengan maksud untuk memiliki benda tersebut secara melawan hukum;
b. Unsur-unsur objektif : Mengambil :
1. Sesuatu benda;
2. Sebagaian atau seluruhnya kepunyaan orang lain.
Agar seseorang dapat dinyatakan terbukti telah melakukan tindak pidana pencurian, orang tersebut harus terbukti telah memenuhi semua unsur dari tindak pidana pencurian yang terdapat di dalam rumusan Pasal 362 KUHP. Walaupun pembentuk undang-undang tidak menyatakan dengan tegas bahwa tindak pidana pencurian seperti yang dimaksud dalam Pasal 362 KUHP harus dilakukan dengan sengaja, tetapi tidak dapat disangkal lagi kebenarannya bahwa tindak pidana pencurian tersebut harus dilakukan dengan sengaja, yakni karena undang-undang pidana kita yang berlaku tidak mengenal lembaga tindak pidana pencurian yang dilakukan dengan tidak sengaja. Kesengajaan pelaku itu meliputi unsur-unsur :
1. Mengambil; 2. Sesuatu benda;
3. Yang sebagian atau seluruhnya kepunyaan orang lain;
4. Dengan maksud untuk memiliki benda tersebut secara melawan hukum.
Menurut S.R Sianturi114 unsur kesalahan yang berbentuk sengaja tersirat pada kata “mengambil” yang dipertegas lagi dengan kata “dengan maksud untuk memiliki”. Di sini kata “dengan maksud” berfungsi ganda, yaitu di satu pihak me-nguatkan unsur sengaja pada delik ini dan di lain pihak ia berperan untuk menon-jolkan peran sebagai tujuan dari si pelaku. Dengan maksud tidak selalu meru-pakan istilah lain dari kata-kata sengaja, tetapi bagaimanapun ada kaitannya. Se-seorang yang bermaksud melakukan sesuatu, tidak ayal lagi bahwa sesungguh-nya iapun mempusesungguh-nyai kehendak untuk melakukan sesuatu itu. Mempusesungguh-nyai kehen-dak berarti ada kesengajaan.
Tindakan terlarang yang dirumuskan pada Pasal 362 ialah mengambil se-suatu barang yang seluruhnya atau sebahagian kepunyaan orang lain dengan maksud untuk memiliki secara melawan hukum.
Perlu diketahui bahwa baik undang maupun pembentuk undang-undang ternyata tidak pernah memberikan sesuatu penjelasan tentang yang dimaksud dengan perbuatan mengambil. Pengertian mengambil dapat diketahui dari pendapat para ahli hukum pidana (doktrin).
Yang dimaksud dengan mengambil :
- Menurut S.R. Sianturi115 mengambil adalah memindahkan penguasaan nyata terhadap suatu barang ke dalam penguasaan nyata sendiri dari penguasaan nyata orang lain.
Pada pengertian ini tersirat pula terjadinya penghapusan atau peniadaan penguasaan nyata orang lain tersebut, namun dalam rangka penerapan pasal ini tidak disyaratkan untuk dibuktikan. Bahkan pada hakikatnya telah terjadi penguasaan ganda terhadap barang tersebut. Karena sean-dainya kemudian si pelaku itu tertangkap dan barang itu dikembalikan kepada si pemilik asal, tidaklah telah terjadi penguasaan yang baru oleh si pemilik.
Selanjutnya beliau menyatakan bahwa mengenai cara pengambilan atau pemindahan kekuasaan nyata secara garis besar dapat dibagi tiga, yakni:
1. Memindahkan suatu barang dari suatu tempat ke tempat lain. Dengan berpindahnya barang tersebut, sekaligus juga berpindah penguasa-an nyata terhadap barpenguasa-ang itu, misalnya Badu mengambil TV milik Amat dengan memindahkan dari rumah Amat ke rumah Badu atau bahkan sekaligus menjualnya ke tukang tadah, maka kekuasaan terhadap TV itu telah berpindah secara nyata kepada Badu.
2. Menyalurkan barang melalui suatu alat penyalur. Karena sifat barang itu sedemikian tidak harus selalu dapat dipisahkan secara tegas ba-rang yang telah dipindahkan dari yang belum dipindahkan. Baba-rang di sini bersifat cairan, gas atau aliran seperti : air, minyak, gas, udara panas,uap fan aliran listrik. Khusus mengenai aliran listrik ini, ada yang mempersoalkan dari sudut cara penafsirannya. Ada yang ber-pendapat bahwa aliran listrik adalah suatu barang dengan menggu-nakan penafsiran secara analogi. Tetapi bagaimanapun caranya, namun semua pendapat pada akhirnya bahwa aliran listrik itu adalah merupakan suatu barang.
3. Pelaku hanya sekedar memegang atau menunggui suatu barang saja. Tetapi dengan ucapan atau gerakan mengisyaratkan bahwa barang itu adalah kepunyaannya atau setidak-tidaknya orang me-nyangka demikian itu. Di sini barang sama sekali tidak dipindahkan. Misalnya L pedagang lembu meninggalkan lembunya pergi ke wa-rung agak jauh untuk makan siang. Si M yang melihat kepergian si L mendekati lembu itu dan menawarkannya kepada calon-calon pem-beli yang lewat. Si P yang serius menawar lembu itu telah menutup-nya dengan harga Rp. 50.000, dan uang itu diserahkan pada M yang dikiranya pemilik/penjual. Ketika lembu ditarik, M sudah pergi, si L meneriaki si P sebagai maling lembu. Dari kejadian ini kita lihat
ber-tempat lembu itu. Bahkan ketika tawar menawar antara M dan P ten-tang harga lembu itu sebenarnya telah terjadi pencurian atau seti-dak-tidaknya percobaan pencurian.
- Menurut R. Soesilo116 mengambil atau mengambil untuk dikuasainya maksudnya waktu pencuri mengambil barang itu, barang tersebut belum ada dalam penguasaannya, apabila waktu memiliki itu ba-rangnya sudah ada di tangannya, maka perbuatan itu bukan pencu-rian tetapi penggelapan.
- Menurut Van Bemmelen dan Van Hattum, unsur mengambil ini merupakan unsur terpenting atau unsur yang terutama dalam tindak pidana pencurian. Yang dikatakan oleh van Bemmelen dan Van Hattum di atas memang tidak salah, karena yang dilarang untuk dilakukan orang di dalam Pasal 362 KUHP sebenarnya ialah per-buatan mengambil, yakni mengambil suatu benda yang sebagian atau seluruhnya kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk me-nguasai benda tersebut secara melawan hukum, karena rumusan Pasal 362 KUHP mengandung larangan untuk melakukan suatu perbuatan tertentu, yakni perbuatan mengambil seperti dimaksud di atas, maka dirumuskan dalam Pasal 362 KUHP di dalam doktrin disebut sebagai delik yang dirumuskan secara formal ataupun disingkat dengan kata delik formal117. Selanjutnya menurut van Bemmelen dan van Hattum 118 bahwa dalam peristiwa kehilangan itu, hubungan hukum antara benda yang hilang dengan orang yang berhak atas benda tersebut masih tetap ada, selama benda yang hilang masih berada di tempat di mana orang yang berhak telah kehilangan benda tersebut, dengan tidak menutup kemungkinan bahwa benda yang hilang kitu dapat perpindah tempat karena
116 R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta
Komentar-Komen-tarnya Lengkap Pasal Demi Pasal, Politea, Bogor, 1995, hal 250