• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.5. Demam Berdarah Dengue (DBD)

DBD atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF), di dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 581 MENKES VII 1992 tentang Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue didefinisikan sebagai berikut: penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes terutama Aedes Aegypti yang ditandai dengan demam mendadak 2 sampai 7 hari tanpa penyebab yang jelas, lemah, lesu, gelisah, nyeri ulu hati disertai tanda pendarahan di kulit berupa bintik

pendarahan. Kadang-kadang mimisan, berak darah, muntah darah, kesadaran menurun atau Shock (Depkes RI. 2007).

Ada tiga faktor yang memegang peranan penting pada penularan penyakit DBD, yaitu manusia, virus dan vektor perantara. Virus Dengue ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti yang infeksius dan nyamuk Aedes

Aegypti dapat mengandung virus dengue pada saat menggigit manusia yang sedang

mengalami viraemia (Depkes RI. 2005). 2.5.1. Perilaku Nyamuk Aedes Aegypti

Biasanya nyamuk Aedes aegypti mencari mangsanya pada siang hari. Aktivitas menggigit biasanya mulai pagi sampai petang hari, dengan dua puncak aktivitas antara pukul 09.00-10.00 dan 16.00-17.00. Tidak seperti nyamuk lain, nyamuk Aedes Aegypti mempunyai kebiasaan menghisap darah berulang kali untuk memenuhi lambungnya dengan darah sehingga nyamuk ini sangat efektif sebagai penular penyakit. Setelah menghisap darah, nyamuk ini hinggap (beristirahat) di dalam atau kadang-kadang di luar rumah berdekatan dengan tempat perkembangbiakannya. Biasanya di tempat yang agak gelap dan lembab. Di tempat-tempat ini nyamuk menunggu proses pematangan telurnya (Hadinegoro. 2005).

Setelah beristirahat dan proses pematangan telur selesai, nyamuk betina Aedes aegypti akan meletakkan telurnya di dinding tempat perkembangbiakannya, sedikit di atas permukaan air. Pada umumnya telur akan menetas menjadi jentik dalam waktu 2 hari setelah telur terendam air. Stadium jentik biasanya berlangsung 6-8 hari, dan pertumbuhan dari jentik ke nyamuk dewasa selama 9-10 hari. Umumnya nyamuk

betina dapat mencapai 2-3 bulan. Setiap bertelur nyamuk betina dapat mengeluarkan telur sebanyak 100 butir. Telur itu di tempat yang kering (tanpa air) dapat bertahan berbulan-bulan pada suhu -2°c sampai -42°C, dan bila tempat-tempat tersebut kemudian tergenang air atau kelembabannya maka telur dapat menetes lebih cepat (Depkes. RI, 2005).

2.5.2. Tempat Potensial Bagi Penularan Demam Berdarah Dengue

Penularan DBD dapat terjadi di semua tempat yang terdapat nyamuk penularnya. Antara lain:

1. Wilayah yang banyak kasus (endemis).

2. Tempat-tempat umum yang merupakan tempat berkumpulnya orang-orang yang datang dari berbagai wilayah, sehingga kemungkinan terjadinya pertukaran beberapa tipe virus dengue cukup besar. Tempat-tempat tersebut antara lain sekolah, rumah sakit, pertokoan dan lainnya.

3. Pemukiman baru di pinggir kota dikarenakan di lokasi ini penduduknya berasal dari berbagai wilayah, maka kemungkinan diantaranya terdapat penderita atau carier yang membawa virus dengue yang berlainan dari masing-masing lokasi asal (Depkes RI, 2005).

2.5.3. Penyebaran Nyamuk Aedes Aegypti

Kemampuan terbang nyamuk betina rata-rata 40 meter, maksimal 100 meter, namun secara pasif mialnya karena angin atau terbawa kendaraan dapat berpindah lebih jauh. Aedes Aegypti tersebar luas di daerah tropis dan sub tropis. Di Indonesia nyamuk ini tersebar luas baik di rumah-rumah maupun di tempat-tempat umum.

Nyamuk ini dapat hidup dan berkembangbiak sampai ketinggian kurang lebih 1000 meter dari permukaan air laut. Di atas ketinggian 1000 meter tidak dapat berkembangbiak, karena pada ketinggian tersebut suhu udara terlalu rendah. Sehingga tidak memungkinkan bagi kehidupan nyamuk tersebut (Depkes RI, 2005).

2.5.4. Variasi Musiman Nyamuk Aedes Aegypti

Pada musim hujan tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti yang pada musim kemarau tidak terisi air mulai terisi oleh air, telur-telur yang tadinya belum sempat menetas akan menetas, selain itu pada musim hujan semakin banyak tempat penampungan air ilmiah yang berisi air hujan dan dapat digunakan sebagai tempat perkembangbiakan nyamuk ini. Oleh karena itu, pada musim hujan populasi Aedes Aegypti meningkat. Bertambahnya populasi nyamuk ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan peningkatan penularan penyakit DBD (Depkes RI, 2005). 2.5.5. Tempat Perkembangbiakan Nyamuk Aedes Aegypti

Nyamuk Aedes Aegypti ditemukan hampir di semua daerah perkotaan di daerah tropis dan subtropis di Asia Tenggara. Akhir-akhir ini juga ditemukan di daerah pendesaan, akibat penyebaran penduduk/tempat pemukiman baru dan sistem transportasi yang lancar. Aedes Aegypti sangat berperan dalam penularan penyakit DBD karena hidupnya berada di dalam dan di sekitar rumah penduduk.

Nyamuk ini sangat senang berkembangbiak di tempat penampungan air karena tempat itu tidak terkena siar matahari langsung. Nyamuk ini tidak dapat hidup dan berkembangbiak di daerah yang berhubungan langsung dengan tanah. Jenis

tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti dapat dikelompokkan sebagai berikut:

a. Tempat-tempat penampungan (wadah) air di dalam atau di sekitar rumah tangga, rumah ibadah, bangunan pabrik, sekolah, dan tempat-tempat umum lainnya, sperti drum, tangki, tempayang dan lain-lain. Biasanya tidak melebihi jarak 500 meter dari pemukiman penduduk tersebut.

b. Tempat penampungan air bukan untuk keperluan sehari-hari, seperti tempat minum burung, vas bunga, dan barang-barang bekas yang dapat menampung air. c. Tempat penampungan air yang alamiah seperti pelepah daun, tempurung kelapa

dan lain-lain (Hindra. 2004).

2.5.6. Pengendalian Demam Berdarah Dengue

Pengendalian demam berdarah dengue adalah usaha pemberantasan DBD dengan memutuskan mata rantai penularan yang terdiri dari nyamuk Aedes Aegypti yang dilakukan oleh masyarakat khususnya keluarga dan pemerintah (Depkes, 2005). Sebagaimana diketahui cara pengendalian dan pemberantasan DBD yang dapat dilakukan saat ini adalah memberantas vektor yaitu nyamuk penular Aedes Aegypti dan pemberantasan terhadap jentik-jentik, karena vaksin untuk mencegah dan obat untuk membasmi virus belum tersedia. Cara yang dianggap paling tepat adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN-DBD) yang harus didukung oleh keluarga dan peran serta masyarakat.

Apabila PSN-DBD dilaksanakan oleh seluruh keluarga dan masyarakat maka populasi nyamuk Aedes Aegypti akan dapat ditekan serendah-rendahnya. Sehingga

penularan DBD tidak terjadi lagi. Upaya penyuluhan dan motivasi kepada keluarga dan masyarakat harus dilakukan secara berkesinambungan dan terus-menerus, karena keberadaan jentik nyamuk berkaitan erat dengan keluarga dan masyarakat (Depkes RI, 2005).

2.5.7. Upaya Pengendalian Demam Berdarah Dengue

Menurut Hadinegoro (2005), menyatakan bahwa strategi dalam pengendalian

DBD meliputi :

1. Fogging.

Fogging dilakukan terhadap nyamuk dewasa dengan insektisida, mengingat kebiasaan nyamuk senang hinggap pada benda-benda bergantungan, maka penyemprotan tidak dilakukan pada dinding rumah. Kegiatan fogging hanya dilakukan jika ditemukan penderita/tersangka penderita DBD lain, atau sekurang-kurangnya ada 3 orang penderita tanpa sebab yang jelas dan ditemukannya jentik nyamuk Aedes Aegypti di lokasi.

2. Penyuluhan kepada masyarakat

Penyuluhan tentang demam berdarah dan pencegahannya dilakukan melalui media massa, tempat ibadah, kader dan kelompok masyarakat lainnya. Kegiatan ini dilakukan setiap saat pada beberapa kesempatan. Selain penyuluhan kepada msyarakat luas, penyuluhan juga dilakukan secara individu melalui kegiatan Pemantauan Jentik Nyamuk.

3. Pemantauan jentik berkala

Pemantauan jentik berkala dilakukan setiap 3 (tiga) bulan di rumah dan tempat-tempat umum. Diharapkan Angka Bebas Jentik (ABJ) setiap kelurahan/desa dapat mencapai lebih dari 95% akan dapat menekan penyebaran DBD.

4. Penggerakan masyarakat dalam PSN-DBD

Cara yang tepat dalam pencegahan DBD adalah dengan melaksanakan PSN-DBD dapat dilakukan dengan cara lain:

1) Fisik, cara ini dikenal dengan “3M” yaitu: menguras dan menyikat bak mandi secara teratur seminggu sekali, menutup rapat tempat penampungan air rumah (tempayang, drum dan lain-lain), mengubur, menyingkirkan atau memusnahkan barang-barang bekas (kaleng, ban dan lain-lain). Berdasarkan fakta ini: Depkes RI telah menetapkan program PSN DBD sebagai program prioritas dalam pencegaan dan pengendalian DBD di Indonesia. Sebagai landasan hukum pelaksanaan PSN DBD adalah Surat Keputusan (SK) Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 581/1002 Tahun 1992 tentang PSN DBD dan Pembentukan Kelompok Kerja Operasional Demam Berdarah Dengue (POKJANAL), juga ditunjang dengan KEPMENKES 1457 Tahun 2003 tentang Standart Pelayanan Minimal yang menguatkan pentingnya upaya pengendalian DBD di Indonesia hingga ke tingkat kabupaten/kota bahkan sampai ke desa. Kegiatan PSN DBD saat ini dilaksanakan di Indonesia baik secara nasional maupun regional, antara lain gerakan 3M (menguras, menutup, dan mengubur)

2) Kimia, cara memberantas jentik Aedes aegypti dengan menaburkan bubuk abate atau altosid pada tempat-tempat penampungan air yang sulit dikuras atau di daerah yang air bersih sulit didapat sehingga perlu menampung air hujan.

Takaran :

• Abate : 1 sendok makan peres (± 10 gram) untuk 100 liter air.

• Altosid : 1 sendok the peres (± 5 gram) untuk 200 liter air.

3) Biologi, pemberantasan jentik Aedes aegypti dengan cara biologi adalah dengan memelihara ikan pemakan jentik (ikan kepala timah, ikan gupi, ikan cupang dan lain-lain).

2.5.8. Pengendalian Penularan Penyakit DBD di Dalam Keluarga

Terutama dalam keadaan wabah, setiap keluarga diharapkan seyogyanya mampu melakukan pengendalian dan pencegahan penularan penyakit Demam Berdarah. Pengendalian DBD dalam hal ini adalah dengan melakukan upaya-upaya yang mampu menekan atau bahkan mengurangi jumlah kasus DBD di suatu daerah. Jadi, jangan menunggu datangnya penyemprot oleh petugas fogging dari Dinas Kesehatan. Dianjurkan setiap keluarga mengambil langkah-langkah pengamanan internal, antara lain yaitu :

a. Gunakan obat racun serangga, boleh obat nyamuk bakar, oles, atau semprot, atur tidur pakai kelambu. Apalagi sudah tersedia kelambu yang sudah dibaluri obat racun serangga dan yang yang mulai dipopulerkan program PSN plus yaitu Pemberantasan Sarang Nyamuk disertai kegiatan lain seperti menggunakan obat

nyamuk bakar, semprot, atau kelambu. Atau yang lebih sederhana menggunakan kipas angin agar aliran udara di dalam kamar tidur tetap ada. Bila aliran udara atau angin selalu mengalir, nyamuk Aedes aegyti si penular virus biasanya tidak tahan dan terbang keluar rumah berlindung di dedaunan pekarangan.

b. Pakaian-pakaian yang bergantungan dibalik lemari atau dibalik pintu sebaiknya dilipat dan disimpan dalam lemari. Nyamuk Aedes aegypti senang hinggap dan istirahat ditempat-tempat gelap dan kain tergantung seperti gorden apalagi bila berwarna gelap .

c. Sebaliknya di dalam rumah tidak ada tempat penampungan air bersih, karena nyamuk Aedes aegypti menyukai genangan air bersih untuk meletakkan telurnya. Bak penampungan air dikamar mandi dianjurkan tidak terlalu besar, cukup ukuran 50 x 60 x 90 c agar ar daam bak selalu teranggu dan boleh dikatakan diganti 2 atau 3 kali sehari, sehingga nyamuk Aedes aegypti tidak berkesempatan meletakkan telurnya pada dinding bak penampungan air.

d. Kalau ada taburkan bubuk Abate ke dalam bak penampungan air untuk mematikan jentik nyamuk. Bubuk Abate tidak merusak dinding bak penampungan air meskipun terbuat dari bahan logam. Apalagi terbuat dari semen atau plastik. Abate aman. Meskipun pada bak penampungan air minum aman untuk diminum.

e. Barang-barang bekas sekitar rumah seperti : kaleng bekas oli, kantong plastik, ban bekas dan aki bekas yang bisa menampung air hujan harus disingkirkan agar tidak menjadi tempat nyamuk bertelur (Depkes RI, 2007).

Dokumen terkait