BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Keadaan Geografis dan Demografi
2. Demografi
Terhitung sudah 12 tahun manggarai barat menjadi kabupaten, tepatnya Pada 1 september 2003 manggarai barat resmi mencatatkan dirinya menjadi kabupaten baru yaitu kabupaten manggarai barat dan di atur dalam UU NO 8 2003, dengan usianya yang masih relatif mudah manggarai barat terus membenah dan mempercantik dirinya.dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Sebagai satu satunya daerah yang di mekarkan selama periode 15 tahun terakhir ini untuk wilayah pulau flores, manggarai barat terus menambah deretan angka populasi penduduk di provinsinya. Berdasarkan sensus penduduk pada tahun 2014 total penduduk yang ada di kabupten manggarai barat sebanyak 353959, tentu ini angka yang cukup fantastis mengingat usianya yang masih relaatif muda. Bagi pemerintah daerah setempat data ini tidak cukup mengagetkan sebab selain di karenakan angka kelaihran yang cukup tinggi migrasi adalah penyumbang terbanyak atas besaran angka sensus penduduk di kabupaten manggarai barat. Pada suatu wilayah proses migrasi itu sendiri terbilang wajar baik di kota-kota besar maupun bagi daerah yang baru di mekarkan. ini terjadi bukan tanpa alasan, masalah ekonomi menjadi faktor penting di samping adanya pemenuhan akan kebutuhan sumberdaya manusia.
Bagai masyarakat hadirnya beberapa kelompok masyarakat baru adalah bagian dari dinamika kehidupan sosial dan bagai pemerintah sendiri adalah konsekuensi logis yang harus di terima oleh suatu daerah, demikian pula bagi masyarakat migran itu sendiri, penyesuaian diri menjadi penting dalam lingkungan baru karena dengan migrasi sehingga masyarakat dalam suatu wilayah akan menjadi beragam baik bahasa,budaya dan agama. Sebagai makhluk sosial keberagaman tentu menjadi keharusan untuk di terima oleh setiap manusia baik hidup dalam berkelompok maupun individu.
Tidak terkecuali bagi manggarai barat itu sendiri sebagai daerah yang letaknya di ujung barat pulau provinsi NTT ini, sehingga menjadikannya sebagai pintu masuk dan jalur keluar menuju kota sape-bima yang masih berada dalam provinsi NTB dan kota kota besar lainnya sehingga tidak heran NTB menjadi provinsi penyumbang migran terbesar yang ada di kabupaten manggarai barat.
Selain NTB, Sulawesi, Jawa dan Sumatra turut mencatatkan namanya sebagai penyumbang migrasi, adapula masyarakat yang awalnya tinggal di perkampungan atau dari daerah daerah yang ada di NTT itu sendiri.
Untuk mengetahui seberapa jauh pertumbuhan penduduk di kabupaten manggarai barat, dapat kita lihat pada table berikut ini
Table 4.1 :Jumlah Penduduk Kabupaten Manggarai Barat Tahun 2012- 2014
7 Lembor Selatan *) *) 25004 38265
8 Kuwus 42312 26065 27334
9 Ndoso *) *) 21549 22132
10 Macang Pacar 30275 34328 38214
Jumlah 234235 263773 353959
Ket: *) Data masih tergabung dengan kecamatan induk
Sumber: dinas kependudukan dan catatan sipil kab. manggarai barat
Sampai akhir tahun 2014, jumlah penduduk Manggarai Barat berjumlah 353.959 jiwa menyebar di 7 (kecamatan) kecamatan. Jumlah penduduk terbesar berada di kecamatan Komodo yaitu sebesar 70.122 jiwa, sedangkan jumlah penduduk terkecil berada di Mbeliling yaitu sebesar 13.876 jiwa. Dari data BPS, Jumlah penduduk perempuan dan laki-laki tidak jauh berbeda, yakni penduduk laki-laki berjumlah 182.166 orang dan jumlah penduduk wanita berjumlah 171793. Besarnya penduduk di kecamatan Komodo pun juga tidak terlepas dari faktor ekonomi bagi masyarakat di sana sehingga tidak heran warga masyarakat lebih memilih untuk menetap di kecamatan komodo. Kendati
demikian basis prekonomian kebanyakan masyarakat yang ada di kecamatan Komodo itu sendiri adalah nelayan dan pemandu atau pengantar wisatawan.
B. Gambaran Umum Responden
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan didapati bahwa rata-rata umur nelayan yang beralih profesi menjadi pemandu wisata/pengantar wisatawan yaitu 31,6 tahun. Nelayan yang beralih profesi paling muda yaitu 24 tahun, dan yang paling tua berusia 41 tahun, Pendidikan nelayan yang beralih profesi berfariasi, pada umumnya tinggkat pendidikan mereka SMP, hal ini di latarbelakangi oleh rendahnya kesadaran masyarakat nelayan akan pentingnya pendidikan selain itu faktor ekonomi. Jumlah responden dalam penelitian ini yaitu sebanyak 20 orang
Keterlibatan nelayan dalam pengelolaan wisata bahari didorong oleh upaya peningkatan pendapatan disaat hasil laut yang tidak menentu dengan modal utama yang dimiliki oleh sebagian besar nelayan adalah pengetahuan dasar pemasaran jasa wisata bahari dan pemahaman dalam kategori sedang seperti sikap dan perilaku dalam melayani wisatawan, pemahaman tentang area wisata dan kondisi arus laut bagi wisatawan yang ingin melakukan snorkeling. Adapun bangunan komunikasi antara nelayan dan wisatawan mengalami hambatan dikarenakan ketidak mampuan mereka dalam berbahasa asing namun ada pula beberapa nelayan yang sedikit banyaknya tahu dalam mengunakan bahasa asing meskipun tidak begitu fasih ini dikarenakan mereka sudah jauh lebih dulu malang melintang dalam usaha penerima jasa transpotasi meski demikian tentunya mereka tetap membutuhkan orang yang pandai berbahasa asing (guide).
C. Hasil dan Pembahasan 1. Masyarakat Nelayan.
Masyarakat nelayan adalah mereka yang hidup, tumbuh dan berkembang di kawasan pesisir, yakni suatu kawasan transisi antara wilayah darat dan laut (kusnadi 2009).
Dari beberapa kecamatan yang ada di kabupaten Manggarai Barat, kecamatan Komodo menjadi wilayah dengan jumlah masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan terbesar di kabupaten manggarai barat .
Tabel 4.2 Banyaknya Nelayan dan petani ikan di kecamatan komodo 2012-2014
Tahun Nelayan
Sumber: Dinas perikanan dan kelautan kabupaten manggarai barat
Berdasarkan tabel di atas dalam jangka satu tahun terdapat peningkatan dan penurunan jumlah nelayan penuh dan petani ikan sedangkan petani rumput laut tidak mengalami perubahan. Pada tanun 2012 tercatat ada sekitar 3800 nelayan penuh yang ada di kecamatan komodo dan 170 petani ikan, 159 petani rumput laut, sedangkan pada tahun 2013 mengalami peningkatan jumlah nelayan penuh ini disebabkan minimnya ketersediaan lapangan kerja dan pengalaman dalam dunia usaha yang terbatas sehingga pengetahuan mereka hanya seputar membawa perahu dan menangkap ikan. Demikian pula petani ikan
mengalami peningkatan pada tahun yang sama disebabkan meningkatnya jumlah nelayan penuh sehingga persaingan dalam mengolah dan mengeksport ikanpun juga semakin tinggi, perlu untuk diketahui yang dimaksud dengan petani ikan di sini adalah mereka yang membeli ikan mentah pada nelayan penuh kemudian diolah sesuai dengan kebutuhan pasar. Adapun pada tahun 2014 penurunan jumlah nelayan yang ada di kecamatan komodo di sebabkan oleh banyak faktor antara lain dengan adanya peraturan daerah yang melarang para nelayan untuk menangkap ikan menggunakan peralatan yang tidak standar atau menggunakan peralatan yang justru mengakibatkan kerusakan pada biota laut sedangkan mengingat para nelayan yang ada di kecamatan komodo tercatat hampir semua peralatan yang di gunakan tidak memenuhi standar, penurunan nelayan penuh di ikuti pulah dengan menurunnya jumlah petani ikan.
2. Pariwisata
Seperti yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa pariwisata adalah aktivitas perjalanan yang dilakukan sementara waktu dari tempat tinggal semula ke daerah tujuan dengan alasan bukan untuk menetap atau mencari nafkah melainkan hanya untuk memenuhi rasa ingin tahu, menghabiskan waktu senggang atau liburan serta tujuan-tujuan lainnya.
Perlu untuk kita ketahui kecamatan Komodo selain dikenal sebagai wilayah dengan hasil lautnya juga di kenal sebagai daerah destinasi wisatawan baik lokal maupun mancanegara, terlebih pada 27 juli 2013 hingga 14 september 2013 lalu diadakannya sail komodo atau rangkaian kegitan bahari tingkat internasional hasil kerja sama antara sail Indonesia, Kementrian Kelautan
Perikanan dan Dewan Kelautan Indonesia yang di adakan di wilayah Nusa tenggara timur tepatnya di kabupaten Manggarai Barat, dengan maksud menjadi salah satu jembatan untuk menarik wisatawan.
Tabel 4.3 jumlah wisatawan yang berkunjung kepulau komodo 2012-2014
Bulan Tahun
Sumber:, Balai Taman Nasional Komodo Kabupaten Manggarai Barat
Berdasarkan tabel di atas peningkatan jumlah wisatawan dari tahun ke tahun semakin tinggi meskipun tidak begitu signifikan. Kegiatan Sail Komodo terbukti memberikan dampak kenaikan angka kunjungan wisatawan. Pada tabel di atas dapat di lihat pada bulan juli 2013 terhitung sebanyak 7535 wisatawan yang datang berkunjung, kemudian pada bulan agustus sebanyak 8925 wisatawan,
meskipun pada bulan-bulan berikutnya mengalami peningkatan dan penurunan jumlah wisatawan yang datang berkunjung sampai akhir tahun 2013.
Hal ini membuktikan bahwasanya setiap tahunya wisatawan yang berkunjung ke pulau komodo baik wisatan lokal maupun manca negara terus meningkat.
Seperti yang telah dibahas di atas bahwa kabupaten Manggarai Barat termasuk wilayah dengan 67% adalah perairan laut dan menjadi salah satu daerah dengan ekosistem laut terbaik di indonesia, selain itu banyaknya pulau tentu menjadi salah satu faktor pendukung bagi daerah tersebut untuk menarik penikmat wisata bahari. Di sisi lain tentunya para wisatawan membutuhkan alat transportasi untuk berkunjung ke tempat-tempat yang diinginkan dan bagi sebagian masyarakat khususnya mereka yang ada di kecamatan Komodo melihat ini sebagai salah satu peluang bisnis mengingat minimnya ketersediaan jasa pengantar (perahu) bagi wisatawan yang ingin berkunjung kepulau pulau yang di inginkan.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.4 jumlah perahu pengantar wisatawan di kecamatan komodo 2012-2014
Tahun
Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan penyediaan jasa pariwisata (perahu) dari tahun ke tahun.
Meningkatnya jumlah ketersediaan alat transpotasi (perahu) bagi wisatawan tentunya menjadi trend positif bagi perkembangan dalam dunia wisata khususnya wisata bahari di Manggarai Barat, sayangnya pemerintah sendiri belum memiliki kelengkapan dalam hal ini alat transportasi sehingga pemerintah harus menggadeng pihak swasta untuk mengakomodir segala kebutuhan wisatawan khususnya dalam hal menyediakan alat transportasi. Kendati demikian ada pula calo para penyedia jasa transportasi ini yang mulanya adalah perahu-perahu masyarakat yang difungsikan ketika malam hari untuk mencari ikan dan pada pagi atau siang hari menerima jasa untuk mengantarkan wisatawan ke tempat tujuan wisata meski demikian tawaran ini tidak selalu ada, mengingat mereka hanyalah calo penyedia jasa transportasi yang secara oprasional tidak memenuhi standar sesuai dengan yang sudah ditentukan oleh pemerintah seperti misalnya menjamin keselamatan dan kenyamanan wisatawan dengan pemenuhan alat keselamatan sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi di luar soal administrasi dan perlengkapan surat-surat lainya dan tentunya perbedaan tarif yang jauh lebih murah dibandingkan kapal-kapal dibawa naungan pihak swasta, menjadikan para wisatawan berminat mengunkan jasa para calo transportasi tadi sehinga profesi gandapun dilakoni para nelayan, namun lambat laun tidak sedikit dari mereka para nelayan kemudiaan berali profesi dan sepenuhnya menjadi penerima jasa pariwisata tentunya dengan mengikuti ketentuan-ketentuan yang sudah diberlakukan pemerintah daerah dan bekerja sama dengan kantor-kantor
pihak swasta setempat yang mendata setiap kebutuhan wistawan yang ingin berkunjung ke tempat-tempat wisata.
3. Peralihan Profesi
Peralihan profesi tentu bukan hal yang baru bagi masyarakat Indonesia sendiri beralih profesi adalah hak priogratif, artinya secara hukum Negara tidak mengatur tentang itu alasan pendapatan dan ketidaknyamanan dalam bekerja rentan menjadi penyebab terjadinya peralihan profesi ini meskipun tidak menutup kemungkinan masih banyak alasan-alasan lainnya, tidak terkecuali bagi masyarakat nelayan yang kemudian beralih profesi menjadi pemandu wisata, saat peneliti melakukan kujungan di lapangan peneliti berhasil mewawancari beberapa narasumber dengan mengajukan pertanyaan seputar alasan narasumber berali profesi, berikut kutipan wawancara peniliti bersama narasumber
“Awalmulanya sekedar hanya ikut ikutan saja, namun seiring berjalannya waktu telah saya pikir bahwa menjadi pemandu wisata tidak lebih berat di bandingkan menjadi seorang nelayan” (arifudin, 28 mei 2015).
“Karna pendapatannya lebih bagus dan tidak terlalu berat seperti wktu masih menjadi nelayan” (Amir, 28 mei 2015).
Kurangnya pendapatan atau besarnya pendapatan dan penghasilan dalam suatu pekerjaan menjadi momok tersendiri bagi masyarakat untuk berpindah-pindah pekerjaan, tentu ini bukan suatu kebudayaan atau hobi, tuntutan akan terpenuhinya kebutuhan menjadi pemicu, begitu pula halnya dengan masyarakat nelayan saat peneliti mengajukan pertanyaan seputar besaran pendapatan yang mereka dapatkan dan kurangnya pendapatan juga menjadi salah
satu alasan mereka untuk berali profesi adapun penjelasan narasumber seputar pertanyaan pendapatan saat menjadi nelayan adalah sebagai berikut:
“Sewaktu saya menjadi nelayan, penghasilan yang saya dapatkan perbulannya 2-3 juta tidak jarang pula dibawah 2-3 juta per bulan”
(junaidi,31mei 2015).
“Pendapatan yang saya dapatkan pada saat menjadi nelayan tidak menentu, hanya sekedar untuk biyaya sehari-hari” (wardi,31 mei 2015).
Sedangkan pendapatan saat menjadi pemandu wisata meskipun berfariasi ini di sebabkan tujuan para wisatawan atau objek wisata yang ingin dikunjungi wisatawan juga berfariasi sesuai dengan rute perahu yang memang sudah ditentukan oleh otoritas terkait, berikut kutipan wawancara peneliti bersama narasumber seputar pendapatan mereka:
“Kalau untuk saya yang mempunyai perahu biasanya 2-3 juta perhari, yaa…
kalau hitungan bersihnya 1,3 juta perhari, karna untuk menutupi biayaya seputar perlengkapan, konsumsi di perahu dan gaji sawi perahu (anak buah kapal)” (Muh. Yakub, 10 juni 2015).
“Biasanya tergantung obyek wisata yang ingin di tuju, makin jauh obyek wisata yang ingin di tuju makin besar pula pendapatan yang di dapatkan”
(Hafid,10 juni 2015).
Setiap masyarakat khususnya mereka yang memiliki penghasilan sendiri tentu memiliki target-target tertentu dalam hal ini target penghasilan untuk memenuhi kebutuhannya yang ingin mereka capai, pertanyaan seputar kepuasaan akan kecukupan penghasilan yang mereka dapatkan tentu menjadi layak untuk kita suguhkan kepada narasmuber, kutipan wawancara peneliti di bawa tentunya melibatkan narasumber seorang pensiunan nelayan:
“Kalau di bilang cukup, ya dicukup cukupkan saja, hanya saja masih banyak kebutuhan kebutuhan yang harrus di penuhi seperti biaya sekolah anak dan lain-lainnya” (Sulaiman, 15 juni 2015)
Di waktu yang sama peneliti kembali mewawancarai salah seoarang nara sumber yang berprofesi sebagai pemandu wisata dan tentunya juga adalah pensiunan nelayan dan sesi wawancara kali ini masih seputar kecukupan dari penghasilan yang di dapatkan. Berikut kutipan wawancara peneliti bersama narasumber:
“Alhamdulillah cukup dan bahkan bisa memenuhi kebutuhan keluarga”
(Arman, 15 juni 2015)
Dalam proses terjadinya peralihan profesi atau berpindah pekerjaan tentu tidak serta merta mudah untuk dilakukan, kerugian atau kurangnya konsumen yang tertarik dengan bisnis baru yang kita tawarkan dan tak kalah penting adalah proses penyesuaian diri yang sulit atau bahkan membutuhkan waktu yang lama untuk beradaptasi dengan profesi baru menjadi momok menakutkatan, bahkan bagi sebagian masyarakat memilih untuk tidak ingin mengambil resiko. Begitu pula halnya bagi masyarakat nelayan yang berali profesi menjadi pemandu wisata, saat salah seorang narasumber berhasil peneliti wawancarai menjelaskan tentang kesulitan atau kendala yang di hadapi,berikut kutipan wawancara peneliti bersama narasumber:
”Kalau saya pribadi kendalanya hanya sebatas komunikasi saja (Bahasa Asing)” (Fadli, 17 juni 2015)
“Kurangnya ketersediaan bahan bakar (solar)” (Tono, 17 juni2015)
Sedangkan bagi mereka yang sudah terlanjur beralih profesi atau sedikit memiliki keberanian melakukan gebrakan baru dalam berbisnis tentu mulanya berangkat
dari pertimbangan yang panjang dan matang, dan melihat peluang-peluang yang kemudian berhasil dimanfaatkan dengan baik dengan penghasilan yang baik pula sehingga mereka memilih untuk menetap dan menjalankan bisinis atau pekerjaan yang di rasa lebih menguntungkan dan menjanjikan, dari segi kenyamanan pekerjaan maupun dari segi penghasilan, dan kali ini kepada narasumber peneliti akan bertanya seputar penyebab mereka memilih menetap dalam pekerjaan barunya sebagai pemandu wisata,berikut kutipan wawancara narasumber:
“Karena keuntungan yang didapatkan jauh lebih banyak dibandingkan menjadi nelayan” (Riki, 18 juni 2015).
“Berhubung di sisni daerah pariwisata jadi permintaan jasa pariwisata sanagat di butuhkan, makanya saya lebih memilih menjadikannya profesi tetap, karna pekerjaanya juga mudah untuk di lakukan” (Lukman, 18 juli 2015).
Penyediaan alat transportasi bagi wisatawan tentu merupakan peluang bisnis yang baru. Apa lagi jika bisnis ini di anggap lebih menguntungkan sehingga tidak heran jika banyak masyarakat ikut terlibat dalam bisnis pengadaan jasa trasportasi bagi wisatawan ini. Tidak terkecuali bagi para masyarakat nelayan yang sedari awal memang sudah memiliki alat transportasi laut meskipun ukuranya tergolong kecil dan sedang, hal ini tentunya tidak menjadikan batasan bagi mereka untuk mengikut sertakan diri sebagai penerima jasa transportasi.
seperti halnya beberapa narasuber yang berhasil peneliti wawancarai mengatakan bahwa
“Modal saya hanya perahu kecil tapi karna banyaknya wisatawan yang mau berkunjung ke tempat-tempat wisata saya pikir kenapa tidak di ambil saja untuk menambah penghasilan” (sulaiman,24 mei 2015)
Adapun modal lain yang mereka punya di luar dari memiliki perahu sendiri, adalah mereka sangat paham baik rute, sampai pada soal kondisi cuaca dan tanda-tanda alam. Tentu ini, tidaklah mereka dapatkan dari bangku sekolah maupun khursus, melainkan didapatkan dari sejak kecil, mereka dibiasakan untuk ikut melaut oleh orang tua mereka sehingga tak perlu diragukan lagi pengetahuan mereka soal laut, bahkan ada salah satu narasumber saya sewaktu usai wawancara mengatakan jika ia tak ke laut untuk bekerja dengan waktu yang cukup lama, badannya akan terasa ngilu serasa ingin sakit. Kendati demikian menjadi pemandu atau pengantar wisatawan tentu bukan tanpa hambatan atau masalah atau bahkan kesulitan yang dihadapi bagi wisatawan lokal maupun manca Negara tentunya sama-sama singin mendapatkan pelayanan yang baik, kenyamanan dan keselamatan menjadi prioritas utama bagi para wisatawan sehingga untuk memenuhi kebutuhan parawisatawan dalam hal kenyamanan dan keselamatan sebagai prioritas utama, penyedia jasa transportasi harus merogo kocek dalam-dalam untuk pengadaan berbagai macam alat, hkususnya bagi pemula, ini akan di rasa berat mengingat anggaran dibutuhkan cukup besar.
Sekalipun rute yang diperuntukan bagi mereka hanya membutuhkan waktu tempu kurang lebih 3-6 jam saja sebab wisatawan pengguna jasa para pensiuunan nelayan ini adalah wisatawan yang hanya sebatas ingin berkunjung kepulu-pulau terdekat saja, namun bagi mereka menjadi nelayan atau pemandu/pengantar wisatawan apapun profesinya sama saja sama- sama bekerja di laut.
Berdasarkan hasil wawancara bersama beberapa narasumber di atas banyaknya nelayan yang berali profesi menjadi pemandu atau pengantar wisatawan tentunya bukan tanpa alasan selain karna adanya peluang bisnis juga disebabkan adanya faktor lain yang mengakibatkan terjadinya peralihan profesi.
Adapun faktor yang dimaksud di sini antar lain: faktor lingkungan faktor ekonomi, dan faktor social.
a. Faktor lingkungan
Berdasarkan penuturan beberapa narasumber, faktor lingkungan menjadi salah satu penyebab terjadinya peralihan profesi, meningkatnya jumlah wisatawan sangat dirasakan oleh masyarakat. Ini bisa di lihat dari tingginya permintaan jasa pariwisata dari hari ke hari, sehingga pemerintah dan pihak swasta sendiri selaku penyedia jasa tak jarang mengalami kesulitan untuk mengakomodir kebutuhan para wisatawan dalam hal ini meyediakan pelayanan jasa pariwisata. Akibatnya, beberapa wisatawan mengandalkan nelayan yang memiliki perahu sebagai alternatif jasa transportasi, celakanya oleh pemerintah sendiri perahu nelayan dianggap tidak memnuhi syarat sesuai dengan standar yang di berlakukan di kapal-kapal milik pihak swasta dengan peralatan standar internasional. Kendati demikian masih ada wisatawan lokal yang mengunakan jasa para nelayan, sampai pada saat pemerintah mengambil jalan tengah dan memperbolehkan perahu-perahu nelayan untuk digunakan dengan syarat memiliki peralatan keamanan standar minimal, dengan rute yang diberlakukan bagi perahu-perahu nelayan saat digunakan sebagai jasa transportasi tidak boleh melewati batas-batas mil tertentu yang sudah ditentukan atau dengan kata lain
mereka hanya mendapat job untuk mengantarkan wisatwan yang hanya sekedar ingin berkunjung ke pulau-pulau terdekat.
Lahirnya kebijakan ini ditangkap sebagai sinyal baik bagi nelayan sehingga tidak heran jika sampai pada hari ini begitu banyak nelayan yang berali profesi, dan dari penghasilan yang di miliki sebagai penerima jasa transportasi tak sedikit pula dari mereka yang memilih untuk membongkar beberpa bagian perahunya untuk memperbesar atau menambah kapasistas perahunya dengan harapan agar mendapatkan job yang lebih besar,
b. Faktor ekonomi
Tingginya permintaan wisatawan terhadap jasa transportasi tentu menjadi keuntungan tersendiri bagi nelayan yang memiliki perahu dengan ukuran kecil maupun sedang sehingga bagi mereka tidak perlu lagi untuk mengeluarkan anggaran yang cukup besar untuk pengadaan perahu. Keuntungan lainnya adalah para pensiunan nelayan tidak perlu menghadirkan orang lain sebagai petunjuk jalan ke tempat tempat yang diinginkan para wisatawan, mengingat mereka adalah pensiunan nelayan yang tentunya sangat memahami kondisi di area sekitar perairan kecamatan komodo seperti yang sudah dijelaskan di atas tadi, hanya saja untuk memudahkan penyedia jasa transportasi dalam mendapatkan wisatawan yang ingin berkunjung ke objek-objek wisata sampai pada soal mudahnya berkomunikasi dengan tamu atau wisatawan saat dalam perjalanan hingga transaksi kuangan di perlukan orang yang pandai berbahasa asing (guide).
Berdasarkan penelitian di lapangan perbandingan pendapatan saat menjadi nelayan dan saat menjadi penerima jasa transportasi pun jauh berbeda
artinya masyarakat lebih memilih menjadi penerima jasa transportasi pariwasata di karenakan pendapatan yang jauh lebih meningkat dibandingkan saat menjadi nelayan dan pekerjaannya tergolong mudah untuk dilakukan.
c. Faktor sosial.
Sebagai daerah pariwisata, masyarakat tentu baik secara sadar maupun tidak sadar terkena imbas dari perkenalan daerah sebagai destinasi wisata baru di
Sebagai daerah pariwisata, masyarakat tentu baik secara sadar maupun tidak sadar terkena imbas dari perkenalan daerah sebagai destinasi wisata baru di